KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Hujan Turun


__ADS_3

Rea berlari dari tanah lumpur menuju tepian. Tapi, langkah kakinya tak pelak dari gapaian tangan Gema. Dan alhasil ia kembali lagi ke dalam lumpuran. Seperti itu berulang terjadi. Dan selama itu juga mereka terus tertawa.


" Ampun-ampun ", mohonnya dengan Gema. Nafasnya tersengal, dengan perut yang terasa kram karena terus tertawa, " Gema ampuun.. " pekiknya, kini tubuhnya telah berada di dalam rengkuhan lelaki itu, dengan kaki yang menggantung di atas tanah lumpur.


" kau kalah hmm.. ".


" Iya iya aku kalah. Please turunkan aku " katanya berusaha mengibah.


Gema tersenyum penuh kemenangan, mendengar pengakuan kekalahan itu. Tapi tubuh Rea masih di rengkuh erat oleh.


" Gema please " Rea memohon sekali lagi.


Ia sedikit panik, ketika lelaki itu tak kunjung menurunkan tubuhnya. Justru tubuhnya terus di angkat, dan matanya membesar ketika menyadari kemana ia akan di bawa, " Gema jangaaaan.. " teriaknya sia-sia, karena tubuhnya kini telah berhasil mendarat di dalam air dangkal, tempatnya tadi bermain bersama ikan-ikan kecil.


Dan kemudian laki-laki itu menyusul.


Sekejap air yang tadi begitu jernih, kini berubah menjadi warna coklat susu.


" astaga, kita membuat kotor air ini Gema ", seru Rea panik. Tak satu pun ikan kecil tadi terlihat, tertutup air keruh yang di sebabkan oleh lumpur di tubuh mereka.


Rea menahan senyum, ketika melihat lelaki di sampingnya kini tengah serius membersihkan diri. Membasuh setiap bagian tubuhnya yang di penuhi lumpur. Dan sekejap, wajah yang tadi berlumuran tanah hitam kini bersih, menampakan wajah putihnya dan bulu mata lentik yang basah.


Tak sampai disitu, lelaki itu kemudian membuka kaos polo berwarna coklat kayu yang ia gunakan.


Gleg


Tanpa sadar Rea menelan ludah, kemudian memalingkan pandangannya. Wajahnya terasa panas seketika. Ia tarik pelan nafasnya, berusaha menenangkan deburan jantung yang tiba-tiba bekerja lebih cepat.


" Apa kau tidak akan mencuci tubuhmu ? ", sebuah tanya yang membuat Rea nyaris gelagapan, " mmm ya " katanya tanpa berani memalingkan wajahnya.


" Apa kau butuh bantuan ? "


Rea menelan ludah lagi, " tidak tidak. Aku bisa sendiri ".


Cepat-cepat ia mengusap diri. Membersihkan setiap jengkal tubuhnya yang terkena lumpur, yang ternyata tanah coklat itu hampir memenuhi semua tubuhnya.


" Kemari aku bantu "


" Aku bisa sendiri "


" Kau tidak bisa sendiri " titah Gema, yang bergerak menarik tubuhnya, " rambutmu masih di penuhi lumpur ", cercahnya, tanpa ijin tangan besarnya mengusap kepala hingga ke ujung rambut Rea. Ia tak menyadari ada jantung yang berdegub sangat cepat saat ia melakukan itu.


" aku bisa sendiri ", ucap Rea pelan, berusaha melepas tangan lelaki itu dari kepalanya. Tapi Gema seperti mengidahkan ucapannya.


" Condongkan tubuhmu ke belakang " perintahnya.


" huh "


" Kau tidak bisa ? "


" Kalau begitu sadarkan kepalamu disini " katanya lagi. Belum sempat Rea mengerti perintahnya. Lelaki itu menepuk dadanya, yang saat ini di tatap jelas oleh mata Rea. Padahal sebelumnya, setengah mati ia berpaling agar tidak melihat bagian itu.


" Ayo, nanti rambutmu akan mengeras ", sergah Gema yang tidak menunggu untuk menarik tubuh perempuan itu semakin dekat dengannya.


Tubuh Rea setengah mengambang di atas air, dengan wajah yang mengadah ke arah langit. Matanya memejam, setiap kali air yang membasuh rambutnya mengenai mata.


Diam-diam ia mengamati wajah dari tempatnya memandang. Di mulai dari dada yang bidang. Rahang yang tegas. Bibir yang berwarna merah plum. cuping hidung yang kempas kempis menyaring udara masuk. Semua terlihat jelas dari tempatnya. Bulu mata lentik yang basah, terlihat begitu mengagumkan pada saat itu.

__ADS_1


" Apa aku tampan ? " ucap Gema, dengan senyum yang melebar.


Rea menarik cepat pandangannya. Mengalihkannya ke segala arah, " apa sudah selesai ? ", katanya berbalik bertanya dengan menahan setengah mati rasa malu.


Sesaat menghening.


" Selesai ? " balas lelaki itu. Setelah berulang kali memastikan tidak ada satu pun tanah lumpur yang tertinggal di rambutnya.


" Terimakasih " ucap Rea yang segera bergegas bangun dari dalam air. Tanpa menoleh lagi, ia naik ke atas tanah kering yang di tumbuhi rumputan.


" Apa kau ingin meninggalkan aku ? ".


Langkah kaki Rea berhenti seketika, " cepatlah Gema. Aku kedinginan ", balasnya tanpa menengok pada lelaki itu. Ada kebohongan dari ucapannya. Memang dingin, tapi tidak sampai membuatnya ingin bergegas pergi dari sana. Bukan itu penyebab sesungguhnya.


Mendengar itu dengan cepat Gema beranjak dari tempatnya, bahkan tak sempat ia memasangkan kembali bajunya dengan tenang, " kau kedinginan ? " tanyanya pada Rea. Setelah menyamakan langkah kakinya bersama perempuan itu.


Rea hanya mengangguk tanpa bersuara. Dan terus berjalan, di atas jalan kecil yang tadi membuatnya tergelincir.


Sesaat, ia tersenyum. Menyadari jalan kecil itu kini di penuhi lumpur.


" Sepertinya kita akan terkena denda " katanya pada Gema, bahkan ia masih tersenyum saat mengatakan itu. Sejenak ia melupakan, alasan kenapa tadi ia berjalan sangat cepat.


" Hemmm ", Gema mengangguk setuju. Rumputan padi yang berada di sisi mereka, kini tidak lagi berdiri dengan tegak, keadaannya benar-benar terlihat kacau. Persis seperti semak-semak yang baru saja di tiduri sapi besar, bahkan lebih tak beraturan dari itu.


Baru saja Gema berbalik. Ia sudah tidak lagi melihat Rea di hadapannya, " Rea " serunya memanggil nama perempuan itu. Matanya memandang luas pada tingkatan terasering.


" Aku disini Gema " pekik perempuan yang kini tengah duduk di atas ayunan tergantung pada tali yang di ikat pada kayu yang terpalang.


Gema berlari cepat menuju tempat itu, " kau ini.. " tandasnya, ia kesal tapi juga legah bersamaan, " bukankah kedinginan ? "


" Tidak lagi " jawab Rea santai. Ia terlihat seperti anak kecil yang baru menemukan mainan barunya, " tapi bajumu basah Rea ".


Gema menghela nafas, " nanti kau akan masuk angin... ".


" Kau juga .. " balas Rea sebelum Gema selesai dengan ucapannya.


" Ya, ayo kita berdua berganti pakaian "


Rea terlihat terdiam sejenak, ntah apa yang dipikirkannya tentang ajakan Gema pada saat itu, " bisakah kau ayunkan aku " pintanya.


" Please ", sambungnya dengan pupil mata yang sengaja di besarkan. Hal itu tentu tidak akan membuat orang menolak permintaannya, " sebentar saja, oke "kata gema memberi syarat.


" Oke " balas Rea bersemangat, senyumnya merekah seperti mata hari sore saat itu.


Tubuhnya kini sudah melayang di atas rumputan padi, dengan kaki yang menjuntai. Setiap kali ayunan itu akan berhenti, ia selalu siap untuk berseru, meminta Gema mengayun tubuhnya lebih kencang, " lebih kencang lagi Gema " rengeknya seperti anak kecil berumur lima tahun.


" Tidak, nanti kau akan terjatuh ".


" Aku berpegang sangat kuat ".


" Tidak, seperti ini cukup" balas Gema tegas. Bibir Rea mengerucut seketika.


" Baiklah, pegangan yang kuat " kata Gema mengalah, lalu mengayun tubuh perempuan itu sesuai kemauannya. Ada garis senyum yang melebar ketika menatap wajah bahagia wanita di hadapannya, " ini menyenangkan Gema " seru perempuan itu riang.


Kepalanya mengadah ke langit, tangannya membentang menikmati angin yang berhembus.


" Sekali lagi " katanya meminta lagi, dan Gema tidak punya kekuatan untuk menolak. Terlebih setelah melihat senyumnya yang merekah.

__ADS_1


Satu jam kemudian, mereka sudah berada di sebuah pura yang besar. Yang di beri dengan nama seorang Dewi. Rea lagi-lagi seperti anak kecil yang menemukan permainan baru. Berjalan riang melewati jembatan kecil yang di kelilingi ratusan bunga Teratai.


" Rea, berjalanlah lebih pelan " seru Gema. Jika Rea seperti anak kecil, maka ia tak ubah seperti ayah yang mengawasi putri kecilnya.


Kini mereka berjalan beriringan, sesekali jari jemari Rea berada dalam genggaman Gema.


Dan terlepas ketika salah satunya mulai merasa canggung.


" Boleh kami berfoto disini ? " tanya Gema, pada laki-laki pemandu jalan mereka. Laki-laki itu mengangguk, " tentu tuan ", katanya sambil mengambil camera yang tergantung di lehernya.


Gema menarik tangan Rea. Lalu ketika perempuan itu nampak bingung, ia menunjuk ke arah pemandu yang kini sudah siap mengabadikan moment mereka pada saat itu.


" Bisa lebih berdekatkan lagi " kata pemegang camera memberi arahan.


Dengan canggung Rea merapatkan tubuhnya pada Gema. Tangannya bergerak ragu untuk memeluk. Tapi Gema, seperti mengetahui itu. Lalu menarik ke dua tangannya dan di tambatkan pada pinggangnya, " apa ini lebih baik ? " seru Gema pada pemandu jalan mereka. Dan laki-laki itu mengangguk.


" Coba lebih mesra lagi ".


Rea menelan ludah mendengar itu. Memeluk seperti ini saja sudah membuatnya hampir gila karena nervous.Dan tiba-tiba tubuhnya di tarik oleh Gema. Posisinya kini berpindah ke depan lelaki itu dan dari belakang Gema memeluk pinggangnya erat, dengan bibir yang mendarat pada ujung kepalanya. Lumayan lama itu terjadi, sampai pemandu itu mengacungkan jari jempolnya.


Rea diam sejenak, mengamati beberapa orang yang keluar masuk dari dalam sebuah Pura. Lalu mengamati cukup banyak orang yang berada di dalam sebuah kolam, dengan air mancur kecil yang keluar dari beberapa patung.


" Ada yang bisa saya bantu Nona ? "


Kata seseorang yang tiba-tiba menghampirinya. Rea tersenyum, lalu kemudian menggeleng.


" Apa anda ingin berdoa ? "


Rea terpaku, " maaf, tapi agamaku bukan Hindu ".


Lelaki yang tadi menghampirinya tersenyum," Dewi kami menerima doa dari siapa pun dan agama mana pun Nona ", katanya. Rea sejenak terpaku, menatap kembali pura kecil yang kini terlihat kosong.


" Berdoalah. Memintalah apa yang anda harapkan disana "


Rea masih terdiam, dan memandang ragu.


" Dewi kami menerima semua harapan. Kecuali keserakahan " ucap lelaki paruh baya itu.


Rea mengangguk, sebelum akhirnya kakinya benar bergerak menuju pura.


Gema mengamati hal itu, lalu kemudian menghampiri laki-laki tua yang kini sedang memandang ke arah istrinya, " kenapa istriku disana ?".


Lelaki itu menolah. Dan cukup terkejut dengan kehadirannya, " aku mempersilahkannya untuk berdoa tuan " katanya menjelaskan.


Gema kini terdiam. Menatap tak beralih pada perempuan yang tengah bersimpuh di dalam sebuah pura, dan tidak lama perempuan itu telah selesai.


" Ayo kita pulang " ajaknya.


Rea mengangguk. Namun, sebelum itu ia berpamitan pada laki-laki yang masih berdiri bersama mereka.


Lalu bersamaan tiba-tiba hujan turun. Gema berbalik untuk menarik tangan Rea, " ayo " ajaknya sekali lagi.


" Nona " panggil laki-laki itu. Menghentikan kaki Rea yang mulai ingin bergerak berlari, begitu pun langkah Gema.


" Ya "


" Boleh saya tahu apa yang baru saja anda doakan ? "

__ADS_1


Rea menoleh sesaat pada Gema. Dan cukup ragu untuk mengatakan apa yang baru saja dia doakan, " mmmm, aku meminta untuk segera di beri keturunan " katanya tersenyum canggung. Sementara Gema kini menatapnya tanpa berkedip.


Mendengar itu, lelaki tua itu tersenyum, " Sepertinya Dewi menerima doa anda Nona " katanya sambil mengadah ke langit, yang kemudian berlalu. Sementara Rea masih terpaku, lalu ikut melihat ke langit, " jika itu benar. Terimakasih " katanya tersenyum.


__ADS_2