KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Dia kenapa ?


__ADS_3

" Maaf " ucap Tama sembari duduk di kursinya semula.


Rea tak bergeming, dengan berpura-pura menikmati makanannya, " Kau suka ? " tanya Tama padanya.


" Hemmm.. " sahutnya singkat, setelah itu kembali menyuapi steak yang sebenarnya sudah terasa hambar di mulutnya.


Setelah itu suasana menghening. Gema terasa amat canggung untuk kembali berbicara melihat Rea yang hanya diam.


" Apa kau ingin sesuatu dari hidangan penutup ? " tanyanya berusaha untuk mengembalikan suasana.


Rea menggelengkan kepala, " bisakah kita pulang ? " ucap perempuan itu.


" Kau lelah ? "


" Hemm.., tiba tiba aku begitu ngantuk " sahut Rea berbohong.


Sebenarnya rasa kantuk itu sama sekali tidak ada, hanya saja suasana hatinya tidak lagi seperti tadi.


Ada kekesalan yang tidak bisa ia jelaskan, bahkan ia sendiri tidak mengerti.


" Baiklah kita pulang sekarang " ucap Gema dan itu membuat Rea sedikit merasa bersalah bersamaan.


Ia terdiam sejenak, karena perasaan ragu tapi saat kembali melihat pada benda pipih yang berada di atas meja, sesak di dalam dadanya kembali muncul.

__ADS_1


" Ayo " ajaknya dan langsung beranjak dari kursi. tanpa bicara ia keluar lebih dulu dari dalam ruang restoran, meninggalkan Gema yang kini menatapnya dengan dahi yang berkerut, " dia kenapa ? " gumamnya bingung.


Sebenarnya saat ini benaknya tengah menebak, apa perempuan itu tengah cemburu. Namun, dengan cepat ia menepis perasaan itu karena dalam pikirannya itu sangat tidak mungkin dan mana mungkin perempuan itu akan cemburu.


Gema berjalan cepat menyusul perempuan yang sudah pergi lebih dulu. Namun, langkah kakinya tiba tiba melambat saat matanya menemukan perempuan yang tengah membuatnya cemas kini sedang berbicara pada orang lain. Lebih tepatnya bersama seorang laki laki.


Ia kembali bergerak. Meski langkahnya teratur. Namun, hentakkan kakinya pasti menuju tempat dimana Rea berada saat ini, " sayang " panggilnya sedikit lantang.


" Aku mencarimu " ucapnya dengan mata yang menatap sedikit tajam dan rahang yang menangkup karena mengeras.


" Gema ini Darrel. Apa kau ingat kita pernah bertemu waktu itu " jelas Rea. Dengan nada bicara yang lamban. Namun, tersirat kedinginan disana.


Gema menatap pada laki laki yang berada di hadapan calon istrinya itu. Menatap dengan pupil mata yang melebar, " kita bertemu lagi " ucapnya tersenyum kaku.


" Apa kau masih mengenal aku ? " tanya Gema tiba tiba.


" Tentu. Anda calon suami Rea bukan " balas Darrel tertawa dengan kepala yang sedikit menggeleng.


" Baguslah " ucap Gema.


" Apa Rea sudah mengirim undangan pernikahan kami padamu ? " sambungnya lagi.


Dengan melirik ke arah Rea, perlahan Darrel mengangguk, " baru saja dia mengatakan itu padaku. Sepertinya dia lupa menulis udangannya untukku " ujar Darrel kembali tertawa.

__ADS_1


" Bukan seperti itu, sungguh " timpal Rea.


" Ternyata menyiapkan sebuah pernikahan tidak mudah. Ada banyak yang terlupakan " lanjutnya menjelaskan.


" Jadi maksudnya kau melupakan aku Rea " seru Darrel tertawa.


" Darrel... " Teriak Rea berdelik. Namun, setelah itu dia ikut tertawa. Dan tidak menyadari jika kini ada sepasang mata yang menatap tajam melihatnya tertawa oleh orang lain.


" Maaf tapi aku tidak bisa hadir Rea. Acara pernikahanmu tepat di hari keberangkatanku keluar kota. Dan sekarang aku tidak bisa lagi menundanya "


" Apa kau tidak sedang berbohong " sergah Rea tertawa.


" Tidak " sahut Darrel dengan menggelengkan kepalanya, " tapi lebih tepatnya aku tertolong oleh hal itu untuk membuat alasan untuk tidak hadir di pernikahanmu " katanya kembali tertawa.


Mendengar itu sebelah alis Gema terangkat dengan dahi yang mengernyit. Matanya menatap tajam bergantian pada calon istrinya yang sedang tertawa dan lelaki di hadapannya.


" Gema.. " panggil Darrel tiba tiba. Membuyarkan pikirannya.


" Emm.. ya " sahutnya dengan kembali membuat mimik wajahnya kembali normal.


" Boleh aku memeluk calon istrimu sebentar?. Setelah ini tentunya aku tidak mungkin bisa lagi melakukannya "pamit Darrel.


Kedua alis Gema terangkat mendengar itu, " hemm ya silahkan " ucapnya lemah. Namun, pupil matanya tidak berhenti membesar.

__ADS_1


" Kalau begitu aku masuk ke mobil dulu. Kalian bicara saja " pamitnya tiba tiba dengan dan langsung meninggalkan Rea dan Gema begitu.


__ADS_2