
"Arghhhhhhh, Bimantara b**ingan!!!" Leticia mulai memukul-mukul bangsal dan berteriak histeris yang membuat pengawal yang menjaganya langsung masuk untuk melihat keadaan sang nyonya. Ia terkejut saat melihat Leticia memukuli bangsal dan menjambaki rambutnya.
Ia segera menekan tombol untuk memanggil perawat lalu memegangi tangan Leticia agar tak lagi menyakiti dirinya sendiri. Ia mengikat tangan Leticia dengan selimut yang terletak di atas bangsal.
"MANA PEREMPUAN S*ALAN ITU?!" Teriakan dari Bimantara menggelegar di ruang rawat inap itu. Sang pengawal terkejut dengan kedatangan dan suara majikannya itu. Lain hal dengan Leticia yang tak tampak perduli dengan kehadiran Bimantara. Ia terus meracau dan memaki Bimantara tanpa melihatnya, sembari berusaha meronta untuk melepas ikatan yang dibuat oleh pengawal tadi.
Kemarahan Bimantara sirna digantikan wajah kebingungan karena melihat kondisi Leticia.
"Kenapa dia?" tanya Bimantara singkat dengan wajah yang masih menyisakan amarah.
"Saya kurang tau, Tuan Besar. Tadi saya dengar teriakan nyonya baru lari ke dalam, tau-taunya nyonya mengamuk dan menjambaki rambutnya sendiri. Makanya saya langsung...," Perkataan sang pengawal terputus karena Dokter Ringga dan seorang perawat sudah memasuki ruangan itu.
Sang perawat segera menyuntikkan obat penenang, untuk membuat Leticia tidur.
"Dok, kenapa istri saya jadi seperti ini setelah dirawat?!" tanya Bimantara dengan nada tidak senang. Dokter Ringga terdiam sesaat, sembari memperhatikan sesuatu. Ia mengambil salah satu foto yang tergeletak di bangsal di mana Leticia tengah tertidur.
"Mungkin ini penyebabnya, Pak Bima," ujar sang dokter yang tetap menjaga raut wajahnya setelah melihat foto itu sekilas lalu dan menyerahkannya kepada Bimantara. Bimantara terkejut dengan penampakan foto yang diberikan oleh Dokter Ringga. Ia juga merasa malu karena Dokter Ringga sempat melihat foto mesranya dengan gadis yang selama beberapa waktu ini selalu menemani malam-malamnya.
S*alan! Siapa yang mengirimkan foto ini kepada Leticia?! Apakah orang yang sama dengan yang mengirimkan bukti Leticia menggugurkan kandungannya! batin Bimantara geram. Ia mencurigai bahwa pihak Kanigaralah yang telah mengirimkan video dan foto-foto itu.
"Pak Bimantara, saya sudah mendapatkan konfirmasi dari psikiater dan hasil pemeriksaan fisik Bu Leticia. Hasilnya adalah psikiater merujuk Bu Leticia untuk dirawat secara lebih intensif di rumah sakit jiwa yang direkomendasi langsung oleh psikiater rumah sakit ini," jelas Dokter Ringga yang membuat Bimantara terkejut.
"Rumah sakit jiwa?! Jadi maksud dokter istri saya gila?!" ujar Bimantara yang terlihat tak terima.
__ADS_1
"Menurut hasil pemeriksaan, Bu Leticia mengalami gangguan kejiwaaan, bukan seperti yang Pak Bimantara sebutkan tadi. Tujuan perawatan di rumah sakit jiwa adalah supaya bisa dilakukan pemeriksaan yang lebih intensif, perawatan yang disesuaikan dengan kondisi pasien, termasuk pemberian gizi dan situasi yang lebih nyaman bagi pasien," jelas Dokter Ringga yang membuat Bimantara terdiam.
Bimantara tak pernah menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya itu, harus masuk ke rumah sakit jiwa. Jika ada yang mengetahui hal itu, pastinya akan menimbulkan aib bagi keluarga Yoga. Ia sama sekali membiarkan kondisi Leticia mencoreng nama baik dirinya ataupun keluarga besar Yoga.
"Lakukan sesuai prosedur yang seharusnya, Dok. Tapi saya harap kondisi Leticia bisa dirahasiakan karena saya tak mau mendapat cibiran karena orang lain. Dan tolong konfirmasi ke semua pihak yang sudah mengetahui kondisi kesehatan Leticia untuk merahasiakan hal ini. Jika sampai bocor, saya akan memastikan pihak yang membocorkannya tidak akan lagi melihat hari esok," ancam Bimantara yang membuat perawat yang ada di ruangan itu pucat pasi karena takut.
Dokter Ringga dan sang pengawal hanya menganggukkan kepalanya tanda memahami maksud dari Bimantara.
****
Satu musuh tumbang!
Rhode mengirimkan pesan singkat kepada Inka, yang membuat Inka mencibir. Inka sama sekali tak merasa bahagia mendengar kabar itu, karena ia masih merasakan duka karena kepergian sang ayah.
PASTIKAN BAHWA DIA TAK AKAN PERNAH SEMBUH
Pi, sabar ya, bentar lagi aku akan temani papi. Walau mungkin tempat kita berbeda, setidaknya untuk sekali waktu saja, aku akan minta diberi kesempatan untuk menemui papi untuk mengucapkan salam terakhir, maaf dan terima kasih, batin Inka pilu. Setetes air bening kembali membasahi pipinya.
Inka terus mengurung diri dalam kamar pribadinya yang membuat Kanigara merasa serba salah. Ia bingung bagaimana caraew menghibur seorang wanita. Selama ini ia tak pernah berhubungan dengan seorang wanita selain sang istri. Ia sudah meminta saran dari Niskala dan Asher, dan sudah menerapkannya tetapi Inka masih tetap larut dalam kesedihannya.
Ia sudah mencoba mengajak Inka berlibur, tetapi Inka menolaknya. Lain hari, Kanigara mencoba mengajak Inka untuk menonton film dan candle light dinner berdua, tetapi Inka lagi-lagi menolaknya. Kanigara pada akhirnya menyerah dan mencoba memberikan waktu bagi Inka untuk memulihkan lukanya, walaupun begitu Kanigara akan selalu mendampinginya dalam diam.
****
__ADS_1
Setelah seminggu di Jakarta, Kanigara dan Niskala terpaksa harus kembali ke Batam karena urusan pekerjaan yang tak bisa mereka tunda. Kanigara dengan sangat terpaksa harus meninggalkan Inka di Jakarta. Ia merasa cemas dengan kondisi Inka, tetapi perusahaan juga membutuhkan kehadiran mereka.
Kanigara hanya bisa mempercayakan Inka ke tangan Asher dan Gianna yang masih setia menemani sang istri di Jakarta.
"Sayang, maaf aku engga bisa menemani kamu. Aku janji setelah urusan di Batam selesai, aku akan segera kembali dan nemenin kamu lagi," ujar Kanigara sehari sebelum keberangkatan mereka ke Batam. Mereka berdua sedang duduk di taman.
"Gapapa sayang, aku ngerti! Aku yang minta maaf karena belum bisa kembali ke kediaman kita karena kasian mami sendirian di sini," balas Inka yang merasa bersalah kepada Kanigara karena tak bisa menunaikan tugasnya sebagai istri yang baik untuk Kanigara.
Entah berapa lagi waktu untuk kita bersama, sayang! Semoga masih akan cukup waktu buat kita merangkai kisah indah bersama sebelum kata perpisahan itu terucap, batin Inka yang semakin merasakan nelangsa dalam hatinya.
Malam itu, mereka menghabiskan waktu untuk saling melepas kerinduan yang sudah menggelayuti hati mereka, bahkan sebelum mereka berpisah karena keberangkatan Kanigara di esok hari. Setelah melihat Kanigara tertidur pulas, Inka bangkit dari ranjang mereka. Ia berdiri di tepi jendela dalam kegelapan malam itu.
Istri Kanigara itu menatap ke kejauhan, malam kelam tanpa bintang.
Aku tak akan terpuruk dalam kesedihan ini! Tugasku belum selesai! Batin Inka untuk memompa semangatnya lagi. Ia tak akan membuat kepergian sang ayah, memperlambat laju misinya.
Ia memasuki ruang kerjanya dan kemudian menuliskan beberapa hal. Ia menutup buku hariannya sembari menghela nafas panjang. Ia telah menulis kisahnya di kehidupan lalu dan masa kini yang telah ia lalui. Ia berharap hal itu akan menjadi jejak peninggalannya. Ia akan meminta Gianna untuk menyimpannya dan memberikannya pada Kanigara seandainya kata "selamat tinggal" tak sempat lagi terucap.
Tiba-tiba ponsel Inka berbunyi dan sebuah pesan singkat masuk.
Semua itu ulah dari Bimantara dan gadis yang bersamanya, Bu. Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?
Inka mencengkeram ponselnya dengan keras sembari menatap pesan yang dikirimkan oleh Kenneth. Ia menatap layar ponselnya dengan nanar, tubuhnya terguncang hebat karena amarah yang menyelimutinya.
__ADS_1
Hancurkan yang perlu dihancurkan!
****