
Mendengar pertanyaan dari Kanigara, Inka langsung tersadar dan menoleh ke arah sang suami.
"Ahhhh, dia..., itu maksud aku ternyata aktor favorit aku merupakan ambasador dari merk produk yang mau aku beli, Kak. Itu fotonya terpampang di depan outletnya!" ujar Inka yang mendapatkan ide untuk berkelit dari Kanigara yang membuat Kanigara mengernyitkan dahinya, tetapi tidak mengatakan apapun.
Ia tahu, Inka berbohong. Namun ia tetap mengikuti permainan Inka. Setelah selesai berbelanja, mereka pun kembali ke hotel tempat mereka menginap. Setelah membersihkan diri, mereka duduk santai sembari menikmati makan malam romantis yang sudah diatur oleh Kanigara.
Inka merasa sangat tersentuh dengan sikap manis sang suami, yang membuat ia menatap suaminya itu dengan lekat sambil tersenyum manis.
"Ada yang aneh di wajah aku? Kenapa kamu ngeliatnya sampai kayak gitu?" tanya Kanigara saat melihat tatapan Inka yang terarah kepadanya.
"Ehmmm, kakak cakep!" ujar Inka secara tiba-tiba yang membuat Kanigara terkejut selama sesaat, lalu tertawa kecil.
"Tumben ngegombal? Ada maunya, kah?" tanya Kanigara yang membuat Inka tersenyum.
"Emang salah muji suami sendiri? Beneran kok kakak cakep, aku engga bohong!" ujar Inka yang membuat Kanigara menggenggam tangan sang istri dan membawa tangan itu ke arah bibirnya dan mengecup tangan Inka dengan lembut yang membuat Inka tersipu.
Kanigara mengucapkan terima kasih kepada sang istri atas pujian yang di alamatkan kepadanya. Inka hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepala sembari membalas genggaman tangan Kanigara.
Malam itu, mereka bercengkerama dengan bernostalgia tentang masa lalu mereka. Tentang Inka dan Kanigara muda, yang sebelumnya hampir tak pernah saling menyapa. Mereka pun sempat tak menyangka bahwa takdir akan menyatukan mereka, hingga sampai ke titik di mana cinta tumbuh di antara mereka berdua.
"I love you so, Kanigara Janu," bisik Inka di telinga sang suami, yang membuat Kanigara tersenyum dalam tidurnya.
****
__ADS_1
Keesokan harinya, Kanigara mengajak Inka untuk berjalan-jalan di tepi Danau Reusss, dimana ada sebuah jembatan terkenal di kota Lucerne, yang menyuguhkan pemandangan indah danau, dan bangunan-bangunan yang ada di sekitar jembatan itu. Kanigara sama sekali tak melepas genggaman tangan mereka, seolah takut Inka tiba-tiba menghilang dari sisinya yang membuat sang istri merasakan kebahagiaan yang membuncah dalam hatinya.
Inka sama sekali tak menyangka bahkan Kanigara bisa seromantis ini kepada dirinya. Ia tahu bahwa ia tak sedang bermimpi indah lalu terbangun dalam kenyataan pahit. Di kehidupan kali ini, ia memang merasakan cinta suami-istri yang sesungguhnya. Inka tak rela kehilangan momen berharga seperti saat itu.
"Kak...," ujar Inka sembari menarik tangan Kanigara pelan yang membuat lelaki itu menoleh ke arah Inka.
"ILU," ujar Inka mengulangi bisikan yang ia lakukan tadi malam. Wajah Inka memerah, ia seperti gadis remaja yang sedang mengutarakan perasaannya, kepada lelaki yang ia sukai dan berharap perasaannya itu berbalas.
"I love you, to the moon and back, my sweetie pie. Makasih karena udah membalas perasaanku," ujar Kanigara yang langsung mencium mesra bibir Inka. Ia seolah tak perduli bila banyak mata yang menjadi saksi kemesraan mereka. Kanigara seakan berubah menjadi lelaki muda yang terus merasa haus akan cinta dari pujaan hatinya.
"Ehmmmm, ayo kita balik ke hotel..., kegiatan di hotel jauh lebih menyenangkan," bisik Kanigara untuk menggoda Inka yang membuat Inka tersipu dan memukul pelan dada sang suami dan membenamkan wajahnya yang malu dalam pelukan Kanigara.
****
"Pelan-pelan sayang, mereka pasti tetap nunggu kok!" ujar Kanigara yang melihat Inka yang sudah tak sabar ingin keluar dari pesawat yang mereka tumpangi. Inka hanya mengangguk pelan, ia mencoba menahan diri, walau Kanigara merasakan apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran gadis tercintanya itu.
"Papi, Mami, Kak Asher, Kak Melanie juga ada," seru Inka sembari memeluk mereka secara bergantian. Kanigara pun menyapa mereka berempat dan melakukan hal yang sama seperti yang sang istri lakukan sebelumnya.
"Waahhhh, auranya makin bersinar aja nih, pulang dari bulan madu. Jangan-jangan udah bawa kabar bahagia buat opa dan oma ini," goda Asher yang membuat Kanigara tersenyum simpul dan wajah Inka berubah merah. Oliver dan Elisha merasa sedang mendengar kabar bahagia itu.
Mereka bersyukur karena cinta Inka dan Kanigara akhirnya bersatu juga. Binar bahagia di wajah Inka, juga menebarkan kebahagiaan di hati keluarga yang sangat menyayangi dirinya itu.
****
__ADS_1
"Gi, gimana udah ada updatean yang aku minta belum?" tanya Inka sembari berbisik di tengah acara kumpul keluarga malam itu.
"Udah, nak! Laporan lengkapnya ada di email," balas Gianna sambil berbisik yang membuat Inka mengangguk cepat. Inka sudah tak sabar untuk membaca laporan lengkap yang dikirimkan Kenneth kepadanya, ia hanya bisa menunggu hingga acara makan malam mereka selesai.
Kanigara yang melihat Inka sedang berbicara serius dengan Gianna merasa ada yang aneh. Ia sering melihat Inka dan Gianna berbicara empat mata di kediaman mereka. Sebenarnya ia penasaran dengan pembicaraan kedua sahabat yang sepertinya tak biasa itu, tetapi ia memilih untuk memberi ruang kepada Inka dan Gianna untuk membahas permasalahan pribadi mereka.
Namun, kejadian saat mereka berbulan madu membuat Kanigara merasa harus menyelidiki tindak-tanduk Inka dan Gianna. Entah mengapa Kanigara merasa ada hal besar yang sedang disembunyikan oleh kedua gadis itu.
****
Setelah acara selesai, Inka langsung memeriksa email yang masuk dan membaca laporan yang dikirimkan oleh Kenneth itu. Membaca laporan itu membuat Inka terguncang. Ia tak menyangka bahwa dugaannya benar adanya. Ia mengepalkan tangannya sambil mengumpat, hampir saja ia melewatkan sesuatu yang penting.
"S*al! Hampir aja kelolosan, ternyata gadis itu lebih lihai dari dugaanku!" gumam Inka bermonolog.
Ia segera menghubungi Kenneth dan Gianna untuk membahas rencana mereka terkait orang yang diselidiki oleh Kenneth itu. Setelah membahas rencananya dengan Gianna dan Kenneth, Inka teringat satu hal dan kembali menghubungi detektif swasta yang mereka pekerjakan itu.
"Coba selidiki hubungan gadis itu dengan Bimantara! Aku yakin mereka pasti berhubungan," ujar Inka dari seberang panggilan.
Inka terus memikirkan masa lalunya, ia berusaha mengingat tentang Bimantara dan gadis yang sedang mereka selidiki itu. Ia merasa ada informasi yang terlewatkan dari ingatan masa lalunya itu. Ia tak menyangka bahwa firasatnya saat itu benar adanya.
Inka tak habis pikir, bagaimana mungkin orang yang sudah mereka bereskan itu, bisa muncul lagi di kemudian hari. Ia tak menyangka gadis biasa itu mempunyai keberanian untuk melawan hukum, bahkan berhasil untuk meloloskan diri.
"Ternyata mataku tak salah, dia orang sama!"
__ADS_1
****