KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Bagaimana jika Rea yang Bersedia ?


__ADS_3

Suara Detingan sendok saling beradu di tengah makan malam di dalam keluarga Antonio , tidak ada pembicaraan disana meski berulang kali Elba melirik bergantian pada suami dan putranya yang terlihat fokus menikmati hidangan makan malam yang sudah di sediakan.


"Apa tadi Rea mengatakan sesuatu padamu" tanya tiba-tiba Frans pada Gema , laki-laki itu menggeleng tanpa mengeluarkan kalimat apapun dari mulutnya.


"Setelah makan temui Ayah di ruang kerja" ucap Frans yang kemudian segera mengakhiri makan malamnya dan beranjak pergi dari meja makan.


"Nak apa yang sebenarnya terjadi dan ada apa dengan Rea ? " tanya Elba semakin penasaran , namun lagi dan lagi Gema tidak bersuara dan hanya mengangkat bahu bersama tarikan nafas yang cukup dalam , "aku sudah selesai mam" ujarnya sembari ikut beranjak dari kursi makan yang ia duduki.


" Mau kemana kau Gema ?"


" Bukankah tadi ayah memintaku untuk menemuinya di ruang kerja " jelasnya lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Elba masih terdiam dengan pikiran yang begitu bingung dengan apa yang sebenarnya kini terjadi antara anak dan suaminya itu , "aku harap semuanya baik-baik saja" gumamnya pelan lalu ikut beranjak dari meja makan.


~


Tok tok tok


"Masuklah" pinta pemilik ruangan.


Sebelum menekan knop pintu Gema menyempatkan untuk kembali menarik nafas dan perlahan masuk ke dalam ruangan , sesaat matanya tertuju pada beberapa berkas yang berada di atas meja tepat di hadapan ayahnya , " duduklah " pinta Frans tiba-tiba walau matanya tidak melihat kearah putranya yang masih berdiri di ujung pintu.


" Ada apa ayah ? " tanya Gema mendekat , walau raut wajahnya terlihat dingin namun sebenarnya ia cukup cemas dengan apa yang akan di katakan ayahnya.


Sesaat lelaki paruh baya itu menghentikan geraknya lalu menumpuhkan kedua tangannya di atas meja dengan jari-jari yang saling bertautan , matanya menatap sedikit lama pada putra satu-satunya yang kini berada di hadapannya , " apa sungguh Rea tidak mengatakan apapun padamu tadi sore ? " tanyanya lagi dan Gema kembali menggelengkan kepala.


" Dia bukan perempuan pengadu dan apa yang memang sudah ayah katakan padanya ? "


Frans sedikit tersenyum sebelum mulutnya menjawab pertanyaan putranya , " tentu masih tentang keinginanku untuk menikahkan kalian " ucapnya begitu santai dan sangat tenang , berbeda dengan Gema yang terlihat kembali murka , " tolong jangan gila ayah , kenapa kau begitu memaksakan hal mustahil " katanya begitu tegas bahkan terdengar sedikit berteriak , " aku sudah mengatakan jangan pikirkan aku tapi pikirkan Rea , dia berhak bahagia dengan pilihannya sendiri " tambahnya semakin emosi bahkan ia tidak lagi bisa untuk mengontrol emosinya di hadapan laki-laki yang begitu ia hormati selama ini.


Melihat putranya seperti itu justru membuat Frans semakin tersenyum , " ternyata kau lebih memikirkan Rea dari pada kekasihmu sendiri " ucapnya pelan dan berhasil membuat Gema terdiam.


" Tanda tangani ini " sambung Frans yang kemudian memberikan selembar kertas putih di hadapan putranya , " apalagi ini ayah ? ".


" Bacalah dengan teliti "


" Apa maksudmu ayah ? " ujar Gema yang kali ini benar-benar terlihat emosi dengan wajah yang sudah memerah , matanya membesar menatap tulisan yang berada dalam secarik kertas putih di tangannya , "apa kau membuangku" .


"Tentu tidak , itu hanya sebuah pilihan untukmu" balas Frans yang masih terlihat begitu santai.


" Kau tidak bisa serakah untuk menikmati semua kemauanmu , cinta dan harta tidak berjalan beriringan anakku" tambahnya lagi , Gema kembali menghela nafas dan kali ini ia menghembuskannya dengan begitu kasar , " bagaimana bisa kau menjebak anakmu sendiri dengan seperti ini !" tunjuk Gema pada kertas putih yang berisikan tulisan dengan sebuah perjanjian untuk menyetujui harta warisannya akan di serahkan kepada negara jika ia tidak menikah dengan wanita bernama lengkap Andrea.

__ADS_1


" Aku bilang sekali lagi ini pilihan , sekali pun tidak ada perjanjian ini tentu kau juga tidak akan mendapatkan kedua-duanya , memilih kekasihmu berarti kau meninggalkan kami bahkan segala yang kau punya dan begitu pun sebaliknya " jelas Frans dengan begitu tegas.


" Bagaimana jika aku tetap tidak ingin menikahi Rea , namun meninggalkan kekasihku ".


" Aku tidak yakin dalam hal itu ".


" Aku sungguh akan melakukannya ayah , itu lebih baik dari pada ayah tetap memaksakan kami untuk tetap menikah " balas Gema dengan suara yang mulai serak karena emosi , dan sesaat suasana menghening sampai tiba Frans kembali berbicara , " sebenarnya aku melakukan ini juga demi Rea " ucapnya dengan begitu serius serta helaan nafas yang begitu pelan.


Gema masih diam dan belum paham dengan arah pembicaraan ayahnya kini tapi yang pasti pikirannya tetap fokus pada nama wanita yang baru saja di sebut , "kau pasti melihat dia begitu kesepian dan tidak memiliki siapapun di sisinya" lanjut Frans dan kali ini Gema sedikit paham dengan maksud ayahnya.


" Aku hanya ingin dia berada di keluarga yang tepat dan mengerti dengan dirinya ".


" Dia tidak ingin menikah dan itu pilihannya ayah , kau tidak berhak memaksanya" balas Gema dengan sorot mata yang sedikit tajam menatap pada ayahnya ,


Lelaki paruh baya itu kemudian tersenyum ," bagaimana jika akhirnya dia ingin menikah dan itu bukan paksaan dariku ? " ucapnya dengan sebuah pertanyaan yang berhasil mengunci lidah putranya untuk tak berkutik , "tidak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar bisa hidup sendiri nak , jika hari ini ia masih berkata seperti itu karena ia tidak tahu seperti apa hari tua tanpa harapan dan tidak ada seseorang pun yang benar-benar bisa di harapkan " tambah Frans bersama wajah yang kini menunduk dan memperlihatkan sedikit kekecewaan,


Hati Gema teriris oleh kalimat itu , di tatapnya lebih dalam wajah ayahnya yang telah di tumbuhi garis-garis keriput kecil yang menyiratkan begitu dalam kekecewaan dan ia menyadari ialah penyebabnya.


" Oke jika memang pada akhirnya kami menikah , lalu bukankah pondasi dalam rumah tangga adalah sebuah cinta , dan kau tahu ayah tidak ada cinta di antara kami jadi akan seperti apa rumah tangga itu kelak "


" Ini tidak benar ayah " tambahnya begitu pustrasi.


" Sekali lagi aku bertanya padamu bagaimana jika Rea yang akhirnya bersedia menikah , hemmm ? "


Ia mendekat pada putranya yang masih terdiam , " Adanya cinta juga tidak akan menjamin sebuah pondasi rumah tangga akan kokoh dan rasa cinta itu hanya soal waktu nak " ucapnya kembali sambil menepuk pelan pundak anaknya dan kemudian berjalan keluar dari dalam ruangan meninggalkan Gema yang masih diam membisu oleh pikiran-pikiran yang mulai berkecamuk dan hati yang mulai merasa tidak nyaman dengan kenyataan yang belum ia sadari.


~


" Selamat pagi Rose " sapa Rea dengan pakaian yang sudah begitu rapai sambil berjalan menuju kursi makan yang baru saja di bukakan oleh pelayan.


" Pagi nona , anda begitu bersemangat pagi ini "


" Bukankah aku memang seperti ini " balasnya tertawa membuat semua pelayan saling bertatapan penuh arti , mereka tentu tidak lupa bagaimana keadaan nona mudanya itu beberapa hari belakangan ini , " tapi hari ini anda nampak lebih baik dan sangat cantik " lanjut Rose dan Rea hanya mengangkat kedua bahunya dengan tersipu dan tangan yang siap menyantap hidangan di hadapannya.


" Selamat pagi Nona " sapa seseorang tiba-tiba , Rea mengangguk dengan terus menikmati sarapannya tanpa terusik oleh kehadiran wanita yang kini telah berdiri di di sampingnya , " duduklah Maria " pintanya.


" Rose sediakan sarapan untuknya "


" emm.. terimakasih Nona , tapi saya sudah sarapan dan sudah kenyang dengan melihat anda pagi ini " balas Maria dengan senyum yang tertahan.


Mata Rea melirik sedikit tajam padanya , " sepertinya kau nampak senang setelah meninggalkan aku kemaren Maria " cercahnya penuh kekesalan , namun tidak tersirat sebuah kemarahan disana dan Maria tahu itu bukan sebuah masalah besar untuknya saat ini.

__ADS_1


" Maaf tapi aku melakukan hal yang tepat nona " ucapnya begitu santai bahkan ia tidak lagi bisa untuk menyembunyikan senyumnya.


" Kau " geram Rea dengan kedua mata membesar.


" Anda sudah begitu cantik pagi ini nona jadi jangan di kacaukan dengan anda marah-marah padaku "


" Ceh " Rea berdecih dengan bibir yang melengkung dengan sempurna.


" Anda semakin cantik dengan tersenyum seperti itu "


" Berhenti menggodaku Maria dan apa tujuanmu datang ke rumahku sepagi ini huh ? "


" Untung anda menginggatkan aku " balas Maria tersadar lalu kemudian segera membuka ipad yang berada di tangannya untuk melihat apa saja agenda hari ini.


" Mrs.Rose " panggilnya pelan dan wanita paruh baya itu mendekat.


" Siapkan pakaian dan perlengkapan Nona selama tiga hari .."


" Mau kemana kita Maria ? " potong Rea bingung dengan dahi yang sedikit berkerut , " jangan potong dulu nona atau aku akan lupa " tukas perempuan itu , membuat Rea terdiam dengan begitu kesal.


" Lalu siang nanti akan ada orang yang datang untuk mengantar pakaian pesta nona , jadi tolong anda rapikan di tempat yang sama dengan semua perlengkapannya dan satu lagi siapkan dua pelayan yang akan ikut dengan kami nanti " tambah Maria pada Rose , sedangkan Rea sudah menghentikan makan paginya dan menatap pada dua orang di hadapannya dengan tangan yang saling menyilang di dada.


" Sekarang katakan mau kemana kita Maria , aku sangat tahu tidak ada perkerjaan di luar kota untuk minggu ini "


" Kita akan menghadiri pernikahan klien penting kita dan aku sudah mengatakan pada anda dari dua minggu yang lalu Nona " jelas Maria , setelah mendengar itu Rea hanya diam dengan helaan nafas , " itu pasti akan sangat membosankan " gumamnya dan lagi-lagi kembali menghela nafas karena baginya itu bukan sebuah acara yang menarik.


~


Di istana keluarga Antonio pun sarapan sedang berlangsung , dan seperti tadi malam tidak ada obrolan disana.


" Kau sudah selesai ? " tanya Elba pada putranya yang terlihat siap beranjak dari kursi makan dan membuat mata Frans ikut melihat , " aku harus segera berangkat karena ada meeting pagi ini " jelas Gema pada ibunya dan menatap sekilas pada ayahnya.


" Sampai jam berapa ? " tanya Frans , membuat Gema terdiam sesaat karena bingung dengan pertanyaan ayahnya ,karena sejak kapan lelaki paruh baya itu peduli dengan jadwal pekerjaannya , " mungkin nanti sore " jawabnya ngasal.


" Aku akan meminta karyawan lain untuk menggantikan pekerjaanmu hari ini , emm dan mungkin untuk beberapa hari kedepan "


Mata Gema menyipit dengan dahi yang berkerut karena semakin bingung " untuk apa ayah ? itu tidak perlu ".


Frans menarik nafasnya sebelum kembali menyampaikan maksudnya , " Mam siapkan pakaian dan perlengkapan untuk putramu , dia akan mewakilkan kita untuk menghadirkan acara undangan pernikahan anak salah satu klien perusahaan " pintanya pada Elba dan wanita itu mengangguk.


" Ayah kenapa begitu mendadak dan aku tidak suka dengan acara seperti itu "

__ADS_1


" Aku harus menghadiri pertemuan penting di waktu yang sama dan hanya kau satu-satunya putraku jadi mau tidak mau hanya kau yang bisa mewakilkan keluargamu disana " cercah Frans begitu serius dan berhasil membuat Gema untuk tidak bisa menolak , " baiklah " jawab laki-laki itu dengan helaan nafas yang di penuhi dengan keterpaksaan.


__ADS_2