
" Ibu sayang Rea. Ibu mencintai Rea lebih dari apapun. Rea alasan ibu menjadi kuat. Saat Rea besar nanti, Rea harus ingat kalau ibu sangat menyayangi Rea "
Deg
Sepasang mata terbuka bersama jantung yang berpacuh begitu cepat. Nafasnya menderu seiring peluh yang mengalir dari dahinya.
Ia terdiam sejenak, mengatur nafas lalu mengingat kembali setiap kata yang muncul di dalam mimpinya, " itu hanya mimpi " ucapnya dengan ujung bibir yang sedikit terangkat. Namun, saat ia mengingat kembali perkataan itu, yang ada dalam pikirannya justru tubuh kecilnya berada di dalam dekapan ibunya. Bahkan ia masih bisa merasa sentuhan hangat dari kulit ibunya saat itu. Air mata yang jatuh di pipinya dan di kalah itu ia menyadari kalau ibunya tengah menangis.
" Kenapa hal itu harus masuk ke dalam mimpiku. Itu hanya sebuah gurauan dia tidak benar menyayangiku " racaunya dengan terisak. Hatinya begitu hancur saat harus mengingat kembali bagaimana ia hidup dulu. Bagaimana ia bertahan melewati semuanya.
Tidak ada siapa pun disisinya. Ia tumbuh besar seorang diri.
Ia bahkan tidak pernah menikmati seperti apa rasanya menjadi remaja. Ia tidak pernah bermain selayaknya gadis seumurannya. Yang ia tahu sepulang sekolah ia harus bekerja. menghasilkan uang untuk hidupnya dan terus seperti itu sampai ia dewasa, lalu di terima bekerja di perusahaan keluarga Antonio. Tidak ada orang yang berperan lebih penting dalam kesuksesannya kecuali Frans Antonio.
Di sekanya air mata yang terus mengalir, " harusnya kau tak hadir di mimpiku Kris "gumamnya penuh sesak, " bahkan kau tak lagi harus datang dalam kehidupan nyataku " lanjutnya. Namun, saat mengatakan itu air matanya justru semakin deras mengalir.
Jauh dari lubuk hatinya, ia rindu sosok wanita itu. ia rindu ketika tubuh kecilnya berada di dalam dekapannya. Ia rindu ketika mereka makan bersama walau hanya dengan sepiring omelet. Ia rindu segala tentang ibunya. Namun sayangnya semua itu sudah tertutup oleh sebuah kebencian yang sangat besar. Oleh sebuah kecewa yang di buat tiada berakhir.
Ia sangat marah ketika ia mengingat kembali saat menjalani haid pertamanya seorang diri dan meringis di bawah selimut. Sementara di dalam televisi kecil di dalam ruangan tidurnya memperlihatkan wajah ibunya di dalam sebuah acara amal yang di lakukan oleh keluarga barunya. Wajahnya begitu bahagia, seperti tidak ada rasa sesal bahwa saat ini ia sudah mentelantarkan darah dagingnya sendiri dalam kesakitan.
Rea remaja mendekap kedua kupingnya. Ia benci setiap kali pembawa acara menyebutkan nama ibunya dan Hatinya begitu sakit mendengar hiruk pikuk suara kebahagiaan dari dalam televisi . Namun, ia tetap memilih berada di dalam balutan selimut meski peluh di dahinya telah mengalir.
Ia memilih kepanasan dari pada harus bangun untuk mematikan Tv dan melihat dengan nyata kebahagian yang membuat hatinya semakin sakit.
" Selamat berbahagia ibu. Hari ini hari haid pertamaku dan aku sendiri " ucapnya serak oleh isak tangis yang ia tahan.
Kini di atas ranjang mewah di dalam ruang yang remang, Rea dewasa kembali menyeka air matanya. Tidak ada yang berbeda, sampai hari ini ia masih merasa kesepian dan seorang diri. Meski saat ini ia berteduh di dalam bangunan mewah miliknya. Namun, semua masih terasa sama seperti ia tinggal di dalam sebuah flat kecil yang ia sewa dulu.
Kesepian yang ia rasakan masih sama. Walau kini ia di kelilingi begitu banyak pelayan yang siap menyiapkan segala kebutuhannya dan memenuhi keinginannya. Namun itu tidak merubah apapun. Di saat penghujung malam ia tetap merasa seorang diri.
Tok tok tok
Bunyi ketukan dari balik pintu membuatnya terkejut dan dengan cepat menyeka air matanya.
" Nona.., Apa nona masih tidur ? " seru di balik pintu.
" Nona.. "
__ADS_1
" Ya Rose. Ada apa ?, ini masih terlalu pagi untuk kau membangunkan aku " ucapnya sedikit kesal. Langit masih begitu gelap jika ia sudah harus berada di meja makan untuk menikmati sarapan paginya.
" Perias wajah anda sudah datang Nona " jelas Rose dari balik pintu.
Mendengar hal itu mata Rea yang mengantuk kini terbuka begitu lebar. Mimpi buruknya seakan membuat ia lupa, bahwa hari ini ia akan menjadi seorang mempelai wanita di atas lantai altar pernikahan.
" Astaga " umpatnya dengan langsung beranjak dari tempat tidurnya.
" Masuklah Rose "
dan perlahan pintu terbuka oleh Rose yang masuk ke dalam kamar tidurnya, " dia memang datang lebih awal Nona. Tapi jangan khawatir dia mengatakan tidak apa-apa menunggu dan kami sudah menyiapkan sarapan untuk mereka " ucap Rose. Sementara Rea kini duduk terdiam disisi tempat tidurnya.
" Nona ada apa ? " tanya Rose menjadi cemas.
Rea menggeleng, " aku hanya masih tidak menyangka kalau hari ini adalah hari pernikahanku Rose " gumamnya. ia terlihat seperti linglung dengan keadaan yang akan ia hadapi.
" Anda membuatku takut Nona "
" Sekarang cepat mandi, anda benar benar tidak lagi punya waktu untuk melamun " sergah Rose sambil mendorong tubuh linglung Rea ke dalam kamar mandi.
" Aku akan tetap disini sampai anda selesai mandi " ucapnya lagi sebelum ia menutup kembali pintu kamar mandi Rea.
Kini di dalam sebuah ruangan, seseorang laki laki menunggu dengan gusar. Tubuh yang terbalut oleh kain toxedo yang lembut, tidak berhasil membuatnya tenang.
Drrrtttt
Drrrrttt
Handphone di dalam genggamannya tiba tiba berdering dan ia menarik nafas saat melihat nama kontak yang kini tertera di dalam layar benda pipihnya, " kenapa dia harus menelponku sekarang " gumamnya prustasi. Namun, ia juga tidak sanggup jika harus mengabaikan panggilan itu.
" Ya Bella " jawabnya pada panggilan telepon.
" Beri waktu aku sebentar saja untuk mendengar suaramu Gema " pinta Bella lirih.
" Kau justru membuatku sulit bicara Bella " sahutnya bersama tarikan nafas, " jangan membuatku semakin gugup " tambahnya. Suasana tiba tiba menghening dan di saat itu rasa bersalah di dalam diri Gema kembali muncul, " apa kau sudah sarapan ? " tanyanya begitu lembut.
" Ceh. Jangankan untuk makan, untuk beranjak dari tempat tidurku pun aku tidak punya minat " sahut Bella.
__ADS_1
" Jangan seperti itu. Jangan menyakiti dirimu Bella "
" Kau begitu gampang bicara Gema. Bagaimana bisa aku biasa saja sementara hari ini kekasihku menikah dengan wanita lain " cercah Bella penuh emosi, bahkan kini suara isak tangis mulai terdengar.
" Maafkan aku Bella " ucap Gema dan memang hanya itu yang mampu ia ucapkan saat ini. Rasanya untuk semua kata yang membuat tenang seperti tidak lagi berguna saat ini.
Pintu ruangan tiba tiba di buka oleh seseorang, " tuan sudah waktunya anda berjalan menuju altar " ucapnya pada Gema.
Gema menarik nafas panjang, " maaf aku harus menutup teleponmu. Aku harap kau tidak melakukan hal yang tidak tidak Bella. Jangan lupakan makanmu dan lakukan aktifitasmu seperti biasa. Ingat tidak ada yang berubah setelah ini, aku akan tetap menjadi kekasihmu. Jadi jangan pikirkan apapun yang akan menyakiti hatimu " pintanya. Namun tidak ada jawaban dari balik telepon. Hanya isak tangis yang terdengar semakin pilu, " Bella aku mohon. Hentikan tangisanmu "
" Bella please " pintanya lagi. Namun, tiba tiba panggilan itu di akhiri secara sepihak oleh Bella.
" Bella maafkan aku " ucapnya lirih.
" Ayo tuan. Semua tamu sudah menunggu " pinta laki laki yang masih berada di ambang pintu.
Gema menarik nafas panjang sebelum kembali melihat dirinya di dalam cermin. Di rapikannya pakaian yang sedikit berantakan, lalu menatap dengan lamat wajahnya sendiri di dalam bayang cermin di hadapannya.
Rasa bersalahnya terhadap Bella semakin besar saat ini. Namun tak membuat dirinya menunda untuk cepat berada di atas altar pernikahan. Meski dengan membayangkannya saja ia sudah kembali merasa gugup.
" Ayo " ajaknya pada seseorang yang masih menunggunya di sisi pintu.
Suara tepuk tangan bergema saat pria dengan toxedo berwarna biru tua kini tengah berjalan menuju altar pernikahan. Senyum manisnya kini mengambang pada semua orang, tidak ada yang akan menyangka jika di balik penampilannya yang gagah, kini ia tengah menahan kegugupan setengah mati.
Wanita paruh baya dengan busana elegannya berwarna putih kini tersenyum hangat pada laki laki yang kini telah berdiri dia atas altar pernikahan, " kau sangat tampan " ucapnya dengan isyarat memperlihatkan ibu jarinya.
" Jangan gugup " tambahnya lagi. Namun, sayangnya itu tidak berpengaruh apa-apa untuk seseorang yang akan mengikrar janji suci pernikahan.
Kini jantung Gema semakin berpacu, saat suara tepuk tangan kembali bergema. Namun saat ini tatap matanya telah tertegun oleh wanita yang kini tengah bergandengan dengan ayahnya dan tengah berjalan ke arahnya.
tatap matanya semakin terpaku saat wanita dengan gaun putih itu semakin dekat dengannya. Semua kegugupan seolah menghilang begitu saja setelah matanya bertemu pada sorot mata coklat milik wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya, " dia benar benar cantik " ucapnya tanpa sadar. Bahkan sorot mata coklat itu berhasil membuatnya linglung seketika dan tidak menyadari jika ayahnya tengah memberikan tangan wanita itu untuk berada di dalam genggamannya.
" Gema, Heii " seru Frans menahan tawa.
" Emmm ya "
" Sambut tangan calon istrimu "
__ADS_1
" Emm iya " balasnya dengan tangan yang terulur untuk menyambut tangan wanita di hadapannya, " jaga dia selalu Gema " pinta Frans dengan bersungguh-sungguh. dan sesaat pandangan mereka kembali bertemu sebelum akhirnya Gema mengangguk, " tentu Ayah " ucapnya begitu yakin dan ntah dari mana dia mendapat keyakinan itu.
" Terimakasih Ayah " ucap Rea tersenyum, sebelum akhirnya Frans meninggalkan mereka berdua di hadapan seorang pendeta yang akan memandu mereka untuk mengingat janji suci di hadapan semua orang.