KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Rencana yang di Restui oleh Tuhan


__ADS_3

Mata Elba membesar saat penglihatannya menemukan gambar tak biasa pada sampul koran yang di letakan di atas meja , dengan cepat ia mengambil benda itu dan memastikan apa yang baru saja ia lihat , " oh astaga " ujarnya begitu terkejut di sertai gerak tangan yang menutupi bibirnya yang terbuka.


" Ayah apa kau sudah mengetahui ini ? " tanyanya pada Frans yang sudah tersenyum padanya.


" Tentu sayang " sahut laki-laki paruh baya itu dengan wajah yang kembali berbinar ,


Elba mengalihkan padangannya dari koran dan menatap dengan lamat pada wajah suaminya , " apa ini yang membuat kau terus tersenyum sejak tadi ? "


" Mungkin "


" Atau apa ini semua memang rencanamu ? "


" Emmm tentang pembohongan bahwa kita tidak bisa hadir disana , selebihnya itu rencana Tuhan " jawabnya santai bercampur bibir yang tersenyum begitu lebar.


Elba menggelengkan kepala , " kau tidak bisa memaksakan perjodohan ini sayang , suatu saat nanti mereka akan terluka karena hal ini dan kita akan menyesalinya ".


" Oleh sebab itu aku tidak ingin membuatnya terpaksa namun itu terjadi dengan begitu saja , seperti yang kau lihat saat ini sayang , rencanaku hanya ingin mempertemukan mereka di acara pesta itu , namun ternyata Tuhan memberikan lebih dari yang apa aku rencanakan "


" Dan itu berarti rencanaku untuk perjodohan ini juga di restui oleh Tuhan " tambahnya dengan begitu bangga , " lalu bagaimana dengan kekasih Gema ? " tanya Elba yang berhasil membuat senyum di bibir suaminya memudar seketika , " itu bukan urusan kita untuk memikirkannya " sahutnya ketus lalu bergerak untuk beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Elba yang masih terdiam.


~


Gema mengerang saat handphonenya terus berdering dan mengganggu tidurnya yang baru sebentar , " shitt " umpatnya sambil memaksakan matanya untuk terbuka dan menggapai benda pipih yang masih berdering di atas nakas.


sesaat tatapannya terpaku pada nama kontak yang berada di layar handphonenya saat ini , " Bella " ucapnya serak ,ntah kenapa tiba-tiba perasaaannya menjadi gundah untuk berbicara pada wanita yang menjadi kekasihnya itu , " ya hallo " jawabnya pelan dan sedikit menghela nafas kecil.


" Kau apa maksudmu Gema ? , apa kau sudah menyudahi hubungan ini secara sepihak huh..." cercah dari seberang telepon yang berhasil membuat mata mengantuk Gema terbuka begitu lebar , " Apa maksudmu Rea , emm maksudku Bella " balasnya sambil mengutuk dirinya sendiri oleh lidah yang telah begitu ceroboh untuk mengucapkan nama seseorang di waktu yang tidak tepat.


" Oh ternyata ini memang benar " ucap Bella yang terdengar semakin kesal.


" Apa maksudmu , apa yang memang benar Bella ? aku sungguh tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba marah padaku "


" Ceh " decih Bella dari seberang.


" Tidak mengerti kau bilang ? , apa sekarang kau sedang berlagak tidak bersalah padaku huh ? "


" Astaga Bella ada apa denganmu ? , aku sangat lelah saat ini jadi jika kau akan terus seperti ini aku akan menutup teleponnya " bentak balik Gema dan sesaat suasana menghening sampai tiba telinga Gema mendengar suara isakan dari seberang telepon.


" Maafkan aku Bella , aku sungguh tidak mengerti apa yang sedang kau katakan " kata Gema melemah.


" Apa yang terjadi antara kau dan Rea ? " tanya Bella dengan terisak.

__ADS_1


Deg


Jantung Gema tiba-tiba saja bedegub lebih cepat dan pertanyaan itu benar-benar membuat tenggorokannya menjadi tercekat untuk mengeluarkan suara.


" Gema , kenapa kau diam ? , tolong jelaskan kenapa kau dan Rea bisa berada dalam berita seperti itu ? "


" Berita ? " ulang Gema dengan dahi yang sedikit berkerut karena memang tidak mengetahui berita seperti apa antara dirinya dan Rea , " ya , dan kenapa kau tidak bilang kalau malam itu kau bersama Rea ? "


Gema semakin di buat tidak mengerti oleh cercahan Bella yang seolah tahu semuanya dan lidahnya seperti terkunci untuk menjelaskan apa yang sebenarnya telah terjadi , " dari mana kau mengetahui kalau aku bersama Rea kemaren ? "


" Jadi itu benar ? "


" Jawab dulu pertanyaanku Bella "


" Kau benar-benar telah berubah Gema " kata Bella lirih dan terdengar kembali terisak.


" Bella ,aku hanya bertanya dari mana kau mengetahui berita itu , bagaimana bisa kau menyimpulkan kalau aku berubah "


" Tentu aku tahu , semua surat kabar dan timeline tengah memberitakan kalian berdua , apa maksudnya Gema ? "


" Tunggu tunggu , kau bilang surat kabar ?, ada apa disana ? "


" Kau bisa melihatnya sendiri " balas Bella kembali ketus , " dan tolong jelaskan padaku apa yang sudah terjadi dan apa hubunganmu dengan Rea " lanjutnya lalu menutup teleponnya secara sepihak.


Dan tatapan mata itu terkesiap oleh gambar dirinya dan Rea yang tiba-tiba saja berada dalam berita sosial media , " astaga " ucapnya terkejut dengan mata yang membulat sempurna setelah dirinya membaca judul artikel , " pantas saja Bella menjadi begitu marah " lanjutnya dan menjadi semakin bingung apa yang akan ia jelaskan pada perempuan itu dan akan semakin rumit jika perempuan itu mengetahui apa yang akan terjadi antara dirinya dan Rea.


" Apa Rea sudah mengetahui berita ini " gumamnya dengan pikiran yang sudah teralih dari kekasihnya dan perlahan jari jemarinya kembali bergerak untuk mencari kontak nama perempuan itu dalam handphonenya dan menjadi urung saat matanya melihat pada angka jam dalam benda itu , " dia pasti sedang sibuk " gumamnya lagi lalu mengakhiri niat untuk menghubungi wanita itu.


Gema menghela nafas , pikirannya benar-benar menjadi kacau memikirkan apa yang akan ia jelaskan pada kekasihnya lalu dengan mengusap kasar wajahnya ia kembali membuka layar handphone.


" Kita harus bertemu , aku akan menjelaskan semuanya dan ada sesuatu yang ingin aku bicarakan padamu " tulisnya dalam pesan yang baru saja ia kirim pada Bella.


" Kita bertemu nanti sore di kafe biasa " balas Bella pada pesannya.


Gema sesaat memejamkan mata dengan kembali menghela nafas , " semoga dia bisa menerimanya " gumamnya begitu pasrah , lalu benar-benar memejamkan matanya karena rasa kantuk yang tiba-tiba kembali hadir.


~


Rea baru saja selesai dengan pertemuannya bersama klien , dengan langkah yang di ikuti oleh asistennya ia berjalan menuju ruang kerjanya , " apa yang anda inginkan untuk makan siang nanti ? " tanya Maria dia sela langkah mereka.


" Tidak , aku sudah kenyang "

__ADS_1


" Anda yakin ? "


" Hemm.. "


" Maria "


" Ya Nona " jawab Maria yang mendadak menghentikan langkahnya saat melihat wanita di hadapannya kini berhenti dan menghadap padanya , " ada apa Nona ? " tanya bingung.


" Apa kita memiliki jadwal pertemuan setelah ini ? "


" Tidak , aku sudah memindahkan beberapa pertemuan hari ini untuk besok , karena aku yakin anda pasti masih lelah hari ini " jelas Maria dan Rea mengangguk menyetujui.


" Setelah ini ada sesuatu yang ingin aku kerjakan dan aku tidak ingin di ganggu oleh siapapun dan apapun "


" Baik nona " sahut Maria mengerti.


" Telepon aku jika hanya ada sesuatu yang mendesak "


" Baik nona " balasnya lagi , lalu Rea kembali berjalan menuju ruangannya.


" tunggu Nona " panggil Maria tiba-tiba membuat Rea menunda langkahnya , " Ada apa ? "


" Ada begitu banyak email yang masuk hari ini "


" Apa itu permintaan dari media ? "tanya Rea dan Maria mengangguk.


" Biarkan saja , aku sungguh tidak ingin terlibat pembicaraan dengan mereka "


" Tapi apa anda tidak ingin menjelaskan semuanya agar semua orang tidak menjadi salah paham "


" Aku rasa tidak perlu dan aku tidak mempunyai kewajiban untuk memuaskan pikiran orang lain ,meski itu tentang diriku sendiri " balas Rea dingin dan itu membuat Maria tidak ingin kembali menyela , " baik nona , katakan saja padaku jika nanti anda membutuhkan sesuatu " .


" hemm.. terimakasih Maria " sahutnya sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang kerja.


~


Sudah hampir tiga jam Rea berkutat dengan layar computernya dan berhenti saat beberapa lembar kertas telah berhasil ia print.


Jantungnya berdetak tak menentu memastikan kalimat per kalimat yang baru saja ia tulis , " aku rasa ini sudah sempurna " pujinya pada surat perjanjian yang baru saja ia buat , meski di dalam hatinya sedikit meragu.


Sambil menarik nafas ia mengambil benda pipih yang berada tidak jauh darinya , membuka layar benda itu lalu mencari kontak seseorang yang akan ia ajak berdiskusi dalam surat perjanjian yang baru saja ia buat.

__ADS_1


Semula ia ingin menyambungkan panggilan telepon , namun menjadi urung oleh perasaan gugup untuk berbicara , " aku sudah selesai membuat surat perjanjian untuk pernikahan kita dan aku ingin bertemu nanti sore, apa kau bisa ? " tulisnya pada pesan yang baru saja ia kirim pada Gema dan dengan perasaan cemas ia menanti balasan pesannya.


__ADS_2