
" Tuan Gema ", panggil dokter Calvin menghampiri. Di tengah ketertegunan semua orang yang sedang menatap punggung Kris yang baru saja pergi. Lelaki itu terkesiap, dan sedikit heran dengan tatapan dokter Calvin padanya. " Ya dokter ", balasnya heran dan sedikit cemas. Ia cemas, dengan apa yang akan di katakan lelaki separuh baya itu padanya.
Frans menjadi penasaran, dengan kembalinya dokter pribadinya itu di antara mereka. " ada apa dokter ? ", tukasnya. Saat itu, Elba, Rose dan Maria ikut mendekat.
Dokter calvin melebarkan senyumnya. Lalu kemudian, mengulurkan tangannya pada Gema. Saat itu, semua orang belum mengerti, dan saling menatap kebingungan.
Gema yang juga belum mengerti, membalas uluran tangan lelaki itu, dengan dahinya yang sedikit berkerut. " Selamat Tuan... ".
Belum selesai Dokter Calvin bicara. Maria sudah mendekap mulutnya. Dia sudah bisa menebak, apa yang akan di katakan lelaki itu. Dan hampir saja dia histeris saat itu juga. Namun, tertahan oleh kedua tangan yang mendekap mulutnya begitu rapat.
" sebentar lagi anda akan menjadi seorang Ayah ", kata Dokter Calvin. Suasana sekejap menghening. Dengan semua mata yang terbelalak, karena belum percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. " Maksud anda, istri saya sedang hamil ? ", tanya Gema memperjelas. Pertanyaan itu, seperti mewakilkan semua orang.
Dokter Calvin mengangguk. dan saat itu juga, semua orang berteriak histeris. Bahkan Frans, langsung memeluk tubuh Gema. Memeluknya dengan begitu erat. " Jaga menantu dan calon cucuku nak ", katanya serak. Gema belum sempat menjawab keinginannya, tapi Frans sudah menarik diri dari pelukan mereka. Gema, melihat mata lelaki itu memerah. Hatinya menghangat, dia tahu, ayahnya pasti sangat bahagia dengan kabar ini.
Kedua orang tuanya berpelukan di hadapannya. Elba memeluk Frans dengan senyum yang mengembang. " kita akan punya cucu ayah ", serunya begitu senang.
Suasana di tempat itu, begitu kontras dengan apa yang baru saja terjadi beberapa menit yang lalu. Semula mereka menangis karena melihat kesedihan kris. Lalu sekarang mereka bahagia, karena kabar baik yang di sampaikan dokter Calvin.
Rose dan Maria saling berpelukan. Mereka menangis, tapi juga tersenyum. Kabar kehamilan Rea benar-benar berita yang membahagiakan untuk mereka berdua. Orang yang selalu bersama dengan perempuan itu.
Gema jangan tanyakan lagi bagaimana dia bahagianya saat itu. Senyumnya mengembang. Jika, saja garis bibirnya bisa di tarik lebih lebar lagi. Mungkin senyumnya akan sebesar bulan sabit saat itu. Ia sungguh bahagia dengan berita baik ini. Ia tak menyangka akan menjadi seorang Ayah secepat ini.
Elba menangkap tubuhnya, memeluknya tak kalah erat dari Frans. " Selamat nak ", serunya begitu gembira. " Sebentar lagi Mami akan menjadi seorang Nenek dan kau menjadi seorang Ayah ", sambungnya.
" Ya Mam ", kata Gema, seraya membalas pelukan ibunya. Senyumnya mengembang seperti senyum Elba saat itu. dan tiba-tiba, Frans menimpali pelukan mereka. Tanpa bicara, tapi pelukannya begitu hangat di rasakan oleh Gema.
Dokter Calvin yang masih berada disana, tak berhenti tersenyum. Kebahagiaan semua orang, seolah menular padanya. " umur kehamilan istri anda masih sangat muda. Janin itu, bahkan belum membentuk dengan sempurna. Tapi sudah bisa terdektesi ", katanya memberitahu Gema. " jadi jaga istri anda dengan baik. Pastikan dia makan yang teratur dan istirahat yang cukup ".
" Jangan khawatir dokter, kami akan menjaganya ", kata Maria menimpali. Sebelum Gema bicara. " banyak orang yang menyayangi istri saya dokter ", ucapnya tersenyum.
__ADS_1
" Tapi kasih sayang anda jauh lebih penting ", potong dokter Calvin. dan senyum Gema, terlihat sedikit getir saat itu. " Perhatian anda berpengaruh pada perkembangan janin di perutnya nanti. Gumpalan darah yang belum di beri Nyawa itu, akan cepat berkembang, jika suasana hati ibunya senang. Jadi pastikan, istri anda dalam keadaan selalu baik ", sambung Dokter Calvin. Gema mengangguk.
" Jangan khawatir Dokter. Kami pasti akan menjaganya dengan baik ", kata Frans menimpali.
Gema, kini tinggal sendiri di dalam ruang rawat Rea. Semua orang, telah di mintanya pulang untuk beristirahat.
Semula Rose bersikukuh untuk tetap tinggal disana. Tapi Gema menyakini, bahwa dia akan menjaga Rea dengan baik, dan perempuan itu, tak perlu terlalu cemas untuk meninggalkannya.
Bahkan, sebelum Elba dan Frans pergi. Dua manusia paruh baya itu tak berhenti mengecup pipi Rea yang masih tertidur. Sampai membuat Gema sedikit kesal, karena takut perempuan itu terbangun. Tapi kemudian ia tersenyum. Melihat wajah bahagia kedua orang tuanya, membuatnya menghangat. " Yah, Rea akan terbangun, kalau kalian terus mencium pipinya ", katanya protes.
Sungguh, semua orang seperti tak ingin meninggalkan ruangan itu. Mereka ingin terus bersama Rea, menemani perempuan itu sampai dia terbangun. Jika saja, Gema tidak memintanya pulang, mungkin Maria, akan memilih tetap disana sepanjang malam. Padahal sorot matanya sudah terlihat sayu, karena menahan kantuk dan kelelahan.
Kini Gema tinggal sendiri di dalam ruangan. Dan dia punya banyak waktu untuk menatap wajah perempuan itu. Dia tak perlu lagi berbagi dengan kedua orang tuanya, dan juga Rose dan Maria.
" Dewi di Pura itu benar-benar mengabulkan doamu ", katanya, mengajak perempuan yang masih tertidur itu bicara. Dia tersenyum setelah mengatakan itu, lalu kemudian jemarinya bergerak mengibas anak rambut yang sedikit menutupi wajah tenang Rea.
Perempuan itu meringis seperti kesakitan, dan terdengar sangat pilu.
Rose yang kemudian menyusul masuk, langsung menghampiri ranjang Rea. " Nona pasti sedang mimpi buruk ", katanya cemas. Dia tidak membangunkan perempuan itu, hanya menggenggam tangannya dengan begitu hangat. " Saya disini Nona. Anda tidak sendiri. Bahkan semua orang ada disini untuk anda ", kata Rose dengan begitu lembut. Matanya berkaca-kaca saat mengatakannya, lalu menggenggam tangan itu semakin erat. Seperti yang biasa dia lakukan, ketika menemukan Rea seperti itu. Dan selalu berhasil. Tidur Rea kembali tenang setelahnya.
Tapi kali ini, hal itu sedikit tidak berhasil. Rea masih meringis dalam tidurnya, dan air matanya masih mengalir. Semua orang menatap cemas dan kebingungan. Bahkan, Elba, turut menggenggam tangannya yang lain saat itu. Mengikuti seperti apa yang di lakukan Rose. " kami semua disini nak. Kau tidak sendiri ", katanya bergumam. Tapi, kalimatnya seperti juga tidak berarti. Padahal sudah kedua tangan perempuan itu di genggam oleh lain orang.
Gema panik. Ini kedua kalinya dia melihat perempuan itu meringis di dalam tidurnya. Dia panik, karena tak tahu melakukan apa, untuk menenangkan tidur perempuan itu. Sementara hatinya perih, melihat Rea terus seperti itu.
" Apa sebaiknya, kita panggil dokter Calvin kembali ", sergah Frans. Ia tak kalah panik dari yang lain. Ini pertama kalinya dia melihat perempuan kesayangannya itu, begitu. Dan dia tak tega untuk terus melihatnya. Tangis tidur Rea, terlalu memilukan untuk di dengar.
" Tunggu sebentar Tuan ", kata Rose mencegah. " Sebentar lagi dia pasti akan tenang ", sambungnya.
" Apa selalu seperti ini ? ", sergah Elba, dengan melempar tatapan cemas. " Tidak juga. Hanya sesekali, ketika dia bermimpi buruk, atau ketika dia merindukan Ibu.... ". ucapan Rose terhenti. Saat itu, semua orang ikut terdiam. Alasan kenapa perempuan itu kini meringis dalam tidurnya, tidak lagi perlu untuk di pertanyakan. Mungkin tangis Kris tadilah, yang membuat perempuan itu ikut menangis dalam mimpinya.
__ADS_1
Semua orang disana, kini tahu. Bahwa, batin dua wanita itu saling terikat. Saling terhubung erat meski hubungan mereka memiliki jarak. Ikatan, yang di ikat dengan darah, tentu tidak akan pernah pudar sampai kapan pun. Tidak akan pernah bisa di hapus, meski kebencian menggerogotinya sepanjang tahun. Batin Seorang Ibu pada anaknya, tidak akan pernah pudar oleh apapun. Tepat seperti hari ini, di dalam ruangan itu, mereka menyaksikannya. Dua orang yang sudah di pisahkan oleh takdir sepanjang tahun. Saling merasakan kesedihan, meski di tempat yang berbeda.
Rea masih juga belum tenang. " Nyonya Brookstein, pasti masih menangis ", ucap Elba.
Frans menghela. Dia satu-satunya orang yang mengetahui kesedihan dari keduanya. Hatinya hancur, menjadi saksi bisu dari kisah pilu, ibu dan anak itu. Sangat menyakitkan untuknya. Bahkan melihat kejadian hari ini, lebih menghancurkannya.
Seandainya saja, dia memiliki kuasa lebih dari yang di miliki keluarga Brookstein, mungkin sudah dari dulu, dia mempersatukan ibu dan anak itu kembali.
Tapi dia tidak bisa melakukan apapun. Kekuatannya tidak sebesar itu. Dia harus menanggung banyak resiko, jika berani berurusan dengan keluarga Bangsawan yang paling berpengaruh di negara Inggris.
Jadi yang bisa dia lakukan, hanya menjaga Rea, melindunginya, Sesuai permintaan Laem dan Kris saat dulu. Lalu yang terjadi, dia justru menjadi menyayangi perempuan itu, menyayanginya seperti putrinya sendiri. Mencintainya dengan sepenuh hati. Rea gadis malang, yang di hancurkan oleh takdir hidup yang tak adil.
" Tolong kembalikan keadaan mereka Tuhan ", gumamnya berdoa, saat hatinya semakin perih, oleh suara Rea yang masih terus meringis di tidurnya.
Rose melepas genggamannya. Dia beranjak dari duduknya, demi mencapai gelas di meja sudut ruangan. Mungkin, memberi minum pada perempuan itu, bisa menghentikannya. Dan tidurnya kembali tenang.
Tapi saat Rose beranjak. Gema, menggantikan tempatnya. Menggenggam tangan Rea seperti yang di lakukan oleh Rose dan Ibunya. Dia tidak bisa hanya berdiri tenang, saat melihat perempuan itu, nampak memilukan. " kau tidak sendiri Rea ", bisiknya ke telinga perempuan itu. " Aku disini.... "
Belum sempat Gema melanjutkan kalimatnya, wajah Rea bereaksi. Dahinya tidak lagi berkerut, dan suara ringisannya, perlahan mengecil.
Semua orang yang berada disana terkesiap saat itu. Bahkan Rose, tak lagi melanjutkan langkahnya, untuk mengambil segelas air putih. " Aku tidak akan kemana-mana ", kata Gema melanjutkan. Air mata yang mengalir di wajah Rea, berhenti menetes saat itu juga. Tidurnya perlahan mulai tenang.
Semua orang menarik nafas legah, lalu tersenyum. " ternyata, harus tangan suaminya ", sergah Elba. Sebenarnya itu kejadian yang mengharukan, tapi juga sedikit lucu, untuk menjadi alasan semua orang tersenyum di tengah perasaan getir karena keadaan perempuan itu. " kau harus terus menggenggam tangan istrimu ", titah Frans pada Gema. Dan Gema hanya mengangguk tersenyum.
Dan itu benar terjadi. Dia masih terus menggenggam hangat tangan perempuan itu, meski hanya tinggal dirinya sendiri di dalam ruangan.
" Aku berjanji akan menjagamu Rea. Aku juga akan menjaga anak kita ", ucapnya penuh senyuman. Namun beberapa detik kemudian senyum itu meredup. Bahkan suasana hatinya yang semula sangat bahagia, berubah drastis saat itu. Saat dia mengingat isi perjanjian dalam kontrak pernikahan mereka. Genggamannya di tangan Rea terlepas, saat menyadari kenyataannya yang harus di terimanya setelah ini. Dan saat itu dia tersadar. ternyata dia tidak siap menerimanya. Tidak siap, jika pernikahan yang baru di mulai beberapa hari itu, akan segera berakhir. Sungguh, dia tidak siap.
Bahkan, saat membayangkannya saja, hatinya sudah merasakan begitu perih.
__ADS_1