
Rea kini telah berada di perjalanan menuju kantor tempatnya bekerja.
Selama di perjalanan ia menyadari jika mata asistennya, Maria. Terus mencuri pandang ke arahnya, " aku tahu kau terus melihat ke arahku. Maria " ucap Rea membuat perempuan itu terkekeh.
" Aku masih terkejut, dan tidak menyangka ini begitu cepat terjadi Nona " kata Maria, dan Rea hanya tersenyum kaku tanpa membalas sedikit pun perkataannya.
Dahinya mengerenyit dan menatap penuh lamat pada wajah Bossnya itu, yang kini tengah melihat keluar jendela.
Tidak lama Rea bergerak, membuka tas dan menarik sebuah amplop besar berwarna coklat di dalam tasnya, " aku percaya padamu. Jadi tolong rahasiakan ini "ucapnya sambil memberikan benda itu pada Maria.
Maria masih terdiam dengan menatap bingung pada amplop besar yang kini berada di tangannya, " simpan itu dengan baik dan rapi. Tidak ada yang mengetahui hal ini selain dirimu, Aku, dan juga Gema " jelas Rea, membuat Mata Maria sedikit membesar dengan perasaan yang mulai sedikit tidak enak, " Apa aku boleh membukanya Nona ? "
" Bacalah Maria. dan jangan bocorkan isinya pada siapa pun "
Perlahan tangan Maria mulai membuka amplop yang berada di tangannya dengan jantung yang berdetak sedikit tak karuan.
Dan benar apa yang dia takutkan sejak tadi ternyata menjadi kenyataan saat matanya telah menemukan kalimat yang bertuliskan, PERJANJIAN KONTRAK PERNIKAHAN.
" Nona.... " panggilnya pada Rea. Ia masih tidak yakin dengan apa yang baru saja ia baca.
" Sekarang kau tahu bukan, apa alasan pernikahan ini terjadi " ujar Rea tersenyum hambar.
Maria masih tidak bicara dan melanjutkan membaca isi yang ada di dalam kertas putih di tangannya kini, " Nona ini sangat gila.. " serunya dengan dahi yang mengerenyit.
" Bagaimana bisa anda melakukan ini Nona " ucapnya menatap ada Rea.
Rea kembali tersenyum. Namun, senyum yang tadi terlihat hambar kini sedikit berubah menjadi terlihat sedikit lebih sinis. Hanya ujung garis bibirnya yang tersungging, " kenapa tidak bisa Maria. Ini sama-sama menguntungkan untukku dan juga Gema " jelasnya.
" Kenapa harus di landasi sebuah kontrak Nona. Aku percaya pernikahan kalian aka.... "
" Maria... " potong Rea pelan.
" Kau tahu aku tidak lagi percaya ada hubungan yang benar-benar murni antara sepasang manusia, tanpa sesuatu hal yang menguntungkan.. "
" Aku tidak berbicara tentang cinta dan aku juga tidak percaya tentang hal itu " sambungnya lagi.
" Nona.... " seru Maria begitu lembut, " tapi sebuah rumah tangga harus di bangun oleh rasa cinta ".
" Oleh sebab itu aku membuatnya seperti ini. Karena kau juga tahu bukan. Sampai kapan pun tidak akan ada cinta disana".
" Aku sedang membuatnya menjadi lebih mudah Maria. Jika memang tidak lagi ada yang menguntungkan antara kami maka pernikahan ini harus berakhir. Aku tidak mau terjebak di dalam sebuah hubungan yang membosankan, tapi karena aku membutuhkan keturunan jadi aku harus melakukan ini "
Maria semakin terdiam dengan semua kalimat yang baru keluar dari mulut Rea.
Di masukannya kembali kertas yang berada di tangannya ke dalam amplop dan kembali menatap pada Rea, " padahal aku begitu berharap anda sangat bahagia dengan pernikahan anda nanti " ucapnya terdengar lirih.
" Kenapa tidak bahagia ? , aku tentu bahagia Maria, apa lagi jika pernikahan itu membuat aku memiliki keturunan tentu aku akan sangat bahagia. dan memang itu yang aku harapkan dari pernikahan itu" kata Rea dengan sedikit tertawa. Namun tawa itu tak bertahan begitu lama dari bibirnya dengan ia kembali termenung dan menatap keluar jendela mobil.
" Jadi apa yang harus aku mulai Nona ? " tanya Maria kembali.
Sebenarnya ada begitu banyak hal yang ia ingin katakan pada wanita di sampingnya. Tentang sebuah perasaan yang belum wanita itu sadari. Namun ia sudah bisa melihat itu di antara Rea dan Gema. Namun, satu hal yang ia yakini bahwa Rea tidak akan pernah mengakui hal itu. Bahkan mungkin takkan percaya dan itulah yang membuatnya dia dan urung untuk mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya.
" Hemm..,Maksudmu ? "
" Tentang persiapan pernikahan anda Nona. Dari mana aku akan memulai menyiapkan semuanya "
" Oh itu. Mungkin kau hanya perlu membantuku mencarikan model cincin pernikahan, menyiapkan undangan dan membantuku memilih siapa saja yang akan hadir di hari itu ".
" Bagaimana dengan dekor pernikahan, gaun dan sebagainya ? "
" Itu sudah di siapkan oleh keluarga Antonio Maria. Jadi tidak banyak yang akan kau kerjakan selain yang aku katakan tadi "
" Dan maaf kau harus lembur untuk beberapa hari ke depan dan mewakilkan aku di setiap pertemuan ".
" Jangan khawatirkan hal itu Nona " kata Maria begitu tenang.
__ADS_1
" Terimakasih " ucap Rea dengan senyum yang begitu tulus.
Maria mengangguk, " secepatnya aku akan mengirim semua contoh undangan dan cincin pernikahan kepada anda ".
" Hemmm.., pilih yang terbaik dari yang terbaik Maria. Meski ini hanya sebuah pernikahan kontrak tapi aku ingin semuanya di rancang dengan serius. Karena aku yakin ini satu-satunya pernikahan yang akan aku lakukan dalam seumur hidupku " kata Rea sedikit tersenyum. Namun senyumnya itu tidak mampu menutupi bahwa ada hal yang sangat menyedihkan dari ucapannya.
" Tentu Nona. Aku pasti akan melakukan yang terbaik untuk anda ".
" Hemm.., oleh sebab itu aku percaya padamu " ucap Rea dan kali ini ia benar-benar tertawa.
~
Rea baru saja menyelesaikan meetingnya siang ini, saat benda pipih di dalam tasnya berdering.
" Sepertinya ada yang menelpon anda Nona.. " ujar Maria dan Rea mengangguk dengan merogoh mencari benda yang masih berdering itu di dalam tasnya, " aku sudah yakin.. " katanya tersenyum dan segera menjawab panggilannya itu.
" Ada apa huh ? " tanyanya sedikit berteriak. Namun, dengan tertawa.
" Aku sudah menunggumu dari tadi apa yang harus aku kerjakan. Kau belum juga menghubungiku " cercah dari seberang telepon yang tidak lain adalah Devita.
" Aku baru saja menyelesaikan meeting Dev. dan memang tidak banyak yang harus di kerjakan. Selain baju pengantin dan cincin pernikahan semuanya sudah di siapkan oleh keluarga Gema ".
" Kau salah Rea. Justru hal yang paling membuat pusing dalam rencana pernikahan itu justru di saat memilih gaun dan cincin pernikahan "
" Benarkah ? , tapi aku rasa itu tidak akan begitu sulit untukku dan Gema " katanya begitu enteng dan kembali tertawa, " setelah aku menemukan Designer gaun pernikahanku, aku akan mengajakmu untuk menemuinya ".
" Baiklah. Aku tunggu kabarmu Rea "
" Thank you dev "
" Jangan ucapkan itu. Aku cukup geli mendengarnya " kata Devita dan Rea semakin terkekeh, " baiklah sampai bertemu nanti Dev " ucapnya lalu menutup panggilan telepon mereka dan memasukan kembali benda pipih yang berada di tangannya ke dalam tas.
" Nona.. " panggil Maria.
" Hemm.. "
Maria mengangguk, " Baik Nona "
" Lalu apalagi ? " tanyanya.
" Jika kau tak kerepotan, usahakan hari ini kau sudah menemukan model gaun pernikahanku " tambah Rea dan Maria kembali mengangguk, " akan aku usahakan sebisanya hari ini ".
" Terimakasih Maria. Maaf karena membuatmu kerepotan " ucapnya, lalu Maria hanya tersenyum dengan menggelengkan kepala, " tugasku disini memang untuk di repotkan oleh anda. Walau sekarang menjadi lebih repot" katanya tertawa dengan Rea yang ikut tertawa.
~
Rea menunda menikmati makan siangnya saat di dalam benda pipihnya telah menerima pesan email dari Maria yang mengirimkan berbagai contoh pasang cincin pernikahan.
Jari jemarinya terus bergerak men-scroll ke layar benda pipih di hadapannya dan menatap begitu fokus pada setiap contoh cincin. Sampai pilihannya jatuh pada satu cincin dengan hiasan berlian yang berbentuk balok kecil dengan ukiran, serta di kelilingi oleh permata di sekitarnya hingga permata itu melingkari bentuk cincin itu sendiri.
Bibirnya tersenyum menatap ke layar handphone dengan memperbesar tangkapan layar untuk melihat cincin pilihannya dengan begitu detail, " ini begitu manis " katanya dengan mata berbinar.
Lalu ia juga melihat pada pasangan cincin pilihannya yang nanti mungkin akan di gunakan oleh Gema, tentunya jika lelaki itu setuju.
" Untuk dia juga bagus " katanya dengan anggukkan, menatap pada cincin dengan ujung sisi yang di buat lebih berkilau dan itu terlihat sangat elegant untuk melingkar di jari Gema.
Tok tok tok
Tiba-tiba pintu ruangannya berbunyi oleh ketukan dan itu membuatnya tersentak dari fokusnya pada layar handphone, " masuklah " serunya. dan perlahan pintu itu terbuka.
" Ada apa Maria ? " tanyanya tanpa teralih dari pandangannya pada layar hape.
" Apa kau sedang sibuk ? " tanya seseorang dengan suara lebih dalam dan itu membuatnya begitu terkejut dan dengan cepat melihat pada siapa yang baru saja masuk ke dalam ruang kerjanya.
" Gema.. " panggilnya dengan mata yang membulat sempurna, " sedang apa kau kemari ? , emm.. bukan maksudku ada apa tiba-tiba kau datang kemari ? " katanya menjadi gelagapan.
__ADS_1
" Untuk melihat calon istriku, memangnya apalagi " kata lelaki itu dengan begitu santai serta tersenyum manis.
Lidah Rea seperti tercekat oleh ucapan Gema, hingga kini ia terdiam tanpa kembali mengucapkan kata apapun, " apa yang sedang kau lakukan ? " tanya Gema.
" Emmm... "
" Emm.., aku sedang melihat contoh cincin pernikahan kita nanti.. " balas Rea tanpa sadar, " emmm bukan. Maksudku, aku sedang.."
" Mana ? , aku juga ingin melihatnya " kata Gema yang langsung mengambil benda pipih milih Rea. dan sang pemilik tidak lagi bisa melakukan apapun selain merelakan benda itu berada di tangan lelaki di hadapannya.
" Itu hanya pilihan sementara. Kau juga bisa mengusulkan cincin mana yang kau sukai.. " ucapnya dengan sedikit gelisah. Ntah kenapa ia menjadi tidak percaya diri untuk pilihannya tadi.
" Aku setuju.. " kata Gema tiba-tiba.
" Huh ? "
" Ya, aku juga menyukai cincin yang kau pilih dan aku setuju untuk memilih itu " jelas Gema. Sementara Rea masih terpelongo.
" Hei kenapa ? " seru Gema padanya.
" Tidak.. " katanya sambil menggelengkan kepala.
" Kau yakin tidak punya pilihan sendiri ? "
" Hemm.. tidak, aku sudah menyukai pilihanmu dan aku tidak bisa memilih hal-hal yang seperti ini " kata Gema seraya bergerak duduk pada kursi di hadapan Rea.
" Baiklah jika kau setuju dengan pilihanku " sahut Rea dan ntah kenapa perasaan menjadi senang saat lelaki di hadapannya menyukai pilihnnya.
" Tapi Rea.. ? " kata Gema tiba-tiba.
" Aku ingin bertemu langsung dengan perancang cincin ini "
" Kenapa ? "
" Ada sesuatu yang aku inginkan pada cincin pernikahan kita, jadi aku harus bertemu dengannya " jelas Gema dan Rea mengangguk meski ada kebingungan di dalam dirinya.
" Kau belum mengatakan kenapa kau kemari Gem..? " tanya Rea setelah urusan tentang cincin pernikahan telah selesai, " bukankah aku sudah mengatakan ingin melihat calon istriku. Atau mungkin kau tak percaya Rea ? "
Rea menghela nafasnya, " Katakan dengan benar kenapa kau kemari Gem ? " ucapnya karena memang tidak percaya.
" Astaga kau benar-benar tidak percaya dengan calon suamimu. Aku sungguh ingin melihatmu dan mengajakmu makan siang " tambah Gema dengan begitu serius.
" Maaf Gema. tapi asistenku sudah menyiapkan makan siangku disana " kata Rea sambil menunjuk ke arah nampan yang di letakan di meja berkas tidak jauh darinya.
" Hemmm... " seru Gema cemberut, " padahal aku sengaja menahan lapar untuk makan siang dengan calon istriku " ujarnya dengan wajah memelas dan tentunya itu berhasil membuat Rea mengiba, " aku akan meminta asistenku untuk mengantar makan siang satu lagi untukmu" ucapnya sambil bergerak mendekati gagang telepon di ruangannya.
Gema telah bergerak mengambil makan siang Rea dan membawanya kemeja kerja perempuan itu, " aku rasa ini cukup untuk kita berdua " ucapnya dengan melihat pada beberapa hidangan makanan di atas nampan yang ia bawa.
Rea masih menunda untuk menghubungi Maria saat mendengar ucapan Gema. Namun kemudian ia tersadar lalu kembali menekan nomor telepon untuk kembali menghubungi Maria.
" Apa yang kau lakukan ? " tanya Gema.
" Menghubungi asistenku untuk meminta makan siang untukmu "
" Jangan lakukan. Makanan ini benar cukup untuk kita berdua. Lagian masih akan sedikit lama jika menunggu makananku datang dan aku sudah sangat lapar".
" Kalau begitu kau makan saja makananku, biar aku makan, makanan selanjutnya "
" Aku bilang ini cukup untuk kita berdua Rea. Kemarilah dan tutup teleponmu " pinta Gema yang tiba-tiba menjadi lebih tegas dan ntah kenapa Rea pun menurut dengan meletakan kembali gagang telepon ke tempatnya lalu kembali ke meja kerjanya.
" Aku akan melihat dengan detail lagi cincin pernikahan kita. Sementara kau nikmati makan siangmu sambil menyuapiku " ucap Gema dengan santai. berbeda dengan Rea yang kini telah terdiam dengan kebingungan serta jantung yang menjadi berdetak tak menentu.
" Sayang kenapa masih diam. Aku sudah sangat lapar " kata Gema merengek dan dengan keberanian akhirnya Rea mengambil sendok di hadapannya lalu menyendokkan ke makanan dan mengarahkan ke mulut Gema. dan ia harus menahan setengah mati supaya sendok di tangannya itu tidak terjatuh.
" Ammm... " seru Gema bersuara saat makanan dari sendok di tangan Rea masuk ke dalam mulutnya, " enak " pujinya tersenyum.
__ADS_1
" Sekarang kau lagi yang makan. setelah kau, aku lagi begitu terus sampai habis " kata Gema memerintah tanpa tahu perempuan di hadapannya kini telah kehilangan rasa lapar, bahkan ia tidak habis pikir jika saat ini ia harus makan dengan sendok yang sama dengan Gema.
" Ayo makan. atau kau juga mau aku menyuapimu " kata Gema menggoda dan Rea dengan cepat menggelengkan kepalanya.