Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
41


__ADS_3

"Beib, lakuin tugasmu dengan baik ya, Sega sayang! Ingat pastikan kamu udah gelitikin hidcam yang ada di kamar pribadi Kanigara sesuai waktu yang udah disebutin Bu Bos di email. Instruksi selanjutnya sabar menanti, jangan kangen ya!" ujar Gianna saat menghubungi Segara, sahabatnya itu.


"Iya bawel! Inka juga udah jelasin secara rinci di email! Gimana kabar kamu? Jangan maling teriak maling deh, ntar kamu yang kangen aku! Aku ngangenin soalnya!" balas Segara sambil terkekeh yang membuat Gianna mendengus kesal.


"Mimpi aja lu sono, bye!" Gianna langsung memutuskan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Segara.


Apa gunanya ngangenin kamu, yang punya hati buat orang lain, Ga! batin Gianna sembari tertawa miris sambil menatap Bunga Marigold yang melambangkan cinta yang mendalam, dalam genggamannya.


****


Bimantara kembali mendatangi kantor Inka, yang membuat Inka sedikit kesal. Inka sangat tak menyukai orang yang terlalu kentara menginginkan sesuatu dan mengabaikan perkataannya.


"Selamat siang, Pak Bimantara. Maaf sebelumnya saya engga bisa berbincang lama dengan Bapak, karena lima menit lagi saya ada meeting penting dengan head office. Seperti perkataan saya sebelumnya, bahwa bila sudah saya cek akan saya konfirmasi langsung ke tim, Bapak!" ujar Inka sembari mempersilakan Bimantara untuk meninggalkan kantor mereka dengan cara yang sopan, walau Bimantara mengetahui dengan jelas maksud tersirat dari bahasa sopan Inka itu.


"Ehmm, permainan tarik ulur ya?! Jinak-jinak merpati, aku suka!" ujar Bimantara yang semakin bernafsu untuk menaklukkan seorang Inka Alora.


Sementara itu, Inka sendiri langsung meminta Sellah agar mengkonfirmasi kepada resepsionis kantor mereka agar mengatakan Inka tidak berada di tempat, bila Bimantara mendatangi kantor mereka lagi.


****


"Dek, kamu sibuk?" tanya Asher dengan suara yang tak biasa saat menghubungi Inka sore itu.


"Untuk kakak aku tercinta, aku engga akan sibuk! Emang ada apa kak, kok suaranya kedengaran beda?" tanya Inka yang sangat peka dengan hal-hal yang berkaitan dengan keluarganya. Asher langsung tersenyum, saat mendengar perkataan adiknya itu.


"Tolong bujuk papi sama mami, untuk membatalkan perjodohan aku dengan Melanie!" Perkataan Asher itu membuat Inka terkejut.


"Perjodohan dengan Melanie? Dokter Melanie Richard, dokter keluarga Janu?" tanya Inka yang masih tak percaya. Asher mengiyakan perkataan Inka dan menjelaskan dengan rinci tentang kejadian yang menimpanya itu. Inka merasa takjub mendengar perkataan Asher itu. Di lain sisi, Inka juga merasa bingung kemana takdir akan membawa kisah mereka selanjutnya.

__ADS_1


Di kehidupan sebelumnya, Asher dijodohkan oleh orang tuanya dengan anak sahabat mereka yang bernama Fressy dan kala itu, Inka tak sempat melihat Asher menikah karena ia telah dijemput maut tiga bulan sebelum pernikahan Asher.


Ketukan di pintu ruangan Inka terdengar yang menyadarkan Inka dari lamunannya.


"Masuk!" seru Inka.


"Bu, ada wanita yang bernama Melanie ingin bertemu dengan ibu! Apa bisa dipersilakan masuk?" tanya Sellah yang membuat Inka kembali merasa mendapatkan kejutan.


Panjang umur banget! Baru juga dipikirkan udah muncul aja! batin Inka sembari mempersilakan Sellah untuk membawa Melanie langsung ke ruangan kerjanya. Inka mempersilakan Melanie duduk dan menanyakan maksud kedatangan gadis yang seumuran dengan sang kakak itu.


Tanpa basa-basi berlebihan, Melanie langsung berbicara to the point kepada Inka.


"Tolong bantu aku, agar bisa menikahi Asher!" Permintaan Melanie langsung ditanggapi Inka dengan senyum simpul. Inka sudah mengetahui dengan jelas masa lalu yang terjadi di antara Asher dan Melanie melalui penjelasan sang kakak. Namun Inka ingin mendengar kisah kedua insan itu melalui sudut pandang Melanie agar ia bisa memutuskan akan mengabulkan permintaan Asher ataukah Melanie.


"Boleh aku tahu alasan permintaan dokter itu dan kenapa aku harus melakukannya karena dok Melanie tahu sendiri, Asher itu kakak aku!" balas Inka santai yang membuat Melanie menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di antara Asher dan dirinya yang membuat Inka tersenyum geli dengan samar agar tak menyinggung perasaan gadis yang ada di hadapannya itu.


Inka mengangguk paham, dan berjanji kepada Melanie bahwa ia akan memikirkan tentang permintaan dokter keluarga Janu itu. Namun Inka juga mengatakan bahwa ia tak bisa berjanji bahwa ia akan mengabulkan permintaan dari Melanie itu. Melanie hanya mengangguk pasrah dan segera undur diri dari hadapan istri Kanigara itu.


Inka mengirimkan pesan kepada Gianna yang langsung dibalas dengan cepat oleh sahabatnya itu.


Ayo, jadi cupid dadakan!


Inka mengirimkan pesan lagi yang membuat Gianna tertawa senang.


****


Hari itu, Inka membawa mobil kantornya sendiri karena ingin menemui Gianna untuk membicarakan rencana mereka guna menjodohkan Asher dan Melanie karena menurut Inka kekerasan kepala sang kakaklah yang menyebabkan perpisahannya dengan Melanie dulu.

__ADS_1


Inka juga membaca track record masa lalu Melanie hingga saat ini, yang menyebutkan bahwa sejak kuliah ia sama sekali tidak menjalin hubungan dengan pria manapun hingga sekarang. Hal itu menguatkan niat Inka untuk menyatukan cinta kedua insan yang menurut Inka sangat cocok itu.


Perjalanan Inka menuju toko bunga Gianna berjalan dengan lancar hingga setengah perjalanan, karena setelahnya Inka merasakan keanehan pada rem mobil yang dikendarainya itu. Inka mengumpat dalam hati karena ia tahu apa yang terjadi pada dirinya saat itu. Ia berusaha tetap tenang sembari memikirkan sesuatu.


Ia melihat ke sekitar, dan memastikan kondisi jalanan saat itu cukup lengang. Ia menginjak rem dengan sekuat tenaga hanya untuk mengetahui rem mobil itu sudah blong.


"Siallll!" seru Inka sambil memukul setirnya.


Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Kanigara. Kanigara yang sejak tadi merasakan keanehan pada perasaannya langsung mengangkat panggilan sang istri.


"Rem mobil blong, aku udah share loc lokasi aku," ujar Inka cepat sembari memutuskan panggilannya.


"Inkaaaa! Inkaaaa!" seru Kanigara yang terkejut karena perkataan sang istri. Kanigara berusaha menghubungi Inka lagi tetapi sang istri tak lagi mengangkat panggilannya. Kanigara yang kalut langsung berlari ke ruangan Niskala dan menjelaskan secara singkat tentang yang dialami sang istri.


Kedua lelaki itu langsung berlari ke parkiran dan berangkat menuju lokasi yang sudah dibagikan oleh Inka sebelumnya. Niskala segera menghubungi nomor tanggap darurat.


Saat tiba di lokasi, wajah Kanigara langsung terlihat pucat pasi karena menatap ke arah kerumunan orang yang mengelilingi sebuah mobil ringsek dan menghantam pohon besar yang ada di pinggir jalan.


"Inka!" seru Kanigara yang langsung meminta Niskala memarkirkan mobil mereka. Kanigara berlari dan membelah orang-orang yang berkerumun itu. Kanigara mencoba memanggil nama sang istri dan menanyai keberadaan sang pemilik mobil yang diyakini Kanigara merupakan mobil kantor Inka.


Kerumunan orang itu mengatakan bahwa mereka tak melihat keberadaan pemilik mobil itu yang membuat Kanigara dan Niskala merasa bingung. Kanigara berusaha menghubungi ponsel istrinya itu, tetapi ponsel itu tak lagi aktif yang membuat Kanigara mengumpat kesal. Niskala langsung menghubungi anak buah mereka dan memerintahkan untuk mencari Inka.


Niskala dan Kanigara juga menyisir daerah sekitar kejadian untuk mencari keberadaan Inka, tapi mereka tetap tidak menemukannya. Kanigara merasakan kepanikan yang luar biasa karena tak bisa menemukan tubuh sang istri. Mereka juga melaporkan hal itu kepada polisi yang sudah berada di TKP. Kanigara menggusar rambutnya dengan kasar, kepanikan dan rasa khawatir menghantui Kanigara.


Tiba-tiba ponsel Kanigara berdering.


"Kompleks pergudangan, Jalan Jendral Sudirman Blok B, NO POLICE! ATAU DIA MATI!"

__ADS_1


Deg!!!


****


__ADS_2