KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Sabar. Oke !


__ADS_3

Baru saja Gema melangkah keluar dari kamar mandi, Rea langsung menyerobot masuk ke dalam. Lalu menutup pintu dengan begitu rapat.


" Ceh " decih Gema tersenyum, " Kenapa dia begitu, bukankah aku sudah pantas melihatnya " gumamnya, lalu kembali membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur seraya memejamkan kembali matanya, sembari menunggu Rea keluar dari dalam kamar mandi.


Gema kini gusar di dalam pembaringannya. Mata terpejamnya di buat kacau oleh bayangan tubuh tanpa busana milik wanita yang baru saja di nikahinya, " hei, tolong bekerja samalah " pekiknya pada pikirannya. seraya menghela nafas begitu kasar.


Selang beberapa saat ia kembali duduk ke sisi tempat tidur dan melihat pada pintu yang masih belum terbuka, " bisa gila aku seperti ini " keluhnya semakin risau, oleh pikiran nakal yang tidak berhenti bermain di kepalanya.


Di dalam kamar mandi. Rea kini diam mematung menatap pada pakaian yang tergantung di hadapannya, " shittt " umpatnya prustasi, bersama pipih yang kini sedikit memerah.


Bagaimana tidak, kini lingerie berwarna merah dan hitam terpampang di hadapannya, bulu tubuhnya bergidik membayangkan, ia akan mengenakan pakaian itu malam ini.


" Ya Tuhan, kenapa aku begitu bodoh. Sampai tidak berpikir kalau aku tidak membawa apapun kemari " pekiknya semakin kesal setelah menyadari ia benar benar hanya membawa tubuhnya kemari, bersama gaun pengantin.


Rea menghela nafas kasar. Berulang kali ia mencoba mencari jalan keluar untuk masalahnya kali ini. Namun otak cerdasnya tidak bisa memberi solusi apa-apa dan tidak ada Maria juga saat ini, " Maria aku akan benar-benar mengutukmu " teriaknya tertahan.


" Oh God, apa aku benar benar akan menggunakan ini " sambungnya, sambil kembali menatap pakaian di hadapannnya. Ia benar-benar putus asa saat ini, karena tidak ada pilihan untuknya, kecuali jika ia ingin menggunakan handuk di tubuhnya saat ini, sampai pagi.


~


Klek


Pintu kamar mandi terbuka.


Mendengar suara itu cepat cepat Gema kembali membaringkan tubuhnya seraya memejamkan kembali matanya. Ntah mengapa ia menjadi merasa malu untuk bertemu Rea.


Perlahan Rea mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi, " ah untunglah " gumamnya saat melihat Gema kini terpejam di atas tempat tidur.


Dengan cepat ia bergegas menuju ke sisi tempat tidur lainnya.


Membaringkan tubuhnya disana dan membungkus dirinya dengan begitu rapat dari balik selimut.


Ia tak lagi menyayangkan kelopak mawar yang terlempar kemana-mana karena ulahnya, yang terpenting kini, tubuh setengah telanjangnya telah aman.

__ADS_1


" Aku akan memotong gajimu Maria " pekiknya, tidak berhenti kesal pada asistennya.


Perlahan Gema kembali membuka matanya, dan mencuri pandang pada tubuh yang kini berbaring memunggunginya.


Lama ia menatap pada tubuh itu, sampai tubuh itu bergerak, dengan cepat ia mengalihkan pandangannya.


Rea menutup rapat matanya saat merasakan tempat tidur bergerak oleh Gema yang beranjak dari sana. Ntah kenapa jantungnya kembali berdebar kala itu.


Dan matanya baru terbuka, setelah suara pintu kamar mandi tertutup.


" Huh " serunya menghela nafas sembari menarik tubuhnya untuk duduk.


Perlahan ia membuka selimut yang membalut tubuhnya, " shiitt " pekiknya semakin gila, saat kembali melihat tubuhnya yang terbalut pakaian begitu minim. Bahkan sangat minim, seperti tidak ada yang tertutup dari bagian tubuhnya.


" Jika ini adalah rencanamu Maria. Akan aku potong habis gajimu bulan ini " geramnya semakin kesal.


Raut wajahnya kembali prustasi saat kembali melihat bagian tubuhnya, " aku tak ubah seperti wanita panggilan " gumamnya.


Klek


Gema kini berdiri di ambang pintu kamar mandi bersama rambut yang basah, serta celana pendek yang hanya menutupi tubuhnya saat ini, " ayah memang gila " gumamnya, seraya menatap tubuh yang kini terbaring di atas tempat tidur.


Dirinya sudah mengetahui, bahwa tubuh wanita itu kini hanya terbalut lingerie. Sebab ia sudah melihat tidak ada pakaian yang normal, yang disediakan untuk mereka di sana, " rencanamu di luar batas ayah " gumamnya lagi, dan perlahan langkahnya bergerak ke tempat tidur.


Tidak ada yang bisa ia lakukan selain ikut berbaring di sisi perempuan itu.


Sementara pikirannya, sudah di kacaukan oleh kekesalan pada Ayahnya.


Perlahan matanya terpejam karena tubuh yang begitu lelah, seketika ia lupa kalau malam ini adalah malam yang memiliki kesan di dalam pernikahannya yang baru saja terjadi. tapi Gema lupa akan hal itu, atau sengaja ia melupakannya, karena ia sendiri bingung bagaimana harus memulai.


Rea menggeliat di tengah tidurnya karena rasa dingin yang menjalar. Bagaimana tidak, selimut yang menutupi tubuhnya kini tersibak ke ujung kaki, membuat tubuhnya tidak lagi tertutup apapun lagi, selain kain transparan.


Dan perlahan mata Gema ikut terbuka, tidurnya terganggu oleh gerakan tubuh Rea.

__ADS_1


Matanya membulat sempurna saat menemukan ada seseorang di sisi tempat tidurnya, " astaga " serunya pelan, setelah menyadari wanita itu adalah istrinya. Sesaat ia lupa kalau saat ini, dirinya adalah laki-laki beristri.


Di pandangnya tubuh yang tertidur begitu pulas dan sesekali menggeliat kedinginan. Matanya kini terkunci memandang setiap jengkal tubuh di hadapannya, sejenak Gema menelan ludah, lalu dengan cepat menutup tubuh itu dengan selimut, sebelum hawa nafsu semakin menguasai pikirannya.


" Aku benar-benar akan gila " gumamnya semakin prustasi.


Ia menarik panjang nafasnya sebelum akhirnya memilih untuk kembali tidur, meski kini ia harus bertarung dengan pikirannya saat ini, " Tidak malam ini. Oke, bersabarlah " gumamnya.


Baru saja ia ingin memejamkan matanya, tiba tiba tubuh tanpa bajunya di himpit oleh sesuatu.


Gema jelas menyadari apa yang kini tengah menyentuh kulitnya, perlahan matanya kembali terbuka.


Deg


Jantungnya berpacu begitu cepat saat menemukan wajah yang kini hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Bahkan ia bisa mendengar dengkuran halus dan nafas yang berhembus teratur menerpa wajahnya.


Dan tanpa rasa bersalah tubuh itu semakin menghimpit ke arahnya, meminta kehangatan.


Kulit demi kulit kini semakin bertemu, bahkan tubuh mulus itu kini meringkuk di dada bidangnya.


Gema menahan nafas, jantungnya semakin berpacu begitu cepat, bahkan sangat cepat. sampai rasanya tidak mungkin saat ini, ia akan bertahan.


" Rea kau benar benar mengujiku " pekiknya tertahan, tanpa sadar kini bibirnya sudah bergerak begitu dekat pada bibir ranum di hadapannya. Namun, ntah kenapa saat itu juga ia tersadar dengan perbuatannya, " tidak Gema tahan. Kau tidak boleh gegabah, dia istrimu tapi tidak ada kepemilikan dari tubuhnya untukmu ".


" Sabar oke. Ini pasti terjadi " lanjutnya. Namun ucapan itu tak selaras dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Matanya tak berhenti menatap pada wajah di hadapannya dan setiap jengkal pada tubuh itu.


Glek


Gema kembali menelan paksa ludahnya, menahan rasa gejolak dalam dirinya, " sabar oke " ulangnya untuknya sendiri.


Kembali di tutupnya tubuh Rea yang terbuka. Namun, ia tak berusaha menjauhkan tubuh itu darinya. Meski harus menahan setengah mati tapi Gema memilih menikmati sentuhan kulit mereka.


Dan tanpa sadar kini perlahan matanya kembali terpejam, dengan tangan yang memeluk erat tubuh di sisinya.

__ADS_1


Sementara Rea, ia tidak lagi menyadari seperti apa tubuhnya kini dan bagaimana. Yang ia rasakan tidurkan semakin nyaman di tempat yang terasa aman. dan ini pertama kalinya ia merasa terlindungi di dalam tidurnya.


Bibirnya tersenyum, saat menemukan bidang hangat untuk tubuhnya dan selama itu, ia merasa begitu tenang.


__ADS_2