
Dengan tergesa-gesa Kris masuk ke dalam Kafe tempatnya bekerja, " maaf aku terlambat " ucapnya sambil melewati beberapa temannya yang sedang bekerja.
Sebenarnya dia tidak terlambat masuk kerja. Hanya kedatangan terlambat dari waktunya biasanya dia datang.
Emma yang duduk di kursi kasir. langsung beranjak saat melihat Kris datang dengan keringat yang mengucur di pelipinya, " apa kau di kejar seseorang ? " tanyanya sambil menyusil langkah Kris menuju ruang ganti karyawan.
Wanita itu tersenyum singkat, " aku tidak di kejar seseorang tapi aku berkeringat karena aku harus berjalan kaki untuk datang kemari " jelas Kris dengan masih tersenyum, seraya mengenakan pakaian kerjanya.
Mata Emma membesar, " kau serius ? " tanyanya tidak percaya.
" Hidupku memang berat tapi aku tidak akan membuatnya sebagai bahan candaan Emma " jelasnya dengan tersenyum. Lalu berlalu menuju ruang kafe dan Emma tidak tinggal diam dengan terus mengikuti langkahnya.
" Tidak aku juga serius Kris. Bagaimana bisa kau berjalan kaki kemari ".
" Tentu bisa Emma, aku harus punya ongkos untuk menaiki kendaraan umum dan sayangnya hari ini aku tidak punya " sahutnya dengan tertawa, lalu tawa itu segera memudar bersama tarikan nafas yang begitu dalam.
Emma tidak lagi banyak bicara, meski di kepalanya menyimpan begitu banyak pertanyaan. Yang ia bisa lakukan saat ini adalah menarik wanita itu untuk duduk di kursi kerjanya, " duduklah " pintanya pada Kris.
" Ada apa denganmu ? , aku harus bekerja "
" Kau bukan robot Kris. Duduklah dan sekarang belum waktunya kau bekerja " ucapnya tegas dengan mata yang menatap tajam pada wanita satu anak itu.
Kris pasrah dan tidak berniat lagi untuk melawan temannya, karena saat ini memang tubuhnya sudah begitu lelah, " terimakasih Emma " ucapnya lemah dengan seutas senyum hangat dari bibirnya yang sedikit memucat.
" Lain kali telepon aku jika aku membutuhkan sesuatu Kris " ucap Emma dengan serius.
" Ceh, apa kau lupa. Aku tidak punya benda itu dan lagi pula aku tidak terbiasa untuk merepotkan orang lain "
" Aku temanmu Kris " potong Emma tegas dan Kris terdiam.
" Sementara gantikan aku disini. Biar aku yang mengerjakan tugasmu " tambahnya sambil berlalu menuju ruang ganti, lalu kembali dengan apron yang sudah terikat di pinggangnya yang ramping.
" Emma.. " panggil Kris ingin mencegah.
" Jangan membantah " bentaknya, " tetaplah di sana sampai aku sendiri yang meminta untuk di gantikan " ucapnya tegas.
" Baiklah " balas Kris pasrah. Namun, garis bibirnya melengkung menatap pada Emma.
" Apa kau sudah membeli pemerah bibirmu ? " tanya Emma seraya berjalan melewatinya menuju dapur.
" Hemmm " seru Kris sambil menganggukkan kepalanya ketika Emma kembali berjalan ke arahnya.
" Kalau begitu gunakan. Untuk apa kau membelinya "
" Tapi aku tidak percaya diri Emma ".
__ADS_1
" Aku tahu kau memang sudah sangat cantik dengan ke naturalan wajahmu. Tapi tidak salah membuatnya lebih indah Kris. Lagi pula hari ini kau terlihat begitu pucat " cercah Emma sambil bergerak kesana kemari.
Kris diam sesaat, lalu perlahan bergerak menuju ruang karyawan dimana ia menyimpan benda yang di maksud oleh Emma.
Dengan malu malu Kris kembali ke tempat duduknya.
" Kris apa kau sudah menggunakannya ? " seru Emma dari meja pengunjung, lalu berjalan menghampiri tempat Kris.
Mendengar langkah Emma semakin dekat dengannya. Dengan cepat Kris menutup mulut dengan telapak tangannya, " mana aku ingin melihatnya Kris. Lepaskan tanganmu " desak Emma.
Kris menggelengkan kepala dengan tetap mempertahankan tangan yang mendekap pada mulutnya, " Krisss " panggil Emma tidak sabar, seraya menarik tangannya.
" Apa warnanya berlebihan ? , aku begitu tidak percaya diri Emma " ucap Kris lemah, setelah Emma berhasil melepas tangannya.
" Kris kau sungguh sangat cantik " puji Emma tertegun padanya.
" Jangan bercanda Emma ".
" Aku tidak pernah bercanda saat memuji orang lain. Warna yang kau gunakan sangat cocok di bibirmu Kris. Jangan lagi tidak percaya diri, kau sungguh sangat cantik dan terlihat lebih hidup " katanya sambil tertawa.
" Apa selama ini aku terlihat seperti hantu " seru Kris menjadi kesal dan itu membawa Emma semakin terkekeh, " Kurang lebih hampir sama " sahutnya.
" Kau seperti boneka hidup yang berjalan. Cantik tapi begitu pucat " sambungnya dengan semakin tertawa keras.
" Maksudmu ? "
" Aku yakin suatu hari kau akan hidup bahagia ".
" Terimakasih Emma. Tapi itu terdengar seperti mustahil untuk saat ini " sahutnya tertawa.
" Tidak ada yang mustahil Kris. Kau hanya perlu memilih " .
" Maksudmu ? " ulangnya dengan kata yang sama.
" Orang-orang tidak akan tahu dunia luar kalau dia tidak berlayar Kris. pahamilah maksudku dan jangan pernah menunggu keajaiban datang untuk merubah hidupmu. Karena tidak semua orang seberuntung itu " ucap Emma, dengan mata yang memandang penuh arti pada Kris.
Baru saja Kris ingin berucap. Tiba tiba pandangannya di kejutkan oleh seseorang yang baru masuk ke dalam kafe, " Apa ? " tanya Emma, yang menjadi penasaran dengan wajah Kris yang tiba tiba tertegun.
Dengan cepat ia memutar tubuhnya, untuk melihat apa yang sedang di lihat oleh temannya itu, " Astaga " serunya dengan pupil mata yang sedikit membesar, " dia benar benar kembali Kris " sambungnya tidak percaya.
Laki-laki itu masih berdiri di ujung pintu, sambil tersenyum menatap ke arah Kris.
" Dia terlihat benar benar menyukaimu Kris " ujar Emma dengan girang. Melebihi orang yang di tatap oleh lelaki itu sendiri.
Emma segera membuka apron yang berada di tubuhnya sejak tadi, " sekarang aku mau kembali ke tempat kerjaku " katanya sambil tersenyum pada Kris.
__ADS_1
" Kau begitu licik Emma " umpat Kris kesal, karena mengerti apa yang sedang di rencanakan oleh perempuan itu.
" Cepat hampiri dia " cercah Emma tertawa. Dengan mendengus, Kris akhirnya bergerak menuju meja di ujung ruangan. Dimana lelaki itu duduk di tempat yang sama seperti kemarin.
" Silahkan Tuan " ucapnya sopan sambil memberikan daftar menu hidangan di dalam kafe, tanpa berani menatap pada lawan bicaranya.
" Kau sungguh sangat cantik Kristeen " ucap lelaki itu.
Blussshh
Wajah putih Kris memerah seketika, " terimakasih Tuan " balasnya tersenyum kaku, dengan tetap menundukkan pandangannya.
Kemudian suasana menghening , membuat Kris bingung dan terpaksa harus mengangkat wajahnya.
Deg
Tatapannya tertegun saat pandangannya bertemu dengan sorot mata biru gelap yang kini tengah menatap kearahnya juga. Namun dengan cepat Kris membuyarkan kesadarannya dan kembali menyodorkan daftar menu pada laki-laki itu, " pesan makanan dan minuman anda Tuan. Supaya anda tidak lama menunggu " pintanya begitu sopan.
" Apa saja " ucap lelaki itu singkat. Lalu Kris menatap tidak mengerti padanya.
" Pesankan apa saja yang menurutmu paling enak disini, atau yang menjadi favoritmu "
" Huh ?, Bagaimana bisa seperti itu Tuan. Aku yakin selera kita berbeda. Belum tentu makanan yang aku suka, akan kau suka... ".
" Aku bilang pesankan saja makanan favoritmu Kris " pinta lelaki itu tanpa ingin di bantah.
Meski terlihat ragu, Kris akhirnya mengangguk dan menulis beberapa menu makanan yang menjadi favoritnya di sana, " aku harap anda tidak menyesal nanti dan hidangan anda akan segera datang " ucapnya tersenyum.
Ia sempat menunduk sebentar. Sebelum akhirnya meninggalkan meja di ujung ruangan.
Kris berjalan menuju tempat dimana ia harus meletakkan semua pesanan para pengunjung, tanpa menyadari jika laki laki yang berada di ujung ruangan mengikuti langkahnya. Namun saat Kris berlalu ke arah dapur, laki laki itu berhenti di meja kasir. Dimana tempat Emma bekerja.
" Ada yang bisa saya bantu tuan ? " tanya Emma, yang memang penasaran, apa yang sudah membuat laki-laki tampan itu datang ke tempatnya.
" Aku ingin Kristeen menemaniku makan. Anggap saja aku sedang menyewanya khusus untuk melayaniku hari ini " ucap lelaki itu. Emma terdiam sesaat, " emm, aku harus mendapat persetujuan darinya terlebih dahulu tuan ".
" Dia hanya perlu duduk dengan tenang, sampai aku selesai makan. Dan aku akan membayar berapa saja untuk itu " ucap lelaki itu dengan lembut.
Mendengar itu tentu saja, Emma setuju tanpa harus menunggu persetujuan dari Kris.
Karena yang ada di pikirannya, setidaknya dengan itu Kris akan mendapatkan uang untuk ongkos dia pulang nanti. Walau tentunya dia sendiri bisa memberikannya.
Tapi ntah kenapa Emma begitu suka saat melihat Kris bersama dengan lelaki itu.
" Maafkan aku Tuhan. Bukan maksudku untuk membuat Kris berkhianat dari suaminya " gumamnya di dalam batin. Namun, bibirnya tetap melengkung pada laki-laki yang masih menunggu jawabannya, " baiklah Tuan. Kembalilah ke meja anda dan Kris akan datang bersama hidangan anda " ucapnya dengan penuh hormat.
__ADS_1