KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Kristeen


__ADS_3

*Dua puluh lima tahun yang lalu.


" Kristeen.. " panggil pelan seorang perempuan mudah pada temannya yang kini tengah sibuk membersihkan meja kosong, setelah beberapa orang duduk disana dan kemudian pergi.


" Kristeen.. " panggilnya lagi sedikit keras.


Dahi sang pemilik nama mengerenyit, sambil terus bergerak membersihkan meja dan meletakkan beberapa gelas dan hidangan ke atas nampan, untuk ia bawa kembali ke dapur, " ada apa Emma ? , Kenapa kau begitu berisik " tanyanya sambil berlalu melewati teman kerjanya itu.


Perempuan berambut coklat kopi itu mengikuti langkah Kristeen menuju dapur, " aku melihat lelaki di ujung ruangan itu terus memperhatikanmu Kristeen " katanya memberitahu.


" Lalu ? " tanya Kristeen tak peduli, sambil terus berlalu menuju pengunjung yang baru saja masuk ke dalam kafe tempatnya bekerja.


" Selamat siang tuan , Nona " sapanya tersenyum manis, seraya meletakkan menu hidangan di hadapan ke dua orang itu, " hari yang spesial. Kami punya hadiah untuk sepasang orang yang datang hari ini " katanya memberi tahu.


" Benarkah ? " sahut perempuan yang duduk di sisi kirinya.


" Hemmm.., kami akan memberikan coklat hangat sebagai hidangan penutup " katanya dengan bibir yang terus tersenyum manis.


" Hadiah yang manis sekali " ucap pengunjung laki-laki tersenyum, sambil menunjuk pada menu yang akan ia pesan.


Kristeen mengambil note dan pena di dalam sakunya, lalu mencatat semua pesanan.


" Hidangan kalian akan segera datang, Dan selamat hari Valentine " ucapnya pada pengunjung dengan senyum manis yang tidak berakhir dari bibirnya.


Ia berjalan cepat menuju lorong kecil disisi dapur dan menempelkan note yang berisikan pesanan pengunjung. Lalu kembali lagi ke depan dan berdiri manis di sisi meja kasir.


" Sssttttttt " seru Emma yang duduk di kursi meja kasir.


" Hei Kristeen, apa kau sengaja tidak mendengarku ? "


" Aku lelah Emma. Jangan menggangguku " sahutnya sedikit ketus.


" Siapa yang ingin mengganggumu. Aku ingin bilang kalau lelaki di ujung ruang itu tak berhenti melihat ke arahmu "


" Lalu ? " balasnya tidak peduli.


" Lihatlah dia sebentar. Dia lelaki yang tampan kristeen " ucap Emma pelan.


Kristeen masih diam. Namun, mata coklatnya perlahan mulai mencuri pandang pada seseorang yang di maksud oleh teman kerjanya itu.


Sesaat pandangannya terpaku. Lalu dengan cepat ia alihkan tatapannya saat matanya bertemu dengan sorot mata biru gelap milik lelaki yang Emma maksud.


Jantungnya berdetak tak menentu. Hingga membuat pipi putihnya sedikit merona.


" Dia sangat tampan bukan ? " seru Emma. Namun Kris tidak menjawab.


Bel penanda hidangan telah siap sudah berbunyi. Dengan cepat Kristeen kembali ke lorong dapur. Meletakan makanan itu di atas nampan, lalu mengantarnya ke meja pesanan.


dan selama itu ia tak berani mengangkat wajahnya karena takut kembali bertatapan dengan pengunjung di ujung ruang.


" Selamat menikmati hidangannya " ucapnya lembut, lalu kembali setelah selesai meletakan semua hidangan.

__ADS_1


Baru saja ia selesai meletakan nampan. Tiba-tiba Emma kembali berseru memanggil namanya.


" Ada apalagi Emma ? " tanyanya ketus dan menjadi kesal karena tubuh yang sudah begitu lelah.


" Pengunjung itu memanggil " kata Emma memberitahu sambil menunjuk pada laki-laki yang berada di ujung ruangan.


" Cepat hampiri dia. Sebelum dia menuliskan sesuatu di kotak complain " katanya lagi.


Kristeen menarik nafas. Sebelum perlahan kakinya bergerak menuju meja yang di maksud oleh Emma.


" Ada yang bisa saya bantu Tuna ? " tanyanya tanpa berani menatap pada laki-laki itu. Ia terus menundukkan pandangannya dengan dahi yang mulai sedikit mengerut. karena bingung tidak ada jawaban atas pertanyaannya.


" Tuan.. ? " ulangnnya pelan.


" Tidak sopan jika kau tidak melihat pada lawan bicaramu " ucap lelaki itu tiba-tiba dengan suara berat dan terdengar sedikit dalam.


Kris cepat menegakkan tatapannya, " Maafkan saya tuan " ucapnya penuh penyesalan.


Deg


Jantungnya kembali terpacu. saat mata coklatnya kembali bertemu pada sorot mata biru gelap di hadapannya, " lelaki yang sempurna " serunya membatin.


Bulu mata lentik dengan alis yang saling bertaut membuat tatapan mata itu terlihat sangat sempurna. Kini pandangannya menjalar menuju hidup mancung, kumis yang tertata rapi dan bibir tipis berwarna merah mudah dengan bentuk yang tak kalah sempurna. Dan itu semakin di perindah dengan bulu-bulu halus yang juga tertata rapi di rahang tegasnya.


" Kristeen " panggil lelaki itu. membuatnya tersentak dan berhasil membuyarkan pandangannya.


" Ma.. ma maafkan aku Tuan " ucapnya begitu menyesal. Dan berpikir jika lelaki itu tengah memergoki dirinya yang menatap tanpa berkedip.


Dahi Kristeen kembali mengerenyit dan dengan penuh kebingungan ia kembali ke tempatnya.


" Apa yang dia katakan ? " tanya Emma penasaran.


" Ntah lah aku tidak mengerti. Setelah menyebut namaku dia langsung memintaku kembali " katanya menjelaskan dengan mimik wajah yang masih kebingungan, " aku juga bingung darimana dia tahu namaku " sambungnya.


Emma langsung saja terkekeh, " dasar bodoh, tentu dia tahu karena membaca namamu disini " serunya tertawa sambil menunjuk pada name tag yang di sematkan di dada sebelah kirinya.


Dan ia ikut tertawa kecil karena kebodohannya, " aku benar-benar sudah kehilangan akalku " katanya tersenyum kecut.


Emma melihat lelaki yang berada di ujung ruangan sudah pergi. dengan meninggalkan beberapa lembar uang kertas disana.


" Kristeen dia sudah pergi " ucapnya. Lalu berjalan dengan cepat menuju meja lelaki itu.


" Astaga " seru Emma tiba-tiba. Kristeen yang barus saja ingin duduk membatalkan niatnya karena teriakan kecil perempuan itu, " Kristeen kemarilah " teriaknya lagi.


" Tidak bisakah kau saja yang membawa cangkir bekasnya " balasnya tak berdaya karena tubuh yang memang sudah sangat-sangat lelah oleh pekerjaan. Bagaimana tidak sebelum datang ke kafe tempatnya bekerja ia harus menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya sambil mengurus putri kecilnya. Yang sekarang harus ia tinggalkan demi menyambungkan hidup mereka setiap harinya.


" Bukan begitu !, cepatlah kemari Kriss. Kau harus melihat ini " seru Emma tidak sabar.


Tubuh lelah Kristeen perlahan bergerak menuju ke arahnya, " ada apa ? " tanyanya sedikit kesal.


" Lihat " tunjuk Emma pada kertas yang di tinggalkan di antara lembaran uang.

__ADS_1


" Selamat Hari Valentine Kristeen " tulis dalam kertas itu. Lalu menyusul tulisan yang di buat lebih kecil, " Ambil kembaliannya untukmu dan belilah pemerah bibir. Kau akan semakin cantik dengan bibir yang merona. Dan besok aku akan kembali " tulisnya lagi.


Emma berteriak kegirangan setelah membaca isi dalam kertas. Lalu dengan cepat ia mengambil lebaran uang di atas meja dan menghitungnya, " Lima ratus dolar " serunya dengan mata yang membesar.


" Kopi yang dia pesan hanya seharga tujuh belas dolar. Berarti sisanya.... " katanya seraya berpikir.


" Empat ratus delapan puluh tiga dolar Emma " sambung Kristeen.


" Ya segitu. Aku sampai tidak bisa lagi menghitung " ujarnya menjadi linglung. Ia mengambil selembar uang Lima puluh dolar dan memberikan semua sisanya ke tangan Kristeen, " ini uangmu dan tunggu sisanya lagi dari sini " serunya sambil kembali berjalan menuju meja kasir.


Kristeen masih terdiam menatap lembaran uang di tangannya.


" Kris bersihkan dulu meja itu. Barulah jika kau kembali ingin termenung " teriak Emma tertawa.


Kris telah meletakan cangkit kotor dari meja ujung ke wastafel dapur. Dan cepat ia kembali lagi ke meja kasir ke tempat dimana Emma bekerja.


" Emma uang tips ini sangat banyak " katanya dengan terlihat linglung sambil mengeluarkan lembaran uang kertas itu dari sakunya, " itu rezekimu hari ini. Ambillah "


" Dan ini sisanya lagi " sambung Emma sambil memberikan kembali dari uang lima puluh dolar yang tadi ia ambil.


" Ambil saja untukmu Emma " katanya sambil menyorong kembali uang dari tangan teman kerjanya itu, " tidak ini uangmu. dia memberikannya untukmu ".


" Dan sekarang aku memberikannya padamu. Kau bisa menggunakannya untuk membeli makan malam dan ongkos untuk kau pulang nanti " pinta Kristeen dengan tersenyum. Lalu ia melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam, " astaga aku sudah terlambat pulang " serunya sambil terburu-buru membuka apron yang menempel pada tubuhnya, " aku pulang Emma " pamitnya terburu-buru.


" Ini sisa uangmu " teriak Emma.


" Aku sudah bilang itu untukmu " balasnya.


" Kalau begitu terimakasih " ucap Emma begitu senang.


Tidak lama Kris kembali lagi dengan pakaian biasa. Baju kaos berwarna putih dan celana jeans berwarna biru mudah. serta tas yang tersangkut di pundak sebelah kiri, " aku pulang dulu Emma. Putriku pasti sudah menungguku " pamitnya lagi.


" Ya berhati-hatilah. Dan jangan lupa beli pemerah bibir Kristeen " teriak Emma tertawa.


Kristeen masih sempat berdelik ke arahnya sebelum sampai di pintu Kafe.


" Salam pada putri cantikmu " teriak Emma kembali.


Kris mengangguk sambil melambaikan tangan. Lalu ia menghilang dari balik pintu.


• Hai para Readers ^_^


Lama tidak menyapa ya 🤗 terimakasih tetap setiap menanti cerita Rea dan Gema. Mohon dukungannya 🙏


Aku ingin memberitahu pada kalian semua. Untuk beberapa waktu kedepan setiap harinya aku akan memposting dua chapter setiap harinya.


Chapter pertama tentang mengulas kembali kehidupan Rea semasa kecil dan Chapter kedua kita kembali ke kehidupan Rea yang sekarang.


Mohon doanya semoga semuanya di lancarkan 🙏 dan sekali lagi terimakasih untuk semua dukungannya. Semoga dimanapun kalian selalu sehat. Amin😇


Peluk hangat- Author♥️🤗

__ADS_1


__ADS_2