
Inka sudah kembali ke kediaman keluarga Janu, tetapi seluruh keluarga masih meminta Inka untuk beristirahat dan tak perlu mengurusi urusan kantor karena Asher dan keluarganya masih berada di Batam.
"Boleh duduk di sini?" tanya seseorang kepada Inka, saat istri Kanigara itu sedang bersantai seorang diri di taman yang ada di kediaman mereka. Inka menoleh dan mendapati Rhode sedang berdiri di dekatnya.
Inka mempersilakan musuh dari masa lalunya itu untuk duduk. Rhode memilih duduk di depan Inka. Inka hanya berdiam diri sambil menatap Rhode sembari menunggu gadis itu untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Rhode terlihat sedang menimbang sesuatu sebelum mengutarakan apa yang ada di benaknya.
"Apa maksudnya kematian yang kedua kali? Aku tak sengaja mendengar pembicaraan kamu dan Gianna saat di rumah sakit kemarin," tungkas Rhode to the point yang membuat Inka terkejut. Namun ia pandai menyembunyikan keterkejutannya itu dalam sikap diamnya.
"Sejauh apa yang kamu dengar?" tanya Inka santai. Rhode pun menjelaskan seberapa jauh ia mendengar pembicaraan rahasia yang dilakukan oleh Inka dan Gianna itu. Inka hanya mengangguk pelan, ia sama sekali tak menyangkal kenyataan yang tanpa sengaja diketahui oleh musuh lamanya itu.
"Jadi kamu sudah pernah mati sebelum ini?" tanya Rhode memastikan. Inka hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari gadis yang duduk di depannya itu. Rhode tak menutupi keterkejutannya, ia tak percaya bahwa apa yang selama ini hanya bisa ia temukan dalam novel atau film, bisa ia temukan langsung dalam kehidupan nyata.
Seandainya kamu juga mengalami hal seperti Inka, Fressy sayang! batin Rhode yang mendadak merasakan kesesakan dalam hatinya. Inka melihat perubahan raut wajah Rhode yang membuat Inka berusaha menebak isi pikiran gadis itu.
"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Inka yang membuat Rhode mengangguk.
"Di kehidupan pertamaku, Kak Asher bertunangan dengan seorang gadis bernama Fressy? Aku hanya ingin memastikan apakah ini Fressy yang sama dengan adik perempuan kamu?" tanya Inka yang membuat Rhode terbelalak.
Bagaimana Inka mengetahui tentang Fressy? batin Rhode. Namun ia tetap menjawab pertanyaan dari Inka.
"Jadi alasan kamu ke Batam adalah untuk balas dendam, benar kan?" tanya Inka. Rhode tak tahu darimana Inka mengetahui informasi tentang dirinya, tetapi ia tahu Inka yang di hadapannya kini tak sama dengan Inka yang dikenalnya dulu.
Tatapan teguh dan penuh pertimbangan itu, bukanlah tatapan Inka yang pernah menjadi musuhnya di masa lalu. Inka yang sekarang adalah Inka yang sangat tenang dan tak bisa diprediksi, sedangkan Inka yang dulu adalah Inka yang tenang, tetapi sangat polos seperti buku yang terbuka.
Apa yang merubah gadis itu hingga bisa menjelma menjadi pribadi yang sangat berbeda? batin Rhode penasaran.
__ADS_1
"Terima kasih karena membantuku, walau tak sengaja tapi perbuatanmu secara tak langsung membantu membalaskan dendamku kepada Leticia dan Bimantara," ujar Inka yang membuat Rhode menatap Inka tak percaya. Ia sangat ingin mengetahui informan yang disewa oleh Inka, karena siapapun orang itu pasti dia bukanlah orang sembarangan.
"Jadi sekutuku! Mari saling membantu membalaskan dendam kita kepada kedua orang itu!" Rhode mengulurkan tangannya yang membuat Inka tertegun sembari menatap tangan Rhode yang terulur itu.
"Deal!"
****
Sementara itu di tempat lain, seseorang sedang memikirkan cara untuk membalas kekalahannya. Ia mendapatkan informasi bahwa kebakaran yang terjadi di gudang miliknya, adalah karena hubungan arus pendek pada kabel yang ada di tempat itu.
Bimantara tak mempercayai hasil temuan pihak kepolisian dan pemadam kebakaran yang menangani kasus kebakaran yang menimpa gedung bahan baku miliknya itu. Ia tetap merasa hal itu adalah karena sabotase pihak musuh untuk membalaskan dendam karena perbuatannya.
Bimantara terus memutar otaknya untuk mencari jalan membalaskan dendamnya kepada keluarga Janu dan Alora. Ia juga mulai meragukan kesetiaan anak buah yang ia miliki saat itu.
Apa ada pengkhianat yang membocorkan rencanaku? batin Bimantara sembari mengingat semua anak buah yang menjadi bawahan langsungnya.
"Cari tau siapa kibus yang ada di internal kita? Dapatkan dia dan biarkan dia hidup, karena aku akan dengan senang hati menyiksa pengkhianat itu hingga mati agar tak ada seorang pun lagi yang berani mengkhianati Bimantara Yoga!" desis Bimantara berang yang membuat Edward mengangguk paham.
****
"Gimana situasi di sana?" tanya seseorang di seberang panggilan.
"Nyonya Inka sudah kembali, Non," balas seseorang dengan pelan karena takut ada yang mendengar pembicaraannya dengan Leticia.
"Jalankan rencana kita! Ingat update setiap hari perkembangannya!" ujar Leticia kemudian memutuskan panggilannya. Leticia menyeringai puas hanya dengan membayangkan bahwa rencananya akan berhasil. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tak akan berhenti sebelum Inka meninggalkan Kanigara atau Kanigara yang pergi meninggalkan Inka.
__ADS_1
Ia tak perduli walau harus menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Ambisinya hanya dua, Kanigara menjadi miliknya dan Inka mati. Bagi dirinya Bimantara hanyalah salah satu sarana untuk mencapai ambisinya itu. Ia sama sekali tak pernah mencintai lelaki itu bahkan setelah mereka menikah.
Ia sudah bersiap meninggalkan Bimantara, saat Kanigara jatuh ke pelukannya. Namun adalah satu hal yang tak diketahuinya tentang Bimantara. Hal yang akan membuat dia berpikir ulang untuk berada di dekat lelaki itu.
****
"Sayang, kamu engga kedinginan duduk di situ?" ujar Kanigara saat melihat Inka duduk sendirian di balkon kamar mereka. Inka menoleh sembari menghadiahi senyuman manis kepada sang suami yang membuat Kanigara mendekati istrinya itu.
"Mau aku peluk biar hangat?" tanya Kanigara tiba-tiba sambil tersenyum jahil yang membuat Inka tertawa kecil sembari menganggukkan kepalanya pelan. Sinyal yang dikirimkan oleh Inka itu, langsung disambut baik oleh Kanigara. Lelaki itu memeluk Inka dari belakang yang membuat Inka menjadi tersipu. Namun ia tak menolak tindakan manis sang suami.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Kanigara yang mulai memahami kebiasaan dari sang istri.
"Engga ada kak. Aku hanya menikmati angin malam dan bintang," ujar Inka yang membuat Kanigara terdiam. Ia mencoba menengadah, mengikuti arah pandangan sang istri, ia melihat malam itu banyak bintang di angkasa.
"Ehmm...," ujar Kanigara menggantung yang membuat Inka menengadah karena lelaki itu tak melanjutkan kata-katanya. Inka tetap diam dan menunggu Kanigara siap untuk mengutarakan isi kepalanya.
"Ehmm...." Kanigara kembali mengulang hal yang sama dan membuat Inka merasa geli. Ia tak pernah menyangka seorang Kanigara yang tegas bisa kehilangan keberanian untuk menyampaikan apa yang ia pikirkan.
"Kak, kalo aku minta sesuatu untuk sekali seumur hidupku, maukah kakak mengabulkan permintaan itu?" tanya Inka yang mengambil alih pembicaraan mereka.
"Apapun itu akan aku kabulkan!" jawab Kanigara cepat yang membuat Inka tersenyum dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Kanigara.
"Maukah kakak memberi kesempatan kepadaku untuk menjadi seorang ibu dari. anak-anak kita?!"
Deg!!!
__ADS_1
****