
Tubuh tak sadar Rea kini sudah berbaring di atas tempat tidurnya. Dan Gema masih memperhatikannya di sisi tempat tidur setelah berhasil membuka auter tebal yang perempuan itu gunakan. Lalu kemudian ia teringat oleh ucapan Rose.
Dengan cepat ia ke kamar mandi, lalu kembali dengan membawa handuk basah, dan sebuah wadah berisi air, yang ia minta dari Rose.
Jantungnya berdegup tak menentu, saat tangannya mulai bergerak membuka kancing pertama dari blouse yang di gunakan Rea. Ia menelan ludah, setelah itu berhasil dan berpindah pada bagian kancing kedua. Ia tak berhenti melihat pada wajah yang tertidur, sungguh saat itu ia takut, takut perempuan itu terbangun, dan menemukan dirinya sedang seperti itu.
Beberapa menit kemudian, semuanya terlewati. Gema berhasil meloloskan semua kancing pada pakaian itu dengan waktu yang tak lazim, butuh beberapa menit, untuk membuka satu blouse. Dan ia tersenyum menyadari itu.
Beberapa detik kemudian ia diam terpaku, matanya tak beralih dari menatap tubuh di hadapannya, dan kemudian pandangan berpindah ke wajah, wajah yang masih tertidur, dengan deru nafas yang teratur, tapi membuat dada pemiliknya ikut bergerak. Bergerak begitu menarik di mata pria normal. Dan Gema, pria yang normal.
Ia tak bisa menahan dirinya untuk tak menyentuh bibir ranum di hadapannya. Tidak ada yang salah bukan, perempuan itu istrinya.
Tepat setelah bibir mereka menyatuh. Mata Rea terbuka. Di saat itu Gema ingin segera menarik dirinya. Tapi tatapan perempuan itu membuatnya urung. Mata sendu perempuan itu membuatnya bergairah, dan yang tak ia duga, bersamaan Rea membalas ciumannya, bahkan ********** lebih dulu.
Tak ada alasan untuk Gema tak melanjutkan keinginannya. Perempuan itu sudah memberi izin dengan membalas ciumannya.
dan beberapa detik kemudian, ia tak lagi terpaku pada bibir perempuan itu, ia menginginkan sesuatu yang lebih, dan sesuatu itu yang mungkin juga di inginkan oleh Rea.
Beberapa menit kemudian, semua pakaian lolos dari tubuh mereka. Tak butuh waktu lama, seperti saat Gema membuka kancing blouse Rea, hanya beberapa detik, karena mereka saling membuka tidak sabar.
Gema sangat kesal saat tadi menemukan tubuh Rea yang sudah tidak sadar oleh minuman. Tapi kini, ia menyukainya. Ia menyukai hal itu, ia menyukai gerakan panas dari tubuh perempuan itu, karena aliran alkohol yang sudah menyatuh dalam darahnya. Dan ini kedua kalinya ia menemukan hal itu. Menemukan sisi lain dari seorang Andrea.
•••
" Dad, aku tidak mau melakukannya ", pekik seorang perempuan di atas meja makan. Mata coklatnya memandang tak suka.
" Kau harus melakukannya Laena ", ucap tegas dari lelaki paruh baya di hadapannya.
" Apa itu keharusan ! ".
" Harus ", bentak lelaki itu lagi, " puluhan tahun, keluarga kita melakukannya. Kau satu-satunya yang tak pernah hadir ".
" Untuk apa ?, acara itu hanya ajang pamer ",sergahnya. Mata Laem Brooktsein memanas, " Laena ", teriaknya tanpa sadar. Semua orang terkejut oleh suaranya, termasuk istrinya sendiri, yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.
Ia tersentak ketika mendengar lelaki itu berteriak. Hal itu bukan sesuatu yang sering terjadi.
" Jangan merubah tradisi di keluarga ini Laena ", katanya lagi. Wajahnya memerah menahan amarah, " kau harus hadir disana ", tambahnya.
__ADS_1
" Kris atur putrimu ", pintanya dengan nada yang begitu tinggi, lalu meninggalkan meja makan besar, meninggalkan sarapan yang baru sedikit ia sentuh.
" Apa yang kau lakukan Laena ", cercah Kris pada perempuan yang masih berada di meja makan, " kau membuat Ayahmu marah ", ucapnya kesal, lalu ia beranjak dari tempatnya untuk mengejar langkah Laem.
" Aku benci acara-acara seperti itu. Apa mereka tidak mengerti huh. Apa sebegitu sukanya mereka berada dalam sorotan media ", gumam Laena menggerutu, " aku benci akan membayangkan bertemu mereka", katanya lagi, mengingat saat acara itu, dia akan bertemu semua keluarganya, semua saudara seketurunannya dan ia sungguh membenci hal itu.
Tubuh Laena bergidik membayangkan jika pertemuan itu akan terjadi. Makanan yang baru saja ia telan, seperti ingin keluar kembali, saat membayangkan semua pertanyaan-pertanyaan,
yang akan terlontar dari mulut saudara sebangsawannya itu. Ia muak setiap kali, salah satu dari mereka datang menghampirinya untuk menanyakan siapa nama desainer dari gaun yang ia gunakan, sepatu yang ia gunakan, dan bahkan mereka seperti harus tahu, berapa jumlah karat pada berlian yang tertambat di tubuhnya. Ia benar-benar muak saat membayangkan itu.
" Acara amal ", ucapnya seraya berdercih, " acara pamer tepatnya ", katanya lagi.
" Kalau saja aku lahir di waktu keturunan kedua, sudah ku racun pembuat acara ini", katanya mengumpat dan saat itu Ibunya kembali ke meja makan.
" Kau tidak akan lahir, jika kau sudah meracunnya waktu itu ", kata Kris menimpali gumamannya. Ia tersentak, dan segera menutup rapat bibirnya, " nenekmu orang yang membuat acara ini ", katanya lagi.
Laena menghela, " kenapa malaikat maut belum juga mencabut nyawanya ".
" Laena ", teriak Kris dengan mata yang membesar, " jaga bicaramu ", bentaknya.
" Sudah bertahun-tahun dia hanya berada di atas ranjang emasnya ".
" Seperti orang mati ", tambahnya begitu pelan. tapi Kris masih mendengarnya.
" Laena, sungguh jaga bicaramu ", kata Kris kembali membentak, nadanya tak setinggi sebelumnya, ia seperti berbisik tapi menekan kan ucapannya.
" Mam, aku muak dengan aturan yang dia buat dalam keluarga ini ", kata Laena membalas, ia tak peduli suaranya akan di dengar oleh orang lain, " Kalau di sudah mati, semuanya akan mudah. Hidup kita akan bebas tanpa aturannya ".
" Laena ", teriak Kris.
" Mam aku tahu kau juga tertekan karena dia ", balasnya tak mau kalah, dan Kris terdiam saat itu. Lidahnya tercekat untuk kembali menegur ucapan anaknya, " aku tahu mam, aku tahu semuanya. Kau bahkan sulit bernafas ketika berhadapan dengannya ",sambungnya, dan Kris sudah benar-benar terdiam.
" Jadi memang lebih baik dia mati ", katanya lagi.
" Laena jaga bicaramu ", kata Kris kembali bicara. Nadanya tapi tak setegas tadi, " bagaimana pun dia nenekmu. Kau tidak akan lahir kalau dia tidak ada ".
" Aku tetap akan lahir Mam ", sahut Laena, kali ini nada bicaranya teratur, " aku lahir dari rahimmu, bukan dari nama Brookstein ",sambungnya, dan Kris lagi-lagi terdiam oleh ucapannya, " bahkan aku akan lebih bersyukur jika seandainya aku tidak terlahir dari keturunan keluarga ini ".
__ADS_1
" Laena ", pekik Kris. Kali ini dia kembali melengkingkan suaranya pada perempuan itu.
" Mam aku sungguh muak dengan semuanya ", balas Laena berteriak. Dan saat itu, bersamaan seorang pelayan datang, " maaf Nyonya ", ucapnya sambil memberikan sebuah kotak berukuran sedang.
Suasana menjadi menghening karena benda yang datang itu. Laena menjadi lebih tertarik untuk melihatnya, dari pada kembali membahas tentang neneknya.
Mata Kris terkesiap ketika menemukan nama Frans Antonio di dalam tulisan nama pengirim dari benda yang baru saja ia terima. Matanya yang tadi menatap tajam, kini meredup dan kembali berbinar.
Ia menjadi tak sabar untuk melihat isi di dalam kotak itu. Sampai ia tak sadar, kini tubuh Laena sudan merapat ke tempatnya duduk.
Jantungnya berdebar, ketika menemukan foto perempuan dengan gaun putih. Tanpa sadar tangannya bergerak mengusap wajah di dalam gambar itu, dan saat itu air matanya hampir menetes.
" Siapa perempuan itu mam ? " tanya Laena, yang berhasil membuatnya tersentak, dan dengan cepat kembali memasukan foto itu ke dalam kotak. Ia kegelapan dan menepis cepat air mata yang hendak menetes di wajahnya pada saat itu.
" Mam siapa itu ? ", tanya Laena sekali lagi. Alisnya saling bertaut, dan matanya menatap heran. Tapi Kris tak menjawab, ia justru mulai bergerak dari tempat duduknya dan membawa pergi kotak itu.
" Mam aku melihatnya. Kenapa wajahnya begitu mirip denganmu ", ucap Laena dan saat itu langkah kaki Kris terhenti. Tubuhnya mematung dan detak jantungnya berpacu sangat hebat. Tapi lidahnya keluh untuk bicara.
•••
Sinar matahari sudah begitu terang, saat Rea membuka matanya.
Ia tersentak, saat menemukan tubuh dirinya sudah berada di kamar tidurnya sendiri. Ia sungguh tidak sadar, kapan tubuhnya yang berada di salah satu Bar tengah kota, lalu berpindah ke kamar tidurnya sendiri. Dan ia semakin terkejut ketika menemukan tubuhnha berada di bawah selimut dengan tanpa terbalut sebenang kain pun.
Dan jantungnya berdebar ketika menemukan satu tangan merengkuh pinggangnya. Ia menelan ludah, dan perlahan memutar tubuhnya. Ia sudah menebak siapa dari pemilik tangan itu, tapi ia tak sanggup untuk memastikan.
" Shiit ", umpatnya ketika menemukan Gema tertidur di sisinya.
" Apa yang terjadi ", gumamnya tak habis pikir. Dan saat itu, lelaki itu membuka mata tertidurnya, " kau sudah bangun ", tanyanya serak.
Rea menelan ludah. Pagi ini ,ia sungguh membenci dirinya sendiri.
dan Tanpa bicara, ia langsung beranjak dari tempat tidurnya, tak peduli pada tubuhnya yang tanpa terbalut sebenang kain pun. Ia hanya ingin pergi, dan tak kembali melihat pada tatapan mata kelabu milik Gema.
Tapi Gema, justru masih menatapnya saat itu. Terus memandanginya, sampai tubuhnya menghilang dari pintu kamar mandi.
Dirinya dibuat bingung pagi ini, oleh sikap Rea. dan tak sadar menjadi sedikit kesal. Ia kesal karena merasa di abaikan oleh perempuan itu.
__ADS_1