
Rea baru saja tiba di halaman rumah Devita , di tariknya nafas dengan begitu dalam sebelum kembali melangkah untuk masuk ke dalam rumah berwarna putih itu , " setidaknya dia tidak sampai ingin membunuhku " gumamnya dengan kembali sedikit menghela nafas.
tangannya sudah bergerak untuk menekan tombol bel pintu dengan tubuh yang tiba-tiba menjadi gugup saat membayangkan dirinya baru saja akan menghadapi sahabat yang pasti akan bertingkah seperti petugas FBI , dan ia takut ia tidak bisa berbohong pada perempuan itu.
" Nona Rea " sapa seorang pelayan yang bekerja di rumah Devita dan Rea tersenyum , " dimana Devita ? " tanyanya sambil berjalan masuk.
" Nyonya sedang berada di taman belakang Nona "
" Baiklah , terimakasih " ucapnya lalu segera menyusul ke tempat dimana sahabatnya itu kini berada.
" Rea.... " panggil Devita dengan mata yang sedikit membesar.
" Haii.. " balasnya dengan senyum hambar dan jantung yang sedikit berdetak cepat dari biasanya , " kenapa kau tidak bilang akan datang kemari huh ".
" Apa rumah ini sudah tidak bisa menerimaku begitu saja huh, apa aku harus reservasi terlebih dahulu untuk datang kemari ? " balas Rea sedikit kesal.
" Bukan begitu , kau sendiri tadi yang mengatakan kalau hari kau begitu sibuk dan sekarang malah tiba-tiba datang kemari.. "
" Ceh , menyebalkan.. " tambah Devita.
" Berikan Raina padaku " pinta Rea dengan ke dua tangan yang mengarah ke depan , lalu seperti mengerti gadis kecil itu langsung tertawa ketika tubuhnya sedang di angkat untuk di berikan pada Rea , " dia terlihat begitu merindukan aku " gumam Rea gemas dengan tak hentinya mencium pipi halus baby Raina.
" Aaah pikiranku menjadi begitu tenang sekarang " katanya sambil mendekap gemas tubuh Raina ke dalam pelukannya , sementara Devita masih terdiam dengan mata yang terus mengamati wajah wanita di hadapannya , " tanyakan apa yang ingin kau tanyakan dan jangan melihatku seperti itu " kata Rea menyadari.
" Aku sedang memberi kesempatan untuk kau bercerita sebelum aku yang bertanya " balas Devita menatap dingin.
" Kau benar-benar bertingkah seperti Ibuku Dev " ujar Rea tertawa , namun dengan cepat menutup kembali bibirnya saat wanita di hadapannya tidak beraksi apa-apa , " jangan begitu serius Dev ,kau membuatku takut ".
" Dan kau membuatku kesal" balas Devita, lalu sesaat suasana menjadi menghening.
" Aku bingung akan memulai darimana , tapi yang pasti ..... " katanya menggantung.
" Apa.. ? "
" Aku dan Gema akan Menikah minggu depan"
sambung Rea dan itu benar-benar membuat bola mata Devita membulat dengan sempurna , " kau gila Rea , jangan bercanda padaku " katanya masih tidak percaya.
Rea menghela nafas , " sungguh aku tidak bercanda .. " ucapnya begitu pelan.
" Bagaimana bisa ini terjadi Rea , bahkan aku masih kesulitan memikirkan bagaimana bisa kalian akan menikah ,lalu kau menambahnya dengan memberitahu bahwa pernikahan itu akan terjadi minggu depan "
" Ini gila , ini benar-benar gila " umpat Devita yang menjadi tidak habis pikir.
__ADS_1
" Berikan Raina pada Baby Sisternya , kau dan aku benar-benar harus bicara " ucapnya begitu serius dan Rea menurut dengan sambil mencium Raina ia memberikan gadis kecil itu pada pelayan yang sudah mendekat.
" Ibumu begitu serius.. " bisiknya pada Raina sebelum gadis kecil itu di bawa pergi.
" Sekarang ceritakan semuanya padaku dan jangan ada yang tertinggal sedikit pun " ucap Devita saat kini mereka hanya tinggal berdua.
Rea masih terdiam dengan menatap pada satu arah , lalu kemudian bibirnya tersenyum , " harusnya kau mengatakan selamat terlebih dahulu padaku " ucapnya ceria.
" Tidak , aku harus tahu terlebih dahulu alasannya ini terjadi "
" Ceh " bibir Rea berdecih dan kembali tersenyum.
" Ini terjadi begitu saja Dev , setelah Gema tertangkap basah tertidur di rumahku malam itu ,paman Frans terus mendesak kami untuk menikah " jelasnya tanpa berani melihat ke arah Devita.
" Apa terjadi sesuatu di antara kalian ? " tanya Devita menatap serius.
" Tentu tidak " balas Rea sedikit meninggi , " kau kira perempuan apa aku ini " sambungnya tidak terima.
" Jika tidak terjadi apa-apa lalu kenapa kalian harus menikah ? "
Deg
Jantung Rea seperti tiba-tiba ingin loncat dari tempatnya dengan seiring pertanyaan Devita yang membuat dirinya seakan tidak bisa berkutik , " emmm... itu " jawabnya terpotong oleh otak yang harus bekerja keras mencari jawaban yang tepat.
" Kenapa ? pernikahan bukan sebuah hubungan yang main-main Rea , jangan melakukannya jika kau terpaksa " ucap Devita begitu serius ,
Rea kembali terdiam dan sedikit merenung oleh ucapan perempuan itu , " tidak aku tidak terpaksa Dev , bukan hanya aku yang menginginkan pernikahan ini tetapi juga Gema "
" Bahkan kami berdua yang menginginkan pernikahan itu terjadi minggu depan "
" Rea.... " panggil Devita begitu pelan.
" Hemmm.. "
" Kau tidak sedang mencoba menutupi sesuatu dari ku kan ? "
Deg
Rea menelan paksa ludahnya dengan tenggorokan yang terasa sedikit tercekat , " emmm tidak , mana mungkin aku menutupi sesuatu darimu " jawabnya dengan begitu yakin dan membuat gesture tubuhnya dengan sangat normal supaya perempuan di hadapannya tidak mencurigai sedikit pun , tapi ia tidak bisa menapik kalau kini tubuhnya sedang sedikit bergetar , ia tidak pintar dalam berbohong.
" Lalu bagaimana Bella ? , apa hubungan Gema dengannya telah berakhir ? "
" Ntahlah Gema hanya mengatakan biar Bella menjadi urusannya " jawab Rea yang tidak lagi ingin berbohong , " aku tidak ingin mencampuri dalam urusan itu Devita ".
__ADS_1
" Tapi dengan begitu kau terlihat jahat Rea , kau seperti menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka "
" Dev jaga bicaramu " katanya dengan nada yang sedikit meninggi dan menatap serius pada sahabatnya.
" Maaf bukan begitu maksudku , hanya saja aku tak ingin orang lain berpikir buruk tentangmu Rea "
" Dengan aku menikah atau tidak dengan Gema , Bella tidak akan pernah di terima di keluarga Antonio Dev jadi keberadaanku tidak berpengaruh apa-apa dalam hubungan mereka "
" Maksudmu.. ? , bagaimana jika ternyata di belakangmu Gema dan Bella tetap menjalin hubungan ? "
" Terserah , aku tidak ingin di pusingkan dalam hal itu "
" Rea ... " panggil Devita yang juga sedikit meninggikan suaranya , " pernikahan seperti apa yang kau rencanakan Rea , ini tidak benar.. "
" Ceh " decih Rea dengan ujung bibir yang tersungging , " kau tentu tahu Dev,aku bukanlah orang yang peduli seperti apa dunia pernikahan bahkan kau juga tahu bahwa aku tidak pernah ingin membangun hubungan seperti ini "
" Lalu kenapa kau menginginkan itu sekarang ? "
" Karena keadaan yang menyudutkan aku untuk memiliki keturunan , bukankah itu juga perkataanmu "
" Tapi bukan seperti ini caranya Rea , aku memang ingin kau menikah tapi bukan dengan keadaan seperti ini , suatu hari kau pasti akan menemuka.... "
" Aku tidak lagi percaya itu " potong Rea.
" Aku tidak lagi percaya bahwa di dunia ini ada seseorang yang akan mencintai aku dengan tulus Dev "
" Rea..." ucap Devita lirih.
" Bahkan aku tidak tahu lagi seperti apa sebenarnya perasaan cinta itu " kata Rea dengan kembali tersenyum dingin , sementara Devita telah terdiam dengan menatap sendu padanya.
" Aku menyetujui pernikahan ini karena Gema adalah anak paman Frans ,orang yang begitu menyayangiku seperti anaknya , kau sendiri tahu selain kau hanya dia yang menyayangi dan peduli padaku Dev "
" Jadi aku berpikir Gema adalah lelaki yang tepat untuk menjadi suamiku"
" Rea pernikahan yang tidak di landasi oleh perasaan cinta itu tidak akan bertahan lama Rea.. "
" Aku tidak peduli Dev , yang aku pikirkan dari pernikahan ini hanyalah supaya aku bisa memiliki anak untuk menjadi keturunanku nanti dan tentu hal yang sangat baik jika dia juga terlahir dari keturunan keluarga Antonio "
" Rea kenapa kau menjadi seperti ini... "
" Itu karena aku tidak lagi percaya cinta Devita" katanya melemah.
" Perasaan itu tidak akan membuat aku menemukan seorang suami , karena sampai kapan pun aku tidak akan lagi merasakan jatuh cinta " ucap Rea dengan ujung bibir yang sedikit tersenyum dan mata yang menatap pada satu arah.
__ADS_1