KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Hanya Ketika Terluka


__ADS_3

" Apa suamimu tidak akan marah Rea ? ", tanya Darrel di sela langkah mereka menuju mobil. Rea menggelengkan kepala, dan Maria mendapati itu.


" Kau mau ikut ? ", tanya Rea tiba-tiba padanya, " tidak apa-apa jika kau lelah Maria", katanya lagi, ketika mendapati wajah ragu perempuan itu.


Maria menarik nafas, " aku tidak akan membiarkan anda sendiri ", balasnya. Meski saat ini tubuhnya memang begitu lelah, tapi apa yang di katakan itu sungguh, dalam keadaan apapun dia tidak akan membiarkan Rea sendiri.


Tapi setelah mendengar kalimatnya, Rea justru tertawa, " kau memang terbaik", katanya memuji, " tapi jangan khawatir Maria. Darrel teman lamaku... " katanya menjeda, " dia tidak akan menyakitiku ", sambungnya lagi dan kali ini, ia berbisik, supaya lelaki itu tidak mendengar.


" Tapi aku akan tetap ikut Nona ", ucap Maria tegas, dan Rea tersenyum, " baiklah, tapi aku tidak akan memberi toleransi kalau besok kau terlambat ", titahnya memperingati dan Maria mengangguk.


~


Pukul sembilan malam, Gema tiba di rumah Rea. Rumah yang menjadi tempat tinggalnya kini.


Hari ini, hari pertama ia kembali bekerja setelah pernikahannya.


Sambil melonggarkan dari di kerah lehernya, ia berjalan masuk ke dalam rumah. Ia butuh keberanian untuk bertemu Rea hari ini. Lebih tepatnya untuk mulai berbicara pada perempuan itu. Setelah ia tak kembali tadi malam, dan baru menyadari siang tadi, kalau ternyata perempuan itu mengirim pesan padanya. Ia menjadi merasa bersalah sepanjang hari. Ia menjadi tidak tenang karena menyadari pikirannya yang salah, ternyata wanita itu mengkhawatirkan keadaanya.


Karena hal itu, ia mengakhiri cepat pertemuannya bersama klien, ia tidak ingin terlambat pulang hari ini. Meski jam sudah menunjukan lewat dari pukul sembilan malam.


Langkahnya semakin cepat, ketika sudah berada di dalam rumah, " Tuan ", sapa Rose, yang kebetulan bertemu tak jauh dari pintu utama. Rose melawan arah langkahnya, " aku kira Nona yang pulang",katanya bergumam. Dan langkah Gema terhenti saat itu, bahkan memutar cepat tubuhnya untuk kembali menghadap wanita itu, " dia belum pulang ? ", tanyanya tak percaya, dan Rose mengangguk, " tadi memberi kabar kalau masih ada pertemuan bersama klien, tapi seharusnya tak sampai selarut ini ", katanya memberitahu Gema. Garis matanya yang mulai turun, kini menyiratkan rasa cemas.


" Mungkin sebentar lagi", sambungnya, untuk meyakin dirinya sendiri dari rasa cemas dalam dirinya.


" Apa sering begini ? " tanya Gema. Rose terkesiap, " dia pulang larut seperti ini ", katanya lebih detail. Rose mengangguk, " tapi tidak begitu sering", sahutnya.


" Biasanya Maria memberi kabar lagi, tapi ini tidak ada.... " racau Rose yang nampak semakin panik. Ia persis seperti seorang Ibu, yang mengkhawatirkan anaknya.


" Apa anda sudah makan malam ?, saya akan menyiapkannya segera kalau anda ingin ", katanya, saat matanya menemukan lelaki itu masih berdiri di hadapannya, " tidak, Terimakasih Rose ", kata Gema menolak. Dia tidak banyak menjelaskan kenapa sebabnya dia menolak. Dia hanya kembali bergegas melanjutkan langkahnya, " selamat istirahat Tuan", ucap Rose yang terdengar dari sela langkahnya.

__ADS_1


Jarum jam yang menunjukan waktu tepat tengah malam sudah berlalu satu jam yang lalu, dan Rea belum juga kembali.


Rose, kini kembali berjalan menuju pintu utama, berulang kali menyingkap gorden besar di rumah itu, untuk melihat, mungkin saja wanita itu sudah kembali tanpa dia ketahui. Dan sepanjang itu, dia tak berhenti menelpon Maria. Namun, tak ada jawaban.


Ia begitu cemas saat ini. Dan ia tidak mungkin bisa tertidur, sebelum pemilik rumah itu kembali.


Sekali lagi, dirinya mencoba menghubungi Maria, dengan tubuh yang mondar mandir di hadapan pintu utama.


Dan ia terkesiap, ketika langkah besar yang sedang menuruni anak tangga, terdengar.


" Tuan ", gumamnya, ia bergerak mendekati tempat lelaki itu.


" Dia belum pulang ?, Apa dia memberitahumu dimana ? ", cercah Gema, sebelum sempat dirinya berbicara.


" Tidak Tuan ", katanya menggeleng lemah.


Gema menghela nafas saat itu, " kemana dia sebenarnya ? ", katanya, wajahnya terlihat sangat gusar, meski Rose sedang merasa cemas, tapi ia masih bisa mengamati perubahan wajah lelaki itu, " apa kau sudah menghubungi Maria ? ", tanyanya lagi.


" Hallo Rose ", suara yang keluar dari benda itu tiba-tiba. Rose tersentak, karena akhirnya teleponnya mendapat jawaban, begitu pun Gema, yang mengetahui.


" Kenapa belum kembali Maria. Nona dimana ? ", cecar Rose tak sabar.


" Kami baik-baik saja Rose, jangan khawatir. Nona bersamaku, hanya saja.... " katanya menggantung, " emm Rose, apa Tuan di rumah ? ", tanyanya memastikan. dan meski samar, Gema masih mendengar kalimat itu. Rose melirik padanya, " ya, bahkan Tuan bersamaku saat ini. Dia khawatir karena No... ".


" Boleh aku bicara padanya ", sergah Gema di antara pembicaraan itu. dan Rose tak mungkin menolak permintaannya," Tuan mau bicara", katanya menyebut pada Maria, sebelum handphone di tangannya berpindah pada lelaki itu.


" Dimana kalian Maria ?, dimana Rea ? ", tanya Gema beruntun, bahkan belum sempat perempuan di balik panggilan itu menyapanya. Sejenak tidak ada balasan dari pertanyaannya," kalian dimana Maria ? ", katanya kembali mengulang, dan nadanya membentak saat itu.


~

__ADS_1


" Rea, kau yakin suamimu tidak akan marah ? " tanya Darrel, saat gelas dari kedua tangan mereka saling beradu. Dan Rea menenggak habis minuman di gelasnya saat itu juga.


" Kau sudah mabuk Rea ", kata Darrel memperingati. Minuman yang baru saja ia teguk adalah, minuman dari gelas ke sebelas yang ia tenggak malam ini, " ayo ", ajak, dengan bergerak ingin menuang minuman ke dalam gelasnya lagi, " cukup Rea ", pinta Darrel seraya menarik botol dari tangan perempuan itu.


" Kau sudah mabuk ", katanya lagi. Ia selalu menyukai acara minum mereka, tapi ia tidak menyukai ketika seperti ini. Ketika perempuan itu hanya diam dan selalu menenggak habis minumannya, " apa yang terjadi Rea ? " katanya mencoba menanyakan sebab perempuan itu begitu. Ia terlalu mengetahui kebiasaan perempuan itu. Mengetahui ketika dia senang, dan bahkan sangat mengetahui, ketika perempuan itu sedih. Dirinya masih begitu hafal semuanya.


" Apa ini karena Ibumu ? ", katanya menebak. Karena hanya itu, hal yang ia tahu. Hal yang sering membuat perempuan itu terluka. Rea tak menjawab, bahkan tak mengangguk, " katakan padaku, apa lagi yang dia lakukan sampai kau seperti ini ", titahnya.


Wajah memerah Rea kini tertunduk di tengah alunan suara musik yang menggema. Minuman yang ia teguk berhasil membuat suasana hatinya kembali kacau, dan hal itu membuatnya tidak bisa menikmati irama musik, bahkan untuk berbicara bersama temannya pun ia tidak mampu. ia takut, saat lidahnya bergerak, maka hal yang setengah mati ia tutupi akan terbuka saat itu.


Maria yang tadi berpamitan ke kamar mandi, kini sudah kembali. Dengan cepat ia menghampiri Rea, ketika melihat kepala perempuan itu sudah tertunduk.


" Dia kenapa ? ", tanya Darrel, mencoba mencari jawaban darinya.


" Apa dia mengatakan sesuatu ? ", kata Maria berbalik bertanya dan Darrel menggeleng, " hanya ketika terluka dia seperti ini", ucapnya dan Maria kembali menatap padanya, lalu bergantian pada Rea. Ia sendiri pun bingung apa yang sedang terjadi pada perempuan itu, " sebaiknya kita pulang sekarang ", titahnya dan Darrel setuju.


Berulang kali Maria mencoba memapah tubuh Rea untuk berjalan, tapi langkah kaki perempuan itu terlalu lemah, dan selama itu pula tubuh mereka berdua hampir tersungkur.


Darrel bukan tak ingin membantu, hanya saja menyentuh tubuh Rea bukan hal yang mudah seperti dulu. Perempuan itu sudah menjadi seorang istri, dan hampir semua rakyat London, tahu hal itu.


Tapi ia tak punya pilihan saat melihat keadaan di hadapannya. Ia tidak mungkin membiarkan teman lamanya itu tersungkur berdua bersama asistennya. Dengan cepat, ia mengambil tubuh Rea, lalu menggendongnya pergi dari sana. Dan Maria mengikutinya dari belakang.


Maria heran ketika Darrel tidak membawa tubuh Rea ke arah mobil mereka, " Tuan mobil kami disana ", katanya memberitahu. Darrel mengangguk, " aku tahu Maria. Tapi biar aku saja yang membawa Rea pulang ". ucapnya.


Mata Maria membulat mendengar itu, hal itu tidak mungkin terjadi, " tapi Tuan, Nona sudah mempunyai suami ", katanya menyela.


" Ya, karena itu aku harus bertemu suaminya. Hal ini tidak boleh menjadi salah paham nanti. Suaminya harus tahu kalau dia pergi bersama... ".


" Tidak perlu ", ucap seseorang tiba-tiba. Mata Maria semakin membesar, ketika menemukan seseorang yang tiba-tiba hadir di antara mereka, " Terimakasih, tapi kau tidak perlu mengantar istriku pulang ", titahnya pada Darrel, dengan tidak lembut ia merebut tubuh Rea dan membawanya pergi. Bahkan tanpa pamit pada Darrel yang kini masih terpaku atas kehadirannya yang tiba-tiba.

__ADS_1


" Maaf Tuan ", ucap Maria sungkan. Dan Darrel mengangguk, " katakan pada Rea untuk menghubungiku besok ", pintanya dan Maria mengangguk, " terimakasih Tuan. Jangan khawatir, Nona akan baik-baik saja ", ucapnya sebelum pergi dan menyusul langkah Gema yang sudah pergi membawa tubuh Rea.


__ADS_2