KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Pilihan !


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu sejak kejadian pagi hari yang membuat wanita bernama lengkap Andrean menjadi gundah , bahkan berhasil membuat beberapa hari terakhir ia lalui dengan kacau , otaknya seperti tidak menyatuh dari kepala , apa yang ia kerjakan dan ia lakukan semua tidak ada yang beres karena pikirannya hanya tertuju pada satu nama yang belum memberi kabar apapun selama dua hari ini.


Ntah apa yang sebenar membuatnya gundah , tentang masalah pagi itu atau seseorang yang menjadi penyebab dari masalah itu dan ia sendiri tidak paham dengan apa yang sebenar dirinya rasakan.


Saat ini Rea sedang menikmati makan siangnya di temani Maria sang asisten , " makanlah Nona , sejak tadi anda hanya terus mengaduk makanan itu tanpa memakannya " pinta Maria yang terus memperhatikan tingkah bossnya itu.


Rea menghela nafas dan kembali meletakkan sendok yang berada di tangannya " Nafsu makanku sepertinya hilang Maria " ucapnya lemah.


Dan Maria tidak lagi menjawab , namun tangannya bergerak mengambil piring di hadapan Rea lalu ia pindahkan ke hadapannya , menyendok makanan itu dan mengarahkannya ke mulut Rea , ia tidak peduli jika wanita itu akan marah dan menyebutkan tidak sopan , " buka mulut anda Nona " pintanya dan spontan mulut Rea terbuka , membuat sendok yang berisi makanan di tangannya dengan gampang masuk , " beberapa hari ini anda sudah tidak makan dengan benar " ucapnya sambil kembali menyendok makanan di dalam piring.


" Maria apa kau sadar kalau kau sedang tidak sopan padaku " ucap Rea meninggi , namun tak terdengar kalau itu sebuah bentakan , " ya aku memang tidak sopan ,tapi dari pada kesopanan kesehatan anda lebih penting saat ini "


" Apa anda tidak menyadari kalau tubuh anda semakin kurus dan anda juga yang mengatakan kalau kita tidak boleh membuang makanan karena ada begitu banyak orang yang tidak makan di luar sana , bukankah seperti itu yang anda katakan " cercah Maria sambil kembali memasukan sendok berisi makanan tatkala mulut mungil itu telah kosong.


Rea terdiam dan tanpa bantahan ia terus mengunyah makanan yang terus masuk ke dalam mulutnya , meski tatapannya terlihat begitu kesal namun tidak membuat Maria menjadi ciut , justru itu terlihat begitu lucu untuknya , " ingat anda menafkahi banyak keluarga di negara ini , jadi bayangkan bagaimana keadaan mereka jika anda sakit ".


" Berhenti memperingatiku Maria , aku sudah menurut untuk tidak memuntahkan makanan ini "


" Baguslah " balas Maria enteng dengan bibir yang terlipat untuk menahan tidak tertawa.


" Kau " geram Rea dengan mulut yang masih di penuhi dengan makanan.


Dan bersamaan handphone milik Maria yang sedang di letakkan di atas meja berdering , " kunyah makanan anda dengan benar Nona , atau lambung anda akan sakit " ujar Maria tertawa sebelum meletakan piring di tangannya dan memeriksa siapa yang sedang menganggu jam istirhatnya saat ini , " Joe " ucapnya menyebut nama seseorang yang tertera di layar handphonenya.


Rea tersedak tak kalah perempuan itu menyebut nama seseorang yang ia sangat kenal , " ini pasti tuan Frans " ucap Maria sambil melirik kearah Rea yang sedang terbatuk dan ia masih menyempatkan tangannya untuk memberikan segelas air minum kepada perempuan itu , " Selamat siang Nona Joe " sapanya setelah panggilan itu tersambung.


" Apa yang bisa saya bantu ? " tanyanya lagi dan Rea mencondongkan tubuhnya untuk menyimak dengan fokus pembicaraan antar Maria bersama asistennya Frans , " emm , aku akan memeriksa jadwalnya kembali dan akan segera menghubungimu Joe ".


" Baiklah ,selamat siang " tutup Maria pada teleponnya yang baru saja berakhir.


" Tuan Frans ingin bertemu dengan anda Nona " jelas singkatnya dari inti pembicaraannya bersama Joe , Rea terdiam sesaat bersama wajah kembali panik.


" Bukankah setelah ini aku masih memiliki jadwal meeting ? "


" Tidak , setelah ini anda tidak memiliki pertemuan apapun Nona " jelas Maria yang kini berhasil membuat Rea menelan paksa ludahnya , " Dimana anda ingin bertemu dengan Tuan Frans ? " tanyanya lagi , sementara Rea masih berkecamuk dengan pikirannya sendiri , " Nona " ulang Maria.


" Bagaimana pun aku juga pasti akan bertemu dengannya " gumam Rea dengan meyakinkan diri.


" Anda begitu aneh Nona , aku perhatikan anda selalu gugup setiap kali aku mengatakan tentang tuan Frans " ujar Maria yang tidak mampu lagi menahan rasa penasarannya , " benarkah ? , itu hanya perasaanmu dan tentunya kami baik-baik saja " ucap Rea menyangkal.


" Katakan pada Joe , kalau sore ini aku akan mengunjungi paman Frans di kantornya " tambahnya dan Maria mengangguk.


Rea menarik nafasnya untuk meyakinkan diri kalau pilihannya bertemu Frans sore ini adalah pilihan yang tepat , " semua akan baik-baik saja " gumamnya pelan , namun masih terdengar di telinga Maria dan ia hanya memilih diam karena dalam hal ini bukan tempatnya untuk dia tahu lebih dari seharusnya.

__ADS_1


" Ayo Maria " ajaknya dan bergerak bangun dari kursi yang ia duduki , " anda belum menghabiskan semua makanan anda nona ".


" Aku sudah makan lebih dari porsiku Maria " bentaknya kesal , namun justru membuat asistennya itu tertawa.


Sepanjang langkahnya menuju ruang kerja , berulang kali Rea melihat ke arah layar handphone yang berada di tangannya , " kemana dia ? , walau tidak ada kabar baik , tapi seharusnya dia tetap memberi kabar padaku supaya aku tidak menunggu seperti ini " ujarnya kesal dengan tangan yang menggenggam semakin erat benda pipih di tangannya.


~


" Anda yakin tidak ingin saya temani Nona " ucap Maria dan Rea mengangguk sebelum akhirnya ia keluar dari dalam mobil yang mengantarnya pada gedung tinggi tempatnya saat ini , " aku akan menghubungimu jika pertemuanku bersama Paman Frans telah selesai " ucapnya sebelum beranjak.


" Tunggu Nona " panggil Maria membuat Rea menghentikan langkahnya.


" Sepertinya pertemuan anda tidak akan lama , jadi sebaiknya aku menunggu anda di lobby kantor "


Rea terdiam sesaat pikirannya begitu linglung untuk mencerna apa yang sedang di bicarakan oleh asistennya , " terserah padamu Maria " ucapnya dengan jantung yang berdetak semakin hebat , ia menapik kalau saat ini dirinya merasa begitu gugup.


Maria ikut turun dari dalam mobil , dan berjalan berdampingan bersama Rea sebelum akhirnya ia memilih berhenti di sofa besar yang berada di lobby kantor milik Frans , " aku akan menunggu anda disini " ucapnya pada Rea dan wanita itu mengangguk , lalu kembali berjalan menuju letak ruang CEO pemilik gendung itu.


~


" Tuan sudah menunggu kedatangan anda sejak tadi " sapa Joe saat menyambut kedatangan Rea.


" Terimakasih Joe " ucap wanita itu tersenyum , meski saat ini jantungnya seperti memberontak dari tempatnya.


wanita itu hanya tersenyum kecut dengan langkah perlahan menuju sofa yang telah di duduki terlebih dahulu oleh pemiliknya , " Paman sudah menyiapkan banyak makanan kesukaanmu " ujar Frans dan Rea membalasnya dengan senyum ia yang terlihat jelas ia paksakan.


" Ayolah nak , kau terlihat begitu gugup "


" Bagaimana aku tidak gugup Paman , apa anda lupa seperti apa pertemuan kita terakhir kali " balas Rea yang kini lebih berani untuk berbicara , Frans tertawa begitu keras tatkala saat kembali mengingat wajah pucat Rea di pagi itu , " kau terlihat begitu ketakutan saat itu " ujarnya di sela tawa.


" Tentu aku akan ketakutkan , wajahmu begitu menyeramkan " balas Rea , namun setelah itu dengan cepat ia mendekap mulutnya yang sudah berbicara tidak sopan pada lelaki paruh baya di hadapannya saat ini , " maafkan aku paman " ucapnya pelan dan Frans hanya mengangguk dengan terus tertawa.


" Lupakan kejadian pagi itu , aku ingin bertemu denganmu karena ada sesuatu yang memang harus aku bicarakan padamu "


" Apa ini masih bersangkutan dengan masalah pagi itu "


" Tentu "


" Tapi santai saja , ini hanya sebuah negosiasi dan pilihannya tetap padamu "


" Apa anda masih tetap ingin menikahkan aku pada Gema "


" Itu memang sudah mimpiku sejak dulu "

__ADS_1


" Tapi Paman , sungguh tidak terjadi apapun pada kami malam itu " jelas Rea dengan bersungguh-sungguh dan sangat berharap laki-laki paruh baya itu akan mengasihaninya.


" Aku sudah bilang lupakan kejadian pagi itu , iya atau pun tidak terjadi aku akan tetap berharap kau menikah dengan putraku "


" Tapi anda tidak bisa memaksakan semuanya Paman , putramu sudah mempunyai pilihannya sendiri "


" Itu yang menjadi permasalahannya Rea , aku tidak ingin putraku bersama perempuan itu " ucap Frans meninggi , membuat Rea terdiam sesaat , " tapi hatinya tidak bisa di paksakan Paman " ucapnya pelan.


Frans menarik nafasnya begitu dalam , sebelum kembali berbicara untuk hal yang paling penting untuk di bicarakan bersama wanita mudah di hadapannya , " menikahlah dengan putraku Rea " ucapnya atau lebih tepatnya seperti permohonan.


" Kau satu-satunya perempuan yang aku harapkan menjadi menantuku " tambahnya dan mengucapkannya dengan begitu dalam.


" Aku tidak akan bisa mencintai putramu paman dan dia juga tidak akan mencintaiku " balas Rea yang begitu saja kalimat itu keluar dari mulutnya.


" Aku tahu itu , dan tentang perasaan itu hanya soal waktu Rea"


" Tapi sampai kapan pun aku tidak akan pernah jatuh cinta Paman " ucapnya dan kalimat itu berhasil membuat hatinya merasa begitu perih , Frans kembali terdiam , " mari kita bernegosiasi Rea " ajaknya pada perempuan itu.


" Pertama bukan hanya aku yang di untungkan dalam pernikahan ini , tapi kamu juga , kami berjanji akan menjagamu seperti anakku sendiri dan kau akan memberi keturunan untuk kami dan untuk penerusmu juga ".


" Aku hanya ingin menjagamu Rea , aku sungguh menyayangimu seperti putriku sendiri , kau tidak bisa terus hidup sendiri seperti ini dan jika memang kau tidak akan pernah jatuh cinta pada siapapun , setidaknya kau menikah dengan keluarga yang paham akan hal itu dan kami tentu akan menerimanya "


" Hidupmu akan benar-benar berubah saat kau mempunyai seorang anak dan sebuah keluarga " tambah Frans yang kini berhasil membuat Rea terdiam , " bagaimana Bella ? , bukankah aku terihat begitu egois disini ".


" Dia sendiri tahu kalau aku tidak akan pernah merestui hubungannya bersama putraku , tanpa kehadiranmu pun suatu hari hubungan itu pasti akan berakhir "


" Lalu bagaimana tentang perasaan Gema "


" Jangan tanyakan itu jika kau sendiri tidak akan menyimpan perasaan untuknya Rea "


Mulut wanita itu seperti terkunci oleh ucapan Frans yang baru saja terlontar , " pikirkan Rea , pilihannya ada padamu "


" Dan satu lagi , aku sudah memikirkan untuk menyerahkan hak semua hartaku pada pemerintah jika seandainya Gema tidak menikah denganmu " ucap Frans yang terlihat tak main-main dengan perkataannnya.


Mata Rea membulat sempurna , " itu berarti Gema tidak akan mewariskan hartamu " .


" Tentu "


" Kenapa , bukankah dia yang paling berhak atas semua hartamu "


" Aku yang berhak menentukan pada siapa aku menyerahkan hartaku Rea , dan aku tidak ingin hasil jerih payahku di nikmati oleh orang-orang yang tidak berhak menikmatinya "


" Tapi ini tidak akan adil untuknya Paman "

__ADS_1


" Dia sendiri mempunyai pilihannya Rea " jelas Frans dan setelah itu suasana ruangan menjadi hening oleh pikiran mereka masing-masing.


__ADS_2