KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Terimakasih


__ADS_3

Gema baru saja membersihkan diri dari dalam mandi. Dan ketika keluar ia tertegun menatap pada perempuan yang berdiri di lantai balkon dengan tangan yang tak lepas memegang tangkai bunga mawar.


" Apa kau tak akan melepas bunga itu ? " tanyanya menghampiri.


Rea tersentak dengan kehadirannya, lalu kemudian tersenyum, " aku sungguh menyukai bunga mawar " katanya malu. Ntah itu benar atau tidak, atau mungkin hanya sekedar untuk menutupi rasa malunya tapi Gema tidak peduli.


" Kau mau ? " seru Rea sambil mengangkat gelas berisi Wine di tangan satunya.


Dahi Gema sedikit berkerut, " dimana kau mendapatkannya ? ".


" Ceh, aku hanya tinggal meminta pada pelayan hotel Gema " sahut Rea terkekeh. Wajahnya kini telah memerah di tengah dinginnya udara malam, dengan anak rambut yang bermain oleh hembusan angin.


" Ayo masuk " ajak Gema sedikit mendekat. Namun Rea justru dengan berani menggelengkan kepala, " aku masih ingin disini " sahutnya.


" Apa kau tidak kedinginan hmmm... ?, angin sangat kencang Rea " kata Gema begitu lembut, tapi Rea kembali menggelengkan kepala, " aku menyukai ini Gema " katanya tersenyum.


" Kau akan sakit kalau terus berada disini "


Rea berdelik, " kenapa kau menjadi begitu cerewet " katanya terlihat kesal. Namun ia tak kembali membantah.


Dengan perlahan ia meletakkan gelas di tangannya ke atas meja, lalu bergerak masuk.


Mata Gema membesar ketika mendapati sebotol wine yang hampir kosong, " kapan dia menghambiskannya ? " gumamnya tak habis pikir, lalu perlahan ikut bergerak menyusul langkah Rea.


" Kau baik-baik saja ? " serunya sambil berlari, saat menemukan Rea yang hampir terjungkal ke sisi tempat tidur, di tariknya cepat tubuh perempuan itu hingga merapat pada tubuhnya sendiri, " kau baik-baik saja ? " ulangnya.


Tanpa merasa bersalah perempuan yang berada di pelukannya itu tersenyum padanya, dengan mata yang menatap sendu, " tidak.. " katanya menggelengkan kepala, " aku mabuk.. " sambungnya lagi.


Gema terkesiap sejenak, menatap bola mata coklat yang berada di hadapannya, " ya kau mabuk " ucapnya menyadarkan diri. Hampir saja ia tidak bisa menahan diri untuk mengecup ranum merah bibir yang hanya berjarak beberapa senti dari bibirnya, " tidurlah " katanya sambil membawa tubuh itu mendekati tempat tidur.


Gema memalingkan wajah mendapati Rea tak berhenti menatap padanya, " Gema.. " panggil Rea dengan hambusan nafas yang hangat dan aroma wine tak pelak menerpa wajahnya, ia terdiam dengan jantung yang berdebar, " emmm .. " sahutnya, sambil terus membawa tubuh perempuan itu.


" Kau tahu... " kata Rea menjeda.


" Ya.. "


" Lihat aku Gema " pekiknya. Namun dengan nada yang sedikit manja.


Dan dengan berat hati Gema kembali menatap padanya, " kau benar-benar mabuk, wajahmu memerah Rea " katanya mengalihkan debaran jantung yang semakin terpompa hebat ketika kembali melihat bibir merah perempuan itu, " kau tahu, kau menyebalkan " ucap Rea, mata sendunya kini sedikit membara menatap Gema.


" huh.. " tanggap Gema terkejut.


" Ya, kau menyebalkan " teriak Rea tertahan, " tidak, tidak bukan kau tapi Bella " lanjutnya.


Pupil mata Gema membesar mendengar itu, dengan masih membiarkan perempuan itu melanjutkan bicaranya.

__ADS_1


" Kenapa dia harus mengganggu huh, padahal aku begitu senang menikmati makan malam kita berdua " cercah Rea


Deg


Gema menahan nafas sesaat dengan jantung yang berdegub semakin kencang.


" Dia benar-benar menghancurkan suasana hatiku tadi " sambung Rea, wajahnya begitu jujur memperlihatkan kekesalan, " tapi untungnya kau memberiku bunga " katanya lagi dengan kembali tersenyum menatap mawar yang masih terus berada di tangannya, kembali di hirupnya aroma mawar itu.


Melihat itu Gema tersenyum, " aromanya sudah habis, kau terus menciumnya sejak tadi " katanya sambil ingin mengambil beberapa tangkai mawar itu dari tangan Rea, " mau kau apakan huh, ini punyaku " pekik Rea seraya mempererat pegangannya pada tangkai mawar.


" Ini sudah hampir layu, besok aku akan memberikan kembali " kata Gema dengan begitu lembut, kedua ujung bibirnya tak berhenti melengkung.


Mata sendu Rea menatap lamat padanya, " apa itu benar ? "


" Tentu "


" Janji "


" Janji " balas Gema dengan bersungguh-sungguh.


Bibir Rea kembali melengkung, dengan tubuh yang sudah di baringkan oleh Gema di atas tempat tidur. Matanya perlahan memejam, " tidurlah " kata Gema dengan kembali menarik tangkai mawar itu dari tangannya. dan perlahan mata Rea kembali terbuka, " besok aku akan membelikan bunga yang baru, aku janji " katanya cepat sebelum perempuan itu kembali mengamuk.


Tapi justru Rea hanya diam tanpa berkata apapun, mata sendunya kembali menatap lamat pada wajah Gema, " aku masih tidak percaya kau sudah menjadi suamiku " katanya dengan tersenyum.


" Begitu lucu " sambungnya. Lalu menghela nafas, " Gema .. "


Rea menggelengkan kepala, lalu menarik nafas, " aku benar-benar tidak suka ketika Bella menghubungimu " katanya dengan nada yang serak. Namun tidak ada keraguan dalam ucapannya.


Gema masih terdiam, dengan tatapan yang tak beralih dari wajah Rea.


" Tolong hindari handphonemu dariku, supaya aku tidak tahu ketika dia menelponmu "


" Rasanya benar-benar menyebalkan " sambung Rea, ia terlihat begitu marah ketika mengatakan itu. Dan tentunya itu tidak akan di ucapkan dalam keadaan dia sadar. Alkohol yang masuk dalam tubuhnya benar-benar membuatnya lupa diri.


" Kau dengar ! " pekiknya pada Gema


" Hemm ya.. "


" Aku sungguh tidak suka perempuan itu menghubungimu " sambungnya dengan nada yang lebih meninggi, lalu kembali menghela nafas, " tapi aku tidak bisa mencegahnya, dia kekasihmu dan aku hanya istri kontrakmu " lanjutnya begitu lirih.


Gema tersentak mendengar itu, menatap lamat pada wajah yang kini perlahan kembali terpejam, " apa yang dia ucapkan bersungguh-sungguh " gumamnya.


Jantungnya tak berhenti berdegub cepat dengan hati yang terasa menghangat, kembali di tatapnya wajahnya yang kini terpejam dengan damai bersama dengkuran halus, " aku akan berusaha... " katanya menggantung, lalu terdiam.


Di usapnya lembut wajah tertidur Rea, " aku tidak tahu apa yang saat ini aku rasakan, tapi sepertinya aku sudah menyukaimu " ucapnya dari hati, bahkan ia seperti tanpa sadar mengucapkannya.

__ADS_1


Gema beranjak dari sisi Rea dan membiarkan perempuan itu tetap tertidur lelap di bawah selimut yang ia pasangkan.


" Bawakan aku sebotol Wine " pintanya pada pelayan hotel yang kini tengah tersambung di dalam gagang telepon yang ia pegang, lalu meletakan kembali benda itu ke tempatnya.


Setengah jam sudah berlalu setelah botol wine pesanan Gema tiba.


Dan saat ini untuk ke empat kalinya ia mengisi cairan merah itu ke dalam gelasnya. Tubuhnya kini sedikit menghangat meski angin pantai tak berhenti menerepanya.


Setengah mabuk di cermatinya deburan ombak yang tak berhenti menggulung, " apa yang harus aku lakukan ? " gumamnya dengan perasaan bimbang yang tiba-tiba melanda.


" Apa yang sebenarnya kini aku rasakan ? " tanyanya lagi pada dirinya sendiri. Dua wajah perempuan kini terlintas dalam pikirannya yang melayang, " ceh, aku merasa hampir gila " katanya tersenyum smirk. Dan bersamaan telinganya mendengar suara rintihan, dengan bergegas ia masuk ke dalam kamar tidurnya, " Rea.. " panggilnya ketika mendapati perempuan itu terlihat resah dengan mata yang masih terpejam.


" Pergi pergi, aku baik-baik saja " teriak Rea dengan peluh yang mulai menetes.


" Rea, Rea.. " panggil Gema menghampiri, mengusap pipi perempuan itu dengan begitu lembut.


" Pergi .. " teriak Rea. Matanya terbuka lebar bersama nafas yang tersengal.


" Kau baik-baik saja ? " tanya Gema khawatir, tanpa menjawab Rea langsung memeluk erat tubuhnya, " aku disini tenanglah " katanya, tangannya bergerak mengusap lembut punggung Rea.


Nafas tersengal Rea perlahan melambat, dan juga pelukan eratnya pada tubuh Gema perlahan melonggar, " maaf.. " ucapnya begitu pelan, sambil melepas pelukannya.


" Kau baik-baik saja ? , tunggu disini, aku ambilkan air minum " kata Gema sebelum sempat Rea menjawab pertanyaan. Namun geraknya terhenti oleh tangannya Rea yang tiba-tiba memegang erat tangannya, " ada apa ?, apa ada yang sakit ? " katanya kembali duduk di sisi tempat tidur, " kau ingin sesuatu.. "


" Jangan kemana-mana.. " ucap Rea menimpali ucapannya.


Gema terdiam sejenak dengan menatap pada wajah sayu Rea, " jangan pergi.. " ulang perempuan itu.


" Aku tidak kemana, aku hanya ingin mengambil air untukmu "


Rea menggeleng, " jangan kemana-mana, please " pinta Rea, mata sayunya terlihat begitu memohon.


Gema menarik nafas, lalu tersenyum, " aku tidak akan kemana-mana " katanya.


" Sekarang tidur kembali " pintanya lagi, tapi Rea terlihat tidak bergerak, bahkan tak berhenti dari menatap wajahnya, " sungguh aku tidak akan kemana-mana, aku akan menemanimu disini " katanya meyakinkan Rea.


Perlahan perempuan itu mulai bergerak tapi bukan untuk kembali berbaring melainkan memegang wajah Gema.


Cup


Rea mendaratkan ciuman, " terimakasih " katanya dengan tersenyum.


Sementara Gema masih terdiam dengan jantung yang kembali berdebar, ia benar-benar terkejut dengan sentuhan singkat yang baru saja mendarat di bibirnya.


Setelah mengucapkan itu, wajah Rea perlahan menjauh. Namun kemudian tertahan oleh tangan Gema yang kini menangkup kedua wajahnya, " kenapa ? " tanyanya.

__ADS_1


Tanpa menjawab kini bergantian Gema yang mendaratkan bibirnya di bibir Rea, di lumatnya dengan lembut bibir perempuan itu. Ia seperti punya kuasa untuk melakukan itu tanpa meminta izin pada pemiliknya. Bahkan ia seperti tak ingin berhenti saat ini.


__ADS_2