Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
74


__ADS_3

"Pak Bima, bawahan dari mertua bapak menghancurkan klub malam dan kasino!" ujar bawahan Bimantara kala menghubungi Bimantara yang membuat lelaki itu membanting ponselnya karena emosi.


"S*alan! B**ingan tua itu berani mengganggu wilayah kekuasaanku!" teriak Bimantara penuh emosi.


Apa lelaki tua itu sudah melihat video dan foto-foto itu? batin BImantara, karena ia tahu Buana tak mungkin menyerangnya tanpa alasan.


"Kerahkan semua anggota kita untuk menghalau para bawahan Buana. Bawa Leticia secepatnya kembali ke sini!" teriak Bimantara yang membuat semua bawahannya bergegas melaksanakan perintah atasannya yang sedang murka itu.


Bimantara tak menyangka bahwa senjata makan tuan, semua rencananya malah berantakan dan Buana yang harusnya manjadi sekutu terkuatnya malah berbalik arah dan mulai menyerangnya. Bimantara merasa was-was karena semua usahanya perlahan tetapi pasti menjadi hancur karena ulah musuhnya yaitu Kanigara, Inka dan kini Buana. Sejak kejadian penggeledahan anak perusahaannya, Bimantara sudah mengalami kerugian milyaran rupiah, dan kini bisa dipastikan angka kerugian itu akan semakin besar karena ulah dari ayah mertuanya sendiri.


****


"Buana sudah membawa Leticia dan menerbangkannya dengan pesawat pribadi ke London. Buana juga sudah menyerang klub malam dan kasino milik Bimantara!" Gianna memberi laporan kepada Inka dan Kanigara. Kanigara yang mendapat informasi itu tak menyangka bahwa Inka mampu membuat rencana sematang itu untuk menghancurkan musuh bebuyutannya, Bimantara. Kanigara memilih tak mengatakan apapun, ia menunggu Inka membuka suara dan memutuskan tindakan mereka selanjutnya.


Inka melihat ke arah Kanigara dengan tatapan bertanya, Kanigara membalas tatapan Inka seolah mempersilakan Inka untuk menyuarakan rencananya. Inka hanya mengangguk dan mulai menjabarkan rencana mereka selanjutnya, yang membuat Kanigara merasa semakin kagum dengan sang istri. Kanigara menyetujui rencana Inka dan berjanji akan mengerahkan bawahannya untuk membantu rencana dari sang istri itu.


"Bagaimana dengan Seila?" tanya Inka tatkala ia mengingat tentang mantan asisten rumah tangga sekaligus bawahan dari Bimantara itu.


"Rhode masih ingin mengurus masalahnya dengan Seila terlebih dahulu, sebelum ia mengirimkan perempuan itu ke tangan Buana," jelas Gianna yang membuat Inka mengangguk paham. Ia tahu Rhode tak akan melepaskan Seila dengan semudah itu. Inka bisa memastikan bahwa Rhode akan menyiksa gadis itu sedikit lebih lama, sebelum akhirnya mengeksekusi hidup gadis itu.

__ADS_1


Inka sebenarnya masih sangat dendam kepada Seila yang turut mempunyai andil dalam kematian Oliver, sang ayah. Seilalah yang merekrut supir-supir yang mengendarai truk yang menyalip mobil sang ayah hingga menyebabkan Oliver meninggal. Namun ia mengetahui Seila hanya alat yang digunakan oleh Bimantara, sehingga yang harus Inka kejar adalah si pemberi perintah yaitu Bimantara.


****


"Tuan besar, Nyonya Leticia tidak bisa kami temukan di rumah sakit!" ujar bawahan Bimantara saat menghubungi majikannya itu. Emosi Bimantara semakin tak terkendali. Ia menghancurkan apapun yang ada di depannya. Ia tahu bahwa Buanalah yang telah membawa Leticia pergi. Buana pasti sudah memperhitungkan kemungkinan Bimantara akan menjadi Leticia sebagai sandera agar Buana menghentikan rencananya untuk menghancurkan bisnis yang dimiliki oleh Bimantara.


"S*al!S*al! Kenapa semua rencanaku jadi berantakan?! Kanigara\, Inka\, sekarang Buana....\, Tunggu pembalasanku! Aku akan membalas semua penghinaan ini dengan segera!" seru Bimantara yang membuat beberapa bawahannya menundukkkan kepala karena takut menjadi sasaran amarah tuannya itu.


"Bakar kediaman keluarga Aru hingga menjadi puing-puing tak tersisa! Kirimkan orang untuk mengawasi kediaman Buana yang ada di London. Dia pasti membawa Leticia kembali ke London! Culik Leticia bila ada kesempatan! Ingat jangan sampai ketangkap!" seru Bimantara entah pada siapa. Namun semua anak buahnya langsung menjawab perkataan dari majikannya itu.


****


"Siap, bu bos! Ada hal lain yang harus aku kerjakan?!" tanya Segara yang membuat Inka mengingat sesuatu.


"Ahhh, iya aku ingat, Gigi sakit! Coba tolong kamu cek dia di tokonya. Tadi aku suruh istirahat dianya engga mau!" ujar Inka yang membuat Segara menghela nafas panjang karena ia sama sekali tak bisa menolak permintaan dari Inka. Begitu mendengar perkataan Inka, ia juga merasa khawatir dengan sahabatnya itu. Di antara mereka bertiga, Gianna adalah orang yang paling malas ke rumah sakit dan meminum obat.


Selama ini, hanya Inka dan  Segaralah yang berhasil membawa Gianna berobat. Bukan hal mudah untuk membawa Gianna ke rumah sakit, karena mereka harus beradu mulut cukup lama hingga Gianna tak mempunyai alasan lagi untuk menolak pergi ke rumah sakit. Hal itulah yang membuat Segara menghela nafas berat, karena bisa dipastikan bahwa kali ini pun ia dan iIanna akan terlibat pertengkaran sengit, sebelum akhirnya Segara berhasil menyeret Gianna untuk pergi berobat.


****

__ADS_1


"Ngapain ke sini?" ujar Gianna judes yang membuat Segara memutar bola matanya karena kesal.


"Nyok, ke rumah sakit!" ujar Segara singkat.


"Ngapain? Emang ada yang sakit?" tanya Gianna yang merasa sedikit bingung dengan kehadiran Segara di toko bunga miliknya dan tiba-tiba mengajak Gianna ke rumah sakit. Segara tak membalas pertanyaan dari GIanna, ia malah menempelkan telapak tangannya di dahi Gianna, yang membuat gadis itu terkejut dan menepis tangan Segara.


"Apaan sih? Aku engga sakit? Kamu ngapain ke sini?" seru Gianna yang mulai sewaot. Wajah Gianna sedikit memerah karena tindakan tiba-tiba dari sahabatnya itu. Segara merasa heran karena Gianna tak terlihat seperti orang yang sedang sakit.


Apa Inka bohong? batin Segara yang merasa bahwa Inka sedang mempermainkan dirinya. Ia tak tahu apakah harus menghubungi Inka dan menanyakan kenapa gadis itu membohongi dirinya atau ia memilih untuk berpura-pura bercanda dan mengajak Gianna untuk makan malam sebagai permintaan maafnya.


"Becanda neng, gitu aja sewot! Aku kangen kamu, makanya aku mampir ke sini. Kenapa sih engga pernah main ke rumah? Kalian itu udah berapa lama di sini, tapi mijak rumah aku aja engga pernah lagi," gerutu Segara yang membuat Gianna mencebik kesal.


"Kagak usah drama, biasanya juga tiap kami mau main ke sana di larang, sekarang malah misu-misu katanya engga pernah dikunjungi. Ingat umur, Om. Engga usah ngambek kayak anak kecil engga dikasih permen deh!" seru Gianna.


Kenapa sih setiap kali ketemu, ni orang ngajak gelut ya? Kangen apaan? Kangen kok bawaannya terus buat emosi sih? batin Gianna merasa kesal, sedih dan kecawa karena Segara engga pernah bersikap manis kepada dirinya.


Segara memandang Gianna yang sedang memanyunkan bibirnya dengan lekat. Ia tersenyum geli setiap kali melihat sahabatnya itu cemberut dan menjadi sangat diam ketika beradu mulut dengan dirinya. Ia mendekati Gianna dan tiba-tiba memeluk Gianna dari belakang yang membuat Gianna membeku.


"Gigi sayang, aku kangen kamu, tapi kenapa kamu selalu ngajak gelut tiap kali kita ngomong sih?"

__ADS_1


Deg!!!!


__ADS_2