
Gema tak bisa menahan untuk tidak ikut tersenyum, ketika memandang wanita di hadapannya terus tersenyum menatap sebuket mawar merah di hadapannya. Mata coklatnya berbinar terang, pupilnya membesar. Mengartikan bahwa objek penglihatannya saat ini adalah hal yang menyenangkan untuknya.
Bahkan kehadirannya seperti tidak lagi berarti. Setelah setengah mati ia kelelahan menyusuri jalanan bali demi kuntum mawar itu. Usaha yang cukup berlebihan memang, mengingat hal itu bisa ia pinta dari pelayan hotel, yang kapan pun akan siap membantunya.
Tapi Gema seperti ingin menjadi lelaki pujangga hari ini, merelakan dirinya keletihan demi seorang wanita.
Seketika ia teringat kejadian yang membuatnya terhenyak di hadapan tokoh bunga tadi. Wanita setengah baya datang menghampirinya, menanyakan bunga seperti apa yang ia butuhkan. Singkat ia menjawab mawar merah. Wanita setengah baya itu kemudian tersenyum, lalu bergerak kebagian tumpukan bunga mawar, yang bahkan ia sendiri baru melihatnya, " berapa tangkai yang kau butuhkan ? ", katanya bertanya.
Ia menghening sesaat, " ntahlah ", jawabnya ragu.
" Kau sedang ingin mengutarakan cinta ? ".
Ia tersenyum, dan menggeleng dengan cepat, " tidak, tidak ini untuk istriku ", katanya menjelaskan dengan garis bibir yang di tarik lebih tinggi.
Ia mengetahui jelas, wanita setengah baya itu kini menatapnya berbeda. Nyaris seperti heran, " untuk istrimu ? ", wanita itu mengulang. dan terus melemparkan padangan heran padanya.
" Hemm, untuk istriku " sahutnya dengan lantang. Tatapan heran wanita setengah baya itu, tak cukup membuatnya ragu untuk memperlihatkan bahwa dirinya adalah seorang suami.
" Perjodohan ", kata wanita itu begitu pelan. Meski terdengar samar di telinganya, tapi kalimat itu cukup menusuk.
Ia kini tidak lagi tersenyum lebar. Ia terhenyak dengan pikirannya yang tiba-tiba menjadi tak menentu. Hal apa yang ia lakukan sampai wanita itu seperti mengetahui jelas keadaan biduk rumah tangganya.
" Tunggu sebentar ", titah wanita itu padanya. Dan beberapa menit kemudian, kembali dengan sebuket mawar yang tadi ia minta. Bukan ukuran buket yang besar dan tidak kecil pula. Tapi ia sangat setuju dengan ukuran itu, tidak berlebihan. Hanya dua puluh delapan tangkai mawar disana.
" Sepertinya kau baru jatuh cinta dengan istrimu " kata wanita itu tersenyum, saat memberikan buket bunga itu ke tangannya.
Deg
Ia terpaku dengan jantung yang berdebar. Kalimat itu seperti petir kecil yang menghantam pikiran dan hatinya bersamaan. Rahangnya merapat ketika bibirnya ingin bergerak bersuara.
Ada kebimbangan yang ia rasakan. Ia tak cukup yakin dengan ucapan wanita setengah baya itu, tapi tak juga ingin membantah hal itu, " jatuh cinta ", ulangnya tanpa suara.
" Katakan kalau kau mencintainya Tuan " kata wanita itu lagi. Yang sepertinya tak cukup membuatnya bingung dengan kalimat pertamanya, " aku sudah menyiapkan jumlah kuntum yang pas untuk itu ", sambungnya.
Ia tidak bisa membalas apa-apa selain tersenyum kaku.
" Hei ", seru suara bersama kibasan tangan di hadapannya.
" Apa yang tengah kau pikirkan Gema ? ", kata perempuan yang ternyata tidak lagi memandangi kuntum bunga mawar yang tadi ia berikan.
" tidak ", balasnya tersenyum hambar, dan menyadarkan kembali dirinya.
Ia terdiam sejenak, menatap wanita di hadapannya, tanpa di ketahui. Dan perkataan wanita setengah baya itu kembali muncul di pikirannya, " jatuh cinta ? ", sebuah tanya yang membatin dalam dirinya.
__ADS_1
Hal itu membuatnya sekejap sulit berpikir. Bahkan tak menyadari ketika makanan pesanannya telah tiba di atas meja.
" Apa kau tidak akan makan ? ".
" Hmmm... " ia berusaha kembali menyadarkan diri.
Rea menarik nafas, " makan " titah perempuan itu, dengan melemparkan pandangan sedikit kesal padanya.
" Ya.. " balasnya, seraya mempertegak duduknya. Meski tak mengangkat pandangannya, tapi ia tahu wanita di hadapannya kini tengah menatap heran padanya.
" Selamat makan", katanya tanpa berani memandang.
~
Gema seperti tidak selesai dengan pikirannya sendiri. Sampai membuatnya tak ingat jelas, sejak kapan ia sudah sampai di tempatnya dan Rea saat ini.
Pemandangan hijau membentang, dengan tingkat terasering yang bersusun rapi dan asri.
Ia menoleh pada Rea yang kini juga melihat pemandangan itu dengan tersenyum. Wajahnya berseri. Tempat ini memang menjadi keinginannya. Ketika tadi siang ia bertanya pada perempuan itu. Kemana dia ingin pergi hari ini.
" Indah ", ungkap perempuan itu tersenyum. Tentu, pemandangan itu tidak akan ia dapatkan di London.
" Jika anda ingin. Anda bisa berjalan disana Nona " kata laki-laki yang hari ini bertugas menjadi pemandu jalan mereka.
Lelaki pemandu itu menganguk, " saya akan menemani jika anda mau ? ".
Sekejap Gema menoleh mendengar itu.
Rea yang sangat bersemangat, tentu tidak akan menolak.
Di bukanya sandal dengan tali yang melilit pada betisnya.
" Kau tidak akan menggunakan itu ? " tanya Gema, yang nyaris terdengar membentak. Matanya sedikit membesar, dengan tidak ia sadari.
" Hemmm.. " sahut perempuan itu, yang lagi-lagi tersenyum dengan manis. Tepatnya di mata Gema.
"Aku ingin berpijak di rumputan itu ", sambungnya, seperti menjelaskan keinginannya. Mungkin karena ia memahami siratan tatapan yang tidak menginjinkan keinginannya itu.
Dema menghela, " kau yakin, kakinya akan aman disana ? " tanyanya pada pemandu, dan laki-laki itu mengangguk, " hanya ada rumputan disana tuan ", jelasnya.
Senyum Rea benar-benar merekah pada saat itu. Ia tidak bisa untuk menunda lagi langkahnya, yang kemudian di ikuti oleh pemandu.
" Aku saja ", kata Gema menghentikan langkah kaki pemandu.
__ADS_1
" Baik Tuan "
" Panggil saya, jika anda membutuhkan sesuatu " sambungnya ketika langkah kaki Gema telah bergerak menyusul Rea.
Rea seperti lupa diri, ketika telapak kakinya berpijak pada rumputan. Berjalan dari satu terasering ke terasering lainnya. Melayangkan tangannya dengan riang ke atas rumputan padi. Tingkahnya berhasil membuat laki-laki yang terus mengikutinya ikut tersenyum. Atmosfer kebahagiannya benar-benar menular.
Kemudian ia bergerak menuju sungai kecil dengan air yang begitu jernih. ia berdiri disana, melihat ke sekitar, yang ternyata kini ia berada tepat di tengah susunan terasering, " beautiful ", kata memuji sekali lagi. Ia memandangi ikan ikan kecil yang berlalu lalang di bawa jembatan kecil tempatnya berdiri. Menurunkan kedua kakinya ke dalam air.
" Hei " teriak seseorang. Dan saat itu Rea menyadari, bahwa sejak tadi bukan pemandu jalan yang mengikutinya, " ini menyenangkan Gema " serunya dengan memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Bagaimana kalau ada yang mengigit kakimu " seru lelaki itu. Tatapan khawatirnya berlebihan.
" Kemarilah. kau pasti akan menyukai ini " ajak Rea, yang kemudian tertawa geli ketika ikan-ikan kecil mengigit jari-jari kakinya, " kemarilah " ulangnya, menyadari suaminya itu memandang ragu padanya. Namun, kemudian bergerak, lalu mengambil tempat disisinya.
"Menyenangkan bukan", kata Rea setelah sepasang kaki Gema berada di dalam air. Laki-laki itu hanya tersenyum, seraya mengikuti gerak kaki Rea yang bermain di dalam air. Bahkan ia seperti lupa dengan rasa kekhawatirannya di awal, sampai tiba-tiba percikan air mengenai wajahnya.
" Reaa.. " teriaknya, memandang kesal pada perempuan yang kini tertawa begitu puas.
" Kau ", pekiknya geram lalu meraup air jernih itu.
Rea yang menyadari adanya pembalasan, dengan cepat berlari, " kejar aku kalau kau bisa " katanya menantang Gema.
Lelaki itu tentu hanya tersenyum. Perempuan itu lupa langkah kakinya terlalu kecil untuk berlari darinya.
" ayo kejar aku " seru Rea, berhenti di tengah himpitan hamparan padi, menanti langkah Gema mendekatinya.
Menyadari jarak mereka tak lagi jauh, ia bersiap untuk kembali berlari. Tapi ia lupa kakinya yang basah dan jalanan kecil yang sedikit licin. Alhasil tubuh rampingnya lepas kendali.
" Reaa.. " pekik Gema, berusaha untuk tidak terlambat menarik tangan perempuan itu. Tapi yang terjadi justru tubuhnya yang tertarik, kaki besarnya tergelincir di tepian jalan. Mengambrukan kedua tubuh yang berakhir di dalam lumpur.
Gema dengan cepat membalikan posisi mereka. Ia tidak mungkin membiarkan tubuh besarnya menimpa tubuh Rea yang tipis bak model Victoria secret, " kau tidak apa-apa ? " tanyanya begitu khawatir. Ia mengibas rambut yang di penuhi lumpur yang kini lengket di wajah cantik wanita di hadapannya.
Bukannya menjawab perempuan itu justru tertawa, " kau baik-baik saja ? " tanyanya, yang disertai perasaan yang kini berubah menjadi heran.
Rea mengangguk, " hemm, bahkan ini menyenangkan ", balasnya sambil menggesekkan kelima jarinya di wajah Gema, lalu berjuang cepat untuk bangun dari atas tubuh lelaki itu. Tapi tentunya itu hanya hal yang sia-sia. Geraknya tentu tidak akan kalah cepat.
Jari besar Gema telah berhasil menarik kembali tubuhnya untuk ambruk di dalam lumpur, " rasakan ini " kata Gema membalas, sambil meraup tangannya yang penuh lumpur ke wajah Rea. Dan Rea tentu tidak mau kalah untuk tidak membalas, di lemparnya lumpur yang sudah memenuhi kedua tangannya ke tubuh Gema. Mereka saling menyerang, saling melempar tanah lumpur itu. Tidak lagi peduli pada kotor. Pada noda yang mengenai pakaian mereka yang tentunya tidak cukup di beli dengan uang selembar seratus dolar. Mereka benar-benar tidak peduli, yang mereka tahu mereka bahagia pada saat itu. Saling membalas di tengah tawa yang terpingkal.
Yang tak mereka sadari adalah mereka tertawa karena melihat dari masing-masing mereka tertawa. Lumpur kotor itu seperti memiliki keajaiban untuk berhasil membuat dua orang saling bahagia tanpa mereka sadari penyebabnya.
Hai Readers, I'm back😊
Maaf karena hiatus terlalu lama. Do'akan semoga terus berjalan lancar ya🙏
__ADS_1
Terimakasih untuk yang masih membaca, semoga kita selalu di berikan kesehatan.