
"Waktu kamu di ruang gelap kemarin, kamu engga kesambet penunggu di sana kan, Gi? Omongan kamu dari kemarin ngelantur terus soalnya," ujar Segara yang sebenarnya terkejut saat mendengar perkataan dari Gianna itu.
Gianna berdiam sambil menatap lekat wajah lelaki yang sudah bersemayam dalam hatinya sejak mereka masih remaja itu. Segara merasa ada perasaan yang berbeda kala menatap Gianna pagi itu. Ia menjadi salah tingkah karena kala itu Gianna menatapnya tepat ke netra lelaki itu.
"Gara, menurut kamu aku sedang kesambet atau becandakah?" tanya Gianna serius yang membuat Segara menjadi waspada. Ia bisa melihat kilatan emosi yang berbeda dari Gianna.
Apa dia serius? batin Segara yang terkejut karena menerima lamaran dadakan dari Gianna. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana menanggapi pernyataan Gianna tadi.
Segara berdeham dan meminta Gianna untuk beristirahat karena ia tak ingin membahas pernyataan sahabatnya tadi. Pernikahan bukan hal yang bisa diputuskan dengan pemikiran yang sederhana dan tergesa-gesa bagi seorang Segara.
Saat ini, Segara sama sekali tak lagi memikirkan permasalahan tentang wanita dan pernikahan sejak cinta sepihaknya kandas saat Inka dan Kanigara menikah. Baginya selama ini Gianna adalah salah satu sahabat yang ia sayangi dan harus ia jaga. Tak ada perasaan lebih, dalam hati Segara untuk seorang Gianna.
Segara meninggalkan Gianna setelah mengantarkan sahabatnya itu untuk berbaring di ranjang.
"Tidurlah," ujar Segara dan segera berlalu dari kamar Gianna.
Seberat itukah untuk menjawab iya, Gar?! Setetes air mata membasahi pipi Gianna.
****
"S*AL!!!! LAGI-LAGI GAGAL, TAK ADA YANG BECUS SEMUANYA!!!" teriak Bimantara karena murka. Ia merasa semua usahanya untuk menjatuhkan keluarga Janu dan Alora gagal total. Padahal ia sudah mengerahkan semua bawahan terbaiknya untuk melaksanakan misi penculikan Gianna maupun Melanie.
"Pak, lapor Bu Leticia ternyata tidak berada di London! Tapi disembunyikan di suatu tempat rahasia yang hanya Pak Buana yang mengetahuinya!" ujar salah satu bawahan Bimantara.
Ia tahu bahwa Buana tak mungkin akan menempatkan Leticia di tempat yang mudah dilacak oleh orang lain setelah kejadian yang menimpa wanita yang masih berstatus istrinya itu. Bimantara memutar otak mencari cara agar bisa menjatuhkan para musuh bebuyutannya itu.
Bimantara juga berfokus pada pemulihan bisnisnya pasca penyerangan dan perusakan yang dilakukan oleh Buana itu. Ia sengaja tak melaporkan kejadian itu kepada pihak berwajib karena hanya akan menimbulkan masalah baru kepada Bimantara.
"Saat ini tetap waspada dan jangan melakukan apapun. Tetap siaga, mengantisipasi serangan balasan dari musuh!"
__ADS_1
****
Beberapa hari kemudian Gianna sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian yang terjadi di antara dirinya dan Segara sewaktu berada di balkon, beberapa waktu yang lalu.
Penolakan tak langsung yang dilakukan oleh Segara, menorehkan luka yang begitu dalam di hati Gianna. Segara sendiri, sejak kejadian itu sama sekali tak menunjukkan batang hidungnya di kediaman keluarga Alora. Menurut Asher, Segara sudah disibukkan lagi dengan urusan kantor.
Bagi Gianna, hal itu lebih baik karena pertemuan dengan Segara hanya akan membuat luka yang ia rasakan semakin menganga. Gianna sudah menerima penolakan dari Segara walau masih terasa berat, karena sejak awal gadis itu tahu tak ada tempat di hati Segara untuk dirinya.
"Uekkk, uekkk!" ujar Inka tiba-tiba, yang saat itu sedang menemani Gianna di toko bunga karena Inka masih trauma dengan penculikan yang di alami oleh sahabatnya itu.
"Lohhh, kamu kenapa, say?" tanya Gianna sembari mendekati Inka.
"Mual say! Mawar ini bau banget!" gerutu Inka sambil menutup hidungnya. Ia segera menjauhkan bunga mawar yang tadi dipegangnya. Gianna merasa aneh karena Bunga Mawar adalah salah satu bunga yang paling disukai oleh Inka selama ini.
Perut Inka kembali bergejolak, ia memutuskan untuk segera berlari ke toilet. Gianna segera mengikuti Inka ke toilet sembari menghubungi Kanigara yang berada di kantor milik Alora Group.
****
"Sayang, kamu kenapa?" ujar Kanigara yang langsung duduk di samping Inka, saat ia dan Asher melihat Inka dan Gianna yang berada di ruang tunggu poliklinik rumah sakit tersebut.
"Mual kak," ujar Inka dengan wajahnya terlihat pucat pasi. Kanigara menemani Inka saat nama sang istri dipanggil oleh salah satu perawat yang ada di poliklinik itu. Sementara itu, Asher dan Gianna menunggu di luar ruangan.
"Gi, kamu ada apa dengan Segara?" tanya Asher yang membuat Gianna terkejut.
"Mak..., maksudnya kak? Aku sama Segara engga kenapa-kenapa kok!" ujar Gianna tergagap yang membuat Asher tersenyum geli.
Segara telah menceritakan semuanya kepada Asher. Bagi Segara, Asher adalah atasan sekaligus kakak lelakinya, sehingga jika ada yang mengganggu pikirannya, ia akan menceritakannya pada Asher kecuali satu hal yaitu perasaan cintanya kepada Inka, yang notabene adalah adik kandung dari Asher sendiri.
Gianna menghela nafas, kemudian menatap Asher.
__ADS_1
"Segara cerita ya kak? Ahhh, lamaran aku ditolak! Tapi jangan cerita ke Inka ya kak! Please...," balas Gianna yang memilih untuk bersikap jujur.
Asher membisikkan sesuatu yang membuat, mata Gianna membola lalu mengangguk mantap sembari memeluk Asher dengan sayang. Asher hanya tertawa kecil dan membalas pelukan dari adik angkatnya itu.
****
"Gimana dok, istri saya gapapa, kan?" tanya Kanigara yang sudah tak sabar mendengarkan penjelasan sang dokter tentang penyakit sang istri.
Sang dokter hanya tersenyum simpul sembari menatap wajah tegang dari lelaki tampan yang berada di hadapannya itu.
"Selamat Pak Kanigara, sebentar lagi bapak akan menjadi papi. Ibu Inka tengah mengandung dengan usia kehamilan enam minggu tiga hari. Ini masih kantungnya yang kelihatan, bulan depan embrionya pasti udah terlihat saat di USG," jelas sang dokter yang membuat Kanigara tertegun selama beberapa saat.
Hamil? Inka hamil? Aku bakalan jadi papi? batin Kanigara yang masih tak percaya dengan informasi yang baru saja ia terima. Sementara itu, Inka sudah berderai air mata bahagia, saat mendengar penjelasan dari sang dokter.
Inka mengelus perutnya yang masih terlihat rata dengan penuh perasaan sayang.
Aku hamil, ada calon buah hati kami di perutku. Terima kasih Tuhan, Kau dengarkan doaku! Batin Inka yang terkejut saat tiba-tiba ia merasakan sebuah ciuman di perutnya. Ia melihat wajah sang suami dengan mata yang tengah berkaca-kaca dan sedang menatapnya penuh cinta.
Kanigara mencium bibir, kening Inka tanpa malu. Ia mengelus perut Inka dengan lembut yang membuat sang istri tersipu. Dokter dan perawat yang bertugas memilih membiarkan kedua calon orang tua itu meluapkan perasaan cinta dan bahagia mereka.
"Makasih sayang, aku janji akan jaga kamu dan bayi kita dengan seluruh jiwa raga aku."
Inka dan Kanigara saling berpelukan penuh haru yang membuat perawat yang sejak tadi memperhatikan mereka, merasa iri dengan pemandangan indah dan membahagiakan itu.
****
"Hamil?P**acur itu beneran hamil??? Mati! Dia harus mati!"
****
__ADS_1