KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Maafkan Ibu


__ADS_3

Jauh di antara kerumunan orang, seorang wanita paruh baya menangis tertunduk. Ia bahagia, namun juga merasa begitu hancur saat ini.


Kembali di tegakkan wajahnya demi melihat langkah demi langkah kaki putrinya berjalan menuju altar pernikahan dan berharap ia ada disana untuk memegang tangan putrinya.


Ia tidak kuasa menahan air matanya untuk terjatuh. Beribu sesal memenuhi perasaanya saat ini. Namun, ia tidak bisa melakukan apa apa. Putrinya membenci dirinya. Dan ia mengerti.


Suara pemberkatan mulai terdengar dan ikrar suci janji pernikahan telah di ucapkan dengan lantang. Dan selama itu Kris tidak bisa mengangkat wajahnya. Air matanya seolah tak membiarkan dirinya menyaksikan moment bahagia putrinya.


Ia terus terisak di dalam beribu penyesalan. Sesungguhnya ia ingin pergi saat itu, tapi ia juga ingin kembali melihat putrinya. Menyaksikan dia dalam balutan kebahagiaan. Dan itulah alasan yang kuat untuk ia terus bertahan disana. Meski dia tahu, kehadirannya tidak di harapkan disana.


Kris terus menyeka air matanya, meski saat ini sorak bahagia semua orang sudah terdengar dan itu berarti janji pernikahan telah usai di ikrarkan tapi saat itu, ia belum sanggup untuk sekedar mengangkat kepalanya.


Dan tiba tiba sebuah tangan menyentuh hangat tangannya, " Rea sangat menyayangi anda " ucap lembut dari seorang perempuan di sampingnya.


Kris mengadah dan ia mengenali siapa yang kini bicara di hadapannya. Namun,saat itu air matanya semakin deras mengalir.


" Sesungguhnya dia tidak pernah membenci anda Nyonya. Tapi dia sangat merindukan anda " ucap perempuan yang Kris ketahui sebagai sahabat putrinya.


Kris benar benar terisak kali ini dan tanpa sadar tubuhnya rapuh di dalam pelukan Devita, " aku tidak pernah meninggalkan putriku " ucapnya serak dan penuh emosional, hingga tubuhnya kini bergetar.


Devita terdiam, di usapnya lembut punggung ibu sahabatnya. Tidak ada yang bisa ia katakan. Namun,saat itu ia bisa merasakan sebuah rasa penyesalan yang begitu hebat, " semua belum berakhir Nyonya " ucapnya lemah.


Kris menarik tubuhnya dari pelukan Devita. Menyeka air matanya, lalu beranjak dari duduknya. Kini ia benar merasa tidak sanggup lagi untuk berada disana, meski itu bergejolak dengan apa yang sebenarnya ia rasakan.


Kakinya melangkah untuk pergi. Namun, sebuah tangan membuatnya berhenti, " aku mohon tetaplah disini Nyonya. Setidaknya sampai matanya menemukan anda tetap disini untuk melihat kebahagiaannya. Aku yakin sedikitnya dia akan bahagia karena itu " pinta Devita.


Kris kini terdiam dan menatap pada sepasang manusia dia atas altar pernikahan.


Ya wanita muda di hadapannya benar, walau pun kehadirannya tidak di butuhkan disana tapi setidaknya itu tidak membuat dia semakin terlihat buruk di hadapan putrinya.


" Duduklah dengan tenang disini Nyonya, aku hanya pergi sebentar saja " ucap Devita pada Kris, lalu perlahan ia bergerak menjauh. Meninggalkan Kris yang kini menatap sendu pada sepasang mempelai yang berdiri tidak jauh dari hadapannya. Lalu ia menarik nafas dan menundukkan kepala, " Tuhan aku mohon bahagiakan putriku. Biarkan dia cintai dan mencintai. Biarkan dia mendapatkan apa yang hilang dari hidupnya. Berkati dia Tuhan dan lindungi rumah tangganya. dan jangan biarkan air matanya menetes, kecuali itu air mata bahagia " ucapnya berdoa, lalu kembali ia menegakkan pandangannya. Meski setelah tatapannya kembali tertunduk.


~


Setelah mengikrarkan janji pernikahan, kini sepasang manusia saling berpandangan sesaat, lalu memasukan cincin di antara masing-masing jari manis.


Tanpa orang tahu tubuh keduanya bergetar saat itu.


Rea menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering, serta membuat gerak tubuhnya senormal mungkin, meski ia tahu itu dia bisa menutupi ke gugupannya saat ini.

__ADS_1


" Silahkan berciuman " ucap pendeta.


Deg


Jantung Rea semakin berdebar tak menentu. Rasanya ia begitu malu untuk menatap wajah lelaki di hadapannya.


" Nona pandang suami anda. Dia sudah menjadi suami anda saat ini, jadi jangan malu " ucap pendeta. Hingga sedikit demi sedikit Rea mengangkat wajahnya dan menemukan seutas senyum lebar disana.


" Ayo silahkan " pinta pendeta.


"Apa kita benar benar harus berciuman ? " tanya Rea dengan pipi yang kini sedikit memerah.


" Mau bagaimana lagi " sahut Gema dengan kedua bahu yang terangkat, dan tanpa menunggu persetujuan ia ******* bibir ranum Rea dan bersamaan suara sorak semua orang terdengar.


Mata Rea membesar di tengah bibirnya yang kini berada di dalam kecupan bibir Gema, " ini penutupan dari akting sempurna kita hari ini " ucap Gema dengan santai dan tersenyum begitu manis, seolah tidak terjadi apa-apa di antara pernikahan mereka.


Semua orang bersorak bahagia seiring ciuman sepasang manusia yang baru berakhir.


Frans memeluk erat tubuh putranya, seraya mengusap matanya yang mulai berair, " terimakasih nak dan selamat untuk pernikahan kalian " ucap Frans serak dan saat itu hati Gema menghangat.


Ini kebahagiaan sesungguhnya hari ini, saat bisa melihat ayahnya begitu bahagia karena dirinya," jaga Rea nak dan cintai dia dengan tulus " sambung Frans. Namun, ucapannya saat itu seperti Bom waktu untuk Gema dan ia hanya bisa mengangguk lemah dan tersenyum hambar.


" Terimakasih Mam " sahut Rea. Ia masih berdiri dengan gugup. Ntah mengapa, walau adegan mendebarkan sudah berakhir tapi jantungnya masih berdegub begitu cepat dengan bibir yang masih terasa hangat oleh ciuman Gema.


" Reaa... " teriak Devita, wajahnya begitu semuringah dengan tangan yang merentang begitu lebar pada Rea, " selamat sahabatku " ucapnya begitu bahagia. Di peluknya erat tubuh langsing sahabatnya, " aku benar benar bahagia Rea. Akhirnya kau menikah. Bahkan aku tidak bisa menggambarkan seperti apa bahagianya aku saat ini " racaunya di dalam pelukan mereka.


Tubuh Rea bergerak kesana-kemari oleh pelukan girang Devita.


" Kau membuatku tercekik Dev " seru Rea protes. Sementara Devita semakin tertawa, " tapi aku sungguh bahagia untukmu " ucapnya bersungguh-sungguh.


" Terimakasih dev " balas Rea. Garis senyumnya melengkung dengan sempurna. Namun bersamaan dengan helaan nafas.


Kini bergantian Real yang mendekat " Selamat Rea " ucap suami Devita tersenyum penuh arti. " aku masih seperti tidak percaya melihat kau menikah dengan sahabatku " katanya tak habis pikir, " bahkan aku sendiri tidak menyangka Real " balas Devita tertawa. Namun sekejap tawa itu memudar saat pandangannya menemukan seseorang yang membuat jantungnya berpacu lebih cepat, " kenapa dia masih disini " batin Rea dan Devita tahu ke arah mana sahabatnya kini memandang.


" Dia ingin tetap disini melihatmu " bisik Devita.


Mendengar Rea terkesiap dari pandangannya dan menatap lamat pada Devita. Namun, bersamaan sebuah tangan menarik gengaman tangannya, " Berhenti termenung istriku, sekarang saatnya kita menyapa tamu undangan pernikahan kita " seru Gema tersenyum, sambil menarik tangannya untuk berjalan melewati para tamu yang hadir.


Gema tidak berhenti tersenyum setiap orang memberi ucapan selamat kepada dia dan Rea. Begitu pun Rea hanya saja senyumnya sedikit hambat dari lelaki yang terus menggenggam erat tangannya.

__ADS_1


" Gema " panggil Frans menghampiri bersama Elba.


" Ya Ayah " balas Gema.


Frans menatap sesaat pada Rea, " emmm Kemari Nyonya Brookstein " seru Frans.


Deg


Rea menelan ludahnya, dengan telapak tangan yang mulai terasa dingin. Di dalam kepanikannya, matanya mencari dimana keberadaan Devita dan selama itu, tanpa sadar dirinya menggenggam erat tangan Gema. Membuat lelaki itu melihat kearahnya, bahkan Gema mulai menyadari telapak tangan yang kini mulai terasa dingin.


" Gema Rea "


" Emm ya ayah " sahut Gema terkesiap dari pandangan pada istrinya.


" Beri salam pada Nyonya Brookstein " pinta Frans. Mendengar itu tentu dengan sigap Gema menundukkan kepalanya, begitu pun Rea walau ia melakukannya dengan setengah ragu.


" Terimakasih telah hadir di acara pernikahan kami Nyonya. Apa anda datang sendiri hari ini ? " tanya Gema begitu ramah. Namun, wanita paruh baya di hadapannya seperti mematung saat ini, " Nyonya Brookstein " panggil Frans.


" Emm ya. Selamat untuk pernikahan kalian nak " ucap Nyonya Brookstein dengan suara yang tertahan dan sedikit serak. Matanya hanya memandang ke arah Gema tanpa berani melihat pada wanita di sampingnya.


" Boleh kita mengabadikan Moment ini ? " tanya Frans pada Kris dan setengah ragu wanita paruh baya itu mengangguk.


Semua orang sudah berjajar untuk mengambil moment hari itu. Frans dan Elba yang saling bergandengan, Kris, lalu kemudia Gema dan Rea yang berada di ujung.


Dan tiba tiba Devita datang menghampiri, " lebih bagus jika Gema yang berada di ujung " ucapnya memberi arahan.


Mata Rea membesar padanya. Namun ia hanya tersenyum sebentar tanpa menghiraukan maksud dari perempuan itu. Meski ia sendiri mengerti.


" Ini jauh lebih bagus " ucapnya, Setelah Gema berpindah ke ujung. sementara Rea, berdiri berdampingan bersama Kris.


" Thankyou Devita " ucap Frans dan dirinya mengangguk.


Tiba tiba jantung Rea kembali berpacu begitu cepat, saat menyadari sebuah tangan mencoba menggenggam jemarinya, " Ibu sangat bahagia untuk pernikahanmu nak " ucap lemah dari wanita paruh baya di sampingnya.


Rea kini tertegun tanpa reaksi apa-apa. Pandangannya menatap ke depan meski ia tahu wanita disampingnya kini tengah menatap padanya, " maafkan Ibu " lanjut Kris dan saat itu juga Rea keluar dari barisan, bersamaan dengan kilatan lampu camera.


" Rea " panggil Kris tanpa sadar. Namun, wanita itu seperti tidak peduli ia terus berjalan meninggalkan semua orang dengan tangan yang sesekali menyeka bagian matanya.


" Biar aku yang menyusulnya " ucap Devita pada semua orang yang kini terlihat panik.

__ADS_1


__ADS_2