KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Cemburu


__ADS_3

" Nona ", panggil Rose dari ambang pintu. Dan ketika itu Rea baru saja tiba di rumahnya.


Perempuan itu hanya tersenyum sesaat, lalu pandangannya beralih pada halaman rumahnya, tepatnya pada susunan mobil miliknya. Ia tidak menemukan mobil yang dia cari, mobil yang baru ada di garasi mobilnya ketika dia kembali dari Bali.


" Hangatkan kembali ini Rose ", pinta Maria sambil memberikan kantong makanan yang di bawa dari restoran, " Nona membelinya untuk Tuan ", katanya lagi, dan Rose mengangguk. Lalu kemudian pandangan mereka berdua berpindah pada Rea.


" Ada apa Nona ? ", tanya Rose yang sebenarnya dari tadi sudah mengamati tingkah perempuan itu, dan Rea terdiam sejenak, dan nampak ragu untuk bicara, " apa tuan pergi ? ", tanyanya. Rose mengangguk, " setelah makan siang, tuan sudah pergi Nona ", katanya lagi.


Kemudian Rea mengangguk dan tersenyum setelah mendengar itu, tepatnya tersenyum hambar. Dan kedua wanita di hadapannya sangat menyadari hal itu. Bahkan Maria sudah memandang ke arah Rose, " aku pergi Nona ", pamitnya pada Rea.


" Jangan lupa hangatkan makanan itu Rose ", katanya lagi, dan Rose mengangguk.


" Hati-hati Maria ", ucap Rea dan perempuan itu mengangguk dengan tersenyum,sambil berlalu menuju mobil yang akan mengantarnya pulang, " jangan lupa hubungi aku, jika anda membutuhkan sesuatu ", serunya pada Rea, sebelum mobil yang membawanya bergerak keluar dari halaman luas rumah itu.


" Ayo masuk ", ajak Rose sambil menarik lembut tangannya.


Rea memilih untuk langsung berjalan menuju kamarnya, " Nona ", panggil Rose, dan Rea langsung menghentikan langkahnya, " apa anda ingin berendam di air kelopak mawar. Saya akan menyiapkannya kalau anda mau ", katanya memberitahu. Tapi Rea langsung menggeleng, " Terimakasih Bibi, tapi aku ingin langsung istirahat", katanya, lalu tanpa kembali bicara, ia melanjutkan langkahnya. Sementara Rose masih tetap berdiri di tempatnya. Memandang jelas dari tempatnya, setiap kali kaki Rea melangkah, menaiki anak tangga. Dan dirinya masih bisa melihat, ketika perempuan itu berhenti diujung tangga, tepat di hadapan foto pernikahannya, yang baru di pajang tadi siang, setelah Gema pergi.


Ntah apa yang membuat kakinya terpaku di hadapan bingkai besar foto pernikahannya. Di pandanginya dua wajah di dalam gambar itu, wajah yang tidak lain adalah wajahnya sendiri dan Gema, " ceh ", desisnya berdecih. Ujung bibirnya menyeringai saat itu, " ternyata aku benar-benar sudah menikah ", gumamnya. Ntah dari mana perasaan menyesal muncul saat itu, " aku memang sudah gila ", katanya lagi. Ia menarik nafas dalam, sebelum akhirnya meninggalkan gambar besar di hadapannya.


Hujan turun ketika Rea selesai membersihkan tubuhnya. Ia menghampiri jendela besar yang menghadap ke arah taman. Dari bias cahaya lampu, derai hujan terlihat jelas menyentuh kasar dedaunan, " apa akan ada badai ? " katanya bertanya sendiri. Setelah melihat dedaunan yang melayang karena angin besar yang tiba-tiba datang.

__ADS_1


Ia menoleh pada jam yang tergantung di dinding kamarnya, dan menemukan jarum jam yang menunjukan hampir waktu tengah malam. Dengan cepat ia berjalan ke arah handphonenya yang di letakan di atas nakas. Dan sedikit kecewa, ketika tidak menemukan sebuah pesan yang ia cari, hanya ada pesan Devita tadi sore yang belum terbalas olehnya.


" kemana dia ? " gumamnya sedikit khawatir. Tanpa di sadari, kini tangannya sudah bergerak menuju halaman pesan pada kontak Gema, dan hampir saja ia menekan tombol panggilan, kalau saja dia tidak bimbang saat itu, " aku terlihat berlebihan kalau seperti ini ", katanya, dengan mengurungkan niatnya.


Tapi saat melihat ke jendela dangan angin yang menderu, hatinya kembali tak tenang, " apa dia masih di danau ", gumamnya cemas. Yang berpikir jika suaminya pergi memancing bersama Real.


Ia mengurungkan untuk menelpon lelaki itu, tapi tidak dengan mengirim pesan, tangannya sudah bergerak cepat untuk mengetik setiap huruf yang akan di kirim pada Gema, " kau dimana, pulanglah, sepertinya akan ada badai malam ini ", tulisnya pada pesan.


Hujan semakin deras, dan pesan yang dia kirim lebih dari lima belas menit yang lalu juga belum terbalas.


" Devita ", gumamnya, menyadari perempuan itu biasa membantunya menghilangkan kecemasannya malam ini. Sempat ia melihat ke arah jam, " dia juga pasti belum tidur, karena Real pasti juga belum pulang ", gumamnya menepis keraguan untuk menghubungi sahabatnya itu, karena malam yang sudah larut.


Dua kali suara telepon tersambung tapi belum juga ada jawaban, dan Rea masih sabar menunggu, " Hallo " jawab dari seberang telepon, dan Rea terkesiap sejenak saat mendengar suara itu, disana bukan suara Devita, tapi suara Real, " Real ", katanya langsung menebak.


" Memancing ", ulang Real, yang terdengar menyadarkan diri dari rasa kantuknya, " oh kami tidak jadi pergi Rea ", katanya setelah tersadar, " Gema menelponku tadi siang, kalau dia tidak bisa pergi ", katanya lagi.


Rea terdiam mendengar itu, dan lidahnya keluh untuk kembali bicara.


" Apa dia tidak pulang Rea ? ", tanya Real yang terdengar sangat hati-hati dengan nada bicaranya.


" Mungkin dia tertidur di rumahnya sendiri Real. Seharusnya tadi aku menelpon Paman lebih dulu ", katanya menjawab dan nada bicaranya bergetar.

__ADS_1


" Tidak Rea, kau tepat menghubungi kami. Kau pasti berpikir kalau suamimu pergi denganku ", sambung Real, dan Rea kembali diam.


" Maaf mengganggu waktumu Real. Sampai bertemu nanti ", ucap Rea, yang langsung mengakhiri panggilannya, tanpa menunggu Real kembali bicara.


Rea menghela nafas, dan kembali mendekat ke hadapan jendela. Tangannya masih memegang erat handphonenya saat ini.


Matanya memandang ke arah luar, menatap pada dedaunan yang terombang-ambing oleh angin. Dan seperti itu pikirannya juga. Ia kini bisa menebak kemana suaminya pergi.


Memikirkan lelaki itu berada di pelukan kekasihnya.


Seharusnya dia biasa saja saat mengetahui hal itu, seharusnya dia tak merasa bahwa cuaca di luar sama persis dengan keadaan hatinya saat ini. Daun yang terkoyak kesana kemari, seperti mewakilkan keadaan hatinya malam ini dan angin yang berderu kencang seperti menusuk tepat di relung hatinya, " kenapa jadi begini ", gumamnya dan ia telah menyadari ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Ia menyadari dada yang terasa mulai sesak oleh sesuatu yang baru ia ketahui. Seharusnya ini tidak boleh begini dan seharusnya ini tidak boleh terjadi, " kamu tidak boleh menyukainya Rea ", ucapnya serak. Berusaha menyadarkan diri, untuk menepis perasaan yang baru dia sadari, tapi air matanya mengalir saat itu. Menandakan bahwa perasaannya itu sungguh ada, bahwa sakit yang rasakan benar telah terjadi, dan ia menyadari kalau saat ini dia cemburu.


" Kenapa harus begitu Tuhan. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya, bahkan aku tidak boleh mencintai siapa pun ",


" Bodoh, bodoh, harusnya memang tidak boleh ada pernikahan, seharusnya memang tidak boleh... " racaunya dengan tubuh yang sudah merosot di lantai. Ia membenamkan wajahnya di antara ke dua pahanya yang dia tekuk. Dan malam ini ia kembali menangis. Padahal seharusnya itu tidak boleh terjadi dan bahkan tidak pantas. Lelaki itu tidak pantas mendapati air matanya.


Tapi Gema tidak bisa disalahkan. Lelaki itu tidak menyakitinya. Bukankah ini sudah tercantum di surat perjanjian, bahwa lelaki itu bisa mengunjungi kekasihnya kapan saja. Bahkan dia sendiri yang menulis wewenang itu di dalam surat perjanjian, lantas kenapa saat ini dia tersiksa, lantas kenapa saat ini dia merasa tercurangi. Yang salah bukan Gema, bukan ?, tapi dirinya lah. Dirinyalah yang sudah jatuh cinta.


Dan malam ini dia menangis karena perasaan itu. Perasaan yang seharusnya tidak boleh ada.


Padahal kemarin, begitu percaya diri, saat dia mengatakan, kalau dirinya tidak akan pernah jatuh cinta. Dia begitu sombong untuk mengatakan dengan yakin, kalau dirinya tidak mungkin akan jatuh cinta, di tak percaya akan adanya cinta ,dan dia terlalu sombong.

__ADS_1


Dia lupa bahwa tidak ada manusia yang bisa mengatur perasaannya sendiri, tidak ada manusia yang bisa menutup pintu hatinya dengan sangat rapat, untuk tidak lagi jatuh. Tidak ada manusia yang sehebat itu. Dia lupa bahwa sang berkuasalah yang bisa mengatur segalanya, dan hari ini, hatinya sudah di atur untuk terjatuh kembali. Meski pada seseorang yang paling tidak ia kehendaki. Tapi semuanya sudah terjadi, dia mencintai Gema. Di dalam badai ia menyadari, kalau dirinya sudah jatuh cinta.


" Aku mohon Tuhan, tolong hentikan perasaan ini. Ini tidak boleh terjadi. Aku tidak boleh jatuh cinta ", racaunya, bersama air mata yang mengalir deras di pipinya, " aku tidak mau merasakan sakit lagi Tuhan ", katanya begitu lirih, dan tangisnya tersendat saat mengatakan itu. Dan hal itulah yang paling ia takuti ketika dia jatuh cinta adalah ia akan kembali merasakan sakit.


__ADS_2