
Rea kembali mencari kontak Maria dia dalam handphonenya. Lalu dengan cepat menghubungi perempuan itu.
" Ya Nona.. " jawab dari telepon yang baru tersambung.
" Maria. Jemput aku lebih dulu "
" Apa tuan Gema tidak akan ikut Nona ?"
" Dia sedang ada pertemuan yang tidak bisa di tunda. Jadi aku akan pergi denganmu "
" Jadi Tuan Gema tidak akan ikut ? "
" Kenapa kau terus menanyakan dia ? " tanya balik Rea dan meninggikan nada bicaranya.
" Kenapa anda jadi marah Nona ? " balas Maria kembali. Dan menahan tawanya dari balik telepon.
" Siapa yang marah padamu "
" Maksudku juga bukan marah padaku. Mungkin pada Tuan Gema yang tidak bisa ikut. Lalu anda melampiaskannya padaku " sahut Maria yang sudah terkekeh.
" Kau benar mengada-ada Maria. Siapa yang bilang dia tidak ikut huh ? "
" Oh jadi Tuan ikut. Berarti yang membuat anda sedikit marah itu karena aku terus menanyakan Tuan. Apa anda sedang cemburu padaku Nona.. ? "
" Kau benar-benar sudah gila Maria " umpat Rea menjadi kesal. Sementara Maria semakin tidak bisa menahan tawanya dari balik telepon, " Cemburu juga tidak apa-apa Nona. Anda berhak Kok ".
" Maria jangan membuatku kesal " bentak Rea marah. Namun, terdengar semakin lucu di telinganya.
" Calon pengantin tidak boleh marah-marah " katanya terus menggoda Rea.
" Baiklah sampai bertemu satu jam lagi Nona " ucapnya kembali serius. Lalu Rea segera menutup panggilan teleponnya, " Semakin hari dia semakin berani padaku " gumamnya begitu kesal pada asistennya.
Ia terdiam sejenak, memikirkan apa yang baru saja di katakan Maria padanya, " cemburu ?, Apa dia sedang bercanda huh. Mana mungkin kau cemburu " katanya menggerutu.
~
Rea dan Maria baru saja tiba di Four Seasons London.
Baru saja mereka menginjakkan kaki di lantai Lobby gedung megah itu, tiba-tiba seorang perempuan dengan blazer berwarna hitam datang mendekat, " Apa ini dengan Nona Andrea ? " tanya perempuan itu dengan sopan.
Rea mengangguk dan menatap sedikit bingung. Lalu perempuan itu kemudian tersenyum, " kemari Nona " ajaknya masuk ke dalam lift. Lalu Rea dan Maria mengikutinya.
Pintu lift terbuka di sebuah lantai restoran mewah yang berada di Four Seasons.
Rea dan Maria terus berjalan mengikuti langkah perempuan yang terus mengarahkan kemana mereka harus pergi.
" Tunggu sebentar disini Nona. Nyonya muda kami sebentar lagi akan turun " ucap perempuan itu, setelah mereka berada di sebuah meja di dalam ruang Vip restoran.
Beberapa menit kemudian mata Rea terkesiap menatap perempuan yang tengah berjalan ke arah mereka dengan tersenyum begitu hangat. Serta gaya busananya yang begitu anggun, yang memperlihatkan kalau dia adalah wanita terhormat.
Perempuan yang tadi bersama Rea dan Maria tiba-tiba bergerak membukakan salah satu kursi, " silahkan duduk Nyonya " ucapnya begitu hormat dengan tubuh yang menunduk.
" Selamat pagi " Sapa ceria dari wanita yang baru saja tiba.
Rea dan Maria yang terdiam di kursinya masing-masing dan menjadi tersentak karena sapaannya.
__ADS_1
" Selamat pa... " ucap Rea yang terpotong karena perempuan itu tiba-tiba mengulurkan tangan ke hadapannya , " Merlinda " katanya menyebutkan namanya. Dengan senyum yang tidak berakhir dari bibirnya.
" Andrea " balas Rea yang ikut tersenyum. Lalu kemudian jabatan tangan itu berlanjut pada Maria.
Rea masih terpaku menatap wanita di hadapannya. Penampilannya begitu anggun dan terhormat, yang memperlihatkan dengan jelas bahwa dia wanita dengan kasta yang tinggi.
Tapi sikapnya di luar prediksi. Dimana wanita seperti dia biasanya akan irit bicara dan sedikit senyum. tidak sepertinya saat ini, yang terus tersenyum. Bahkan menyapa lebih dulu.
" Anda Calon pengantinnya ? " tanya Merlinda menunjuk padanya.
Rea terhenyak sesaat, lalu kemudian mengangguk.
" Ceh. Tebakan aku benar " ucap wanita itu begitu senang.
" Apa karena jodohku terlihat masih jauh Nyonya, emm.. maaf Mrs. Remkez " sambung Maria tiba-tiba dan berhasil membuat wanita itu tertawa.
" Aku hanya menebak. Bukan meramal " katanya dengan masih tertawa.
" Dan emmm.., cukup panggil aku Elin " sambungnya.
" Itu terdengar tidak sangat sopan Nyonya " balas Maria.
Bibir Elin mengerucut, " Tapi aku merasa jauh lebih baik saat orang-orang hanya memanggil namaku. Aku kurang suka ketika orang-orang terdengar begitu menghormatiku " katanya lagi.
Rea dan Maria saling bertatapan sesaat, " berarti rumor yang menyebut ada wanita dermawan itu benar " ujar Maria dengan mengangguk kecil. begitu pun Rea.
" Ntahlah. Tapi aku tidak merasa sedermawan itu " sahutnya tertawa.
" Jadi apa yang ingin kita tambahkan dalam model cincin pernikahan anda ? " ucapnya kembali serius pada topik penting dalam pertemuan mereka, " emm.. maaf Mrs. emmm maksudku maaf Elin. Bisa kita menunda sebentar pembahasan ini sampai calon suamiku datang ? ".
" Emm.. tunggu sebentar. Aku akan menelpon nya dulu untuk memastikan kapan dia akan tiba disini " balas Rea yang menjadi gugup. Karena Elin yang menjadi tegas.
Tiba tiba perempuan itu terkekeh " cukup kirim pesan saja padanya. Aku bukan sedang mendesakmu Rea " serunya dengan begitu santai.
Rea lagi lagi terhenyak oleh tingkah wanita itu, " maaf karena membuat anda menunggu Nyonya Elin "
" Eliiinn. Cukup panggil aku dengan seperti itu dan tanpa embel embel apapun " protes Elin tegas dan Rea mengangguk mengerti, " Baik. Elin " balasnya begitu canggung.
" Eliin.. " panggil Rea pelan.
" Ya Andrea ? "
" emmm, anda bisa memanggilku Rea saja ".
" Ya Rea " balas Elin terkekeh.
" Sebenarnya disini aku juga ingin meminta rancangan anda untuk gaun pernikahanku. Tapi sisa waktunya begitu singkat. Jadi aku yakin anda tidak akan mungkin menerimanya lagi" ungkap Rea. Dan kini Elin menatap serius," berapa hari lagi sisanya dari hari ini ? " tanya nya.
" Lima hari lagi. Waktu yang begitu singkat bukan ? " ujar Rea tertawa hambar.
Elin terlihat berpikir sesaat, Lalu kemudian menatap pada Rea dengan lamat, " Lenny tolong ambilkan kertas dan pena untukku " ucapnya tiba tiba pada perempuan yang tadi membawa Rea dan Maria ke dalam ruangan. Perempuan itu mengangguk dan kemudian pergi.
" Rea tolong berdiri di hadapanku " pinta Elin dengan wajah yang begitu serius dan tegas. Ia benar benar terlihat berbeda dengan pada saat tadi datang.
Perempuan yang tadi di perintahkan mengambil kertas dan pena kini telah kembali. Dengan Rea yang telah berdiri kaku di hadapan Elin.
__ADS_1
Wanita itu bergerak mengukur bagian tubuh Rea yang di anggap penting untuk membuat sebuah gaun pernikahan.
Ia memulai dari pinggang. Dada. Lengan. Lalu panjang ukuran tubuh Rea. Dan hitungan nya selalu ia tulis di kertas yang tadi berikan oleh Lenny.
Maria terpaku dan menatap bingung pada Elin yang mengukur tubuh Rea tanpa alat pengukur tubuh. Dia hanya menghitung dengan ruas jarinya lalu kemudian di tulis di atas kertas dengan sebuah kode yang tentu tidak akan di mengerti olehnya.
Maria benar-benar di buat kagum oleh wanita yang baru di temui nya ini.
" Bagaimana model gaun yang kau inginkan Rea ? " tanyanya setelah selesai mengukur setiap ruas tubuh wanita itu.
Rea berdecak, " Jadi anda mau merancang gaun pernikahan ku ? " tanyanya tidak percaya dan Elin hanya mengangguk singkat lalu kembali menatap serius pada tubuhnya, " bagaimana jika gaun dengan model mermaid ?. Tubuhmu terlihat sangat cocok dengan gaun seperti itu Rea. Lalu aku akan menambahkan Veil yang menjuntai panjang hingga melewati tubuhmu "
" Aku setuju " jawab Rea cepat. Karena memang itu yang ia inginkan untuk gaun pernikahannya nanti. Meski tak pernah terucap di bibirnya.
" Kau setuju dengan ide ku Rea ? "
" Tentu Elin. Memang model seperti itu yang aku inginkan " sahut Rea dengan wajah yang berbinar.
" Anda benar-benar seorang perancang Elin " lanjutnya dengan memuji.
" Maksudmu ? "
" Ya tanpa mengatakan. Anda sudah bisa menebak seperti apa keinginan customer-mu "
" Itu hanya karena sebuah insting Rea. Dan memang seperti itu kerjanya ku. Bermain dengan insting. Lalu kemudian aku utarakan dan rata-rata mereka setuju " jelas Elin.
" Aku sangat percaya hal itu " balas Rea. Lalu Elin berdecih, " beri waktu aku empat hari untuk menyelesaikan gaunmu " ucapnya tiba-tiba.
" Apa anda yakin waktu singkat itu cukup untuk menyelesaikannya ".
" Jangan ragukan aku Rea. Kau cukup dengan membayar mahal untuk hasil karya ku nanti ".
" Tentu. Aku merasa sangat terhormat bisa menggunakan gaun pengantin dari rancangan tangan anda " balas Rea bersungguh-sungguh. sementara Elin sudah kembali tertawa, " kau selalu mengangap serius dengan candaanku Rea ".
" Tapi aku serius Elin. Aku sangat senang saat tahu anda menyanggupi untuk merancang gaun pernikahanku " lanjut Rea.
" Karena kau sangat senang. Bagaimana kalau mentraktirku sarapan pagi ini " ucap Elin tertawa.
" Dengan senang hati. Pesan saja apa yang anda mau Elin. Bahkan ini sebuah keberuntungan bagiku. Karena kapan lagi aku bisa mentraktir wanita paling dermawan di kota New York ".
Elin kembali tertawa. Lalu membungkuk kan tubuhnya, " Bahkan aku juga merasa sangat terhormat karena di percaya menjadi perancang gaun pengantin dari wanita terhormat di United Kingdom".
" Anda berlebihan membawa-bawa negara. Padahal aku hanya menyebut New York bukan Amerika " seru Rea. membuat ruang kecil itu di penuhi oleh tawa semua orang.
Tiba tiba suasana itu di buyarkan oleh dering telepon yang berbunyi bersamaan dari handphone Rea dan Elin, lalu kemudian mereka saling menjauh beberapa saat dan kembali setelah mereka selesai menerima telepon, " apa itu telepon dari calon suamimu ? " tanya Elin dan Rea mengangguk, " Dia sudah di Lobby dan sedang menuju kemari "jelasnya.
" Begitu pun suamiku. Dia juga sedang menuju kemari. Sekarang kita lihat siapa yang akan dulu sampai kemari " ucap Elin tertawa.
" Apa yang terjadi jika salah satu dari mereka yang dulu tiba disini ? " tanya balik Rea.
Elin sesaat berpikir, " Kita memiliki jarak yang adil. Calon suamimu harus naik lima lantai kemari. Begitu pun suamiku yang harus turun lima lantai untuk kemari. Kau bisa mengukur rasa cinta calon suamimu dari sini. Jika dia datang bersamaan dengan suamiku itu berarti dia mencintaimu sama seperti suamiku mencintaiku ".
" Hampir semua orang di Amerika tahu bagaimana Daniel Remkez mencintai istrinya. Jadi jangan ragu tentang itu " sambung Elin tertawa.
" Bagaimana bisa kita mengukur rasa cinta laki-laki dengan kecepatan Elin ? " tanya Rea bingung.
__ADS_1
" Apa kau tidak pernah mendengar kalimat seperti ini Rea, kalau Laki-laki itu selalu tidak sabar jika ingin bertemu dengan wanita yang dia cintai " ucap Elin dan Rea mulai mengerti.Namun kemudian ia terdiam dengan sedikit menghela nafas, " Jika itu artinya. Tentu Gema akan datang terlambat dari suamimu Elin " gumamnya lemah. dan yang keluar dari bibirnya hanya sebuah senyum yang hambar.