
Gema langsung berdiri, ketika dokter Calvin keluar dari dalam ruang rawat Rea. Dan dari sela pintu yang sedikit terbuka, dia melihat tubuh Rea yang tak sadar, terbaring di atas ranjang. Tampak lemah,dan begitu pucat. Saat itu, suasana hatinya berkecamuk. Ia sungguh mengkhawatirkan kondisi Rea. " bagaimana keadaan istri saya dok ? ", tanyanya cemas. Elba langsung beranjak dari duduknya. Begitu pun Rose dan Maria. Dan Frans yang kembali setelah pergi lebih dari tiga puluh menit. Dia melangkah tergesa-gesa ke arah Dokter Calvin dan Gema yang kini saling berhadapan. " Bagaimana keadaan menantu saya dokter ? ", tanyanya cemas. Tak kalah cemas dari putranya sendiri.
" Nona Rea hanya mengalami dehidrasi dan sedikit kelelahan " kata Dokter Calvin memberitahu. " dia baik-baik saja ", sambungnya. Hampir semua orang menarik nafas legah, kecuali Rose. Melihat Rea belum membuka matanya, hatinya belum tenang sepenuhnya. " Lalu kenapa nona saya belum bangun dokter ? ", tanyanya tak sabar. Ia tak bisa menyembunyikan kegusarannya.
Dokter Calvin tersenyum tenang. Berharap wanita itu ikut tenang saat itu. " saya memberinya obat penenang. Saat ini, dia hanya tertidur. Nona anda sepertinya tidak tidur dengan normal, akhir-akhir ini ", katanya menjelaskan. Dan saat itu, Rose sedikit menghela nafas.
" Anda sudah memastikan, tidak ada yang serius terjadi pada menantuku ? ", sergah Frans. Dokter Calvin mengangguk. " sungguh menantu anda baik-baik saja. Dia hanya kekurangan cairan dan kelelahan ", katanya menjelaskan kembali pada Frans. Wajah dokter Calvin terlihat semuringah saat itu. Dan Elba menyadarinya. " Apa ada sesuatu yang belum anda katakan ? ", katanya menela.
Gema langsung menatap pada wajah dokter Calvin, begitu pun semua orang. Pertanyaan Elva pada lelaki itu, membuat semua orang ikut penasaran. Dan Dokter Calvin, semakin tersenyum saat itu. " aku belum memastikan. Tapi mungkin, kalian akan mendapat kabar.... "
Bersamaan, suara langkah sepatu berlari terdengar. Semua orang menoleh pada suara, termasuk dokter Calvin, yang menghentikan kalimatnya karena hal itu. Maria tersentak. Nyonya Brookstein kini tengah berlari ke arah mereka. Begitu pun Rose, dia sangat terkejut melihat kehadiran wanita itu.
" Nyonya ", seru Frans memandang cemas. Tapi tak lebih cemas dari tatapan mata Kris saat itu. " Apa yang terjadi pada putriku. Bagaimana keadaannya ? ", cercahnya dengan nafas tersengal. Matanya terlihat memerah, dan semua orang menyadari, wanita itu baru saja menangis.
Tidak ada yang terkejut. Ketika Kris, menyebut putriku, saat itu. Hanya dokter Calvin. Dahinya berkerut, dan menatap kebingungan dengan kehadiran tiba-tiba, wanita terhormat itu di sana.
Maria dan Rose, sedikit terhenyak oleh kata-kata yang terlontar dari mulut Kris.
Untuk mereka yang berada bersama Rea, mengetahui sangat baik kisah menyedihkan hidup perempuan itu. Mendengar Kris, menyebutnya dengan putriku, membuat mereka sedikit kesal. Tapi rasa itu meredah, ketika menemukan tatapan, amat cemas di mata wanita itu.
Elba mendekat pada Kris. Dia tidak lagi terkejut pada kehadiran wanita itu disana. Dan dia tidak lagi menerka-nerka. Frans, sudah menceritakan semuanya. " Putrimu baik-baik saja, Nyonya Brookstein ", katanya begitu tenang, dan menggenggam dengan lembut tangan Kris. " Dia hanya kelelahan ", tambahnya. Kris menghela, dan mengusap matanya yang memerah, dan wajahnya sedikit tenang saat itu. Tak sepanik saat dia pertama sampai disana.
" Apa saya sudah bisa melihatnya ? ", tanya Gema. Dokter Calvin mengangguk. " tapi jangan sampai mengganggu tidurnya ", katanya memberitahu.
" Saya akan kembali, setelah hasil testnya keluar ", katanya lagi. Semua orang menatapnya tak mengerti saat itu. Kehadiran Kris, membuat mereka lupa, dengan apa yang akan di sampaikan oleh dokter Calvin tadi. Dan dokter Calvin tak berniat kembali memberitahunya saat ini. Dia terus berlalu, dan meninggalkan semua orang, yang masih menatap bingung padanya.
Gema tidak sabar ingin masuk ke dalam ruangan. Menjumpai lebih dekat, tempat istrinya tertidur. Dia perlu memastikan dengan yakin, bahwa nafas istrinya masih menderu dengan teratur. Dan saat itu, dia benar-benar akan tenang.
__ADS_1
Tapi tangan Frans menghentikannya. " Biarkan Nyonya Brookstein lebih dulu melihat istrimu ", titahnya. Saat itu Kris tersentak. " tidak Frans. Tidak apa aku melihatnya dari sini ".
" Masuklah. Lihatlah keadaan putrimu lebih dekat ".
Kris menelan ludah. Dan semua orang menatapnya. Mata coklatnya, menatap sendu pada tubuh Rea yang terbaring di atas ranjang. Rasa khawatir dan cemas, belum beranjak dari tatapannya. " segini saja sudah cukup Frans. Aku harus cepat pulang ", katanya lemah. Nadanya terdengar serak. " aku sudah tenang, dia sudah baik-baik saja ", katanya lagi. Bibirnya tersenyum getir, dan kakinya mulai beranjak untuk memutar tubuhnya saat itu. Sungguh, memastikan putrinya baik-baik saja, sudah cukup untuknya saat itu.
Rose bergerak dari tempatnya, lalu menghampiri Kris yang ingin pergi. " tolong temui dia sebentar saja Nyonya ", pintanya serak. Nadanya penuh permohonan, dan Kris menghentikan langkah kakinya yang baru beranjak beberapa langkah. " Semenit saja jika anda begitu sibuk ", katanya lagi. Air mata Kris tumpah saat itu juga. Meski dengan cepat ia menepisnya. Rose mungkin berpikir, dia tidak mengenalnya. Tapi Kris, mengenal perempuan itu dengan sangat baik. Bahkan jika saja ada kesempatan, dia ingin memeluk wanita paruh baya itu begitu erat. Mengucapkan kata terimakasih, yang tidak akan pernah cukup untuk membalas kebaikannya, karena telah menjaga putrinya.
" Sebentar saja. Saya mohon Nyonya ", kata Rose mengibah.
" Dia pasti senang karena anda telah menemuinya, Nyonya Brookstein ", kata Frans menimpali.
" Dia membenciku Frans ", kata Kris membalas. suaranya terdengar lirih dan semakin serak. Dan saat itu, tidak ada yang menyangkal ucapannya. " setidaknya, Anda akan merasa lebih tenang, jika memastikannya lebih dekat ", ucap Frans.
Sejenak menghening, dan beberapa detik kemudian, Kris memutar kembali tubuhnya. " aku takut dia terbangun, dan mengusirku pergi ". ucapnya lemah.
Dengan langkah lemahnya, Kris memberanikan diri untuk masuk ke dalam ruang rawat Rea. Tubuhnya bergetar saat itu dan jantungnya berdebar. Sekali lagi, ia kembali berada begitu dekat dengan putrinya. Tapi kali ini dia tak senang. Putrinya dalam keadaan tidak baik, dan ia menahan cemas.
Semua orang di luar ruangan memperhatikannya, yang kini tengah berdiri begitu dekat dengan tubuh Rea yang tertidur. Ingin sekali tangannya bergerak mengusap wajah pucat perempuan itu. Mengecup pipinya, dan berbisik dengan lembut di telinganya. Tapi Kris takut. Dia begitu takut, perempuan itu akan terbangun dan menyuruhnya pergi.
Air matanya berlinang tanpa tertahan. Kini ia bisa menatap dengan begitu dekat wajah dewasa putrinya. Wajah yang tidak pernah ia tatap sebegitu dekatnya seperti saat ini. Hatinya teriris. Dia melewatkan banyak waktu, sampai wajah mungil putri kecilnya kini berubah dewasa.
Lentik bulu mata perempuan itu, masih sama seperti dulu. Seperti saat masih berada di dalam pelukan Kris, di bawah cahaya redup lampu di Flat kecil tempat tinggal mereka dulu. Kris selalu memandanginya ketika dia tertidur, dan Kini ia masih mengingat jelas ketika saat terakhir kali ia menatap wajah mungil itu. Wajah yang kemudian tidak pernah lagi ia lihat.
Air matanya semakin tumpah tak tertahan. Dadanya begitu sesak, sampai membuatnya sulit bernafas. Mengapa takdir mereka begitu buruk. Mengapa keadaan harus serumit ini. Kris tak pernah menginginkan ini terjadi. Dia menyayangi putrinya, sangat menyayangi putrinya. Berhari-hari dia mencari keberadaan putrinya saat itu. Lalu berganti bulan dan kemudian berganti tahun. Tapi Rea kecil tak pernah kembali kepelukannya. Keberadaan Rob yang membawa putrinya pergi, tak pernah bisa di temukan.
Sungguh hanya demi Rea dia bertahan hidup. Hanya untuk bertemu dengan putrinya dia bertahan dari kehancurannya. Kehilangan Rea kecil membuatnya tak berdaya. Dia hancur, sehancur-hancurnya saat itu. Hidupnya tak berarti apapun. Tapi Laem menjanjikan segalanya. Rea kecil pasti akan kembali kepelukannya, Itu pasti, seperti itu janji Laem saat itu.
__ADS_1
Laem lah yang selalu menguatkannya. Memberinya harapan, bahwa putrinya pasti akan kembali. Seolah menyiraminya dengan air, di tengah hidupnya yang tandus. " Kelak kita akan merawat putrimu. Membesarkannya dengan sangat baik. dan aku akan memberikan kehidupan yang indah untuknya. Aku berjanji Kris. Bertahanlah ", ucap lirih Laem. Menggenggam erat tangannya yang terkulai lemah di atas ranjang. Satu minggu pria itu, pergi ke Australia untuk menyelesaikan proyek Kincir Angin yang di ciptakannya. Dan selama itu, Kris tidak memasukan apapun ke dalam tubuhnya. Sepanjang hari, dia hanya duduk di pinggir jendela besar di kamarnya, yang menghadap ke arah gerbang. Menanti orang kepercayaan Laem yang bertugas mencari putrinya datang, memberi kabar. Tapi, satu minggu itu, tidak ada satu pun orang yang datang membawa kabar tentang putrinya. Justru ia kehilangan kesadaran. Terakhir kali yang dia ingat. Dia menatap bulan dan bintang di langit gelap. Satu bintang yang selalu berada dekat dengan bulan. " Ini Ibu ", katanya menunjuk bintang. Suaranya tersendat. " Dan ini Rea ", tunjuknya pada bulan. Air matanya mengalir deras saat itu. Kerinduan pada putrinya menggumpal besar di dadanya. " Bintang, tidak akan pernah meninggalkan bulan sendiri ", katanya lirih. Dan setelah itu kesadarannya menghilang. Ia terbangun, ketika air mata Laem jatuh di telapak tangannya. Kalimat lirih yang lelaki itu ucapkan, seperti memberi harapan hidup padanya. Dan janjinya, membuatnya bertekad untuk bertahan. Dia yakin, lelaki itu akan membawa putrinya kembali. Lalu beberapa bulan kemudian mereka menikah. Tepatnya, Laem menikahinya.
Ia tak pernah tahu seperti apa keluarga lelaki itu,dan bagaimana kehidupan mereka.
Kris hanya percaya satu hal. Lelaki itu akan menjaganya. Mencintainya dengan sepenuh hati. Seperti janji lelaki itu, sebelum menikahinya.
Dan sekarang ia tak mungkin menyesali hal itu. Menyesali pernikahan yang akhirnya membuat dia tidak bisa menemui putrinya. Lelaki itu menepati janjinya. Mencintainya dengan sepenuh hati sampai saat ini. Dan menemukan keberadaan putrinya. Semuanya lelaki itu tepati. Hanya saja, kini keadaannya yang berubah. Dia bukan lagi tidak menemukan putrinya, tapi Keluarga Brookstein, tak pernah mengijinkan mereka untuk bertemu. Putrinya tak akan pernah di ijinkan masuk ke dalam keluarga itu. Bahkan, tak ada satu pun orang yang boleh tahu tentang keberadaan putrinya itu. Menikahi seorang janda, adalah kesalahan terbesar yang telah Laem lakukan. Dan perceraian tak pernah terjadi di keluarga Brookstein. Jadi Kris tak pernah bisa melakukan apapun, selain bertahan dalam kerinduan pada putrinya. Pernah sekali ia nekat untuk menemui Rea kecil, dan kali pertama itu juga dia, di ketahui oleh ibu Laem. Orang yang paling berkuasa dalam keturunan keluarga bangsawan, Brookstein.
" Kau ingin tetap melihatnya hidup. Atau dia akan kembali menghilang Kris. Kau tentukan ", ancam Ibu Laem pada saat itu. Kris masih mengingat jelas kalimat itu dalam benaknya sampai kini. Tatapan tajam, mata Madam Brookstein saat menatapnya. Wajahnya memerah menahan kemarahan padanya. " Bahkan kau tahu ", titahnya kembali. " Kau hanya akan menghancurkan putrimu sendiri Kris. Menemuinya, sama saja kau menghancurkan masa depannya. Media akan mendapatinya, dan itu akan menjadi aib. Dan dia tidak akan pernah hidup tenang setelah itu ", katanya lagi, sebelum dia pergi dengan kemarahannya. Kris terisak saat itu juga. Tangisnya pecah, dan luka di hatinya semakin menganga. Kenapa takdir hidupnya dengan Rea begitu buruk. Kenapa mereka begitu tidak beruntung. Dan kenapa takdir, membuat mereka terpisah. Rea putrinya, darah dagingnya yang ia lahirkan dengan nafas tersengal. Dengan peluh yang bercucuran. Dengan hampir tidak sadarkan diri, ketika tubuh bayi Rea di tarik keluar dari ***********. Itu sangat menyakitkan, di tengah kesulitan hidupnya saat itu. Bahkan selain air susunya, ia tidak tahu, akan memberi makan apa lagi pada tubuh putrinya saat itu.
Tapis suara tangis Rea kecil, menyadarkannya. Menghilangkan rasa sakit dari robek pada bagian tubuhnya. Membuatnya semangat untuk kembali hidup, dari nafasnya yang semakin melemah. Air matanya mengalir. tepat di saat air mata Rea kecil mengalir saat itu. Ntah mukjizat seperti apa yang terjadi. Bayi, berusia dua menit itu mengeluarkan air mata. Seperti mengerti tangisan ibunya.
Kris berjanji saat itu. di tengah tarikan nafas lemahnya. Di tengah kesakitannya. Dia berjanji, dia akan hidup, dia akan bertahan demi putrinya. Apapun yang kelak akan terjadi. Dia akan selalu bertahan demi putrinya, sesakit apapun itu.
Tapi kenyataannya. Takdir selalu membuat mereka berpisah. Takdir selalu memberi penghalang untuk mereka bersatu. Takdir menyakiti mereka berdua.
Kris terisak. Terisak hebat di hadapan wajah putrinya yang tertidur. Putrinya yang sudah dewasa. Putrinya yang begitu selalu ingin dia peluk begitu erat. Putrinya yang selalu ia rindukan sepajang malamnya. Dan setiap kali menatap bulan dan bintang. Dia selalu berkata. Bintang tidak akan pernah meninggalkan bulan sendiri . Katanya lirih. Kalimat yang ia gumamkan jutaan kali di sepanjang tahun, di sepanjang dia tidak bisa memeluk putrinya. Di sepanjang dia merindukan putrinya.
Tangisnya semakin pilu. Memandangi wajah tertidur Rea, membuat luka di hatinya menganga kembali. Ia melewatkan banyak hal, sampai wajah mungil itu, kini berubah dewasa. Padahal ia masih mengingat jelas, ketika memeluk tubuh Rea kecil saat terakhir. Saat dia menangis sampai tertidur di pelukannya. Menangisi dirinya, yang baru saja di pukul oleh Rob. Rea kecil selalu mengerti ibunya. Seolah dia selalu bisa merasakan, apa yang di rasakan oleh Ibunya. Pelukan itu masih terasa hangat sampai kini, pelukan yang selalu Kris rindukan sepanjang malam.
Tangannya bergerak tanpa sadar ke wajah tidur Rea. Mengelusnya dengan begitu lembut, di tengah air matanya yang berderai hebat. " maafkan ibu ", ucapnya lirih. " maafkan ibu ", ulangnya. Dan saat itu, tiba-tiba mata tidur Rea bergerak. Air mata menetes dari mata terpejamnya, tepat di telapak tangan Kris.
Kris tersentak. Air mata perempuan itu membuatnya terkejut. Lebih terkejut karena ternyata tidak ada yang berbeda. Rea masih seperti putri kecilnya dulu. Yang menangis ketika dia menangis.
Kris mendekap mulutnya. Tangisnya semakin pecah saat itu. Dan ia memilih untuk meninggalkan ruangan itu. Membawa tangisannya pergi.
Frans bergerak mencegah langkahnya. " aku harus pergi Frans. Dia akan menangis, jika aku terus berada disini ", ucapnya tersendat. Semua orang menatap pilu padanya. Bahkan Maria, menyeka matanya saat itu. Melihat tangisan Nyonya Brookstein dari balik kaca, membuat hatinya merasakan perih. Air matanya mengalir tanpa bisa di tahan.
__ADS_1
" Tolong jaga putriku ", pinta Kris. Sebelum benar-benar pergi dia masih sempat mencari, keberadaan tubuh Gema. Belum sempat lelaki itu menjawab. Kris sudah berlalu, membawa isak tangisnya. Dan bersamaan dokter Calvin kembali.