
" Mam aku pergi dulu " teriak Gema saat melewati ruang keluarga di dalam rumahnya , " hemmm hati-hati dan jangan lupa sampaikan pesan Mami pada Rea " balas Elba kembali tersenyum.
" Yes Mam " teriak Gema seiring menghilang dari balik tembok besar rumahnya.
" Sejak kapan dia ingin berpamitan " gumam Elba dengan dahi yang sedikit mengerut dan bibir yang tersenyum.
Gema sudah berada di dalam mobilnya lalu dengan cepat melajukan kendaraan kesayangannya itu .
Drrrtttt drrrtttt
benda pipih yang berada di dalam saku hoodie yang ia gunakan tiba-tiba saja berdering dan dengan cepat ia mengambil benda itu untuk melihat siapa yang kini tengah menghubunginya.
Deg
Matanya sedikit membesar saat melihat nama Bella kini terpampang di layar handphone , " kenapa tiba-tiba dia meneleponku " gumamnya ragu , namun perlahan tangannya bergerak menggeser tombol terima di layar handphonenya.
" Ya Bella " jawabnya pelan.
" Ada apa ? " sambungnnya.
" Apa aku tidak boleh lagi menelponmu huh ? " ucap dengan nada sedikit meninggi dari seberang telepon.
" Bukan begitu , aku hanya bertanya "
" Kita harus bicara Gema " ucap Bella begitu serius dan itu membuat Gema terdiam sesaat , " apa yang ingin kau bicarakan ? ".
" Apa harus ada pertanyaan seperti itu ? , apa sekarang sudah sangat sulit untuk kita bicara "
" Bella , aku hanya bertanya kenapa kau terus meninggikan suaramu " kata Gema yang menjadi sedikit terpancing emosi , " ya maafkan aku Gema " balas Bella melemah.
" Aku hanya merindukanmu dan ingin bertemu denganmu " sambungnya lagi.
Gema kembali terdiam dan tak di pungkiri hatinya terenyuh oleh perkataan perempuan yang masih menjadi kekasihnya itu , " bukankah kau masih padaku ? "
" Ya memang masih seperti itu , tapi kau sendiri yang bilang itu tidak akan mengubah apapun bukan "
" Kita perlu bicara Gema , aku ingin membahas masalah ini dengan kepala yang dingin " lanjut Bella.
" Ya baiklah tapi tidak sekarang ? "
" Kenapa ? , kenapa tidak bisa sekarang ? "
" Ada sesuatu yang harus kerjakan "
" Gema please " ucap Bella memohon.
" Please kita bertemu sekarang , dadaku begitu sesak Gema dan aku tidak bisa mengabaikannya "
" Aku hanya ingin melihat wajahmu , itu saja " katanya lagi dan itu bukan lagi terdengar seperti sebuah permohonan melainkan sebuah rengekan yang harus di kabulkan.
Sesaat Gema kembali terdiam karena kini ia berada di dalam sebuah dilema , " tapi aku tidak mempunyai waktu yang banyak " ucapnya.
" Tidak apa-apa yang penting kita bertemu "
" Baiklah aku menuju apartemenmu sekarang "
" Hemm.. sampai bertemu disini " balas Bella yang terdengar begitu senang lalu menutup panggilan teleponnya.
__ADS_1
" Hanya sebentar , Rea juga pasti sedang menikmati waktunya bersama Devita " gumam Gema lalu mengubah arah haluan mobilnya menuju apartemen Bella.
~
Rea menghampiri Devita yang kini juga sedang sibuk di dapur , " duduklah dengan manis nyonya muda " ucap Devita tertawa.
" Ceh , sejak kapan kau ingin sibuk dengan benda-benda ini ? " protes Rea yang merasa begitu aneh saat melihat Devita begitu sibuk di dapur.
" Sejak menikah " jelas singkat Devita.
" Real selalu ingin makan masakanku sekali pun tidak ada rasa dia ingin tetap aku yang memasak makanannya " sambungnnya dengan tertawa.
" Ceh , apa yang sudah kau berikan sampai suaminya menjadi begitu bodoh huh "
" Tentu cintaku yang tulus " balas Devita tertawa , namun ia segera mengulum bibirnya saat menyadari ucapannya , " maaf bukan maksud menyinggungmu Rea " ucapnya begitu menyesal , sementara kini Rea yang berbalik tertawa , " jangan berlebihan , sejak kapan aku menjadi begitu perasa oleh sebuah ucapan " katanya.
" Ya ya , lebih tepatnya kau seperti tidak punya hati Rea " ujar Devita lalu kembali sibuk dengan aktifitas memasaknya.
Rea baru saja selesai menikmati makan malamnya bersama keluarga kecil Devita , dan kini mereka memilih untuk mengobrol di ruang keluarga bersama Real yang ikut bergabung.
" Apa kau sudah tahu sayang ? " tanya Devita pada suaminya dan ia begitu bersemangat untuk obrolannya ini ,
sementara Rea sudah menghela nafas karena telah mengetahui topik apa yang akan menjadi obrolan antara sepasang suami istri itu , " aku sudah melihat beritanya tadi pagi dan aku begitu penasaran " balas Real tersenyum dan melirik ke arah Rea.
Devita langsung saja tertawa , " ternyata kau sudah menebaknya ".
" Apa itu sungguhan Rea ? " tanya Real dengan serius.
" Tanyakan saja padaku sayang , aku sudah mengetahui semuanya " ujar Devita menimpali , " ya ya aku lupa , bahwa kau adalah keranjang keluhan Rea " balas Real tertawa dan kalimat iitu juga berhasil membuat Rea tertawa.
" Bukan keranjang keluhan tapi memang aku ini tempatnya dia berkeluh kesah " jelas Devita yang sedikit protes dengan ucapannya suaminya , " ya seperti itu maksudku sayang , jadi sekarang ceritakan apa yang sudah kau tahu " kata Real tidak sabar.
" Mereka sungguh akan menikah sayang " kata Devita dengan begitu bersemangat.
" Bahkan kau tahu kita akan begitu sibuk akhir-akhir ini , karena Gema dan Devita akan menikah minggu depan " lanjutnya begitu heboh.
" Benarkah ? "
" Tapi tunggu , apa kau tidak sedang hamil anak Gema kan Rea "
" Jaga bicaramu Real , aku wanita terhormat " protes Rea , membuat sepasang suami istri itu kembali tertawa.
" Ini sungguh sangat mengejutkan bahkan aku benar-benar tidak percaya ketika membaca berita itu " ujar Real tak habis pikir , " hemm.. tapi itu kenyatannya Real , kami sungguh akan menikah minggu depan " ucap Rea bersungguh-sungguh , namun terlihat tidak begitu bersemangat.
" Tapi bagaimana bisa ini terjadi ? "
" Mudah saja sayang , jika Tuhan yang berkehendak tidak ada sesuatu yang tidak terjadi " kata Devita menimpali.
" Tapi ini terlalu mustahil sayang " sambung Real.
" Mungkin ini doa istrimu , apa kau ingat ? "
" Astaga sayang , bahkan aku lupa hal itu " ucap Real yang langsung tertawa.
" Tunggu , apa maksudnya kalian pernah mendoakan aku dan Gema untuk bisa bersama "timpal Rea dan Devita dengan cepat mengangguk.
" Walau tak percaya , sebenarnya aku orang yang paling bahagia saat mendengar kabar pernikahan kalian berdua , hanya saja aku masih bingung kenapa itu tiba-tiba saja terjadi "
__ADS_1
" Kau gila Dev ,bagaimana bisa kau berpikir untuk mendoakan kami bersama " ucap Rea tak menyangka dengan ulah sahabatnya , " tapi terbukti Tuhan memberkati doaku Rea , bahkan dengan sangat cepat Dia mengabulkannya ".
" Ceh , itu hanya sebuah kebetulan "
" No Rea , tidak ada sebuah kebetulan jika kau pernah mendoakan itu untuk terjadi " balas Devita dan menatap serius pada sahabatnya.
" Ini gila , memangnya apa alasan yang membuat kau ingin mendoakan aku bersama Gema huh "
" Aku suka melihat kalian berdua bersama dan di mataku kalian terlihat begitu cocok Rea "
" Kau perlu membawa matamu ke dokter " sambung Rea tertawa.
" Jangan tertawa kali ini aku benar-benar serius " ucap Devita yang membuat Rea segera melipat bibirnya , " jadi mulai hari ini jangan mengatakan aku sebagai orang ketiga di dalam hubungan Gema dan Bella , karena kau sendiri yang mendoakan itu terjadi Dev ".
" Hemm.. sebenarnya juga tidak seperti itu , aku tidak menginginkan itu terjadi saat ini "
" Tapi ternyata Tuhan mengabulkan itu sekarang " sambung Devita.
" Rea... " panggilnya kemudian dan dengan nada yang begitu lemah.
" Hemmm.. "
" Aku belum memelukmu dari tadi "
" Ceh , drama apalagi yang ingin kau buat huh , kemarilah " kata Rea sambil merentangkan kedua tangannya dan Devita segera berhamburan masuk kedalam pelukan itu dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya , " aku sungguh bahagia mendengar kabar ini Rea dan aku juga bahagia lelaki itu adalah Gema " ucapnya lirih.
" Aku mohon bahagialah Rea , sesekali tidak apa menjadi egois untuk mendapatkan kebahagianmu dan aku akan selalu mendukung untuk apapun yang akan membuat kau bahagia nanti "
" Aku tak menyangka kalau ternyata kau begitu jahat " balas Rea tertawa , namun tangannya bergerak menyeka air mata yang ingin terjatuh di pipi halusnya.
" Terimakasih Dev , kau benar-benar satu-satunya keluarga yang aku miliki " sambungnya sambil memeluk erat wanita di dalam pelukannya itu.
dadanya kini terasa mulai sesak saat kembali menyadari kehidupan pahit yang telah ia lewati dan wanita di dalam pelukannya adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menginggalkannya.
" Terimakasih karena tidak pernah meninggalkanku Dev " ucapnya begitu dalam dengan air mata yang begitu saja menetes.
" dasar bodoh sampai kapan pun aku tidak akan mungkin meninggalkanmu " balas Devita seraya melonggarkan pelukkannya , namun ternyata kini Rea telah tertunduk dengan isakan yang begitu pilu.
" Rea.. " panggilnya pelan.
" Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku Dev , aku sungguh tidak memiliki siapapun jika kau pergi " ucapnya begitu lirih.
" Hei apa yang kau katakan , jangan menangis bodoh cepat hapus air matamu " protes Devita padahal ia sendiri tidak bisa menghentikan air mata yang sudah mengalir di pipinya , " kenapa kau menjadi begitu cengeng huh , cepat hapus air matamu " gerutunya sambil menyeka air mata yang mengalir di pipi Rea.
" Dasar bodoh , kau juga menangis " ucap Rea yang kini tertawa melihat ulah Devita di hadapannya.
" Bagaimana aku tidak menangis kalau melihat kau sendiri seperti ini "
" Ceh " decih Rea , lalu menyeka air matanya , " kenapa tiba-tiba aku begitu cengeng " ujarnya kembali tertawa , namun air matanya tak kunjung berakhir.
" Rea hentikan , aku sungguh tidak bisa menghentikan air mataku kalau kau terus menangis " protes Devita.
" Kalau begitu peluk aku sekali lagi Dev " pinta Rea dengan kembali merentangkan kedua tangannya , " tanpa kau minta pun aku pasti akan memelukmu lagi , dasar bodoh cepat hentikan tangisanmu apa kau tidak malu pada suamiku huh ".
" Kau sendiri , apa kau tidak malu pada suamimu " balas Rea tak mau kalah.
" Aahhh syukurlah , aku kira aku sudah terlambat " ucap Seseorang yang baru saja tiba dengan nafas yang tersengal-sengal , dan matanya menatap terkejut pada dua perempuan yang sedang berpelukan sambil menangis.
__ADS_1
" Apa yang terjadi ? " tanyanya yang menjadi begitu panik.