
Pagi ini Rea terbangun dengan hati yang gelisah. Bagaimana tidak besok lusa dia akan berada di altar pernikahan dan bersumpah untuk sebuah janji pernikahan.
Hatinya cemas memikirkan hari itu. Hari dimana ia akan melepas status lajangnya untuk sebuah pernikahan kontrak.
" Aaaahhh " erangnya sambil menggelinjang di atas tempat tidurnya yang empuk.
Dan tiba tiba handphone yang di letakan di atas nakas berdering. Ia terdiam sejenak sembari mengatur nafasnya, sebelum melihat siapa yang sedang menghubunginya sepagi ini, " sudah ku duga " ucapnya saat melihat Nama Devita tertera di layar handphonenya.
" Ada apa kau mengganggu tidurku huh " ucapnya ketus seraya menjawab panggilannya. Namun, bibirnya tersenyum.
" Ceh. calon istri seperti apa kamu Rea. Kau harus terbiasa bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan suamimu ".
" Aku punya Rose. Jadi aku tidak perlu melakukan itu " potongnya. Membuat Devita terkekeh dari balik teleponmu ," memberitahumu memang sebuah kesalahan " ucapnya menjadi kesal. Dan bergantian kini Rea yang tertawa.
" Sungguh. Ada apa kau menelponku Dev ? "
" Aku hanya ingin tahu sudah seberapa jauh persiapanmu "
" Emm.. semua sudah beres. Hanya tinggal menunggu Gaun dan cincin pernikahanku selesai ".
" Astaga Rea. Bagaimana bisa itu belum selesai sementara pernikahanmu tinggal besok " cercah Devita menjadi panik.
" Santai saja Dev. Jika tidak juga selesai hari ini, aku tinggal membongkar lemari pakaianku dan mencari gaun mana yang bisa aku gunakan di hari itu. Aku rasa itu lebih berkesan " ucapnya sambil tertawa. Namun, tidak pada Devita yang menjadi meradang oleh ucapannya, " itu tidak lucu Rea " sergahnya.
Dan Rea perlahan menghentikan tawanya, " sungguh jangan terlalu panik Dev. Aku pastikan gaun pernikahanku sampai hari ini " ucapnya begitu yakin.
" Selain itu apalagi yang belum selesai ? "
" Tidak. Semuanya sudah beres. Undangan juga sudah di sebar. Justru yang aku takutkann adalah aku sendiri, aku takut tiba tiba aku berubah pikiran malam ini " kata Rea terkekeh, " jangan gila Rea " cercah Devita.
" Bahkan aku sudah gila Dev. Kalau aku tidak gila, aku tidak akan menikah dengan keadaan seperrti ini ".
" Maksudmu ? "
" Lupakan " balasnya cepat.
" Rea. Apa maksudmu ? " desak Devita.
" Ya seperti yang kau lihat. Aku menikah dengan seseorang yang masih memiliki kekasih. Apa itu tidak gila menurutmu ? " jelasnya dengan terus tertawa.
" Jangan tertawa Rea.Itu sangat tidak lucu dan kau tidak sebahagia itu "
" Kau yang jangan terlalu serius Dev " potongnya terus terkekeh. Namun, sebenarnya tidak ada tawa disana dan ucapan Devita seperti menusuk hatinya.
Ya wanita itu benar. Bahwa saat ini, ia tidak sebahagia itu.
" Rea.. " panggil Devita lemah.
" Hemm... "
" Tapi kau jangan marah "
" Jangan membuatku takut Dev. Cepat katakan " cercahnya.
" Emm.., apa kau mengundang Nyonya Kris di hari pernikahanmu ? " tanya Devita begitu hati hati.
Dan sesaat tidak ada jawaban disana. Hanya terdengar tarikan nafas yang di hembuskan sedikit kasar, " Beberapa hari yang lalu di datang ke kantorku " ucapnya. Membuat Devita begitu penasaran.
" Apa yang dia lakukan ?. Dan bersama siapa kau saat itu ? "
__ADS_1
" Aku di temani Maria " balasnya lemah.
" ah syukurlah " ucap Devita legah. Karena ia yang paling tahu seperti apa kondisi Rea saat bertemu wanita paruh baya itu, " untuk apa dia menemuimu ? " tanyanya lagi.
" Mungkin karena saat itu dia sudah mendapat kabar tentang pernikahanku "
" Apa yang dia katakan ? "
" Ya dia menanyakan hal itu ".
" Apa kau mengundangnya ? " tanya Devita lagi.
" hemm.. " balasnya singkat.
Devita terdiam sejenak, " kau yakin tidak akan apa apa jika dia ada sana ?".
" Aku tidak tahu Dev. Tapi aku juga merasa sedikit bersalah jika tidak mengundangnya di hari pernikahanku".
" ya, apa yang aku lakukan sudah benar Rea. Bagaimana pun dia ibumu " ucap Devita.
" Dan jangan membuang energi untuk memikirkan bagaimana kau akan bertemu dengannya di hari itu. Cukup pikirkan bagaimana di hadapan semua orang kau harus berciuman bersama Gema ".
Mendengar itu, Rea terperanjat dari pembaringannya, " apa aku sungguh harus melakukan itu Dev ".
" Tentu. Tidak ada pernikahan yang tidak di akhiri dengan ciuman " balas Devita yang sengaja menggoda sahabatnya itu.
" Mungkin kau bisa mengajak Gema berlatih hari ini ". sambungnya.
" Berlatih ? " ulang Rea.
" Ya. Kalian bisa berlatih ciuman hari ini. Supaya di hari perni..."
" Bukan aku yang gila. Tapi kau yang aneh dan mungkin hanya kau, perempuan di kota London ini yang belum berciuman sebelum menikah ".
" Jangan menghinaku "
" Tapi memang itu kenyataannya Rea "
" Baiklah aku tutup teleponnya dan sebaiknya kau mendengar saranku Rea. atau semua orang di hari pernikahanmu akan tertawa karena melihat mempelai perempuannya yang terdiam kaku saat berciuman "
" Dev.. " teriak Rea begitu kesal.
" Bye " tutup Devita tanpa pamit.
Rea terdiam sejenak, setelah panggilan teleponnya berakhir. Semua ucapan Devita seperti meresap dalam otaknya, " kenapa memikirkan hari itu jadi menyeramkan " gumamnya, dengan membayangkan dirinya yang akan berciuman bersama Gema.
Handphone yang masih berada di tangannya tiba tiba kembali berdering, dan ia menemukan nama asistennya disana, " Ya Maria " jawabnya pada telepon yang baru tersambung.
" Nona. Gaun pernikahan anda sudah tiba. Begitu pun dengan cincin anda " jelas Maria.
" Benarkah ?" serunya, dengan tanpa sadar ia terperanjat dari duduknya dengan langsung berdiri.
" Hemm.., setelah menyelesaikan satu pertemuan aku akan datang kerumah anda. Dan emm.. Nona "
" Apalagi Maria ? "
" Ada satu sesi yang belum selesai dari pernikahan anda ".
" Apa ? " tanya Rea bingung. Sementara yang ia tahu segala persiapan sudah hampir selesai.
__ADS_1
" Foto Prewedding " jelas Maria singkat.
Rea terdiam sejenak, " apa aku harus melakukan itu ? ".
" Tentu Nona. Semua orang akan merasa aneh jika sepasang manusia sukses tidak memiliki foto prewedding di hari pernikahannya. Dan aku yakin itu akan membuat orang lain curiga. Terlebih dengan pernikahan yang begitu mendadak seperti ini "
Rea menghela nafas, " atur saja seperti apa konsepnya Maria. Aku tidak lagi mau pusing memikirkan hal ini " tukasnya.
" Ternyata tak semudah yang aku bayangkan " sambungnya lagi. Sementara Maria terkekeh di balik telepon.
" Baiklah sampai bertemu nanti Nona " pamit Maria dengan menutup panggilannya.
" Astaga aku benar akan gila. Belum selesai memikirkan bagaimana aku akan berciuman di altar pernikahan. Sekarang aku harus memikirkan bagaimana aku akan bergaya dalam foto prewedding nanti ".
" Kenapa semua harus seribet ini " erangnya kesal.
****
Rea tertegun saat menatap dirinya di dalam cermin, " cantik " pujinya pada diri sendiri. Mata coklat pekat miliknya seolah semakin bersinar oleh riasan pada matanya.
" Nona.. " panggil seseorang yang membuatnya begitu terkejut.
" Anda sangat cantik "
" Kau mengejutkan aku Maria " geramnya.
" Tapi sungguh anda sangat cantik "
" Aku sudah cantik dari sebelumnya " balas sekenanya.
" Ya itu juga benar " sahut Maria.
" Kalau sudah selesai. sekarang pakai baju anda Nona " pinta Maria sambil menyodorkan gaun berwarna navy padanya. Dengan berat hati Rea mengambil gaun itu lalu berjalan menuju kamar ganti.
Dan beberapa saat dia sudah kembali dengan gaun berwana navy yang sudah terpasang di tubuhnya.
" Kenapa gaun ini begitu berat " protesnya pada Maria. Sementara perempuan itu sudah tertegun menatap kearahnya, " Hei " serunya membuyarkan tatapan Maria.
" Apa aku menjadi begitu aneh ? "
" Tidak. Justru anda semakin cantik. Lebih cantik lagi dari tadi " jelas Maria bersungguh-sungguh, " anda terlihat seperti ibu peri Nona " tambahnya.
Rea terkekeh, lalu dengan cepat berjalan menuju cermin untuk melihat bagaimana penampilannya saat ini.
Maria benar. Gaun Navy itu seolah menyulapnya menjadi wanita cantik dengan penuh keanggunan. serta memperlihatkan leher jenjangnya yang indah.
" Ayo Nona. Tuan Gema sudah menunggu " ajak Maria.
~
Jantung Rea berdebar tak karuan saat Gema menyentuh pinggangnya untuk sebuah pose terbaik di dalam sebuah foto pranikah.
" Mungkin lebih baik jika saling berhadapan " ucap sang fotografer mengarahkan.
Mendengar itu Rea menarik pelan nafasnya. Dangan posisi seperti ini saja dia sudah berdebar, bagaimana lagi jika saling berhadapan. Namun Rea tak punya pilihan selain setuju.
Perlahan ia memutar tubuhnya menghadap pada Gema. Ternyata tidak ada yang berani untuk saling memandang, dengan Gema yang ikut menundukkan pandangan tanpa berani menatap wajah wanita di hadapannya.
" Bisakah kalian saling bertatapan " pinta Sang fhotografer itu lagi.
__ADS_1
Gema perlahan memberanikan diri mengangkat wajahnya dan saat itu juga pandangannya tertegun oleh sorot mata coklat di hadapannya, " kau sangat cantik Rea " ucapnya tanpa sadar.Namun, berhasil membuat jantung Rea semakin berdetak tak menentu.