
Suasana masih menghening ketika Gema dan Rea hanya tinggal berdua di depan pintu lobby ,
tidak ada yang berani untuk memulai pembicaraan meski salah satu di kepala kedua manusia itu kini tengah di isi oleh sebuah pertanyaan, tapi Rea memilih urung untuk mengungkapkannya.
" Ayo masuk " ajaknya dengan nada yang sedikit lebih dingin dari biasanya , ya ia hanya manusia biasa yang tidak bisa baik-baik saja ketika sedang kecewa.
" Ya " balas Gema canggung , meski telah di ujung lidah untuk mengucapkan kata maaf pada wanita di hadapannya , namun ia memilih urung karena menyadari ini bukan waktu yang tetap untuk membahas urusan pribadi antara mereka.
" Oh beruntung sekali kita pagi ini " ucap seseorang dengan senyum semuringah lalu dengan cepat berjalan menuju Rea dan Gema , " selamat pagi Tuan dan Nona " sapanya membuat langkah ke dua manusia itu berhenti.
Bola mata Rea membulat seketika ketika menyadari bahwa seseorang yang baru saja menyapa adalah seorang wartawan , " menyebalkan kenapa harus bertemu mereka sepagi ini " umpatnya pelan dan ia menyadari kondisinya saat ini sangat rumit jika harus meninggalkan begitu saja orang-orang itu dan dengan terpaksa ia harus melengkungkan garis bibirnya sebelum camera-camera itu mencetak wajah tidak bersahabatnya dan itu pasti akan berimbas pada kariernya sendiri.
" Pagi " balasnya.
Sementara Gema masih terdiam dan sedikit linlung dengan situasi yang baru saja terjadi dan mengamati sikap Rea membuatnya sedikit bingung.
" Maaf mengganggu waktu kalian berdua , tapi ini sebuah keberuntungan untuk kami " ucap wartawan tersenyum sambil menundukkan kepalanya ,
dan sepertinya beberapa orang menyadari situasi yang terjadi membuat beberapa wartawan lainya ikut bergabung.
" Anda berdua terlihat begitu cocok " ucap salah satu wartawan dengan cameraman yang terus genjar mengambil gambar Rea dan Gema , dan ucapan itu berhasil membuat Rea melihat kearah Gema begitu pun sebaliknya , namun dengan cepat ke dua manusia itu mengalihkan pandangannya , " bagaimana dengan kabar pernikahan kalian , apa itu benar ? "
Mendengar pertanyaan itu jantung Rea seperti ingin lompat dari tempatnya , bahkan lidahnya seperti tidak mampu untuk membantah apalagi untuk mengatakan iya.
" Ya itu benar " ucap tiba-tiba dari mulut Gema , dan itu benar-benar membuat Rea menjadi semakin terkejut , " ti..da.." katanya ingin membantah , namun terhenti oleh Gema yang tiba-tiba memotong ucapannya.
" Kami sedang dalam mempersiapkannya tapi untuk mengatakan kapan waktu itu terjadi kami belum bisa mengatakan itu sekarang " ucap Gema ,
mendengar kalimat itu nyaris saja ke dua bola mata Rea keluar dari tempatnya dan menatap tanpa bekerdip pada laki-laki yang terlihat dengan santai mengucapkan hal itu , " wah ini benar-benar mengejutkan tapi juga banyak berita beredar kalau hubungan kalian hanya sebuah hubungan politik antar perusahaan "
" Apakah itu benar Tuan ? "
Glek " Gema menelan ludahnya setelah mendengar pertanyaan yang sedikit menyudutkan mereka meski rencana itu bukan karena sebuah politik tapi mereka melakukannya atas dasar sebuah perjanjian dan itu tidak kalah mengenaskan.
" Tidak itu tidak benar " katanya menyangkal , sementara Rea telah terdiam dengan lidah yang tercekat untuk berbicara.
__ADS_1
" Kami menikah tentu atas dasar saling menyukai " tambahnya sambil merangkul pundak wanita di sampingnya.
deg
Jantung Rea semakin berdetak tak menentu ,bahkan nyaris ia runtuh di hadapan semua orang namun dengan berusaha ia tetap berdiri tegar , kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Gema benar-benar membuat tubuhnya lemas dan hampir linglung , ia bahkan tidak bisa mememastikan bahwa situasi yang baru saja terjadi adalah sebuah kenyataan.
Di tatapnya wajah lelaki yang kini tengah merangkul tubuhnya , " benarkan itu sayang ? " tanya Gema lembut dan Rea hanya bisa mengangguk pelan dengan tersenyum canggung.
" Baiklah kami sudah menjawab pertanyaan kalian dan maaf sekarang kami harus masuk ke dalam karena sebuah pertemuan sudah menanti kami " ucap Gema dengan masih merangkul Rea , ia membawa tubuh itu untuk meninggalkan semua orang.
" Lalu bagaimana dengan Nona Bella ? " sebuah pertanyaan yang membuat langkah kaki Gema berhenti seketika dan itu juga membuat Rea harus menarik sedikit dalam nafasnya karena ia benar-benar tidak menyukai ketika harus kembali berhadapan dengan para wartawan.
Di lihatnya wajah Gema yang mulai berubah seiring pertanyaan yang baru saja di lontarkan , bahkan tangan yang tadi begitu erat merangkul tubuhnya kini telah sedikit melonggar,
" Kami baik-baik saja , ya hubungan kami masih baik-baik saja meski aku dan Nona Rea akan menikah " ucap Gema dengan sedikit bergetar , namun hanya Rea yang menyadari itu.
" Maaf kami harus pergi " ucap Rea mengambil alih dan menutup pertemuan bersama wartawan yang seperti tidak ada cukupnya dengan pertanyaan mereka.
" Ayo " ajaknya pada Gema , memindahkan tangan lelaki itu dari pundaknya namun tidak melepaskan hanya saja bergantian ia yang kini memegang lengan lelaki itu dan menariknya untuk pergi dari hadapan semua orang.
Ting " suara pintu lift terbuka dan itu menyadarkan sebuah tangan yang masih merangkul erat pada sebuah lengan.
dan suasana masih menghening meski mereka sudah berada di dalam sebuah lift yang akan membawa mereka ke pada lantai gedung yang menjadi tempat pertemuan pagi ini.
" Selamat pagi Tuan , Nona " ucap seseorang saat dua manusia itu baru saja keluar dari dalam lift , " Pagi " balas mereka bersamaan.
" Maaf Tuan , nona tadi Tuan Frans mengatakan kalau anda berdua hanya perlu menunggu di ruangan sana , karena meeting sudah di wakilkan oleh tuan Frans sendiri dan Asinten Nona Rea "
Rea menghela nafas seketika begitu pun Gema , " baiklah " balas mereka bersamaan.
" Terimakasih " tambah Rea lalu berjalan lebih dulu menuju ruang yang sudah di tunjukkan untuk mereka menunggu.
Rea terdiam sesaat dan menyadari kalau ia hanya seorang diri di dalam ruangan tanpa di ikuti oleh Gema , " ceh " decihnya tersenyum kecut , lalu berjalan ke arah kaca besar yang memperlihatkan cahaya pagi dengan panorama kota London.
" Ini menyegarkan " ucapnya sedikit tersenyum sambil menarik nafas dan memejamkan matanya.
__ADS_1
Klek " pintu ruangan itu terbuka , membuat mata Rea yang masih terpejam langsung terbuka dan menoleh pada suara.
" Coffea " ucap Gema dengan dua cangkir di tangannya lalu memberikan satu cangkir itu pada Rea.
" Kau terlihat kurang tidur " ucap Gema lalu ikut berdiri disisinya.
Rea masih terdiam , dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi kesal oleh kalimat yang baru saja di lontarkan oleh lelaki di sampingnnya , karena memang kenyataanya ia kurang tidur tadi malam dan itu gara-gara lelaki itu , namun ia memilih diam dengan hanya kembali menghela nafas untuk meredahkan rasa emosi dalam dirinya.
" Rea apa kau marah ? " tanya Gema tiba-tiba.
" Aku tahu kau pasti marah padaku karena aku tidak datang kemarin "
" Kalau kau tahu kenapa harus bertanya " sahutnya dingin.
" Maafkan aku " ucap Gema yang kini menatap Rea dengan bersungguh-sungguh.
" Sungguh maafkan aku " tambahnya lagi.
" Kau terlalu menggampangkan suatu hal Gema , kau tahu aku bukanlah seseorang dengan hidup yang santai , sementara kau membuatku menunggu di tengah kesibukanku "
" Maafkan aku "
" Apa susahnya mengirim pesan kalau kau tidak bisa datang atau kau menolak untuk membuat perjanjian pernikahan itu " ucap Rea dengan nada meninggi , membuat Gema terdiam sesaat , " bukan seperti itu Rea , hanya saja setelah bertemu Bella perasaanku menjadi tidak tenang kemarin dan aku seperti perlu berpikir lagi untuk pernikahan ini "
" Tentu aku tidak akan keberatan jika kau mengatakan itu kemarin Gema , kau sadar tidak ada paksaan disini dan aku tidak pernah memaksamu di luar dari urusanmu bersama Paman Frans "
" Aku tidak akan di rugikan sekali pun pernikahan ini tidak terjadi " tambahnya yang menjadi tersulut emosi oleh kecewa yang tidak ia sadari.
" dan hari ini kau yang mengatakan kepada media kalau rencana pernikahan itu benar terjadi , kau benar-benar menggampangkan semuanya Gema "
" Kau tahu ucapanmu itu akan beresiko besar pada karierku , jika kenyataannya pernikahan itu belum tentu akan terjadi apa yang harus aku katakan nanti .... "
" Pernikahan ini pasti akan terjadi Rea..." potong Gema pelan , " aku pastikan semua akan terjadi , hanya saja aku perlu waktu untuk menjelaskan semuanya pada kekasihku dan dia juga butuh waktu untuk menerimanya "
Deg
__ADS_1
Tiba-tiba saja dada sebelah kiri Rea terasa perih oleh ucapan Gema , bukan pada kalimat tapi lebih tepatnya hanya pada satu kata " Kekasih " kata yang begitu suci.
" Maafkan aku, aku lupa kalau kau punya seorang kekasih " ucapnya tersenyum hambar dengan menggenggam erat tangannya sendiri.