KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Seminggu Berlalu


__ADS_3

Hari ini tepat satu minggu, Gema merasa di abaikan. Bahkan benar-benar di abaikan.


Semenjak kejadian malam itu, dan pagi harinya. Mereka jarang saling menyapa. Ralat tapi perempuan itu yang seperti tidak ingin menyapa.


Setiap ia pulang, perempuan itu sudah tidur. Sekali pun tidak tidur, perempuan itu tidak berada di kamarnya. Dan saat ia terbangun, perempuan itu tidak lagi ada di tempat tidur, bahkan sering tidak lagi di rumah.


Satu minggu ini, ia benar-benar di abaikan. Perempuan itu benar-benar menghindarinya.


Ia memandang keluar dari dinding kaca besar di samping meja kerjanya. Matanya menatap pada hiruk pikuk jalanan tengah kota, tapi pikirannya melayang. Bahkan tertinggal di rumah, tempat tinggalnya bersama Rea.


" Apa aku berbuat salah padanya ", katanya bergumam, menerka-nerka, sebab ia di hindari beberapa hari ini. Dan sungguh ia tak menyukainya, " apa dia marah karena aku tidak membalas pesannya malam itu ", katanya lagi.


" Atau karena lelaki itu dia mengabaikan aku ", katanya menebak, dan saat itu, ia tak sadar menghela. Nafasnya sesak membayangkan ucapannya sendiri, dan ia kesal.


" Di perjanjian, selama pernikahan seharusnya dia tidak boleh dekat dengan pria lain. Kenapa melanggarnya ", katanya tanpa henti, dan ia semakin kesal.


Saat itu, ia sudah melirik pada handphonenya, tidak sabar ingin bicara pada Rea, perihal masalah itu. Tapi mengingat hubungan mereka beberapa hari belakangan ini, niatnya urung. Dan kembali menghela begitu dalam. Tangannya mengepal saat itu.


Dan bersamaan handphonenya berdering, dan nama Bella, tertera di dalam layar benda itu. Cukup lama ia terdiam, sampai kemudian ia menjawab panggilannya.


" Ya Bella ", jawabnya. Saat itu, ia menyadari jawabannya tak semesra seperti dulu.


" Kau punya waktu untuk menemuiku hari ini ", ucap perempuan itu. Dan ia kembali terdiam sejenak, " kau masih sakit ? ", katanya balik bertanya. Suara Bella terdengar begitu lemah, dan sedikit serak.


" Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu ", sambung Bella. Perempuan itu mengidahkan pertanyaannya.


Gema masih belum menjawab. Ia kembali terdiam, untuk berpikir, " malam ini aku sedikit memiliki urusan, mungkin besok Bella ".


" Kau tidak apa-apa ? ".


" Atau kau bisa mengatakannya sekarang ".


" Tidak, kita perlu bertemu Gema. Ini sesuatu yang serius " potong Bella.


" Kau harus berjanji, besok kau akan menemuiku ", katanya melanjutkan, sebelum Gema sempat berbicara.


" Ya aku janji ".


" Baiklah, sampai bertemu besok ".


" Kau yakin tidak apa-apa, Bella ? ".


" Hemm ya. Aku baik-baik saja ", kata Bella membalas, tapi Gema tak yakin dengan ucapannya, bahkan ia mulai sedikit khawatir tentang apa yang ingin di bicarakan perempuan itu.


" Telepon aku jika kau membutuhkan sesuatu ",katanya menawarkan, tapi dari seberang telepon, Bella justru terdengar berdecih," aku sudah membutuhkanmu saat ini Gema. Tapi kau tidak bisa datang. Jadi bagaimana kau bisa mengatakan itu ", ucapnya dingin.

__ADS_1


" Baiklah maafkan aku, tapi sungguh aku akan menemuimu besok ". kata Gema membalas, dan tanpa berpamitan, Bella mengakhiri panggilannya saat itu juga.


" Dia pasti marah ", gumam Gema, sambil masih menatap pada layar handphonenya. Tapi, ia tak mempunyai niat untuk menelpon perempuan itu kembali.


Pikirannya di buat kacau, belum selesai urusannya dengan Rea. Kalimat yang baru saja di katakan oleh Bella, berhasil menambah pikirannya.


Dan saat itu, ia hanya bisa menghela nafas.


" Nanti malam aku harus bicara dengan Rea ", gumamnya, sebelum membalikkan kursi yang ia duduki, ke hadapannya semula. Dan ia terkejut, ketika menemukan Frans sudah ada disana. Dan sangat terkejut, " ayah ", serunya dengan mata yang membesar.


" Sejak kapan Ayah berada disini ? ", katanya gelagapan.


" Itu tidak penting, kapan aku tiba disini ", sahut Frans, sambil bergerak duduk di hadapan Gema.


" Kalian baik baik saja ? ", kata Frans kembali bertanya. Gema terkesiap dan menelan ludah, " tentu kami baik-baik saja Ayah ", sahutnya berbohong. Dan ia, tak berani untuk menatap pada wajah Ayahnya. Tapi, Frans justru sebaliknya. Ia memperhatikan dengan seksama wajah putranya, " jangan pikir kau bisa menutupi sesuatu dari Ayahmu ", gumam Frans. Tapi Gema, mendengarnya dengan sangat jelas. Dan ia cukup panik pada saat itu.


Frans tiba-tiba berdiri dari tempatnya, " bawa istrimu ke rumah. Ibumu merindukannya ", titahnya.


" Ayah sudah ingin pergi ? ", sergah Gema.


" Aku hanya mampir ", sahut Frans, mulai ingin beranjak dari ruangan, " jangan lupa bawa istrimu berkunjung ke rumah, Dia belum merasakan di layani sebagai menantu ", ucap Frans sekali lagi, meski ragu. Tapi Gema tetap mengangguk.


" Secepatnya, dan beritahu Ibumu ketika kalian akan datang ", kata Frans lagi, lalu melanjutkan langkahnya. Namun, baru selangkah kakinya bergerak, Gema menghentikannya, " ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu Ayah ", katanya.


Saat itu, Frans pun tak berniat untuk tetap melanjutkan langkahnya, " apa yang ingin kau tahu ? ".


" Kenapa kau tak bilang padaku, kalau mereka Ibu dan anak, Ayah " katanya melanjutkan.


Dan Frans, terlihat panik," Pelankan bicaramu, Gema ", sergahnya, ia menoleh ke arah pintu. Memastikan tidak ada seorang pun yang mendengar ucapan Gema.


Saat itu, justru Gema semakin heran, " mereka benar Ibu dan anak ? ", katanya mengulang, dan ia berusaha membuat begitu pelan nada suaranya.


" Darimana kau tahu tentang itu ".


" Coba pikirkan lagi, Ayah. Bagaimana bisa saat ini, aku tidak tahu tentang itu ", tukas Gema, dan Frans terdiam.


" Rea tidak menceritakannya, aku hanya menebak ", katanya lagi.


" Itu pasti ", potong Frans, membuat Gema kembali terkesiap," apa yang terjadi pada hubungan mereka Ayah, aku melihatnya tidak wajar... ".


" Itu bukan urusan kita ", kata Frans kembali memotong, " dan jangan bertanya hal itu pada istrimu ", sambungnya. Lalu, kembali melanjutkan langkahnya. Dan Gema tidak berusaha untuk mencegahnya. Ia, semakin penasaran saat itu. Tapi ia tidak akan menemukan jawabannya, dari Ayahnya. Ia yakin Ayahnya mengetahui segalanya, tapi menutupi darinya.


" Sebenarnya apa yang terjadi ? ", katanya dengan menghela. Saat ini, seperti sedang berhadapan dengan benang kusut. Ia menemukan pangkal dan ujungnya, tapi ia sulit melepaskan gumpalan pada benang itu. Seperti juga Rea dan Kris. Ia sangat yakin dengan hubungan darah, antara dua wanita itu, tapi ia tidak tahu apa yang sudah terjadi di antara keduanya. dan ia sungguh tidak bisa menebaknya.


~

__ADS_1


" Nona ", panggil Maria khawatir, saat melihat langkah kaki Rea yang begitu lemah. Dua hari terakhir ini, perempuan itu terlihat pucat, meski bibir ranumnya telah di lapisi pewarna bibir. Tak jarang, Maria mewakilinya di meja rapat.


" Anda yakin tidak ingin memeriksa kondisi anda ? ", katanya lagi. Rea hanya tersenyum hambar dan menggeleng. Lalu tetap melanjutkan langkahnya, untuk masuk ke dalam mobil. Ia mengidahkan ucapan Maria, padahal ia sendiri merasakan kondisinya tubuhnya yang lemah.


" Nona ".


" Aku baik-baik saja Maria ", sahutnya meyakinkan, dan Maria menutup mulutnya saat itu, walau tatapannya tidak berpaling. Ia terlalu khawatir, dan Rea terlalu lemah untuk di lihat.


Sepanjang perjalanan, Rea hanya diam. Memandang keluar jendela mobil, dengan pikirannya yang menerawang.


Saat itu, Gema hadir dalam bayanganya. Bahkan, seperti membuat tahtanya dalam pikiran Rea. Seperti tak ingin pergi, dan sepanjang hari Rea memikirkannya, meski pada kenyataannya, dia mengabaikan lelaki itu. Dan sesungguhnya, ia benci hal itu.


Dia merindukannya, bahkan hampir menangis setiap rasa itu hadir.


Ia ingin memeluknya, merengkuhnya di dalam pelukan. Tapi itu tidak mungkin. Tubuh lelaki itu bukan hak milik sepenuhnya. Gema milik Bella, bukan dia. Hubungan mereka hanya dalam perjanjian di atas kertas,dan di atas tempat tidur, ketika mereka ingin melakukannya. Karena hal itu alasan ia menikahi lelaki itu. Dan kini ia kalah.


Ia tidak lagi melihat lelaki itu, sebagai suaminya di atas kertas perjanjiannya. Dia mencintainya, dan ia tidak tahu kapan perasaan itu muncul, tiba-tiba saja dia begitu cemburu saat tahu lelaki itu bersama kekasihnya.


Dia tak membenci Gema, atau pun Bella. Perempuan itu tidak salah dalam hal ini. Kecewa di hatinya karena perbuatannya sendiri, mengingkari sesuatu yang tertulis,dan meruntuhkan kepercayaannya, bahwa dia tidak akan jatuh cinta lagi.


Sungguh, dia tidak menghindari Gema karena itu. Dia justru merindukannya, dan itu alasan ia menjauh. Sebab, jika dia terus bertemu lelaki itu, dia akan semakin jatuh cinta. dan ia tak mau itu terus terjadi.


Ia menghela dalam. Dan Maria mendapatinya saat itu. Bahkan, bukan hanya saat itu, tapi sudah beberapa hari itu terjadi. Semenjak malam di Bar, dan seterusnya perempuan itu tidak pernah terlihat baik-baik saja.


" Kita sudah sampai Nona ", ucapnya, saat mobil yang membawa mereka tiba di halaman rumah Rea.


Rea tak menjawab. Perempuan itu seperti terkesiap, ketika menyadari mereka sudah tiba di rumahnya. Ia sungguh tak menyadarinya.


Sebelum turun dari dalam mobil, Rea memandang pada salah satu mobil yang terparkir di halaman rumahnya, " di sudah pulang ", gumamnya cemas. Ia sungguh cemas, karena memikirkan akan bertemu lelaki itu.


Maria, menunggunya di sisi pintu mobil.


" Aku baik-baik saja Maria ", tukasnya tersenyum, dan selangkah kakinya baru berpijak, tubuhnya sudah hampir ambruk saat itu, beruntungnya, Maria ada di dekatnya.


" Aku akan memanggilkan dokter ", ucap Maria tegas. Tapi di tengah tubuhnya yang lemah, Rea tetap menggelengkan kepala, " aku baik-baik saja Maria. Aku hanya perlu minum vitamin ", katanya bersikukuh. Maria menghela menahan kesal, oleh sifat keras kepala perempuan itu.


Rose berlari menghampiri, " anda baik-baik saja ", tanyanya cemas. Dan Rea mengangguk, sambil berusaha untuk kembali berdiri tegak, " Tuan sudah pulang ? ", tanyanya,dan Bergantian Rose mengangguk, " Tuan pulang sangat awal hari ini ", katanya memberitahu.


Rea terdiam sejenak, " Tolong, bawakan selimut ke ruang kerja ku ", pintanya.


Rose dan Maria, sesaat saling melempar pandangan. Lalu ikut berjalan ketika langkah tubuh lunglai Rea, mulai berjalan menuju rumah.


" Bibi ", serunya, ia memutar tubuhnya perlahan, dan Rose mendekat, " apa yang anda butuhkan Nona ? ", jawabnya cepat.


" Aku ingin soup jagung ", pinta lagi. Dan bola mata Rose membesar saat itu, " Jagung ", ulangnya dengan dahi berkerut. Begitu pun Maria, ia menatap heran oleh permintaan Rea saat itu.

__ADS_1


" Hemm.. ", balas Rea mengangguk, " siapkan sekarang Bibi, saat ini aku sudah ingin memakannya ", katanya lagi, dan setelah itu, ia kembali berjalan menuju ruang tidurnya. Maria dan Rose, masih memandanginya. Menyadari langkahnya yang ragu, untuk terus berjalan ke kamar tidurnya.


Dan kemudian mereka kembali saling bertatapan, " sejak kapan nona suka jagung ? ", ujar Maria, dan Rose mengangguk, " itu yang aku pikirkan", katanya membenarkan. Ia adalah orang yang paling tahu tentang Rea, bahkan lebih dari perempuan itu mengetahui tentangnya sendiri. Ia tahu sekecil apapun yang perempuan itu sukai, begitu pun sebaliknya. Dan Rea tidak pernah suka makan jagung.


__ADS_2