
Semua kembali menghening dengan dua manusia yang kini terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Rea memejamkan matanya dengan rasa tidak sabar ingin segera pergi dari ruangan itu , namun tidak mungkin pula ia meninggalkan Maria yang masih mewakilkannya di meja meeting.
Drrrt drrtt
Tiba-tiba terdengar suara dering handphone dari saku celana Gema yang akhirnya memecahkan keheningan di ruangan itu , namun Rea tetap dengan diamnya tanpa tergubris dengan panggilan telepon yang belum kunjung di jawab oleh pemiliknya.
Gema terpaku menatap nama kontak di layar handphonenya saat ini , ya nama Bella tertulis disana dengan panggilan telepon di waktu yang sepertinya tidak tepat.
Ia masih terdiam dengan terus menatap pada layar benda pipih miliknya , berulang kali menghela nafas pun tidak membuat hatinya legah saat ini.
" Apa itu panggilan telepon dari kekasihmu ? " tanya Rea yang akhirnya ikut merasa terganggu oleh dering telepon yang belum berakhir , " hemmm "
" Kenapa tidak kau jawab ? "
" Aku hanya belum siap mendengar apa yang akan ia tanyakan , karena mungkin berita wartawan tadi sudah sampai padanya "
" Kalau begitu kau seorang pengecut " ucap Rea tanpa ragu ,
mata Gema membesar seketika mendengar sebuah kalimat yang terasa meremehkan dirinya , " pengecut " ulangnya dengan dahi yang sedikit berkerut
" Ya hanya orang pengecut yang tidak bisa bertanggung jawab oleh ulahnya sendiri "
" Kau lupa kau sendiri yang membuat berita itu Gema , seharusnya kau tahu statement itu akan sampai pada telinga kekasihmu " ucap Rea dengan sorot mata yang menatap tajam pada Gema , " Sekarang justru aku yang menjadi ragu apa kau benar-benar pantas menjadi suamiku , sekali pun itu hanya di sebuah pernikahan kontrak " tandasnya , lalu tanpa ragu meninggalkan lelaki di hadapannya.
Gema masih terhenyak oleh ucapan Rea dengan handphone yang berada di tangannya kembali berdering , " ini membuatku gila " teriaknya tertahan sambil menggenggam erat handphone di tangannya yang mungkin saja akan remuk jika benda itu hanya terbuat oleh kaca.
" Ya Bella " jawabnya dengan emosi , ia tidak lagi bisa mengontrol perasaannya yang menjadi kalut oleh ucapan Rea tadi.
Sementara tidak ada suara dari seberang telepon , " Bella ada apa kau meneleponku sekarang ? " tanya dengan sedikit merendahkan nada bicaranya.
" Bella "
" Apa kau sudah mendengar berita pagi ini hemmm "
" Ya Gema , aku sudah melihat berita bahwa kau begitu yakin akan menikah dengan Rea " kata Bella bersuara , sementara Gema kini telah terdiam.
" kau benar-benar tidak memikirkan perasaanku Gema "
" Kau begitu egois " teriak Bella yang kini terdengar telah menangis.
" Jika aku egois , aku tidak perlu berpamitan padamu dahulu untuk menikah dengan Rea , Bella " ucapnya pelan , namun terdengar begitu menusuk.
__ADS_1
" Gema kau benar-benar telah berubah , apa ini karena Rea huh "
" Jangan bawa-bawa Rea dalam masalah ini Bella , dia tidak tahu apa-apa dan tidak ada sangkutannya dengan semua masalah ini "
" Ceh , apa kau tidak salah bicara Gema , bagaimana dia tidak ada dalam masalah ini sementara kau akan menikah dengannya "
" Ya , tapi kau tahu dia hanya menjadi korban dari permasalahanku pada ayahku "
" Korban , lalu kenapa dia harus setuju untuk menikah denganmu "
" Dia hanya butuh anak dariku , hanya itu " jelas Gema tanpa ragu , " aku tidak lagi bisa berpikir Bella , semuanya membuatku gila "
" Kau menerima ini atau tidak tapi pernikahan ini akan tetap terjadi dan untuk kali ini aku tidak bisa melawan ayahku hanya karenamu " ucap Gema tegas dan itu membuat suara tangisan kembali terdengar dari seberang telepon.
" Kau jahat Gema , kau egois , kau tidak benar-benar mencintaiku "
" Ceh " decih Gema tersenyum dingin , " gampang sekali kau mengatakan itu setelah aku hampir saja di buang oleh keluargaku karena hanya tetap ingin bersamamu"
" Lalu apa sekarang ?, kau tidak melakukannya lagi bukan , itu berarti kau tidak lagi mencintaiku seperti dulu "
" Cintaku masih seperti dulu Bella , tapi saat ini aku sedikit lelah untuk terus menjadi anak durhaka karena hubungan ini "
" Apa itu berarti kau menyerah "
" Aku lelah Bella, lelah dengan semua ini "
" Maksudmu ? , kau sungguh ingin mengakhiri semuanya huh ? "
" Itu tergantung padamu , jika kau ingin tetap bertahan semua akan tetap baik-baik saja tapi jika kau tidak siap dengan semuanya maka berhentilah Bella , karena aku juga tidak bisa menghentikan rencana pernikahan ini "
" Kau benar-benar pecundang " teriak Bella sebelum akhirnya menutup panggilannya.
Gema menghela nafas begitu dalam, pikirannya terasa penuh oleh hal-hal yang membuatnya hampir gila.
Klek " pintu tiba-tiba kembali terbuka dan dengan cepat matanya melihat ke arah suara itu , " Kau masih disini ? , dimana Rea ? " tanya seseorang yang tidak lain adalah Frans.
" Emmm ..dia baru saja keluar ayah dan aku tidak tahu dia pergi kemana " sahutnya lemah dan sedikit kembali menarik nafas.
" Ayo , meetingnya sudah selesai " ajak Frans pada putranya dan tanpa menolak Gema mengikuti langkah lelaki paruh baya itu.
" Tuan dimana Nona Rea ? " tanya perempuan yang tiba-tiba menghampiri " aku sudah menghubunginya tapi Nona tidak menjawab teleponku " lanjutnya begitu panik.
Frans segera melihat pada putranya , " apa kau sungguh tidak tahu Rea kemana ? "
__ADS_1
" Tidak ayah , dia langsung pergi dan tidak mengatakan apapun padaku " jawab Gema yang ikut menjadi panik dan merasa bersalah bersamaan.
" Ayo kita turun , mungkin dia sedang menunggu di Lobby " ajak Frans yang langsung berjalan cepat menuju pintu lift di ikuti oleh Gema dan Maria yang terus terlihat panik.
~
Rea memilih menunggu di sofa besar yang di letakan di lantai Lobby , berulang kali ia menarik lalu kemudian menghela nafasnya untuk meredahkan emosi yang masih terasa bergumpal dalam dirinya , " benar-benar menyebalkan " ucapnya saat kembali teringat pada perdebatan bersama Gema.
" Ini benar-benar menguras pikiranku " sambungnya lagi , namun sesaat pandangannya terhenti oleh seseorang yang kini tengah berada tidak jauh darinya , bukan seseorang tapi tepatnya pada satu keluarga.
Kali ini ia benar-benar harus meneguk paksa ludahnya seiring tangan yang sudah bergetar , padangan matanya tiba-tiba terbalas oleh orang yang menjadi tujuan penglihatannya saat ini namun segera ia mengalihkan pandangannya dengan seolah ia tidak melihat jika seseorang itu juga berada di sana.
" Kau disini ? " ucap wanita paruh baya , namun Rea tetap diam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan yang ia tahu itu di layangkan untuknya.
" Nona Rea " panggil seseorang dari arah pintu lift dan segera ia melihat ke arah sana karena ia sangat tahu siapa yang memanggilnya saat ini , " maaf aku harus pergi " ucapnya sambil beranjak.
" Tunggu Rea " ucap wanita itu mencoba menghentikan langkahnya dan itu membuat sudut bibir Rea sedikit terangkat , " Maaf pekerjaanku sudah terlalu banyak jika aku harus menundanya hanya untuk kita bicara " sahutnya begitu dingin , " maaf aku harus pergi dan keluarga anda juga sedang menunggu " katanya lagi , sebelum kembali melangkah Maria sudah datang mendekat.
" Nona kami mencari anda dan ternyata anda disini " ucapnya tersenyum legah saat menemukan Rea disana , sesaat pandangan Rea ikut teralih pada salah satu laki-laki yang datang bersama Maria , namun dengan cepat ia mengalihkan tatapannya.
" Nak kau membuat kami khawatir " timpal Frans yang langsung mendekat dan mencium puncak kepala Rea.
Wanita paruh baya yang masih berada disana kini diam terpaku melihat adegan romantis antara lelaki paruh baya dan putrinya ,
" Nyonya Kris " gumam pelan Maria dengan mata yang sedikit membesar saat menyadari keberadaan wanita itu , lalu kemudian dengan cepat melihat pada Rea.
" Ayo kita pulang Maria " ajak Rea dan Maria segera mengangguk.
" Maaf paman aku harus pergi " pamitnya pada Frans sambil memeluk singkat tubuh lelaki paruh baya itu , " sampai bertemu nanti " ucapnya kemudian lalu benar-benar melangkah lebih dulu bersama Maria.
" Anda baik-baik saja Nona ? " tanya Maria khawatir dan hanya seutas senyum hambar dari bibir Rea untuk balasan pertanyaannya , " ayo kita pulang Nona " ajaknya cepat karena menyadari saat ini kondisi wanita itu sedang tidak baik-baik saja.
Namun tiba-tiba sebuah tangan datang menarik jari jemari tangan Rea , membuat pemiliknya begitu terkejut , " Gema lepaskan tanganku " ucapnya sambil mencoba menarik kembali tangannya.
" Maria bisa mengambil alih semua pekerjaan Rea hari ini ? "
" Tentu Tuan"
" Baiklah terimakasih , karena Rea harus pergi bersamaku "
" Tidak , aku tidak akan pergi bersamamu Gema " protes Rea dengan sedikit memberontak.
" Kau harus pergi karena hari ini aku ingin membicarakan tentang rencana pernikahan kita " jelas Gema tegas membuat Rea terdiam seketika dan dengan pasrah kini berjalan mengikuti langkah kaki lelaki itu.
__ADS_1
Sementara Frans kini tersenyum lebar dari tempatnya saat ini karena bagaimana tidak segala yang sudah ia rencana kini mulai terlihat berbuah manis.