KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Karena Aku Suamimu


__ADS_3

" Tolong bawakan kotak obat ke kamar kami ? " ucap Gema mendekat ke meja resepsionis dengan tubuh Rea yang masih berada di punggungnya.


" Apa yang terjadi Tuan ? " tanya petugas di meja itu.


" Turunkan aku Gem " pinta Rea menyela di antara percakapan Gema.


" Kaki Istriku tertusuk duri ikan "jelas Gema. Namun tanpa mengubris keinginan Rea.


" Tunggu, kami akan menyediakan kursi roda untuk Nyonya, Tuan " kata pelayan sambil bergerak mendekat pada gagang telepon.


" Tidak tidak. Aku sungguh tidak apa-apa " cercah Rea berusaha menghentikan pelayan.


" Ya kami tidak perlu kursi roda, aku bisa membawa istriku dengan seperti ini " sambung Gema dan itu sedikit membuat Rea terhenyak " Terimakasih, tolong antar kotak obat secepatnya ke kamar kami " pintanya lagi seraya bergerak untuk berlalu dari hadapan meja resepsionis.


" Tunggu tuan, kami bisa menyediakan kursi roda untuk nona. Mungkin nanti anda akan membutuhkannya " kata pelayan menghentikan langkah Gema.


" Emmm.. tidak perlu. Aku akan terus membawa istriku seperti ini " balasnya lalu kemudian berlalu, tanpa peduli apa yang akan di katakan lagi oleh pelayan hotel.


Sementara perempuan yang berada di punggungnya kini terdiam dengan jantungnya sedikit berdebar.


" Ada apa ? " tanya Gema sambil melambankan sedikit langkahnya.


" Hemm ? " balas Rea yang sedikit tersentak dan tidak mengerti.


" Jantungmu berdebar. Aku sampai bisa merasakannya " jelasnya, dan itu cukup berhasil membuat pipi yang memang sudah memerah kini semakin memerah, " tidak, aku hanya sedikit panik " sahut Rea berkilah.


" Panik ? " ulang Gema yang kini benar-benar menghentikan langkahnya.


" Emmm bukan, emm maksudku ya seperti itu " jelas Rea terbata-bata, " jangan di pikirkan " sambungnya seraya menghela sedikit nafasnya.


" Ayo, aku sudah kedinginan " pintanya dan Gema dengan cepat kembali melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Mata Rea sedikit membesar saat Gema membawa tubuhnya masuk ke dalam kamar mandi, " Gem apa yang kau lakukan ? " pekiknya. Namun lelaki itu tetap diam dan terus melanjutkan langkahnya sampai tiba di meja westafel, " mandilah " di letakkannya tubuhnya Rea di atas benda bidang itu.


" Emmm.., padahal kau tidak harus mengantar sampai disini Gema " ujar Rea dengan sedikit tertawa. Namun tidak dengan Gema yang memandang dirinya dengan begitu serius, " kau bisa mandi sendiri ? " tanyanya.


Mendengar itu Rea langsung saja tertawa, " kakiku hanya tertusuk duri ikan Gema, aku juga masih sangat bisa berjalan, kau berlebihan " balas Rea yang masih tertawa. Namun tawa itu perlahan memudar saat mendapati wajah Gema yang kini terlihat berubah.


Suasana kamar mandi itu menghening sesaat, " aku khawatir " ucap Gema begitu serius, " panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu " sambungnya, lalu berjalan keluar dari dalam kamar mandi.


" Apa dia marah ? " gumam Rea, seraya menatap pintu yang baru saja di tutup, " apa aku salah bicara ? tapi sepertinya tidak, tapi kenapa dia seperti itu " katanya tanpa henti.


Beberapa menit berlalu akhirnya Rea keluar dari dalam kamar mandi, dengan kimono yang membalut tubuhnya. Dan ia terdiam sejenak saat menatap ruang kosong di hadapannya, tidak ada Gema disana, " dia kemana ? " tanyanya dengan perasaan yang menjadi sedikit khawatir.


" Kau sudah selesai ? " sebuah tanya yang terdengar dari arah balkon dan berhasil membuatnya begitu terkejut, " kau mengejutkan aku Gema " pekiknya, setelah itu ia terdiam saat menatap wajah tanpa ekspresi dari lelaki yang kini berjalan masuk ke dalam ruangan.


Meski ada sebuah tanya yang membatin dalam dirinya, Rea memilih diam dan melanjutkan langkah kakinya menuju tempat pakaian mereka.


" Kakimu masih sakit ? " pertanyaan yang kembali membuat Rea tersentak.


Gema yang kini berdiri di ambang pintu kamar mandi hanya diam dan menatap sejenak ke arahnya, lalu tanpa bicara ia kembali bergerak menuju kamar mandi.


" Ada apa dengannya ?. Kenapa menatapku begitu dingin " cercahnya yang kini menjadi kesal.


Rea yang semula hanya ingin membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur, justru hal itu malah membuatnya berlabu ke alam mimpi, meski itu hanya sebentar sebelum matanya kembali terbuka karena suara knop pintu yang berbunyi.


" Kau sudah selesai ? " tanyanya pada Gema, dengan tubuh yang tetap berbaring di atas tempat tidur.


" Hemm " sahut lelaki itu singkat.


Ada perasaan kesal yang tiba-tiba berada di dalam hati Rea saat Gema bereaksi begitu dingin padanya, " kenapa dia terus seperti itu ? " gumamnya. Namun sesaat pandangannya tersiap tak kalah melihat Gema kini berjalan ke arahnya dengan sebuah kotak obat di tangannya.


Tanpa bicara lelaki itu menempatkan dirinya di ujung kaki Rea, lalu mengangkat sepasang kaki jenjang itu ke pangkuannya, " apa yang kau lakukan Gem. kakiku sungguh tidak apa-apa " katanya sedikit panik, sebenarnya begitu panik tapi lebih tepatnya ia canggung berada di kondisi seperti itu.

__ADS_1


" Diam Rea " bentak Gema dan itu membuat Rea sedikit terkejut, " kau terus bicara sejak tadi. Aku tahu apa yang harus aku lakukan sebagai seorang suami " sambungnya. Kini Rea benar-benar di buat terdiam. Bukan karena bentakannya tapi ucapan dari lelaki itu.


Rea terus membisu saat Gema mengobati telapak kakinya yang hanya terluka begitu kecil, tapi berhasil membuatnya sedikit meringis setiap kali melangkah.


Di perhatikannya wajah yang kini terlihat begitu serius menatap ke arah kakinya.


" Tampan " batinnya.


" Jangan memaksakan diri untuk berjalan. Aku sungguh tidak keberatan untuk membawa tubuhmu kemana pun " ucap Gema yang perlahan kini melihat ke arahnya, dan itu cukup membuat Rea kalang kabut karena tertangkap basah sedang menatap ke arah Gema, " emm iya " sahutnya sambil mengalihkan pandangannya.


" Iya apa ? "


" Iya seperti itu Gema "


" Seperti apa ? "


Rea menarik nafas, " ya tidak akan memaksakan diri untuk berjalan " ucapnya memperjelas.


" Good " ucap Gema, " apa kau lapar ? " tanyanya lagi dan Rea mengangguk, " bahkan Sangat lapar " sahutnya.


Gema bangun dari duduknya sambil meletakkan kembali kaki Rea ke atas tempat tidur, " kau ingin kita makan disini atau di luar ? "


" Di luar " sahut Rea cepat, " apa kau mau ? " katanya kembali bertanya, saat melihat tidak ada reaksi dari Gema, selain lelaki itu bergerak menuju tempat pakaian mereka, " Gem apa kau setuju kita makan di luar, aku juga tidak masalah jika kau ingin makan disini, kita tinggal memesannya bukan ! " serunya, dan beberapa saat kemudian Gema kembali dengan sebuah hoody di tangannya, " Pakai ini " pintanya sambil memasangkan pakaian itu ke tubuh Rea.


" Untuk apa ? " tanya Rea. Namun tubuhnya tetap bergerak mengikuti arahan Gema, " di luar dingin, kau lihat angin begitu kencang " jelasnya.


Setelah berhasil memasangkan hoody di tubuh Rea, Gema kembali berjongkok, " naiklah " pintanya.


" Gem, aku sungguh bisa berjalan sendiri " ujar Rea.


" Apa kau lupa dengan apa yang tadi kau katakan, hmmm "

__ADS_1


Rea menarik nafas sambil bergerak mendekap punggung Gema, " kenapa kau ingin repot repot seperti ini huh " cercah Rea, dan suasana menghening sesaat sampai Gema kembali berdiri dengan tubuh Rea yang berada di punggungnya, " karena aku suamimu " ucap Gema dan itu cukup berhasil membuat jantung Rea kembali berdebar.


__ADS_2