
Suara riuh tepuk tangan kembali bergema, saat sepasang manusia kembali hadir ke tengah semua orang. Terlebih Frans, senyumnya mengembang dengan lebar saat melihat putranya berjalan beriringan dengan tangan yang saling bergandengan pada wanita yang baru saja resmi menjadi menantunya.
" Kau lihat semua orang menunggu " ujar Gema di sela langkah mereka. Ia menoleh saat tidak ada jawaban dari ucapannya.
dan kini pandangannya tertegun oleh senyum manis dari bibir wanita di sampingnya. Garis bibir itu terus melengkung, menyapa setiap tamu yang mereka lewati.
" Ceh " decihnya ikut tersenyum, " dia begitu menjiwai " sambungnya.
Rea mempererat pegangannya di lengan Gema tanpa sadar dan terus tersenyum setiap kali kilat lampu camera menerpa wajahnya, " Kau tersenyum terlalu manis. Sampai aku tidak sadar bahwa ini hanya sebuah akting " bisik Gema di telinganya.
" Aku tidak sedang berakting " sahutnya menatap serius, membuat Gema terdiam sejenak.
" Aku benar benar, sungguh bahagia " sambungnya lagi dengan seutas senyum pada laki-laki yang kini menatapnya dengan pupil yang sedikit membesar, " walau ini pernikahan kontrak, tapi aku sungguh hanya ingin menikah satu kali dalam hidupku. Jadi bagaimana pun keadaanya, aku harus tetap bahagia hari ini " jelasnya, seiring senyum yang belum berakhir. Bahkan senyum itu terlihat semakin manis di mata laki-laki yang saat ini masih menatapnya begitu lekat.
Kini bibir Gema ikut melengkung dengan sempurna. Ntah kenapa perkataan wanita di sampingnya membuat suasana hatinya menjadi begitu senang, setelah beberapa menit yang lalu di terpah oleh rasa gundah yang tidak beralasan menurut pikirannya.
Dan ia menyadari saat seorang fhotografer ingin kembali mengambil gambar mereka. Tanpa meminta ijin di tariknya tubuh Rea ke dalam pelukannya, " tersenyumlah, ada camera yang ingin mengambil foto kita " ucapnya pada tubuh yang kini menatapnya dengan terkejut dan perlahan ikut tersenyum.
Ntah kenapa, perlahan perasaan Rea kini membaik. Bahkan benar-benar menjadi bahagia saat ini. Seiring ucapan selamat yang terus mengalir untuk pernikahannya yang baru saja terjadi.
Suasana gembira dan senyum dari semua orang membuatnya lupa alasan sebuah pemberkatan terjadi hari ini.
Seperti apa yang ia katakan, apapun keadaannya. Ia harus bahagia.
Hampir semua pemuda-pemudi yang datang kini mendekat ke arah sepasang manusia yang kini bersiap ingin melempar bunga.
Di atas tempat yang lebih tinggi dari semua orang mereka saling tersenyum, dengan tangan yang saling berpegangan pada sebuket bunga Baby Breath. Bahkan sepasang manusia itu melupakan simbol dari bunga yang mereka pegang saat ini. Ntah karena tak meyakini, tapi simbol bunga itu begitu sakral untuk sepasang manusia yang akan mengikat janji.
Kekuatan cinta yang abadi begitu arti kuat dari Bunga Baby Breath, itu sebabnya kenapa bunga putih kecil itu sering di gunakan di dalam sebuah pernikahan, karena ia memiliki arti yang begitu dalam. Dan mungkin sepasang manusia saat ini lupa akan arti itu, atau mungkin tak peduli. Tanpa mereka sadari, percaya atau tidak sebuah simbol layaknya seperti sebuah do'a.
" Kau siap ? " tanya Gema dan Rea mengangguk, dengan garis senyum yang terus melengkung.
" Satu, Dua, Ti...gaaa " seru pembawa acara. dan suasana menghening sesaat karena tidak ada lemparan bunga dari hadapan semua orang yang menunggu. Justru kini Rea mendekat ke arah wanita paruh baya yang berdiri di pinggir keramaian.
" Ini untukmu Rose " ucapnya begitu lembut sambil menyodorkan bunga di tangannya dan bersamaan teriakan kecewa dari beberapa orang terdengar. Namun, setelah itu mereka ikut bersorak bahagia.
" Kau juga harus menikah " ucapnya lagi.
Rose hanya bisa tersenyum hambar, " apa bunga ini memberi keajaiban " serunya tertawa, mengingat di umurnya saat ini. Rasanya sebuah pernikahan begitu mustahil untuk terjadi.
" Aku berharap seperti itu. Setidaknya kau di datangkan kebahagiaan Rose " sahut Rea, dengan mata yang terlihat sedikit berair.
Rose tersenyum, " Aku sudah bahagia hari ini Nona. Tidak ada lagi bahagia yang aku harapkan lebih dari hari ini " ucapnya dengan seutas senyum teduh.
__ADS_1
Tanpa pamit Rea memeluk tubuh wanita paruh baya itu. Merengkuhnya dengan begitu erat dan ia menangis sejadi-jadinya disana, " kau orang yang begitu baik Rose. Aku tidak tahu apa yang bisa aku lakukan untuk membalas semua yang kau lakukan untukku " ungkapnya dan ini menjadi tangisan pertama untuk suasana penuh haru di hari bahagianya ini.
" Aku tidak pernah berharap apapun Nona. Aku menjagamu selayak putriku " balas Rose, sambil menyeka air mata yang ingin menetes, " aku menyayangimu selayaknya darah dagingku sendiri " sambungnya. Mendengar itu tangis Rea semakin pecah. Bagaimana tidak, bahkan selama ini ia di buang oleh Ibunya sendiri. Sementara orang lain menyayangi dirinya selayak anaknya sendiri. Ini memang terdengar begitu miris.
Ia kehilangan kasih sayang dari Ibunya, tapi Tuhan menggantikannya dengan seseorang yang menganggap dirinya sebagai anaknya.
" Jangan menangis Nona. Jangan rusak riasanmu " ucap Rose yang kini telah menangis.
" Terimakasih telah begitu baik Rose. Sekarang aku menjadi begitu egois dan tidak ingin kau pergi. Padahal baru saja aku meminta kau menikah " racau Rea, membuat Rose akhirnya tertawa, " permintaan anda begitu mustahil Nona " serunya, " dan aku tidak akan kemana-mana. Aku akan tetap bersama anda. Mungkin sampai anda memiliki anak dan cucu nanti. Do'akan aku berumur panjang Nona.."
" Rose kau benar benar ingin membuat aku tidak berhenti menangis " seru Rea.
" Hentikan itu Nona. Semua tamu tertawa melihat anda seperti ini "
" Aku tidak peduli " sahut Rea, sembari menyeka sisa air matanya.
Gema kini ikut mendekat.
" Tuan. Tolong bawa pergi istri anda ini " pinta Rose tertawa, membuat Rea yang masih berada di dalam pelukannya merutuk, " kau mengusirku " ucapnya.
" Tidak. Aku hanya tidak suka menjadi pusat perhatian semua orang "
" Ceh " decih Rea, sembari menarik tubuhnya dari pelukan Rose. Namun, tangan mereka masih terhubung, dengan Rose yang memegang tangannya dengan begitu lembut, " Semoga pernikahan anda selalu di limpahkan kebahagian. Dan anda selalu bahagia " ucapnya begitu tulus.
" Tuan selamat untuk pernikahan anda " ucap Rose bergantian menjabat tangan Gema.
" Terimakasih Rose. Setelah ini aku juga akan merepotkanmu " ujar Gema tertawa.
" Tidak apa-apa Tuan. Kerjaku memang untuk di repotkan yang terpenting anda menjaga Nona ku dengan baik " ungkap Rose sedikit tertawa dan bergantian kini Gema yang tersenyum kaku, " Sebisaku akan menjaganya " ucapnya dengan jantung yang berdebar lebih cepat.
" Dia bukan hanya kepala pelayan untukku Gema. Tapi dia sudah seperti Ibu bagiku " timpal Rea dan Gema mengangguk, " aku tahu " balasnya.
" Salam Ibu Mertua " sapanya sambil menundukkan kepalanya pada Rose.
" Tuan. Jangan lakukan itu, aku sungguh tidak pantas menerimanya " seru Rose gelagapan, dan Rea tertawa melihat itu, " Kau membuatnya takut Gem " ucapnya dan Gema ikut tertawa. Namun, kemudian ia menatap serius ke arah Rose, " Terimakasih karena selama ini telah menjaga istriku dengan baik " ucapnya bersungguh-sungguh.
Sementara Rea kini tertegun menatap ke arahnya.
" Ya Tuan. Itu sudah tugasku dan sekarang aku serahkan pada anda " balas Rose tak kalah serius dan Gema mengangguk.
Jantung Rea berdebar melihat keadaan di hadapannya dan tanpa sadar hatinya menghangat dengan perlahan garis bibir yang melengkung.
" Ayo " ajak Gema, yang kini kembali melihat ke arahnya.
__ADS_1
" emm ya " balas Rea gelagapan.
Tangan mereka kembali saling bertaut sambil terus berjalan menyapa tamu yang tersisa. Dan sesaat pandangan Rea mengintari setiap orang yang ada di sana, " dia sudah pergi " gumamnya pelan. Saat matanya tak lagi menemukan seseorang yang tadi begitu ia benci keberadaan. Namun, kini tanpa sadar nalurinya sendiri mencari keberadaan wanita itu.
" Hai anak-anakku " sapa Frans mendekat. Membuat Rea tersentak dari pandangannya.
Wajah Frans tidak berhenti berbinar, bahkan sampai saat ini.
" Ada apa Paman. Emmm Ayah " balas Rea, yang masih begitu kaku untuk menyebut Frans dengan Ayah. Atau karena ia cukup asing dengan nama yang mempunyai arti begitu dalam untuk semua orang. Namun, mengecewakan untuk dirinya.
Sementara Gema hanya terdiam, menunggu apa yang ingin di katakan oleh ayahnya. Karena ia begitu yakin, ada sebab kenapa laki-laki itu tiba tiba menghampiri.
" Ini hadiah dari ayah dan Mami " ucapnya sambil menyodorkan sesuatu.
" Bali " seru Gema dengan mata yang membulat sempurna setelah melihat tulisan dari lembaran kertas yang berada di tangannya. Dan Rea dengan cepat ikut melihat apa yang ada di di balik kertas di tangannya.
" Pergilah Honeymoon kesana. Ayah dan Mami sudah menyiapkan tempat yang indah untuk kalian ".
" Honeymoon " seru Rea dan Gema bersamaan dan Frans mengangguk.
" Yaah... " Seru Rea pelan, " aku tidak bisa pergi dengan mendadak. Ada perkerjaan yang harus aku selesaikan setelah ini ".
" Jangan khawatirkan masalah itu. Ayah sudah mengurusnya bersama Maria dan dia bersedia menyelesaikan semua perkerjaanmu " ucap Frans. Mendengar itu dengan cepat mata Rea mencari keberadaan Maria dan tanpa rasa bersalah perempuan itu justru tersenyum padanya.
" Kau... " geram Rea tertahan.
" Tapi yah. Aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaanku " protes Gema.
" Kau masih bekerja dengan Ayah. Jadi jangan khawatirkan itu " balas Frans setengah tertawa.
Secara bersamaan Rea dan Gema menghela nafas.
" Sekarang kalian sudah bisa pergi dari sini. Karena pesawat sudah menunggu kalian " lanjut Frans dan itu benar-benar membuat mata Rea dan Gema terbelalak.
" Kau benar benar gila ayah " umpat Gema begitu kesal dan tidak bisa melakukan apa-apa.
" Cepatlah pergi. Disini biar menjadi urusan ayah " seru Frans.
Selain pasrah. Kini tidak ada pilihan untuk Gema dan Rea dan dengan berat hati mereka harus pergi dari pesta pernikahan mereka yang belum selesai.
" Buatkan ayah dan Mami cucu yang lucu " seru Frans di tengah langkah lunglai Gema dan Rea.
" Nona selamat bersenang-senang " sorak Maria begitu bahagia. Berbeda dengan Rea yang kini menatap dengan begitu sinis, " tunggu aku pulang " ancamnya dan itu tak terdengar menakutkan untuk Maria, " siap Nona. dengan sabar aku menunggu anda kembali " ucapnya begitu senang.
__ADS_1