
Hari ini Kris kembali ke Flat kecilnya dengan senang. bagaimana tidak, kedua tangannya kini memegang dua kantong berisi makanan kesukaan putri kecilnya.
Dengan satu boneka beruang berukuran sedang yang di himpit di antara lengan tangan kirinya.
" Ibu datang pulang Rea " serunya sambil membuka pintu.
Senyumnya sedikit memudar saat melihat suaminya tertidur pulas di tempat tidur.
Rea kecil yang tadi tertidur, kini terbangun oleh suara langkah kaki ibunya, " apa ibu mengganggu tidurmu ? " tanya Kris yang segera menghampiri putrinya yang kini telah duduk sambil mengusap mata kantuk.
" Ibu paru pulang ? " tanya serak gadis itu.
" Hemmm.., maaf ibu mengganggu tidurmu " balas Kris sembari mengusap wajah halus putrinya.
" Ibu Rea lapar " ucap gadis kecil. Dan kali ini Kris menerima kalimat itu dengan senang, tidak seperti biasanya yang harus menarik nafas karena cemas memikirkan apa yang akan di berikan pada putrinya.
" Ibu membawakan makanan kesukaan Rea " ucap Kris tersenyum hangat, sambil membawa tubuh putri kecilnya ke sisi ruang kecil yang menjadi tempat tinggalnya.
Wajah coklat milik Rea kecil berbinar. Saat melihat semua makanan kesukaannya kini berada di hadapannya, " ibu boleh Rea makan itu ? " tunjuknya pada bungkus ice cream.
Sebenarnya Kris tidak suka jika putrinya makan, makanan manis di waktu sekarang ini. Tapi ia juga tidak tega untuk melarang. Terlebih jika kesempatan seperti sekarang ini, begitu langkah untuk di dapati putri kecilnya, " makan saja nak. Tapi ingat tidak boleh banyak " pintanya dan gadis kecil itu mengangguk.
" Bu makanannya begitu banyak. Rea menjadi bingung harus makan yang mana dulu " seru gadis kecil itu dengan begitu senang.
Mendengar itu tanpa sadar mata Kris berair. Ia senang, namun juga sedih bersamaan.
" Makan apa saja yang ada disana nak. Ibu akan membelikannya lagi jika itu sudah habis " ucapnya tersenyum hangat, sambil memasukan beberapa bahan makanan yang tadi ia beli ke dalam lemari pendinginnya yang kecil.
Tiba tiba Kris menjadi cemas, saat mendengar suara tempat tidurnya berbunyi.
Dan kemudian ia tersentak, saat melihat Rob telah berdiri mematung di dekat putrinya, " ceh menggelikan. Nampaknya hari ini kau berhasil menjual tubuhmu " ucap lelaki itu tanpa perasaan sambil menatap pada tumpukan makanan di hadapan putrinya.
Rob tiba tiba bergerak mengambil semua makanan di hadapan Rea kecil, " jangan makan, makanan ini Rea. Ibumu membeli ini dengan uang haram " ucapnya tampa ampun. Merampas makanan Rea dan melemparkannya ke kotak sampah.
__ADS_1
Rea kecil menangis dan berlari ke arah ibunya, " kau memang keterlaluan Rob " ucap Kris menahan tangis.
" Kau yang tidak tahu malu. Beraninya kau memberi anakmu makan dengan uang haram yang kau hasilkan. Menjijikan "
" Kau yang menjijikan " teriak Kris yang sudah kehabisan rasa sabar, " tidak ada yang lebih menjijikan dari laki laki yang hanya berdiam diri di rumah sementara istrinya bekerja di luar sana ".
" Kau yang paling menjijikan Rob " katanya kembali, dengan menekankan setiap katanya.
Lelaki itu meradang, di hampirinya tubuh Kris yang berada di sisi dapur.
Plak
Telapak tangan besar mendarat di wajah Kris. Membuat perempuan tak berdaya itu tersungkur.
" Perempuan tidak tahu malu " ucap Rob begitu marah. " Apa sekarang kau bangga menjadi seorang pelacur huh ".
" Aku bukan pelacur Robbi. Aku seorang istri yang masih menjaga martabatku " teriak Kris dengan sisa tenaga yang ada.
" Menjaga Martabat ? " ulang Rob tertawa.
" Kau lelaki yang tidak tahu malu Rob " teriak Kris dengan nafas yang menderu oleh emosi.
Telapak lebar milik Robbi kembali ingin mendarat di wajah Kris. Namun tangisan histeris dari Rea kecil membuatnya menghentikan kibasan tangannya.
" Jangan pukul ibu ayah. Jangan pukul ibu " teriaknya lirih, sambil merengkuh tubuh ibunya dengan tubuhnya yang kecil, " jangan sakiti ibu ayah " sambungnya dengan menangis.
Kris memeluk erat tubuh putrinya dan menangis sejadi jadinya disana, " Ibu baik baik saja nak. Ibu tidak apa apa " ucapnya. lalu mengibas air mata yang mengalir di pipi Rea kecil.
Rob mengerang tertahan dengan tangan yang mengepal, lalu meninggalkan ruangan itu.
Ntah apa yang di rasakannya saat ini. Mungkin saja ia tengah menyesal dengan perbuatannya, atau menjadi kesal karena tidak bisa kembali melampiaskan kemarahannya pada Kris.
Kris masih menangis dan tidak melepas pelukannya pada putri kecilnya, " jangan menangis nak. Ibu akan rapuh kalau melihatmu seperti ini " ucapnya di sela air matanya yang berderai.
__ADS_1
" Apa ini sakit ? " tanya Rea kecil, sambil menyentuh bagian wajah Kris yang sudah melebam oleh tamparan suaminya.
" Sstt " Kris meringis.
" Ibu, Ibu. ayo kita kerumah sakit ibu " ajak gadis kecil itu.
" Ibu terluka ibu " lanjutnya dengan kembali menangis.
" Ibu tidak apa apa nak. Ini tidak sakit, sungguh " kata Kris mencoba meyakinkan putrinya.
" Tapi ibu.. "
" Ibu sungguh tidak apa apa nak. Kemarilah peluk ibumu " pintanya dengan tangan yang merentang, tentu gadis kecil itu tidak akan menolak, lalu dengan cepat ia masuk ke dalam pelukan ibunya. Dan saat itu juga tangis Kris kembali pecah.
Ia menangis sampai tangisannya membuatnya sulit bernafas. Dengan putri kecilnya yang kini ikut menangis, " ibu, ibu kenapa. Apa luka ibu sakit ? " racau Rea kecil.
Kris menggelengkan kepala di tengah tangisannya, " luka ibu tidak sakit. Yang sakit justru hati ibu " ucapnya. Walau ia tahu putrinya tidak akan mengerti apa yang sedang ia katakan.
" Rea sabar ya. Kelak kita akan pergi dari sini dan kita akan hidup bahagia berdua. Apa Rea mau ikut ibu ? "
" Mmm.., Rea mau ikut ibu " balas putri kecilnya.
" Rea tidak mau lihat ibu terus menangis " sambungnya.
Kris menarik nafasnya dengan begitu dalam, lalu merebahkan kepala putrinya di dadanya, " Ibu janji kelak kita akan hidup bahagia berdua " ucapnya dengan kembali menghela nafas.
Rea kecil mengangguk. Meski ia sendiri tidak mengerti ke arah mana Ibunya berbicara. Tapi yang pasti ia ingin ikut kemana pun ibunya akan membawanya nanti, " Rea sayang ibu " ucapnya lemah.
" Ibu lebih sayang Rea " balas Kris dengan kembali memeluk erat putri kecilnya, " apa Rea masih lapar ? " tanyanya lalu Rea kecil mengangguk, " tapi makanan Rea disana ibu " tunjuknya pada kotak sampah yang berada di sudut ruangan.
Melihat itu Kris kembali ingin marah. Dadanya sesak melihat makanan yang ia beli untuk putri kecilnya kini telah berada di kotak sampah, " ibu akan membuat Spaghetti. Apa Rea suka Spaghetti ? "
" Suka ibu "
__ADS_1
" Kalau begitu tunggu disini " pintanya. lalu beranjak dari lantai tempatnya tadi tersungkur, lalu berjalan menuju dapur kecilnya.
" Tunggu sebentar ya nak " ucapnya tersenyum dan Rea kecil mengangguk.