
Melanie terkejut saat mendengar perkataan dari Asher, ia tak percaya bahwa kali ini Asher mendengarkan dan mempercayai penjelasannya. Wajah Melanie tersipu sembari mengikuti perkataan tunangannya itu, wajah Asher terlihat melembut kala menatap Melanie.
Tak ada lagi raut wajah dingin dan tatapan penuh aura kebencian dalam sorot mata lelaki tampan itu. Melanie menutup matanya karena ia tak sanggup membalas tatapan Asher lebih lama. Ia merasa jantungnya berdebar begitu keras karena kebahagiaan yang ia alami saat itu.
Kejadian menakutkan yang dialaminya, ternyata membawa berkat tersendiri buat dirinya. Penculikan yang dialaminya malah membuat hubungannya dan Asher membaik. Ia merasa bisa tidur nyenyak malam itu.
Makasih, Inka sayang. Aku berutang segalanya sama kamu, adik ipar! batin Melanie sembari tersenyum dalam tidurnya yang membuat Asher yang masih menikmati pemandangan cantik yang ada di depannya, menaikkan sebelah alis sembari memikirkan apa yang sedang dipikirkan tunangannya itu.
Asher tahu Melanie sama sekali belum tertidur, semburat merah jambu pada pipi gadis itu menjelaskan semuanya. Asher hanya tersenyum simpul sembari menutup matanya. Ia merasa lega entah karena apa.
****
Sementara itu di ruangan yang berbeda, Kanigara sedang menatap Inka dengan pandangan bertanya yang membuat gadis itu segera menjelaskan kronologi penculikan dirinya.
"Sayang, kamu lihat wajah penculiknya? Ada satu hal yang aneh, kenapa tak ada satu pun penjaga yang ada di tempat itu saat kami tiba?" selidik Kanigara yang membuat Inka menjadi sedikit waspada. Ia tahu bahwa menghadapi suaminya bukanlah hal mudah bila Kanigara sedang dalam mode serius.
Tak mungkin seorang pebisnis handal seperti Kanigara mudah dikelabui. Tapi Inka juga sudah menyiapkan jawaban logis guna membungkam bibir sang suami walau hanya untuk sementara waktu. Inka tahu suatu saat, Kanigara akan mengetahui segalanya, tetapi untuk saat ini ia belum siap untuk jujur kepada lelaki yang pernah menorehkan luka di hatinya itu.
"Waktu aku diculik, aku hanya lihat mereka pakai penutup wajah, Kak. Mereka membekap mulutku dengan kain, lalu aku tak sadarkan diri. Aku engga tau kemana aku dibawa, atau situasi yang ada di tempat penyekapan kami itu," ujar Inka dengan wajah yang masih terlihat tertekan yang membuat Kanigara tak mau memaksa sang istri untuk mengingat semuanya.
Inka merasa aktingnya saat itu sudah cukup untuk membuat Kanigara sedikit lunak kepada dirinya. Kanigara menatap Niskala yang membuat Niskala menganggukkan kepalanya. Niskala menatap Inka dengan tatapan yang dalam.
Sampai kapan kamu akan berjuang sendirian, adik kecil? Sampai kapan kamu akan tetap merahasiakan semuanya dari kami!
****
Di tempat lain seseorang sedang murka dan menghabisi bawahannya yang gagal menjalankan tugas. Ia menembaki tubuh yang sudah terkapar itu berkali-kali untuk melampiaskan kemarahannya.
__ADS_1
"Arghhhhhh, kenapa gagal terus?! Tak ada yang becus! Apa kalian semua mau mati?!" teriak Bimantara yang membuat seluruh bawahannya yang berada di tempat itu menunduk, tak ada yang berani menjawab lelaki yang sedang menggila itu.
Salah sedikit, salah satu dari mereka akan menjadi sasaran empuk dari kemarahan seorang Bimantara. Lelaki itu menatap bengis ke arah para bawahannya, seolah ia sedang mencari korban berikutnya untuk melampiaskan semua emosi yang menguasainya.
Leticia yang berada di luar pintu, hanya bisa berdiam diri saat mendengar amukan dan suara tembakan dari ruangan pribadi Bimantara itu. Ia tak berani mengganggu lelaki itu saat ini, walau sebenarnya ia penasaran dengan apa yang terjadi sehingga menyebabkan suaminya itu murka.
Leticia beranjak dari tempat itu, dan berusaha mencari seseorang yang bisa ia tanyai untuk menuntaskan rasa penasarannya itu.
"Kamu sini!" ujar Leticia saat melihat salah satu anak buah Bimantara yang sedang berjaga.
"Iya, Nyonya..., ada yang bisa saya bantu?" tanya lelaki muda berbadan besar itu dengan sopan setelah berada di dekat istri dari majikannya itu.
Leticia pun mulai menginterogasi bawahan Bimantara itu. Ia pun mendapatkan jawaban atas tanya yang dari tadi mengganggu pikirannya.
Dasar lelaki bodoh! Apa dia tidak tahu bahwa Inka jago bela diri?! Ku kira pintar dan licik, ternyata tak lebih dari lelaki berotak udang! batin Leticia kesal karena ia tak diikutsertakan dalam rencana Bimantara kali ini.
****
"Apa dia memang sekuat itu?" tanya orang yang berada di depan gadis yang sedang menganggukkan kepalanya dengan cepat. Gadis muda itu menceritakan apa yang pernah ia lihat. Penuturan itu membuat dahi atasannya itu berkerut.
Ia memang benar-benar berubah! Aku jadi penasaran apa sebenarnya yang melatari perubahan seorang Inka, batin Rhode.
Tiba-tiba ponsel Rhode berdering.
"Iya kak," ujar Rhode saat mengangkat panggilan yang masuk ke ponselnya itu.
"Terima kasih sudah membantu! Kerja bagus! Ingat untuk tak membongkar rahasia kita!" ujar orang yang berada di seberang panggilan itu.
__ADS_1
Setelah berbicara beberapa hal, orang yang menghubungi itu menutup panggilannya. Rhode menghela nafas panjang.
Haruskah aku menjalankan agenda ganda bila situasinya seperti ini? Ahhh, sudahlah toh tujuannya sama. KEHANCURAN LETICIA DAN BIMANTARA! batin Rhode sembari mengetuk-ngetukkan jari di meja kerjanya.
****
Inka dan Melanie sudah diperbolehkan pulang. Saat Melanie ingin kembali ke kediamannya, Asher langsung melarangnya dan meminta ijin kepada Niskala dan Kanigara agar Melanie bisa tinggal sementara waktu di kediaman keluarga Janu hingga situasi dan kediaman Melanie dijamin aman.
Niskala dan Kanigara sama sekali tak keberatan, bahkan Inka terlihat senang dengan keputusan dari sang kakak. Melanie juga ikut senang karena ia bisa dekat dengan Asher dan keluarganya selama beberapa hari sebelum tunangannya itu kembali ke Jakarta.
"Selamat datang kembali, Tuan dan Nyonya," ujar Rima dan Riska bersamaan. Riska ditugaskan untuk melayani Melanie selama tinggal di kediaman keluarga Janu. Mereka bergegas membawa barang-barang milik majikan mereka ke kamar masing-masing.
"Untung papi sama mami udah balik ke Jakarta sebelum kejadian yang menimpa kalian, kalo engga bakalan rame semua!" ujar Asher saat mereka sedang menunggu pesanan teh untuk acara santai mereka di gazebo, yang ada di taman kediaman keluarga Janu.
Inka hanya tertawa kecil saat membayangkan reaksi yang akan ditunjukkan oleh kedua orang tuanya. Kanigara hanya bisa bernafas lega karena baik Inka maupun Melanie bisa selamat tanpa ada luka atau hal lain yang tak mereka inginkan.
Asher menatap Melanie yang terlihat diam. Melanie hanya menundukkan kepala seolah sedang bersedih atau memikirkan sesuatu. Asher menggenggam tangan Melanie secara tiba-tiba dari bawah meja yang membuat Melanie terkejut dan mendadak tersipu.
Asher menatap Melanie dengan tatapan bertanya. Melanie hanya menggelengkan kepalanya dan melihat Asher dengan tatapan sendu.
"Aku hanya sempat berpikir kalo kita tak akan bertemu lagi." Perkataan Melanie itu membuat Asher tertegun. Inka, Kanigara dan Niskala hanya menatap kedua insan itu sembari tersenyum simpul.
Inka tak pernah melihat Asher berinteraksi dengan seorang wanita kecuali anggota keluarga mereka, Gianna atau para staf mereka. Kenyataan bahwa Melanie adalah mantan kekasih Asher di kehidupan kedua Inka, juga fakta yang baru diketahui oleh istri Kanigara itu.
Tak lama Murni membawakan teh pesanan Inka dan menghidangkannya. Inka mengangkat gelas tehnya, tetapi kemudian ia mengernyitkan dahinya.
"JANGAN DIMINUM TEHNYA."
__ADS_1
****