KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Bagaimana Mungkin


__ADS_3

Gema segera memberikan kembali handphone Rose, ketika di seberang telepon, Maria telah memberitahu dimana keberadaannya dan Rea. Ia bergegas kembali menuju kamar tidur. Dan belum sempat Rose beranjak dari tempatnya semula, laki-laki itu sudah kembali dengan pakaian yang berubah. Dia tidak lagi menggunakan pakaian piyama tidurnya. Tapi Kecana jeans dan hoodie.


" Tuan mau pergi ? ",tanya Rose.


" Saya harus menjemput tuanmu ", sahutnya sambil berlalu. Wajahnya terlihat begitu kesal, dan itu sudah terlihat, semenjak Maria menyebut dimana keberadaannya. Rose tidak lagi bicara, ia hanya terus memandangi tubuh laki-laki itu, yang sedang melangkah dengan tergesa-gesa.


Gema melajukan mobilnya dengan tidak sabar. Ia menjadi pemarah, ketika ada kendaraan lain yang menghambat kecepatan mobilnya. Hatinya benar-benar tak tenang saat ini, memikirkan nama seseorang yang Maria sebut sedang bersamanya dan Rea, " apa kau sedang mengingkari isi surat perjanjian kita Rea", gumamnya kesal. Ia menghela, lalu membanting stir mobil, saat kendaraan itu sudah sampai di tempat tujuannya.


Gema tak memperdulikan mobilnya yang terpakir tak beraturan. Langkahnya sudah cepat menuju gedung yang menjulang tinggi di hadapannya, " kau memang gila Rea, bagaimana kalau ada media yang menemukanmu bersama laki-laki lain disini ", gumamnya semakin kesal. Dan bertambah kesal ketika matanya menemukan seseorang yang sedang ia cari. Namun, kondisinya sangat tak ia sukai.


" Ceh", decihnya, sembari melangkah cepat pada tiga orang yang sedang berbicara, tepatnya dua, dari tiga orang itu.


ia menarik nafas panjang, saat tubuhnya semakin dekat. Menemukan Rea di dalam gendongan lelaki lain, tak sadar membuatnya begitu kesal.


Dan beberapa menit kemudian, Rea sudah berada dalam gendongannya. tak menunggu lama untuk membawa perempuan itu ke mobilnya sendiri. Meletakkan tubuh tak sadar perempuan itu ke sisi kursi penumpang.


Dirinya sempat melihat, ketika sepasang mata menatapnya tanpa berkedip, " beraninya dia ingin mengantar pulang istri orang lain ", gumamnya.


" Tuan ", panggil Maria mendekat.


" Aku bisa mengurusnya Maria, kau pulanglah !" titahnya. Perempuan itu tak menjawab, tapi justru mendekati pada tubuh Rea yang sudah tertidur di kursi mobil, " sebentar saja Tuan ", katanya meminta ijin. Tubuhnya membungkuk ke dalam mobil. Di betulkannya posisi kepala Rea, lalu outer perempuan itu yang tersibak," wajahnya merah", gumamnya, seraya menyibak rambut-rambut halus yang menutupi wajah perempuan itu.


Gema terhenyak saat mendapati sikap Maria yang seperti itu pada Rea. Ia terus memperhatikan apa saja yang perempuan itu lakukan, pada tubuh tertidur itu.


" Kalau begitu aku pulang Tuan ", pamit Maria tiba-tiba, yang membuatnya tersentak," hmmm ya. Hati-hati di perjalananmu", balasnya. Maria mengangguk, " aku akan meminta Rose untuk mengompres wajah Nona nanti ", katanya memberitahu.

__ADS_1


" Hemmm.. " balas Gema dengan anggukkan. Tapi saatnya hendak menutup pintu mobil dari sisi tempat Rea tertidur, Maria tiba-tiba kembali. Ia tak bicara apapun, hanya kembali mendekati tubuh Rea, menyentuh dahi perempuan itu. Wajahnya terlihat begitu cemas, dan Gema menyadarinya.


" Kepalanya akan sakit ", gumam perempuan itu, dengan membuka kuncir di rambut Rea, lalu membenarkan kembali posisi tidur perempuan itu, " padahal kau hanya perlu menceritakannya padaku Nona ", gumamnya lagi, nadanya begitu lemah, dan Gema masih mendengar kalimat itu, dan cukup membuatnya heran," Apa yang terjadi ? ", tanyanya penasaran.


Maria yang memang ingin kembali beranjak dari sisi Rea, kini menoleh padanya. Perempuan itu tak langsung menjawab pertanyannya, dia terdiam sejenak seolah sedang berpikir, "Tuan, apa baru-baru ini Nona bertemu Ibunya ? ".


Gema terkesiap mendengar pertanyaan itu, " Ibunya ? ", katanya mengulang.


" Ya, nyonya Kristeen Brookstein",jawab Maria lebih mendetail.


Matanya membesar mendengar itu. Bahkan degub jantungnya terhenti sesaat, saat mendengar sesuatu yang baru ia tahu hari ini, sesuatu kenyataan yang begitu mengejutkannya.


" Apa baru-baru ini mereka bertemu ? ", tanya Maria lagi. Tapi setelahnya perempuan itu ikut terkejut, ketika mendapati cara mata Gema memandang padanya, " sepertinya aku bicara terlalu jauh ",gumamnya dengan tangan tangan yang bergerak memukul bibirnya sendiri.


Ia benar-benar menyesali apa yang baru saja keluar dari mulutnya, " Tuan pasti belum mengetahuinya. Astaga Maria...", pekiknya pada diri sendiri.


Sementara Gema masih berdiri terdiam. Pikirannya, seketika memutar kilas balik kejadian beberapa hari yang lalu, dan sekarang, dirinya menemukan jawabannya.


" Bagaimana bisa aku tidak tahu", gumamnya bingung.


" Nyonya Brookstein", katanya lagi, menyebut nama itu dengan perasaan yang tak di duga-duga. Ia tak kan berpikir bahwa kali ini pendengarannya yang salah. Nama itu jelas sekali di katakan oleh mulut Maria, dan ia tak salah menerka. Mata wanita itu, begitu mirip dengan perempuan yang berada di kursi mobilnya. Dan saat itu, ia terhenyak dari pikirannya sendiri. Teringat, bahwa ia harus segera membawa perempuan itu pulang.


Gema tak lagi melajukan mobilnya seperti saat pergi. Kini, ia melajukannya dengan lebih tenang. Perempuan yang ia khawatirkan sudah berada di dekatnya,dan tertidur.


Meski saat menoleh, dan menemukan keadaan perempuan itu sedang mabuk, ia menjadi kesal seketika. Lebih kesal ketika mengingat, perempuan itu pergi dengan seorang laki-laki, bahkan berada dalam gendongan lelaki itu. Tapi saat itu juga, ia teringat kembali pada kalimat yang di katakan oleh Maria.

__ADS_1


Beruntung, jalanan tengah kota kini tidak di penuhi banyak kendaraan lain, selain mobilnya. Hanya beberapa, dan melaju tanpa harus ia khawatirkan.


Ia punya banyak waktu untuk memandangi wajah Rea. Mengamati setiap inci, dan saat itu, pikiran tentang Nyonya Brookstein melambung di pikirannya. Ia menemukan wajah muda wanita itu disana, di dalam mobilnya.


" bagaimana mungkin ", gumamnya tak mengerti. Saat ini, ia tak meragukan jika perempuan yang ia nikahi, adalah putri dari wanita terhormat itu. Bahkan selain dirinya, tidak akan ada satu pun orang yang akan membantah hal itu. Wajah mereka terlalu mirip, bahkan nyaris sama. Yang membedakannya, Nyonya Brookstein, memiliki garis penuaan di wajahnya.


Pikirannya saat itu kembali menerka-nerka. Ini bukan lagi tetang apa hubungan dari dua orang wanita itu. Tapi, ada apa dengan hubungan mereka.


Di negeri ini, tidak ada yang tidak tahu, siapa Nyonya Brookstein. Begitu pun istrinya, Andrea. Billionaire termuda di negeri tempat tinggal mereka.


Tapi selama ia hidup, tidak pernah sekali pun ia mendengar berita tentang hubungan dua wanita itu. Hubungan darah yang baru ia ketahui beberapa menit yang lalu. Dan sejenak, ia kembali teringat pada hari pernikahan mereka, " apa yang terjadi dengan mereka ", gumamnya semakin bingung. Hari itu ia teringat, dua perempuan itu tak memperlihatkan hubungan ikatan darah, bahkan di saat itu, dia sendiri tak berpikir adanya hubungan seerat itu. Mereka terlalu asing.


Tapi saat ini, ia menjadi mengerti kenapa perempuan di sampingnya tiba-tiba pergi di tengah acara pernikahan mereka. dan ia teringat kembali dengan percakapan Wanita itu bersama Ayahnya. Percakapan yang membuatnya bingung saat itu, tapi, Malam ini, akhirnya ia mengerti, akhirnya ia menemukan jawabannya.


Hanya saja yang ia belum tahu, ada apa dengan dua wanita ini.


Dan satu hal lagi, yang juga membuatnya tak mengerti.


Sudah tak di ragukan, kalau Rea adalah anak kandung Nyonya Brookstein, tapi perempuan itu, tak menggunakan nama keluarga bangsawan itu pada ujung namanya, dan tak mungkin orang di negeri ini, bahkan dirinya sendiri, tak akan mengetahui garis keturunan keluarga itu. Nama Rea, tak pernah di sebut menjadi salah satu keturunan dari keluarga Brookstein. Atau mungkin dia satu-satunya orang yang tidak tahu alasan di balik itu semua. Alasan penyebab perempuan itu, tidak menggunakan nama Brookstein di ujung namanya. Hal itu begitu aneh dan rumit untuk ia tebak. Dan bersamaan, ia teringat Ayahnya. Lelaki paruh baya itu, pasti mengetahui semuanya.


Dengan semua pikirannya, tak sadar kini mobilnya telah sampai di halaman rumah Rea. Dan saat itu, tubuh perempuan itu menggeliat. Tak menunggu lama untuk Gema membawa tubuh perempuan itu keluar dari dalam mobil.


" Apa Nona tertidur Tuan ? ", tanya Rose, yang sudah berdiri di ambang pintu utama. Gema mengangguk, dan terus membawa tubuh perempuan itu.


" Aku akan mencuci tubuhnya ", ucap Rose, yang kini berjalan mengikut langkahnya. Tapi setelah mendengar itu, Gema menghentikan langkahnya, " istirahatlah Rose. Aku akan melakukannya sendiri ", titahnya. Rose terhenyak sesaat, tapi kemudian ia segera mengerti ," baik Tuan ",jawabnya.

__ADS_1


__ADS_2