KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Teman Sekolah Rea


__ADS_3

Sepasang manusia itu masih terus bergandengan tangan saat melalui para tamu undangan ,


beberapa orang menyapa dan terlihat begitu terkejut pada kedekatan Rea Dan Gema yang selama ini tidak pernah terdengar , tentu berada di sebuah acara yang sama serta gandengan tangan bukan sebuah kebetulan untuk dua orang manusia yang hanya berstatus sebagai teman , begitu pikir mereka.


" Hai Nona Rea " sapa seseorang tiba-tiba dan membuat langkah dua manusia itu terhenti.


" Oh hai Darrel " balas Rea sedikit terkejut dan tersenyum begitu manis.


Dahi Gema sedikit berkerut saat melihat Rea begitu bersemangat membalas sapaan dari laki-laki muda yang baru saja menyapanya , " tunggu sebentar Gem " ucap Rea seraya ingin melepas genggaman tangan mereka , namun itu tidak terjadi karena Gema tiba-tiba mengeratkan gengamannya dan menatap tanpa bicara saat Rea melihat ke arahnya , " bagaimana aku bersalaman dengannya jika tangan kita masih seperti ini " ucap Rea dan berhasil membuat genggamann itu melonggar.


" Hanya sebentar " tambahnya begitu lembut dengan bibir yang sedikit tersenyum namun terlihat begitu manis ,


ntah mengapa Gema merasa begitu senang saat mendengar kalimat singkat itu serta senyuman yang membuatnya merasa begitu di hargai pada saat itu.


" Kau juga disini " kata Rea pada temannya.


" Ya seperti yang kau lihat " balas Darrel tersenyum lalu mendekap tubuh Rea tanpa pamit terlebih dahulu pada pemiliknya , " bagaimana kabarmu ? " tanyanya di sela pelukan.


" Ba..ba baik , tentu sangat baik " balas Rea sedikit terkejut dan gugup bersamaan , " bagaimana denganmu ? " katanya kembali bertanya dan segera melepas pelukannya , ntah mengapa ia saat ini merasa tidak nyaman dengan pelukan yang baru saja terjadi meski itu sudah begitu sering di lakukan setiap kali bertemu dengan Darrel , teman laki-laki yang paling dekat dengannya selama dulu menjadi mahasiswa.


" Seperti yang kau lihat " balas Darrel.


" Ah kenapa aku tidak meneleponmu kemarin ! , mungkin kita bisa datang bersama ke pesta ini " keluh Darrel kecewa saat tahu Rea juga berada pesta yang sama dengannya.


" emmm.. Darrel " ujar Rea gugup , sambil melirik pada Gema yang masih berdiri tidak jauh darinya , " apa dia kekasihmu ? " tanya Darrel tiba-tiba dan itu cukup membuat Rea yang tidak fokus menjadi terkejut namun tidak berusaha untuk membantahnya ,


Ia hanya tersenyum kaku lalu kembali melihat pada Gema , " Gem... " panggilnya pelan.


" Ya " balas lelaki itu mendekat.


" Perkenalkan ini temanku Darrel " lanjut Rea ,


Darrel mengulurkan tangannya serta tersenyum pada Gema yang kini tengah menatapnya dengan lamat , " Darrel " ucapnya memperkenalkan diri.

__ADS_1


" Gema " balas Gema menyebut namanya dan sedikit tersenyum , dengan senyuman yang terlihat begitu dingin dan Darrel menyadari suasana itu , " saya teman sekolah Rea " katanya menjelaskan.


" Oh benarkah ? , saya calon suami Rea " balas Gema yang kali ini tersenyum dengan begitu bangga.


Mendengar itu mata Rea membesar , begitu juga Darrel yang langsung menatap tak percaya pada Rea , " benarkah Rea ? " tanyanya dan perlahan perempuan itu mengangguk pelan meski terlihat jelas ada ke bimbangan disana.


Darrel terdiam sejenak atas kabar yang baru saja ia dengar , perlahan ia menarik nafasnya sebelum kembali mengulurkan tangannya pada Gema , " Selamat untuk kabar bahagia ini , dan emmm.. tolong jaga temanku tuan Gema " ucapnya dan Gema mengangguk dengan cepat , " tentu " ucapnya begitu pasti.


" Ini sungguh menyejutkanku Rea " ujar Darrel yang kini kembali menatap tak percaya pada Rea dan belum sempat Rea berbicara kembali ia memeluk tubuh ramping itu , " Selamat , pastikan kau mengundangku di hari pernikahanmu nanti " ucapnya lalu melepas pelukan itu dengan tersenyum hambar.


" Pastikan kau tidak mengubah nomor teleponmu " balas Rea yang ikut tertawa hambar karena keadaan yang membingungkan untuknya dan ia menyadari ada kekecewaan dari sorot mata Darrel saat menatapnya , " baiklah sampai bertemu lagi " pamit Darrel padanya , lalu kemudian langsung meninggalkannya tanpa kembali mengucapkan apapun.


" Apa dia mantan kekasihmu ? " bisik Gema pada Rea yang masih menatap pada punggung Darrel yang baru saja meninggalkan mereka , " emmm.. bukan " sahutnya sedikit tersentak.


" Lalu ? " tanya Gema dengan begitu penasaran dan ingin tahu apa hubungan lelaki itu dengan calon istrinya.


" Dia sungguh hanya temanku " jelas Rea bersungguh-sungguh dan ia tidak menyadari kenapa harus begitu menjelaskan tentang hal itu pada Gema.


" Baguslah " balas Gema tersenyum lalu kembali menyelipkan jarinya di sela jari jemari tangan Rea , membuat wanita itu kembali terkejut dan menatapnya tanpa bicara , " ayo " ajaknya untuk kembali meneruskan langkah mereka menuju kamar hotel.


Ckrek


Ckrek


Ckrek


Suara Mode pengambilan gambar dengan lampu camera yang tiba-tiba tersorot secara bergantian ke arah Gema dan Rea , dan itu cukup membuat sepasang manusia itu terkejut , namun saat mencari siapa yang telah mengambil gambar , mereka tidak menemukan siapa pun disana.


" Apa kau merasa ada yang mengambil gambar kita Gema ? " tanya Rea sambil menghentikan langkah kakinya dan mengamati pada beberapa tamu undangan.


" Ya tapi biarkan saja , mungkin itu fhotografer dari acara ini " balas Gema santai lalu kembali berjalan membuat Rea harus menghentikan kecurigaannya karena kembali harus mengikuti langkah lelaki itu.


" Apa kau akan langsung pulang ?" tanya Gema saat mereka telah berada tepat di depan pintu kamar hotel Rea.

__ADS_1


" Sepertinya begitu ,besok pagi mendadak ada meeting yang harus aku hadiri " balas Rea,


Gema mengangguk pelan , " kalau begitu


Pulanglah bersamaku nanti " pintanya tanpa ragu , walau sebenarnya ada rasa tidak percaya diri dalam dirinya.


Rea kembali tersentak dengan jantung yang berdegub lebih cepat , " emmm.. baiklah " jawabnya yang terlontar dengan begitu saja tanpa berniat untuk menolak dan memastikan terlebih dahulu pekerjaan apa yang sudah terjadwal dalam agenda Maria untuknya nanti.


Bibir Gema melengkung dengan sempurna seraya melepas genggaman tangan mereka , " kita bertemu satu jam lagi " ucapnya tersenyum dan Rea mengangguk dengan pipih yang sedikit memerah.


" Sampai bertemu nanti " ucapnya pelan dan bergantian Gema yang mengangguk sambil melanjutkan langkahnya menuju kamar hotel yang hanya berada di sebelah kamar Rea.


Rea segera masuk ke dalam kamar hotelnya , menutup pintu lalu menyandarkan tubuhnya disana sambil memegang dada sebelah kiri yang berdegub dengan begitu cepat , " kenapa begitu mendebarkan " gumamnya tersenyum semuringah dengan pipih yang benar-benar merona.


Tanpa Rea sadari kini ada seseorang tengah melihat gelagatnya dengan menahan tertawa , " ternyata rencanaku tak sia-sia " ucap Maria sambil beranjak dari tempat duduknya dan berhasil membuat Rea terkejut dan hampir saja jantungan karenanya.


" Kau Maria " hardik Rea begitu kesal sambil mengatur nafasnya karena begitu terkejut.


" Maaf Nona " ucap Maria sembari terus tertawa.


" Maaf katamu , kau hampir saja membuatku jantungan "


" Benarkah ? , tapi jantung anda memang sudah berdebar sebelum aku mengejutkan anda " balas Maria tertawa sambil berjalan menjauh sebelum Rea berniat melemparnya dengan tas di tangannya.


" Kau memang asisten tidak tahu malu ya Maria , berani-beraninya kau mengejekku setelah membuat drama sakit perut untuk menipu Gema " teriak Rea sambil berlari mengejar tubuh Maria.


Maria semakin tidak bisa menahan ketawanya , " tapi rencanaku membuahkan hasilkan nona " katanya sambil berlari kesana kemari.


" Membuahkan hasil katamu hemm... " geram Rea , " kau tunggu saja aku akan memotong gajimu " ancamnya dan itu membuat Maria segera menghentikan langkahnya tak peduli jika perempuan itu akan mendapatinya dan memberikan pukulan , " tunggu nona itu tidak adil , bagaimana bisa anda memotong gajiku setelah aku membuat anda bahagia " protesnya dan membuat Rea ikut menghentikan langkahnya , " membuatku bahagia ? " tanya Rea tidak mengerti dan berpikir apa yang sudah terjadi dengannya.


" Ya , pipih merah anda menjelaskan semuanya " jelas Maria dan Rea segera menyentuh kedua pipinya , " merah ? "


" Hemm.. " sahut Maria mengangguk , " seperti orang jatuh cinta " lanjutnya dan itu membuat Rea terdiam dan menatapnya tanpa berkedip.

__ADS_1


Rea tidak percaya dengan perkataan Maria yang tengah menggambarkan tentang dirinya saat ini , " seperti orang jatuh cinta " ulangnya linglung , lalu bergerak menuju cermin yang tidak jauh darinya.


" Tidak tidak kau salah Maria , tidak mungkin aku sedang jatuh cinta " katanya membantah setelah melihat dirinya sendiri di hadapan cermin , meski ia tidak menampik jika pipinya kini tengah merona dan berangsur menghilang seiring rasa penolakan dari diri dirinya , kalimat jatuh cinta masih menjadi sebuah dongeng dalam kehidupannya dan sampai saat ini ia belum percaya dengan hal mustahil seperti itu.


__ADS_2