KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Masalah


__ADS_3

Rea semakin gusar dengan pikiran yang semakin kacau dengan kenyataannya sepagi ini " Bagaimana bisa sepagi ini paman Frans sudah berada disini " gumam Rea panik.


" Jangan khawatir , ayahku pasti tidak akan mempermasalahkan hal ini " ujar Gema enteng dan Rea langsung berdelik kearahnya , " bagaimana bisa kau begitu santai huh " kesalnya dan bersamaan handphone di atas nakas bergetar.


" Siapa lagi yang menelponku sepagi ini " gumamnya penuh emosi sambil bergerak mendekati letak handphonenya , " oh Devita " ujarnya sedikit legah.


" Ya Dev "


" Darimana saja kau Rea , sejak tadi aku terus menelponmu " cercah Devita dari seberang dan Rea yang masih linglung cukup syok dengan omelan tiba-tiba dari sahabatnya , " ada apa denganmu Dev , tentu saja aku baru bangun "


" Kau yakin , sudah jam berapa ini ? , seharusnya kau sudah sarapan saat ini "


" oh kau begitu peduli , sampai begitu hafal waktu dan kegiatanku " balas Rea dengan tertawa kecil sambil sesekali melirik kearah Gema yang sedang duduk di sofa dengan santai , namun termenung.


" Ceh , apa yang ada di pikirannya " gumamnya pelan.


" Aku tidak sedang bercanda Rea , dan emm..apa yang baru saja kau katakan "


" Aku tidak mengatakan apa-apa Dev "


" Jangan bohong Rea , atau kau sedang bersama dengan seseorang ! "


Deg " jantung Rea di buat maraton pagi ini , ia menelan paksa ludahnya untuk meredakan kegugupan , " jangan mengada-ada Dev ,bagaimana mungkin aku bersama seseorang sepagi ini " jelasnya dan kembali melihat kearah Gema , namun sialnya laki-laki itu justru sedang memperhatikannya dan membuat pandangan mereka bertemu , dengan wajah memerah segera memalingkan wajahnya " kau yakin Rea " ujar Devita dari balik telepon.


" Sial , kenapa jantungku berdegub seperti ini " gumamnya pelan.


" Rea , apa kau mendengarku ? "


" oh astaga maaf Dev aku masih linglung dan maaf aku harus menutup teleponmu karena aku sudah terlambat ,nanti aku akan menghubungimu kembali "


" Bye Dev " tutupnya , sebelum sempat Devita membalas.


" Ada apa ? " tanya Gema yang membuatnya kembali terkejut.


" tidak ada apa-apa " jawabnya tanpa berani melihat , " emm.. jadi bagaimana paman Frans ? " tanyanya pelan dan pipih yang memerah karena malu.


" Kita hanya perlu keluar dari kamarmu dan menemuinya " jawab Gema yang masih terdengar begitu santai , Rea memejamkan matanya sesaat lalu menarik pelan nafasnya , " bagaimana bisa kau begitu santai Gem , apa yang akan kita katakan pada ayahmu " ucapnya berusaha tegas dan melupakan degub keras pada jantungnya tatkala kembali melihat wajah santai Gema.

__ADS_1


Laki-laki itu hanya tersenyum singkat lalu berjalan kearahnya , " kau akan semakin terlambat jika terus duduk disini " ucapnya dan tanpa pamit menarik tangan halus Rea lalu membawanya keluar dari dalam kamar , " Gem aku belum mencuci wajahku , tidak mungkin aku menemui paman dengan kondisi seperti ini " protesnya di sela langkah mereka menuruni anak tangga.


" Kau tetap cantik dengan kondisi dan pakaian apapun "


" Ceh " decihnya dengan garis bibir yang tanpa sadar melengkung , namun ia segera kembali tersadar saat melihat nyata tubuh Frans yang sedang duduk di kursi rumahnya sambil membaca koran dan secangkir kopi di hadapannya , " Gem lepaskan tanganku " pintanya sambil menelan paksa ludahnya dan menarik cepat tangannya yang berada di genggaman Gema.


" Apa yang harus kita katakan pada paman ? " ucapnya pelan ,dan hanya tersenyum dan menoleh singkat kearahnya , " tenanglah " ucap laki-laki itu dengan nada yang masih begitu santai.


" Kau " hardik Rea tertahan.


" Morning Ayah , apa kau mencariku ? " ujar Gema seraya terus berjalan kearah Frans , membuat laki-laki paruh baya itu mengalihkan pandangannya dari koran yang sedang ia baca , " ya , hampir saja aku memasang fotomu disini " sahut Frans sambil mempelihatkan lembaran koran yang sedang ia baca lalu ia letakkan kembali ke atas meja di hadapannya.


Ia menatap ke arah dua orang di hadapannya dan berusaha untuk tidak tersenyum saat melihat wajah Rea yang sedikit memucat dan tanpa berani melihat kearahnya.


" Apa yang kalian berdua lakukan tadi malam huh ? " tanyanya dengan begitu keras dan tidak ada senyum dari wajahnya saat ini , Gema sedikit terkejut dengan reaksi ayahnya yang ia pikir laki-laki itu akan begitu santai saat mengetahui kalau dirinya berada dirumah Rea tadi malam , " kami tidak melakukan apapun Paman " jawab Rea cepat , yang tanpa sadar membalas tatapan Frans lalu kembali menunduk.


" Aku tidak percaya , mana mungkin sepasang manusia di dalam kamar yang sama tapi tidak melakukan apapun "


" Sungguh paman , bahkan aku tidak tahu kalau Gema ternyata tertidur di kamarku "


" Tidak ada yang perlu di jelaskan " potong Frans sebelum sempat Gema berbicara.


" Ayah tenang , ini tidak seperti apa yang ada di pikiranmu " ucap Gema berusaha mendinginkan suasana , " apa , apa yang ingin kau jelaskan padaku , tidak ada pembenaran untuk sepasang manusia yang belum menikah tapi tidur bersama " .


" Paman , sungguh tidak terjadi apa-apa pada kami "


" Iya ayah , tadi malam aku hanya tertidur di kamar Rea "


" Kau bisa memeriksa cctv kamarnya jika tidak percaya "


" Ya Gema benar , aku bisa menunjukkan rekaman cctv di kamarku pada paman " tambah Rea memberi keyakinan.


" Tidak aku tidak butuh bukti apapun , bagiku dengan kalian tidur bersama tadi malam sudah sangat salah dan memalukan "


" Memalukan " ulang Gema terkejut.


" ya "

__ADS_1


" Tapi ayah kami tidak melakukan apapun dan tidak ada yang tahu tentang ini "


" Makanya sebelum orang lain mengetahui hal ini aku ingin kalian menikah "


" Oh come on ayah ini bukan saatnya untuk bercanda "


" Paman itu tidak mungkin " sambung Rea semakin panik.


" Kenapa tidak mungkin ,kalian sama-sama masih muda dan sudah tidur bersama jadi apa yang membuatnya tidak mungkin " ucap Frans tegas membuat Gema mengusap kasar wajahnya ,ia tidak menyangka jika akan menjadi serumit ini.


" Ayah ini sangat tidak mungkin dan kami sungguh tidak melakukan apapun tadi malam "


" Iya paman , dan lagi pula Gema sudah mempunyai Bella kekasihnya " tambah Rea yang membuat suasana tiba-tiba menjadi hening , tak terkecuali Frans yang ikut terdiam sesaat , " aku yang berhak menentukan Gema menikah dengan siapa " ucapnya dingin, lalu bergerak tanpa pamit meninggalkan Rea dan Gema yang masih terdiam di tempatnya masing-masing.


" Gema bagaimana ini " rengek Rea frustasi sambil menghempaskan tubuhnya di atas sofa , " tenanglah , aku akan berbicara dan menjelaskan semuanya pada ayah".


" Bagaimana kalau dia tetap ingin kita menikah ? , aku sungguh tidak ingin menikah Gema " ucapnya penuh prustasi dan suara yang terdengar bergetar , membuat Gema menoleh cepat ke arahnya dan menatapnya dengan penuh empati, " maafkan aku Rea " ucap Gema dengan penuh penyesalan , ia mendekat kearah Rea sebelum akhirnya duduk di samping perempuan itu.


" Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini , sungguh " sambungnya dengan tubuh yang kini ikut tersandar di sofa dan menatap pada langit langit rumah , " percayalah padaku , sungguh aku benar-benar hanya tertidur tadi malam dan tidak ada sedikit pun niat buruk padamu " lanjutnya bersama nafas berat karena rasa frustasi dengan apa yang baru saja terjadi.


Rea membuka pelan matanya dan menatap diam-diam pada Gema , " aku sungguh tidak tega untuk meninggalkanmu tadi malam " tambahnya , membuat Rea semakin menatap lekat padanya , " tidak tega , memang apa yang terjadi padaku tadi malam Gem ? " tanya Rea serius , membuat Gema menegakkan posisi duduknya , lalu menatap pada wajah penasaran Rea yang sekarang terlihat jauh berbeda dari wajah tidurnya tadi malam , " tidak apa-apa , kau hanya mengigau "


" Mengigau ? "


" emm... "


" Apa yang aku katakan ? "


" Sepertinya itu tidak penting untuk kita bahas sekarang ini Rea " ujar Gema yang tidak ingin membahas hal yang sebenarnya terlihat begitu menyedihkan , " maaf telah membuat kau masuk dalam masalah ini dan jangan khawatir aku sungguh akan terus mencoba berbicara pada ayahku " ucapnya lagi sambil bangun dari sofa.


Rea masih terdiam dengan pikiran yang berkecamuk , namun tanpa ia sadari matanya terus melihat pada Gema , " jangan khawatir " ujar Gema kembali dengan tangan yang bergerak tanpa sadar menyentuh lembut wajah Rea.


" Aku pergi dan jangan lupa dengan sarapanmu oke " ucapnya bersama perasaan yang begitu malu dengan apa yang baru saja ia lakukan , Rea mengangguk pelan , " hati-hati Gema , aku harap secepatnya kau memberikan kabar baik padaku ".


" Aku pun begitu , bye Rea "


" Bye Gema " balas Rea pelan , ia merasa ada yang aneh dengan perasaannya sendiri ketika laki-laki itu meninggalkan rumahnya pagi ini , dan itu tentu bukan tentang perasaan panik dengan masalah yang baru saja terjadi padanya , " jangan lupa sarapanmu " teriak Gema dari ujung pintu utama rumahnya , Rea terkejut namun bibirnya melengkung sempurna.

__ADS_1


__ADS_2