
Kanigara terkejut mendengar perkataan dari sang istri. Ia menatap Inka dengan lekat. Kanigara mencoba mencari sesuatu di mata Inka, untuk memastikan kesungguhan kata-kata dari istrinya itu.
"Kamu mau anak? Adopsi?" tanya Kanigara karena ia masih mengingat perjanjian di antara mereka berdua. Inka tertegun sesaat kala mendengar pertanyaan Kanigara itu. Ia menatap Kanigara dengan tatapan teguh, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Benih kita, anak kita!" ujar Inka singkat yang membuat Kanigara terkejut.
Setidaknya bila kelak aku kembali setelah misiku selesai, bila Tuhan menghendaki, akan ada jejakku di dunia ini melalui darah daging kita, batin Inka yang mendadak sendu. Ia segera memeluk Kanigara secara tiba-tiba untuk menutupi kesedihannya. Ia tak ingin Kanigara melihat kilatan kesedihan di matanya, yang akan membuat lelaki itu bertanya-tanya.
Kanigara tak tahu harus bersikap bagaimana atas permintaan istrinya itu. Namun yang jelas, lelaki itu bahagia karena mendengar permintaan Inka itu, ia menjadi yakin Inka juga mencintai dirinya. Walau Inka sama sekali belum membalas pernyataan cintanya beberapa waktu yang lalu, tetapi perkataan sang istri malam itu adalah sebuah jawaban bagi seorang Kanigara.
Namun malam itu, Kanigara dan Inka menghabiskan malam mereka dengan mengobrol dan tidur sambil berpelukan. Mereka sepakat untuk menumbuhkan hubungan mereka ke ranah yang lebih intim setelah mereka menjadi lebih dekat lagi.
****
"Ada apa mencariku?" ujar seseorang ketus yang membuat gadis di depannya menghela nafas pelan.
"Apa aku engga boleh menemui tunanganku?" balas gadis itu yang membuat orang yang duduk di hadapannya mendengus kasar dan menatap gadis itu dengan tajam.
"TUNANGAN? Cih! Mimpi aja terus, aku udah bilang itu hanya sesaat, Nona Melanie! Sebentar lagi atribut yang kamu kenakan itu hanya tinggal kenangan! Jika tidak ada yang penting, silakan tinggalkan ruangan ini!" ujar Asher yang mengusir Melanie dari kantor Inka siang itu.
Melanie bergeming, ia malah duduk manis sambil membuka kotak makanan yang sengaja ia siapkan untuk makan siang bersama dengan tunangannya itu. Asher memicingkan matanya dan menatap Melanie penuh kebencian.
"Keluar!" desis Asher, tetapi Melanie seolah menulikan telinganya yang membuat Asher berang dan berdiri dari kursi kerjanya dan mendekati Melanie dengan cepat. Asher mencengkeram bahu Melanie dan mengangkat tubuh gadis itu untuk berdiri.
"Keluarlah..., sebelum aku lupa kamu seorang wanita," ujar Asher pelan tetapi sarat dengan ancaman yang membuat Melanie sedikit takut. Namun, ia mengingat niatnya dan menatap Asher dengan tatapan teguh yang membuat lelaki muak.
__ADS_1
"Lakukan! Lakukan apa yang kamu mau lakuin ke aku! Keluarkan semua kebencianmu!" ujar Melanie pelan yang membuat Asher mencebik dan bersiap untuk mengangkat tangannya. Melanie menutup matanya dan bersiap untuk menerima tamparan dari Asher.
Asher yang melihat reaksi Melanie terkejut dan menghempaskan tubuh Melanie ke sofa. Asher memilih keluar dari ruangan itu, tanpa menoleh lagi ke arah Melanie. Melanie yang melihat bahwa Asher berhasil menahan amarahnya, tersenyum miris.
Ia tahu lelaki itu masih sama, seorang lelaki gentleman yang sama sekali tak akan mengangkat tangannya untuk menyakiti seorang wanita. Melanie bisa mengingat dengan jelas tatapan membunuh yang dilayangkan Asher kepada dirinya, saat kejadian yang mencoreng nama baiknya di depan mantan kekasihnya itu.
Asher hanya mengepalkan tangannya dan melangkah pergi setelah menghadiahi beberapa pukulan kepada lelaki yang memfitnah Melanie. Asher menatap Melanie, hanya sekali lalu berlalu begitu saja. Melanie beberapa kali mencoba menemui Asher, tetapi lelaki itu menolak untuk menemui gadis itu.
Melanie mundur teratur, saat ia merasa tak ada lagi ruang baginya di hati Asher yang sudah terlanjur membencinya dan menyematkan julukan "pengkhianat" terhadap Melanie.
****
"Gimana kakak ipar berhasil?" tanya Inka saat menerima panggilan dari Melanie.
"Gagal! Aku diusir!" ujar Melanie dengan nada yang terdengar lemas dan membuat Inka merasa bersalah karena dialah yang memberikan ide kepada Melanie untuk membuatkan bekal makanan buat Asher.
Inka berjanji pada Melanie, akan memikirkan cara lain untuk mendapatkan kembali hati kakaknya itu. Ia tahu Asher bukan orang yang gampang dibujuk dan sangat membenci pengkhianatan, sehingga bukan hal mudah untuk mengambil hati Asher saat ini.
Melanie hanya mengucapkan terima kasih kepada Inka karena bersedia membantu dirinya bahkan mempercayai dirinya. Awalnya Melanie sedikit ragu untuk meminta bantuan kepada Inka, karena Inka adalah adik kandung Asher.
Melanie takut bahwa Inka tak akan mempercayai cerita yang sesungguhnya dan malah menyudutkan dirinya. Namun ternyata pemikirannya itu salah. Inka malah bersedia membantunya dan itu memberikan angin segar dan kepercayaan diri untuk mendekati Asher lagi.
****
"Serang bagian lain yang merupakan kelemahannya!" ujar seseorang yang membuat lelaki yang dihadapannya mengangguk paham dan segera mengundurkan diri.
__ADS_1
Lelaki yang sedang duduk di meja kerjanya, sedang mengetuk-ngetukkan pena yang ada di tangannya sembari memikirkan sesuatu.
"Niskala? Asher? Orang tua mereka? Atau si dokter cantik, Melanie?" gumamnya bermonolog. Kemudian ia menyeringai puas saat ia sampai di titik kesimpulan yang harus diambilnya. Ia segera menghubungi seseorang untuk merealisasikan pemikirannya tadi.
"Baik bos, siap laksanakan!" ujar lelaki yang berada di seberang panggilan.
"Kali ini jangan sampai gagal, atau nyawamu taruhannya!" ancam lelaki yang dipanggil "bos" tadi.
****
"Bu bos, kali ini sasarannya di luar alur yang sebelumnya!" ujar Gianna saat ia berkunjung ke kediaman Inka.
"Ya, dan hal ini bisa menjadi kesempatan yang bagus untuk seseorang! Biarkan mereka melaksanakan rencananya. Ubah rencana kita ke plan B. Minta kenneth untuk menempatkan anak buahnya, buat mengawasi target! Ingat jangan ada pergerakan sampai ada instruksi dari aku!" tegas Inka yang membuat Gianna mengangguk paham.
"Jadii..., gimana sama babang Kanigara! Ada kemajuan engga?" ujar Gianna saat mereka mengubah pembicaraan mereka ke arah yang lebih santai.
"Ehmmm, ada. Aku minta anak!" ujar Inka yang membuat mata Gianna terbelalak dan mulutnya menganga.
"A..., apa? Minta anak?! Wahh, nyonya muda Janu, anda sesuatu sekali! Polesan bahasa halus untuk kalimat kiasan yang bermakna ganda! Bravo!" seru Gianna sambil menepuk tangannya yang membuat Inka tertawa kecil.
"Bahasa apaan itu barusan? Emang kita lagi pelajaran bahasa Indonesia, kalimat kiasanlah, makna gandalah! Ganti profesi jadi guru aja, neng!" Ledek Inka yang membuat sahabatnya itu mencebik. Gianna berusaha mengorek informasi lebih jauh tentang maksud perkataan Inka. Namun seperti biasa Gianna harus menelan kekecewaan karena Inka kembali irit penjelasan yang membuat Gianna kesal.
Ponsel Gianna tiba-tiba berdering, dan sebuah pesan masuk yang membuat Gianna mengernyitkan dahinya. Ia menunjukkan pesan itu kepada Inka, yang membuat Inka menyeringai puas.
"Sekali mendayung, dua, tiga pulau terlampaui. Biarkan mereka bergerak, kita sambut dengan tari-tarian! Sekarang kita cukup diam dan menonton bagaimana mereka menjalankan rencana gagal itu!"
__ADS_1
****