
" Nona "
" Nona " ulang Maria pada perempuan yang termenung menatap keluar jendela , " emm ya " jawab Rea tersentak lalu bergerak berjalan menuju meja kerjanya , dengan Maria yang sudah duduk di kursi di hadapan mejanya , " apa yang terjadi Nona ? " tanya perempuan yang menjadi kaki tangannya itu.
" emm.. tidak aku baik-baik saja , Apa yang membuat kau datang ke ruang kerjaku Maria ? " tanya balik Rea sambil membenarkan mimik wajahnya yang terlihat jelas penuh dengan bermacam pikiran ,
Maria sudah bergerak membuka beberapa lembar berkas penting yang harus di bubuhi tanda tangan oleh wanita cantik itu , namun matanya tidak berhenti menatap penuh selidik " apa anda sakit ? " tanyanya lagi dan Rea menggelengkan kepalanya.
" Aku baik-baik saja Maria "
" Dimana lagi yang harus aku tanda tangani " tambahnya lagi dengan bulpen yang berada di sela jari-jemarinya.
Setelah usai dengan semua berkas yang sudah di tanda tangani , Maria merapikannya lalu bersiap beranjak dari dalam ruang kerja pemilik tempatnya bekerja , " oh maaf nona aku melupakan sesuatu " ujarnya saat menyadari ada sesuatu yang penting yang harus ia sampaikan.
Mendengar itu pandangan Rea kembali teralih padanya , " ada apa ? "
" Tuan Frans menghubungiku ... "ucap Maria , mata Rea membesar seketika dengan perlahan menelan paksa ludahnya
, " Paman Frans " sambung Rea cepat sebelum Maria sempat menyelesaikan kalimatnya ," ya Paman Frans Nona "
" Apa yang dia katakan padamu ? "
Dahi Maria sedikit berkerut dengan reaksi bossnya yang terlihat panik , " seperti biasa dia hanya bertanya tentang jadwalmu padaku "
" Lalu ? "
" Dia hanya menanyakan itu Nona , lalu menutup teleponnya "jelas Maria , dan Rea segera menarik nafasnya dengan wajah yang begitu legah , " emmm sepertinya tuan ingin bertemu anda nona , karena sebelum menutup telepon beliau meminta menghubunginya kembali jika anda memiliki waktu luang "
" Ini pertama kalinya aku benar-benar sangat takut untuk bertemu dengannya " gumam Rea dengan nafas yang kembali ia hela dengan paksa ,
Maria masih berdiri di tempatnya dengan dahi yang kembali berkerut , ia tidak paham dengan apa yang terjadi dan kenapa reaksi bossnya itu begitu aneh saat mendengar nama laki-laki yang ia tahu sudah seperti ayah sendiri untuk Rea , " saya akan mengatakan pada anda kembali jika tuan Frans kembali menghubungi saya nona "
" Ya kau konfirmasi padaku setiap kali dia menghubungimu Maria "
" Baik nona " jawab Maria tanpa kembali bertanya meski dirinya begitu penasaran pada apa yang sebenarnya sedang terjadi.
" Oh God , aku masih menganggap kalau pagi tadi benar-benar hanya mimpi " gumam Rea prustasi dengan bibir yang ia lipat akibat reaksi tubuh yang menandakan kalau ia sedang panik dan merasa tidak aman dengan kondisinya saat ini.
Drrrrtttt
drrrtttt " suara getar handphone yang berada tidak jauh darinya berhasil membuatnya terkejut , " menyebalkan , aku tidak suka berada di kondisi seperti ini " gumamnya sambil bergerak untuk mengambil benda pipih yang masih terus bergetar , " Devita " ucapnya kembali saat melihat nama perempuan itu tertera di layar handphonenya.
" Ya Dev " jawabnya pada panggilan Devita dengan berusaha untuk terdengar tetap tenang.
" Kau sibuk ? " tanya dari seberang.
__ADS_1
" Sedikit , ada apa ? "
" Kau masih berhutang penjelasan padaku "
" Berhutang ? , oh astaga jangan bilang kau ingin melanjutkan pembicaraan kita tadi pagi "
" Tentu kau menutup teleponku secara sepihak Rea " cercah Devita dengan nada kesal , Rea tersenyum ia lupa kalau perempuan yang sedang berbicara bersamanya di telepon saat ini adalah perempuan yang paling ingin tahu tentang apa yang ia lakukan , " kau seperti seorang ibu Dev " ucapnya dengan tertawa.
" Aku memang sudah menjadi seorang ibu Rea " balasnya ketus , namun membuat Rea menjadi semakin tertawa , " sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu " sambungnya lagi.
" Apalagi yang ingin kau tanyakan padaku " ujar Rea dengan sisa tawanya.
" Apa kau bersama Gema tadi malam ? "
Deg " jantung Rea kembali berdebar saat penyebab permasalahannya tadi pagi kembali di bicarakan.
" Rea ? "
" emm..ya Dev "
" Tentu aku bersama Gema , bukankah kau sendiri tahu kalau kami pulang bersama dari rumahmu tadi malam "
" Ya aku tahu , tapi sepertinya dia tidak pulang tadi malam Rea " jelas Devita yang berhasil membuat kepala Rea berdenyut karena pusing , " aku kira kalian bersama sepanjang malam " tambahnya yang berhasil membuat tubuh perempuan itu semakin lemas karena seperti kehilangan tenaga.
" Tapi itu tidak mungkin terjadi , dia pasti bersama Bella tadi malam " sambung Devita yang bergumam dengan penyangkalan yang ada di pikirannya,
" Paman Frans menelepon Reall pagi-pagi sekali dan kebetulan aku disana , apa dia tidak menelponmu ? padahal aku sudah mengatakan padanya kalau terakhir kali Gema bersamamu "
" Ternyata kau penyebab masalahku pagi ini " gumam Rea pelan.
" Apa yang kau katakan Rea , aku tidak mendengarnya "
" Tidak , aku tidak mengatakan apapun dan paman Frans memang menelponku tadi pagi hanya saja aku tidak menyadari panggilannya "
" Ya teleponku saja kau abaikan Rea "
" Bukan mengabaikan Dev , aku sudah terlambat "
" Ya ya aku tahu "
" Padahal aku sangat berharap kalau Gema bersamamu tadi malam " tambah Devita yang terdengar kecewa dari seberang , dan berhasil membuat jantung Rea kembali berdegub, namun ia tetap mencoba untuk terdengar sesantai mungkin , " kau memang gila Dev , sebaiknya aku tutup teleponmu sebelum bicaramu semakin gila " ujarnya tertawa dengan jantung yang berdetak tak menentu , andai saja Devita berada di hadapannya saat ini akan sangat yakin kalau perempuan itu akan langsung menyadari bahwa saat ini ada yang tidak beres dari sahabatnya.
" Ntah mengapa aku begitu suka saat kau bersama Gema seperti tadi malam "
" Dev hentikan , Gema sudah memiliki kekasih "
__ADS_1
" Seandainya ia tidak memiliki kekasih , apa kau mau Rea ? "
Deg
Jantung Rea benar-benar di buat tidak menentu sepanjang hari ini , tanpa ia sadari kalau dirinya sudah mengulum bibirnya bersama pipih yang bersemu merah , " bicaramu semakin ngelantur Dev " .
" Aku bertanya Rea , kalau saja Gema tidak bersama Bella apa kau mau dengannya ? "
" Tentu tidak , bukankah kita sudah menjadi teman " jawabnya dengan jantung yang terus berdebar tidak menentu , " Dev , maaf aku harus menutup teleponmu karena ada pertemuan bersama klien yang menantiku ".
" Baik-baiklah ,berhati-hatilah Rea dan hubungi aku segera jika kau tidak lagi sibuk "
" Tentu , sampaikan salam rinduku pada Rania "
" ya , bye Rea "
" Bye Dev " balasnya sambil menghela nafas , ia seperti baru saja menghadapi klien besarnya yang selalu berhasil membuatnya tidak percaya diri ,dan kali ini kondisi itu kembali terjadi hanya karena sebuah obrolan telepon dari sahabatnya.
" ini tidak benar " ucapnya saat menyadari ada yang salah dengan dirinya.
~
Gema menyandarkan tubuhnya di sisi kursi lalu kembali duduk dengan tegak , berulang kali ia terus melakukannya sambil memikirkan jalan keluar dari permasalahannya saat ini , " aku harus bicara pada ayah " ujarnya sambil bergerak bangun dari tempat duduknya , lalu bergegas keluar dari ruang kerjanya menuju tempat dimana ayahnya berads saat ini.
~
Klek
Pintu baru saja terbuka secara tiba-tiba dan tanpa permisi terlebih dahulu , namun sang pemilik ruangan sudah sangat tahu siapa yang baru saja datang.
Ujung bibir yang terangkat ia tahan sebelum menegakkan tatapannya pada seseorang yang sedang berdiri di ujung pintu , " apa kau datang untuk bernegosiasi " katanya dengan semburat senyum smirk.
Lelaki paruh baya itu masih terlihat menakutkan ketika begitu serius , " ini tidak adil ayah " ucap Gema mendekat.
" Ini sudah sangat adil , dan aku telah membuat kau menjadi lelaki yang bertanggung jawab "
" Kami tidak melakukan apapun , sungguh ayah "
" Dengan tidur berdua , kau kira aku akan percaya hemm "
" Baik tidak denganku , tapi kau pasti tahu perempuan seperti apa Rea " ucap Gema yang berhasil membuat Frans terdiam seketika , " jika seperti ini kau menjatuhkan harga dirinya ayah ".
" Dia sungguh wanita yang memiliki martabat , lalu kau membuatnya menikahi anakmu dengan alasan yang tidak masuk akal , itu sungguh menyakitkan untuknya ayah "
" Jangan pikirkan aku , tapi setidaknya pikirkan Rea , dia pasti ingin menikah dengan laki-laki yang benar-benar dia cintai dan mencintainya "
__ADS_1
Frans benar-benar di buat terdiam saat ini , rencananya terasa mulai kacau saat menyadari posisi Rea , dan tidak ada yang salah dengan apa yang di katakan oleh anaknya , " seandainya aku pun tidak jadi menikahimu dengan Rea , aku pun juga tidak akan pernah merestui hubunganmu bersama perempuan itu " ucap Frans tajam yang kini berbalik membuat Gema yang terdiam , " aku tahu ayah , tapi setidaknya jangan membuat Rea terjebak dalam hal ini " balas Gema lemah sebelum akhirnya bergerak keluar dari dalam ruangan.
Kedua sisi bibir Frans melengkung dengan sempurna saat putra satu-satunya pergi meninggalkan ruang kerjanya , " setidaknya saat ini aku tahu , bahwa yang ada di pikirinmu adalah Rea " ucapnya dengan penuh bahagia.