KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Nomor Telepon Tak di Kenal


__ADS_3

Gema berdiri tenang, menatap deburan ombak dari tempatnya. Angin menuju malam menerpanya dengan damai, dan berhasil membuat rambut halusnya terus bergoyang. Tapi tidak ada rasa dingin yang menusuk, meski kini ia hanya menggunakan celana sebagai penutup tubuhnya.


Tanpa sadar berulang kali ia menghela nafas. Pikirannya menerawang tentang dua hal. Pertama, ia benar-benar tak bisa berhenti memikirkan tentang kejadian di tokoh bunga tadi siang, kata-kata wanita setengah baya itu tak lepas dari ingatannya, dan kedua tentang permohonan Rea. Ia menyukai permohonan itu, tapi ada sesuatu yang sulit di jelaskan untuk apa yang dia rasakan. Bahkan ia sendiri sulit memahami.


Dia bahagia jika memang benar doa Rea akan segera terwujud. Tentu, dia ayah dari keturunan itu. Tapi itu berarti, pernikahan yang baru di jalani beberapa hari ini sudah bisa di tebak akan segera berakhir ketika itu sudah terjadi. Dan tanpa ia sadari, dirinya terlalu sibuk memikirkan hal kedua.


Sepanjang perjalanan pulang dari Pura tadi senja, ia belum bicara sepatah kata pun. Tidak juga Rea, perempuan itu juga terlihat sibuk dengan pikirannya.


Ketika tiba di kamar hotel. Setelah meletakkan tas tangannya, Rea langsung berjalan menuju kamar mandi, lalu merendam hampir setengah tubuhnya di dalam bui. Dan ia belum keluar sampai saat ini, padahal sudah lebih dari satu jam itu berlalu.


Sekali lagi Gema menghela nafas. Ia sungguh belum berniat untuk beranjak dari tempatnya. Menatap deburan ombak dan menikmati semilir angin, jauh lebih baik dari pada ia berada di atas tempat tidur, atau sofa di dalam ruang tidurnya bersama Rea.


Pikirannya yang melayang kini terganggu oleh samar suara nada dering. Ia terdiam sejenak, memastikan bukan benda miliknya yang berbunyi.


Untuk pertama, ia mengabaikan suara itu. Kedua kalinya nada itu kembali terdengar, ia mulai bimbang untuk tetap berada di tempatnya, atau memastikan siapa yang terlihat begitu penting menghubungi istrinya pada saat ini. ya Rea istrinya.


Ketiga kalinya, benda pipih yang ia ingat di letakan di atas nakas itu kembali berbunyi. Membuatnya tidak bisa menahan rasa penasaran. Langkah besarnya bergerak cepat menuju tempat benda itu.


Lima langkah lagi ia hampir sampai. Rea keluar dari kamar mandi. Pandangan mereka bertemu dan hening sejenak.


" Handphonemu terus berdering " kata Gema memberitahu. Rea mengangguk, dengan tubuh yang di balut cepat oleh pakaian mandi. Dirinya berjalan menuju nakas. Gema dapat melihat jelas bui sabun yang masih menempel di kakinya dan menumpuk di ekor kepalanya, dan air yang menetes setiap langkah kaki perempuan itu bergerak.


Ia cukup penasaran, ketika perempuan itu hanya terpaku menatap handphonenya yang masih berdering, lalu kemudian berakhir. Dan beberapa detik kemudian kembali berdering, dia ia masih terpaku.


" Siapa ? " kata Gema bertanya. Ia sungguh tidak bisa menahan diri saat itu.


Rea menatap sesaat padanya, " ntahlah. Nomornya tidak tersimpan disini ", balas Rea, yang kemudian kembali menatap layar handphonenya.


" Mungkin rekan bisnismu " ujar Gema menebak.


Dan Rea segera menggeleng saat itu, " ini nomor pribadiku ", katanya menjelaskan dengan singkat. Dan Gema langsung mengerti, jadi itu berarti tidak akan mungkin ada orang asing yang mengetahui nomor handphonenya.


" Biarkan aku yang menjawab teleponnya "


Mendengar itu Rea kembali menatap sejenak padanya. Dan tanpa bicara, ia memberikan benda pipih di genggamannya.


Gema memandang sesaat pada nomor yang tertera di layar. Ia tahu jelas, itu nomor telepon yang berasal dari negara mereka sendiri. Dan tanpa menunggu, ia menggeser menu berwarna hijau di dalam layar. Rea memandang lekat padanya saat itu.


" Hallo Rea " kalimat pertama yang Gema dengar ketika panggilan itu tersambung. Dan handphone Rea telah berada di telinganya. Ia menelan ludah tanpa sadar, saat mendengar suara pria disana, " Rea.. " ulang suara itu. Ada nada prustasi disana.

__ADS_1


Gema memandang pada Rea yang menatap penuh penasaran. Kemudian di alihkannya suara ke mode speaker. Sesaat suara dari balik panggilan itu menghening.


" Rea " suara itu kembali mengulang memanggil nama pemilik handphone yang masih berada di tangan Gema.


Gema melihat jelas pupil mata Rea yang membesar ketika mendengar suara itu. Suara yang sedikit samar, tapi nadanya jelas. Sangat bisa di kenali untuk orang yang mengenali betul nada bicaranya.


" Rea kau disana... "


Itu kalimat terakhir yang terdengar, sebelum Rea merampas benda pipihnya dari tangan Gema, lalu mematikan dengan tergesa-gesa panggilan itu.


Beberapa detik kemudian benda pipih itu kembali berdering, dan berhenti sekejap oleh tangan Rea yang bergerak cepat menggeser menu berwarna merah di layar handphonenya. Dan setelah itu suasana menghening. Perasaan canggung melambung memenuhi ruang.


Dua menit telah berlalu, saat Rea memastikan handphonenya tidak lagi berdering. Ia tersenyum hambar ketika mendapati sepasang mata menatapnya penuh tanya. Di letakan kembali handphonenya di atas nakas, dan tanpa berkata ia kembali berjalan menuju tempatnya semula. Tapi sebelum itu, laki-laki yang masih berdiri terpaku di sisi tempat tidur mengetahui jarinya yang bergerak menekan tombol silent pada benda pipihnya.


Gema menghela nafas, ketika pintu kamar mandi terdengar tertutup. Ia masih tak bergerak dari tempatnya, memandang sesaat pada handphone yang sudah di letakan kembali di atas nakas. Sebuah tanya besar melambung di pikirannya. Ia ingin mengabaikan hal itu, tapi pikirannya sendiri kalah. Rasa penasaran lebih besar melambung dari keinginannya untuk pergi dari sana dan kembali ke balkon hotel.


Ia terkesiap ketika melihat layar handphone itu, tiba-tiba kembali menyala. Di dekatinya, tanpa peduli jika saat itu pintu kamar mandi akan terbuka.


" Kita perlu bicara Rea. Aku tak percaya pada berita yang baru saja aku lihat. Kau masih mencintaiku, aku tahu itu. Dan aku hancur saat ini "


Gema terdiam, ketika menemukan kalimat itu di layar handphone Rea. Pesan yang baru saja masuk beberapa detik yang lalu. Rahangnya mengeras tanpa ia sadari. Ia cukup mengulang dua kali untuk membaca pesan itu, sebelum akhirnya memilih meninggalkan benda pipih itu tanpa tersentuh.


" Ya " jawabnya. Tak membiarkan gagang telepon itu bergetar lebih lama.


" Makan malam sudah di siapkan Tuan ", kata seseorang dari balik telepon. Hanya sebait kalimat itu yang berhasil masuk ke dalam pendengarannya. Setelah sebelumnya, seseorang dari balik panggilan itu menyapanya dengan sangat ramah. Dan ia tak menggubris hal itu.


" Baik " katanya membalas, lalu menutup panggilan itu, tanpa peduli dengan apa lagi yang sedang di bicarakan oleh seorang perempuan di seberang sana.


" Siapa ? " sebuah tanya yang membuatnya tersentak. Ia tak tahu sejak kapan perempuan itu keluar dari dalam kamar mandi. Tidak ada suara pintu yang terbuka, di pendengarannya.


" Pelayan hotel " jawabnya singkat.


" Ada apa ? " tanya perempuan itu lagi. Kini mimik wajahnya terlihat jauh berbeda, tak seperti saat beberapa menit yang lalu. Pipi basahnya terlihat cerah, dengan sinar bola mata yang lebih terang memandang ke arahnya.


" Makan malam sudah di siapkan... "


" Kalau begitu, kenapa kau masih disini " pekik perempuannya memotong. Berjalan cepat ke arahnya, lalu mendorongnya menuju pintu kamar mandi, " tak lebih dari sepuluh menit " katanya memperingati, dan setelah itu tersenyum cerah. Secerah sinar senja setelah hujan tiba-tiba tadi sore.


" Kau sudah selesai ? " seru suara dari seorang yang tak terlihat dimana keberadaannya, saat pintu kamar mandi terbuka oleh Gema.

__ADS_1


" Bajumu di atas tempat tidur " pekiknya lagi. Gema memandang ke atas tempat tidur, dan melihat pakaian yang terlipat rapi tengah tergeletak di sana. Lalu menatap heran ketika menyadari baju kemeja berwarna putih susu di atas lipatan celana berwarna hijau olive.


" Hei kenapa melamun ? " sergah Rea. Yang entah sejak kapan perempuan itu telah berdiri disisinya. Keadaannya jauh begitu rapi dan elegan. Rambut yang tertata rapi dengan ujung yang bergelombang, yang sebagian di selipkan di antara kedua daun telinga yang di hiasi oleh sepasang anting berwarna silver yang menjuntai.


Dress berbahan bludru dengan warna merah maroon, cocok dengan sinar mata coklatnya yang terang. Meski saat itu bibirnya belum terpoles oleh pewarna bibir.


" Malam ini, malam terakhir kita disini. Jadi aku ingin makan malam yang indah " katanya menjelaskan. Mengambil handuk di tangan Gema, lalu mengusapnya di rambut basah lelaki itu. Dengan kaki yang berjinjit.


Gema tak bersuara, sampai perempuan itu menyapu bersih sisa air di kepalanya. Yang ia sadari saat itu hanya sepasang mata coklat yang terus ia pandangi dan bibir yang terus mengoceh, " cepat pakai bajumu " katanya memerintah, sebelum kembali lagi ke hadapan cermin.


Alunan musik jazz beriringan dengan suara pisau yang sedang memotong, sepotong daging setengah masak di atas piring. Bergantian dengan suara hentakan garpu pada kentang panggang.


Tidak lama seorang pelayan laki-laki datang. membuka sebotol anggur merah yang berasal dari itali. Usia minuman itu jauh lebih lama dari umur ayah mertua perempuan yang duduk disana. Sesaat perempuan itu tersenyum, lalu melihat pada laki-laki di hadapannya, " ini minuman kesukaan paman " katanya memberitahu. Laki-laki itu mengangguk, membenarkan. Karena ia sendiri juga mengetahui hal itu. Tapi setelahnya, matanya memandang penuh selidik.


" Maksudku Ayah ", kata perempuan itu meralat.


Beberapa menit kemudian pelayan sudah pergi. Meninggalkan dua gelas yang terisi minuman dari botol yang tadi ia buka, bersama botol itu sendiri.


Cheerss


Rea mengangkat gelas di tangannya. Mengarahkannya ke tengah meja, tepat di atas lilin-lilin kecil.


Lengkingan dari dua gelas yang bertemu, bergema di dalam ruang yang hanya diisi sepasang manusia itu.


Rea menyesap lembut cairan merah itu ke dalam mulutnya. Menikmati setiap tetes demi tetes yang menyentuh lidahnya. Dan saat itu, dia terganggu oleh suara desis menahan tawa dari lelaki di hadapannya. Matanya menatap penuh selidik.


" Cara minummu jauh lebih baik " ucap Gema. bibirnya mengerucut mendengar itu. Namun, kemudian ia tertawa. Kalimat itu berhasil membuyarkan kecanggungan di antara mereka saat itu.


Dan bersamaan handphone yang di letakan di atas meja berdering. Mata Rea kembali terkesiap, terpaku menatap layar handphonenya. Membuatnya meletakan kembali gelas di tangannya ke atas meja.


Dan dari tempat duduknya Gema langsung mengerti. Dering telepon itu pasti berasal dari nomor yang sama dengan seseorang yang mengirim pesan pada perempuan itu. Pesan yang sudah ia baca tanpa di ketahui dan sebuah pesan yang berhasil membuatnya tidak berminat untuk melakukan makan malam ini, tapi itu sebelum akhirnya ia menyerah pada pesona perempuan di hadapannya.


Tapi suara dering itu, kini juga berhasil meleburkan suasana yang baru saja mencair beberapa detik yang lalu. Gema menghela nafas. Ia tak cukup sabar untuk membiarkan benda pipih Rea itu terus berdering. Tanpa ijin, tangannya mengapai cepat benda itu. Tak peduli sepasang mata coklat tengah menatap panik padanya.


Di tatap sekilas layar benda itu. Lalu ia menekan tombol turn off disana, " jangan biarkan makan malam kita terganggu " katanya cukup dingin, lalu mengembalikan benda itu ke tempat asalnya.


Sementara Rea hanya bisa membalasnya dengan tersenyum kaku. Ia cukup tak menyangka, bahwa lelaki di hadapannya akan melakukan hal demikian. Setelah, sebelumnya ia berpikir bahwa lelaki itu akan menjawab panggilan itu. Dan itu cukup berhasil membuatnya panik dan legah setelahnya.


Bukan berpikir untuk menyembunyikan, tapi lelaki itu tak perlu harus tahu siapa seseorang di balik nomor telepon itu. Yang ia sendiri juga tak perlu tak tahu, kalau sesungguhnya lelaki di hadapannya itu telah mengetahui.

__ADS_1


__ADS_2