KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Makan Malam Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Rea menghela nafas begitu dalam setelah sesi foto prewedding baru saja berakhir. Namun, seiring itu debaran pada jantungnya belum juga berhenti.


" Ada apa denganmu huh ? " gumamnya seraya memegang dada kirinya.


Di ujung ruangan ia melihat wajah yang sedang tersenyum penuh arti ke arahnya sambil mengacungkan jari jempol, " ceh, awas saja kau Maria " geramnya.


Perempuan itu mendekat padanya, " aku yakin hasilnya pasti sempurna " ucapnya tanpa rasa bersalah.


Rea berdelik, " semakin hari kau semakin senang menggodaku Maria " serunya.


Perempuan itu terkekeh, " ayo kita ganti baju " ajaknya pada Rea dengan bibir yang terlipat menahan senyum.


Rea sudah kembali dengan pakaian casual. kemeja putih serta celana jeans berwarna biru kini bergantian terpasang pada tubuhnya.


" Haaah melegahkan " serunya dengan helaan nafas.


" Tadi anda terlihat begitu gugup Nona " ucap Maria.


Rea kembali berdelik. " Bagaimana aku tidak gugup. Ini pertama kalinya aku foto seperti ini " sahutnya kesal.


" Benarkah. Apa bukan karena tuan Gema " balas Maria.


" Maria.. " teriak Rea dengan mata yang membesar, " aku benar benar akan memotong gajimu " sambungnya.


" Ampun Nona " ucap Maria dengan tertawa.


Rea baru saja keluar dari kamar ganti, sambil menunggu Maria yang masih berada di dalam. Matanya mencari seseorang yang kini terlihat sudah tidak ada lagi disana, " apa dia sudah pulang " gumamnya dengan dahi yang sedikit berkerut. Bahkan ada helaan nafas kecil disana yang menandakan ada kekecewaan disana.


" Ayo Nona " ajak Maria yang baru saja keluar.


" Tuan Gema dimana ?. Apa sudah pulang " sambungnya saat dirinya juga tidak lagi melihat lelaki itu disana.


Rea mengangkat kedua bahunya tanpa bicara, " nona apa tuan sudah pergi ? " ulangnya.


" Ntah Maria. Memangnya siapa aku yang harus tahu dia kemana " sahut wanita itu. Alisnya saling bertaut menandakan dirinya kesal. Namun, tentunya ia tidak akan menyadari itu. Apa lagi mengakuinya.


" Anda calon istrinya Nona. Apa anda lupa ? "


" Apa kau juga lupa aku ini calon istri yang seperti apa huh ? " sahutnya ketus.


" Apa nona marah karena tuan tidak pamit " sergah Maria.


" Jangan mengada-ada Maria " sahutnya begitu kesal. Lalu keluar dari dalam ruangan dengan kaki yang di hentakkan lebih keras ke lantai.


" Ceh. jelas jelas dia kesal " gumam Maria.


" Sudah selesai ? " ucap tiba tiba yang membuat Rea terkejut.


Gema ternyata masih berada disana dan memilih menunggu di luar studio.

__ADS_1


" Aku kira kau sudah pulang " ucap Rea datar.


" Mana mungkin aku tidak pamit padamu jika aku sudah pulang " sahut lelaki itu.


" Loh tuan Gema masih disini ? " seru Maria, sambil sedikit melirik pada wajah Rea.


" Tuh apa aku bilang Nona. Tuan tidak mungkin sudah pulang " sambungnya.


" Diam Maria " bentak Rea.


" Aku harus pulang. Sampai bertemu besok Gema " pamit Rea sambil bergerak untuk pergi. Namun, geraknya terhenti saat tangan Gema menjangkau tangannya.


" Aku belum ingin pulang " ucap lelaki itu.


Rea terkesiap dan tidak mengerti apa maksudnya, " Maria pulanglah. Nona mudamu akan pulang bersamaku " ucap Gema pada asisten Rea. Dan tentu dengan bersemangat perempuan itu mengangguk, " Baik tuan ".


Melihat itu mata Rea membesar, " atasan kamu itu, aku Maria. Kenapa kau jadi menurut padanya. Aku belum mengatakan aku akan ikut dengannya " cercahnya.


" Tapi kau pasti akan ikut denganku " timpal Gema tersenyum dan Maria ikut mengangguk, " aku menurut karena tuan Gema calon suami boss ku itu berarti, sebentar lagi akan menjadi atasanku juga " jelasnya.


" Aku akan menambahkan gajimu Maria " seru Gema dengan senang. Berbeda dengan Rea yang semakin kesal pada asistennya.


~


Suasana di dalam mobil menghening. Rea terus menatap keluar jendela, tanpa pernah berani melihat ke sisi kirinya.


" Apa kau marah ? " tanya Gema bersuara.


" Benarkah ?, lalu kenapa diam ?"


" Aku tidak punya topik untuk bicara Gema "


" Kita bisa membicarakan tentang pernikahan kita besok, seperti apa nanti atau bagaimana kita akan berciuman... "


Deg


Mata Rea membesar, lalu sekilas melihat ke arah lelaki itu.


dan membuatnya teringat pada perkataan Devita tadi pagi, " kenapa semua orang jadi ingin membicarakan ini " batinnya kesal.


Ia mengabaikan semua ucapan Gema. Ia tak punya nyali untuk membicarakan perihal ciuman di hari pernikahan bersama laki laki yang akan melakukan itu padanya nanti, " mau kemana kita Gema " tanyanya mengalihkan.


Lelaki itu terdiam sejenak, lalu tersenyum penuh arti, " aku ingin mengajakmu makan malam " ucapnya dengan melihat pada wajah Rea.


Mendengar itu Rea terkesiap, " makan malam " ulangnya tak pecaya.


Gema mengangguk, " ini akan jadi makan malam pertama dan terakhir sebelum kita menikah " ucapnya.


Rea kini terdiam tanpa bisa berkata apapun. Dan bukan berarti ia tidak menerima ajakan itu, hanya saja saat itu dirinya kembali gugup.

__ADS_1


Gema dan Rea sudah tiba di sebuah restoran mewah di tengah kota London.


Seorang pelayan langsung menyambut kedatangan mereka dan membawanya ke salah satu meja, tepat di bawa lampu kristal yang tergantung.


" Sepertinya kita salah tempat Gema. Pakaianku terlalu santai untuk berada disini " ucap Rea. Namun Gema seperti tak peduli dengan ucapannya, " memakai apa saja kau tetap cantik " balas lelaki itu tanpa melihat ke arahnya.


" Hidangan akan segera datang Tuan " ucap pelayan restoran.


Mata Rea sedikit membesar. Ia tidak pernah mendengar Gema menyebut menu hidangan yang ingin dia pesan. Tapi pelayan itu seperti sudah mendapatkan pesanan dari meja mereka, " aku sudah memesan hidangan terbaik dari restoran ini dan kau harus mencobanya " ucap Gema yang seolah mengerti dengan tatapannya.


" Aku sudah reservasi tempat ini saat kita masih di studio foto tadi " sambungnya, tanpa menunggu pertanyaan yang berada di pikiran Rea terucap.


Rea hanya mengangguk lemah dengan sedikit tersenyum.


Dan beberapa saat hidangan pun datang. Pelayan menyajikan steak sebagai menu utama untuk mereka, lalu meletakan satu persatu hidangan kehadapan Rea dan Gema.


" Selamat menikmati hidangan anda Tuan. Nona " ucap pelayan bertubuh tinggi, lalu kembali meninggalkan sepasang manusia itu.


Rea tersentak saat tangan Gema tiba tiba menjangkau piring di hadapannya dan menukarnya dengan hidangan miliknya sendiri, dengan daging steak yang sudah terpotong dengan begitu rapi, " cepat makan. Kau harus coba seberapa lembut daging steak ini " ucap Gema tersenyum sambil memotong daging dari hidangan Rea yang tadi ia tukar.


Rea menarik nafas kecil. Dan dengan tangan yang sedikit bergetar ia mengarahkan garpu ke mulutnya.


" Enak ? " tanya Gema. Dan ia mengangguk perlahan, " enak " balasnya singkat.


" Baguslah kalau kau juga suka. Setelah menikah nanti, aku ingin kita sesekali makan malam berdua di tempat ini " ucap Gema yang berhasil membuat Rea tersedak.


Dengan tangkas Gema menyodorkan minuman ke arahnya, " kunyah dengan perlahan sayang. Daging ini tak cukup lembut jika kau langsung menelannya " katanya dengan tertawa.


Rea bergeming bercampur malu. Bahkan saat ini mungkin wajahnya sudah memerah.


Handphone yang di letakkan oleh pemiliknya di atas meja berdering.


Rea memperlambat gerak makannya saat melihat Gema tidak bergeming pada handphonenya yang berdering.


" Jawab Gema mungkin itu penting "ucap Rea dan Gema masih tetap diam, sampai benda itu kembali berdering untuk ke dua kalinya, " apa itu Bella ? " tanya Rea, yang akhirnya membuat Gema meletakkan garpu dan pisau di tangannya.


Lelaki itu mengangguk pelan.


" Kenapa kau mengabaikannya ?. Jawab teleponnya Gema, jangan membuat cemas " cercah Rea.


Gema menghela nafas kecil, " tunggu sebentar " ucapnya pada Rea sambil membawa benda pipih yang masih berdering.


Tanpa di sadari dirinya menghela nafas panjang seraya menatap pada tubuh Gema yang semakin menjauh.


Dan tiba tiba saja ia tidak lagi bergairah untuk menikmati makanan yang tadi begitu enak di lidahnya.


Berulang kali ia menghela nafas, untuk mengurangi dada yang terasa sedikit sesak.


Kembali ia masukan potongan daging ke dalam mulutnya. Ntah apa yang terjadi, daging itu sudah terasa hambar di lidahnya, " ada apa dengan daging ini " gerutunya kesal dan ia tak lagi nyaman dengan duduknya sebelum seseorang yang tadi duduk di hadapannya kembali.

__ADS_1


" Kenapa tiba tiba begitu sesak ya " ucapnya, sambil melihat ke arah Gema pergi. Dan nyatanya bayang laki laki itu juga belum kembali sampai saat ini.


__ADS_2