
****
" Kenapa kau termenung Rea ? " tanya Devita sambil berjalan menghampiri perempuan itu dengan sepiring kue kering di tangannya , " emm..tidak , aku hanya sedang memperhatikan Rania " jelasnya sambil tersenyum singkat.
" Bagaimana keadaan kantor ? "
" Seperti biasa "
" Apa kau masih bisa menerimaku bekerja , sepertinya aku sedang jenu...."
" Tidak " potong Rea ,dan melemparkan tatapan tajam pada Devita , " kau tidak boleh meninggalkan masa kecil Rania " tambahnya.
" Aku ingin kembali bekerja Rea , bukan meninggalkan Rania "
" Aku bilang tidak Dev , dia masih membutuhkanmu "
" Tapi aku sedang berada di titik jenuh untuk setiap hari berada dirumah "
" Dev " panggila pelan Rea , namun tanpa menatap kearah sahabatnya itu.
" Dia benar-benar masih membutuhkanmu , mungkin kau berpikir ini sepele , tapi seorang anak kecil sangat mengerti keadaan yang sedang terjadi padanya ".
" Kau membiarkan dia di jaga oleh pengasuh , lalu kau bekerja dan setelah pulang kau akan kelelahan dan kembali membiarkan dia pada susternya, setelah letihmu hilang dia sudah tertidur dan begitu setiap hari , padahal dia sangat merindukanmu dan kau akan kehilangan moment masa kecilnya "
" Aku sangat tahu rasanya bagaimana menyakitkannya kurangnya perhatian orang tua Dev ,dan aku tidak ingin itu kembali terjadi pada Rania " tambahnya dengan suara yang mulau serak.
Devita terdiam sejenak , perasaannya begitu terenyuh setelah mendengar kalimat menyedihkan dari bibir sahabatnya , " maafkan aku Rea " ucapnya , dengan langsung merengkuh erat tubuh perempuan itu.
" Kau beruntung memiliki Rania Dev , kau lihat aku , bukankah aku sangat menyedihkan " ujarnya sambil tertawa, namun semua orang tahu bahwa itu adalah tawa yang di paksakan , " suatu hari kau juga akan punya keluarga "
" Ceh ,apa kau sedang berdongeng? " sahut Rea dan kembali tersenyum kecut.
" Itu tidak akan pernah terjadi di hidupku Dev ,bahkan aku sendiri tidak pernah berpikir memiliki hal yang mustahil "
" Rea , jangan menghukum dirimu sendiri , kau juga berhak bahagia " ujar Devita.
" Tapi kau lihat sendiri bukan ,apa aku beruntung tentang itu ? "
" Mungkin hanya belum Rea , bukan tidak "
" Ntahlah ,tapi aku tidak lagi banyak berharap untuk sesuatu hal yang mustahil terjadi di hidupku "
" Tidak ada yang mustahil "
__ADS_1
" Dev ,berhentilah " ucapnya sedikit meninggi.
" Tapi aku hanya ingin kau bahagia Rea , dan mempunyai keluarga sepertiku "
" Ceh ,kau benar-benar membuatku merasa sangat menyedihkan "
" Bukan seperti itu maksudku ,sungguh " ucap Devita menyesal.
" Setidaknya kau harus memiliki keturunan untuk meneruskan kerja kerasmu " tambahnya.
" Aku tinggal mewariskan semuanya pada anak-anakmu "
" Re... " panggil pelan Devita sambil menghela nafasnya.
" Aku memang akan selalu berusaha ada untukmu , tapi kau pasti tahu itu tidak akan setiap waktu , setidaknya kau harus memiliki seseorang yang harus menjagamu di masa tua " tambahnya membuat Rea tidak kembali membantah dan hanya terdiam sambil menatap Rania yang sedang asik dengan mainannya.
Drrrttt drrrttt " suara dering handphone tiba-tiba mengejutkan suasana yang tiba-tiba menjadi hening , " astaga aku lupa dengan janjiku bersama paman Frans " ujar Rea setelah melihat nama kontak panggilan di dalam layar handphonenya , " ya paman " jawabnya pada telepon.
" Oh baiklah , aku sedang dalam perjalanan menuju kesana " katanya lagi sambil beranjak dari tempatnya.
" Baik paman , sampai bertemu " ucapnya lalu menutup panggilan itu.
" Kau mau pergi ? " tanya Devita , membuat perempuan itu menghentikan geraknya , " ya , aku memiliki janji bersama paman Frans hari ini "
" Aku pergi dulu " ucapnya setelah mencium Rania , lalu memeluk singkat pada tubuh Devita ,
" Dia pasti merasa tertekan dengan ucapanku " gumam Devita sambil terus menatap tubuh yang baru saja pergi dari hadapannya.
" Kenapa aku begitu bodoh " tambahnya dan mengutuk dirinya sendiri.
~
" Nona "
" Nona " ulang Maria dan Rea masih begitu fokus melihat kearah luar jendela bersama lamunannya.
" Nona " panggilnya lagi.
" Emm..ya " sahut Rea dengan tubuh yang terperanjat.
" Kita sudah tiba " jelas Maria , Rea segera kembali melihat kearah sekitarnya lalu tersenyum dengan begitu kecut , " aku benar-benar akan gila " ujarnya.
" Ada apa nona ? "
__ADS_1
" Tidak , ayo " ajaknya , lalu segera keluar dengan pintu mobil yang baru saja di buka oleh bodyguardnya.
Rea melangkah dengan elegan bersama dua bodyguard dan satu orang asistennya menuju restoran tempat pertemuannya bersama Frans ,laki-laki yang sudah sangat berjasa di dalam hidupnya.
" Selamat datang nak " ucap Frans yang ternyata sedang berdiri di ambang pintu.
" Paman " panggil Rea terkejut lalu berjalan begitu cepat untuk menghampiri lelaki paruh baya itu , " bagaimana kabarmu nak ? " tanya Frans setelah tubuh langsing milik Rea memeluknya.
" Sangat baik paman " jawabnya , belum sempat menanyakan kembali keadaan laki-laki itu , matanya tiba-tiba saja di kejutan oleh sepasang manusia yang sedang asik menikmati makan siang mereka , namun sesaat pandangan matanya terbalas dan ikut menatapnya dengan terkejut.
Gema memberi kode untuk tetap diam lewat jari telunjuk yang berada di hadapan bibirnya , dan itu sedikit membuat Rea terkejut ,
" apa kau begitu merindukan aku " ucap Frans karena Rea belum melepas pelukannya dan itu berhasil membuat Rea kembali tersadar dengan kehadiran laki-laki paruh baya itu.
Kini Gema terlihat menyimpukan kedua telapak tangannya , begitu memohon untuk Rea tetap diam dengan kehadirannya disana , " ya aku memang sangat merindukanmu " ucap Rea membalas , sambil terus menatap penuh kebingungan pada Gema , padahal ia juga yakin kalau perempuan yang bersama laki-laki itu adalah Bella.
" Ayo nak " ajak Frans , yang kembali menyadarkan lamunan Rea.
" Emm..bisa kita ke restoran Jepang saja ? " tanyanya sambil sesekali melihat ke arah Gema yang masih duduk di sudut Restoran , ruangan itu begitu luas , namun letak tempat duduk Gema dan Bella begitu terlihat jelas dari tempat Rea dan Frans berdiri saat ini.
" Ya sepertinya shabu-shabu sangat enak " sambung Frans.
" Ya aku memang sedang menginginkan makanan itu paman " sahut Rea menambahkan ,
" baiklah sekarang kita pindah ke restoran Jepang "
" Apa tidak apa-apa paman ? " tanya Rea dengan sedikit merasa bersalah.
" Tentu karena pilihanmu sangat tepat , dan sepertinya makanan jepang sangat cocok untuk kita saat ini " ujar Frans tertawa lalu berjalan lebih dulu meninggalkan Rea yang masih berdiri dengan pikiran bingungnya.
~
Rea kembali termenung menatap keluar jendela mobil , setelah menyelesaikan pertemuan dan obrolannya bersama Frans , ia memilih untuk pulang ,
pikirannya begitu sesak oleh banyak alasan yang membuat otaknya harus bekerja begitu keras dan itu membuatnya tidak bisa kembali bekerja dengan normal dan memilih mengakhiri semua pekerjaan kantornya hari ini.
Drrrttt drrrttt " handphone yang berada di dalam tas Rea berbunyi , membuat pemiliknya terkesiap dari lamunannya dan segera mengambil benda yang masih terus berdering, " Gema " gumamnya saat melihat nama laki-laki itu di layar handphonenya.
" Hallo " jawab Rea pelan dan begitu canggung.
" Kau dimana Rea ? "
" Aku sedang di perjalanan pulang , ada apa Gem ? "
__ADS_1
" Baiklah aku juga akan menuju ke rumahmu sekarang " ucap laki-laki itu dan tanpa menunggu persetujuan Rea , ia langsung mengakhiri panggilan telepon.
" Ada apa dengannya ? " gumam Rea semakin bingung dan masih menatap layar handphone dengan telepon yang baru saja berakhir.