
Rea mengerang di atas tempat tidurnya, saat mendengar pintu kamarnya di ketuk sangat keras, " kenapa mereka begitu mengganggu sih ", geramnya, tapi bukannya bangun, dia justru menutup ke dua telinganya dengan bantal.
Dirinya merasakan tempat tidur yang bergerak, oleh seseorang yang bangun.
" Astaga " pekik Gema dan Rea membuka matanya saat itu, lalu kembali cepat menutupnya, ketika melihat lelaki itu tanpa pakaian.
" Hampir saja ", erang lelaki itu, sambil mencari pakaiannya yang berserakan di lantai.
" tunggu sebentar " , serunya, ketika kembali mendengar suara pintu di ketuk.
Sementara Rea, tidak bergerak dari atas tempat tidur.
" Selamat siang tuan " kata seorang pelayan menyapa.
" Ada apa ? " balas Gema, nadanya sangat ketus saat itu. Tapi itu hal normal terjadi, ketima seseorang terbangun karena ada yang menggangu tidurnya.
" Maaf Tuan, Nona Maria meminta kami membangunkan anda dan Nona.. "
Rea langsung bangun dari tidurnya, ketika mendengar nama Maria di sebut. Lalu menggumpal tubuhnya dengan selimut, " Jam berapa ini ? " katanya mendekat ke arah Gema. Dan langkahnya di hentikan lelaki itu, ketika sedikit lagi pelayan di hadapan pintu melihatnya.
" Jam dua siang Nona " balas pelayan. Gema langsung memandang tak percaya pada pria muda di hadapannya. Mata Rea membesar sempurna, " astaga ", pekiknya.
" Kau serius ? " tanya Gema, berusaha meyakini kalau ia hanya salah mendengar.
" Ya Tuan, itu sebabnya Nona Maria meminta kami membangunkan anda"
Gema menelan ludah, dan langsung bergerak untuk kembali menutup pintu.
" Tuan " panggil pelayan mencegah gerakannya, " Nona Maria mengatakan, satu jam lagi kalian harus sampai di bandara ".
Gema mengangguk, lalu segera mengakhiri perbincangan itu.
" Tuan "
" Apalagi ! ", balasnya. Ia nyaris membentak pria yang masih berdiri di hadapannya.
" Maaf, makan siang anda dan Nona sudah kami siapkan ".
Gema hanya kembali mengangguk, lalu meninggalkan pelayan itu tanpa permisi.
Sementara Rea, sibuk mencari benda pipih miliknya kesana kemari, " pantas saja ", pekiknya, ketika menemukan benda itu telah mati.
" Aku harus mulai dari mana " katanya prustasi. Memegang erat selimut tebal yang menutupi tubuhnya.
" ini pakaianmu " ujar Gema, memberikan semua yang ia gunakan tadi malam, termasuk pakaian dalamnya.
Pipi Rea merona karena malu. Ia mematung tanpa begerak dari tempatnya. Sekelibat ia kembali mengingat adegan tadi malam, " isssshhh", desisnya prustasi bercampur malu.
" Kau masih akan tetap disitu ! " titah Gema tiba-tiba. " kita sudah di buru waktu Rea ", sambungnya, sambil bergerak kesana kemari. Mengambil segala sesuatu yang akan ia bawa kembali ke London.
Dan ia menghentikan gerakannya sejenak," Apa kau masih ingin tetap disini ? ", tanyanya.
__ADS_1
Rea dengan cepat menggeleng, " tidak, tidak, kita harus pulang hari ini " sahutnya cepat. Sambil menyeret selimut tebal di tubuhnya, ia bergerak menuju tempat pakaiaannya di sediakan, " sepertinya aku tidak punya waktu lagi untuk mandi ", racaunya di dalam kerepotan.
Ia melepas selimut dari tubuhnya, ketika ia sudah berhasil menambatkan satu pasang pakaian dalam berwarna hitam pada tubuhnya. lalu melenggang menuju kamar mandi begitu saja. Ia tidak mungkin keluar tanpa gosok gigi dan mencuci wajahnya, hanya itu yang ada di pikirannya saat itu. Tidak peduli, jika kini sepasang mata mengikuti kemana tubuhnya bergerak.
" Ini lebih baik " ujar Rea, setelah selesai mencuci wajah sembab bangun tidurnya. Sambil mengikat rambut panjangnya, ia bergerak keluar dari kamar mandi, " kau sudah selesai ? " tanyanya pada Gema yang kini sudah duduk di atas tempat tidur.
" Hemm " balas lelaki itu mengangguk. Hanya menatap sekilas kearahnya, lalu kembali melihat pada benda pipih yang berada di tangannya.
Bersamaan pintu kembali terdengar di ketuk. Gema beranjak dari duduknya, sementara Rea memandang penuh tanya ke arah pintu.
" Silahkan masuk ", pinta Gema pada tiga pelayan hotel, yang memang sengaja ia minta datang, untuk membereskan semua barang-barang mereka. Ia yakin istrinya tak cukup handal dalam melakukan itu, terlebih mereka tidak memiliki sisa waktu yang banyak untuk membereskan semua barang-barang mereka yang cukup banyak, padahal ketika datang, mereka hanya membawa pakaian yang ada di tubuh mereka.
" Oh shiit " umpan Gema, ketika matanya menemukan Rea.
" Jangan masuk dulu " titahnya, menghentikan kaki tiga pelayan yang terdiri satu perempuan dan dua laki-laki.
" Rea pakai bajumu " pekiknya, nyaris membentak.
Awalnya Rea menatap heran. Namun, kemudian reflek mendekap tubuhnya, ketika akhirnya tersadar dengan apa yang hanya ia gunakan di tubuh rampingnya itu.
Ia berhamburan menuju kembali tempat pakaiannya, menambatkan celana jeans berwarna medium aqua di kaki jenjangnya, lalu mengambil baju kaos berwarna hitam, untuk menutupi bagian atas tubuhnya.
" Sudah ", serunya pada Gema, setelah menutup sempurna tubuhnya.
" Ayo, kita masih punya waktu untuk makan siang Rea " kata Gema, sambil melihat pada alroji di tangannya. Rea bergerak cepat, memoles bibirnya dengan warna merah, lalu menambatkan jam Rolex bertabur mutiara di pergelangan tangannya.
Ia sungguh tak punya waktu untuk memoles sedikit saja mousturizer di wajahnya yang sedikit memerah. Sejenak ia masih berdiam di hadapannya cermin, ia cukup bingung akan di apakan rambutnya, dan akhirnya ia memilih tetap seperti itu, terikat asal dan sedikit berantakan, tapi justru terlihat mecing dengan pakaian casual yang ia gunakan.
" Sudah selesai " katanya tersenyum, dengan nafas yang sedikit tersengal, sempat ia menenggerkan kaca mata hitam di batang hidungnya yang mancung. Ia tak cukup percaya diri, untuk memperlihatkan matanya yang sembab.
" Ayo gema " ajaknya tidak sabar, dengan menarik lengan lelaki itu. Namun, ia berenti sejenak, merogoh tasnya dan mengeluarkan setumpuk mata uang Indonesia lembaran seratus ribu rupiah. Seperempat dari uang itu ia bagikan pada tiga pelayan yang tengah membereskan barang-barangnya dan Gema.
" Terimakasih ", ucapnya sebelum pergi.
Gema tersenyum dengan tangan yang terulur pada Rea, " ayo " ajaknya, membawa jari jemari perempuan itu ke dalam genggamannya.
Mereka sudah menikmati makan siang tanpa hikmat, di meja restoran. Rea memilih, menikmati gulai hangat, meski itu cukup membuatnya kesulitan, karena harus meniupnya terlebih dahulu, sebelum memasukkannya ke dalam mulut.
" Pelan-pelan Rea " titah Gema, dan perempuan itu hanya tersenyum asal, " kita buru-buru Gema, tapi enak " sahutnya.
" Astaga Gema " pekiknya tiba-tiba, dan itu cukup membuat suaminya itu terkejut, " kenapa, ada apa ? ".
Rea merogoh tasnya, " Handphone ku, handphone ku tertinggal di kamar Gema "katanya terbata-bata.
" Tidak ada padaku ", kata Gema memberitahu. Rea menghentikan gerakannya, " kau serius ? " tanyanya memandang tak yakin.
Gema mengeluarkan benda pipih itu dari saku celananya, " kau memang suami terbaik " ucapnya senang, saat mengambil benda itu dari tangan suaminya.
" ceh " Gema berdecih mendapati pujian berlebihan itu, dan senyum merekah yang berlebihan.
" Aku tidak menutup e-mailku, itu sebabnya aku takut kalau handphone ini tertinggal " kata Rea menjelaskan. Ia seperti bisa menebak apa yang ada dalam pikiran lelaki di hadapannya.
__ADS_1
Gema mengangguk-angguk, " cepat habiskan makananmu " pintanya.
" Aku sudah kenyang " balas Rea, dan Gema cukup terkejut saat melihat semangkuk gulai dan satu piring nasi yang sudah bersih dari tempatnya, " apa kau sangat lapar ? " tanyanya.
Rea menyengir dan mengangguk, " aku kehabisan tenaga, jadi aku butuh banyak makan untuk memulihkannya", katanya tertawa. Namun, saat menyadari ucapannya, garis bibir itu di tarik cepat. Pipinya bersemu. Sedangkan Gema melipat bibirnya menahan senyum, " sepertinya kau butuh vitamin sayang ", ujar Gema yang akhirnya tidak bisa menahan diri untuk tidak menggoda perempuan itu.
Rea berdelik mendengar itu, dengan pipinya semakin bersemu merah. Sebenarnya ada dua hal kemungkinan, kenapa pipi putih itu bersemu, ntah karena kalimat godaan atau karena satu kata terakhir yang di panggil Gema untuknya.
Tapi Rea sudah memilih beranjak dari tempat duduknya.
" Kita hampir terlambat ", katanya bergegas, meninggalkan Gema yang masih duduk dengan mengulum bibirnya.
Gema ikut beranjak dari meja makan, lalu mengucapkan terimakasih pada semua pelayan yang ada disana. Kemudian ia bergerak cepat untuk menyusul langkah perempuan yang sudah menghilang dari penglihatannya.
" Tuan " kata seseorang memanggil.
Gema menoleh dan tersenyum, saat mengetahui siapa yang memanggilnya. Perempuan yang pernah memberikannya bunga mawar di meja resepsionis waktu itu, yang kini tengah berjalan ke arahnya.
" Berikan ini pada Nyonya " kata perempuan itu, sambil memberikan sebuket besar mawar merah.
" Ini untukku " kata Gema tak percaya.
" Ya Tuan " kata perempuan itu mengangguk.
" Apa anda membeli ini dengan uang yang aku berikan ? " tanyanya tertawa, dan perempuan ikut itu tertawa. , " sungguh aku masih mendapat sisa yang banyak setelah membeli itu " katanya.
" Baiklah terimakasih, aku sungguh tidak punya waktu lagi untuk membalas kebaikanmu " ucap Gema, menatap menyesal. Ia kembali mulai bergegas untuk menyusul langkah Rea.
" Tidak, tidak, sungguh aku tidak mengharapkan itu Tuan " kata perempuan itu, yang kemudian menjeda sejenak, " cukuplah terus harmonis dengan istri anda, Tuan ", sambungnya.
Meski Gema tak bergeming sejenak, tapi ia mengangguk untuk permintaan itu, " terimakasih ", ucapnya sekali lagi, lalu benar-benar pergi dari hadapan pelayan di meja resepsionis itu.
Rea tak bergeming ketika Gema masuk ke dalam mobil, ia terus memandang pada kuntuman bunga teratai di kolam kecil di sisi mobil.
" ini " kata Gema padanya, ia menoleh, dan terkejut pada apa yang lelaki itu bawa untuknya, " ini untukku " pekiknya tak percaya. Gema mengangguk, " serius ini untukku Gema ? " ulangnya tak percaya dan Gema kembali mengangguk, " tentu Rea, memangnya pada siapa lagi aku berikan. Aku tidak mendapatkan perempuan lain disini " sahutnya tertawa, berbeda dengan Rea yang kini melempar tatapan tajam, tapi tak membuat tangannya berhenti bergerak untuk mengambil buket besar di tangan lelaki itu.
Ia kembali tersenyum, saat menghirup aroma bunga merah itu di tangannya. Matanya berbinar, sama seperti saat kemaren siang. Saat Gema memberikan bunga yang sama, Yang berbeda hanya jumlah tangkainya.
Padahal perbedaan yang sebenarnya tidak ia ketahui adalah, bunga kemarin yang di berikan adalah hasil dari upaya lelaki itu sendiri, bukan seperti hari ini, yang ia dapatkan dari pelayan resepsionis.
" Ada apa ? " tanya Gema ketika mendengar Rea mengeluh.
" Aku lupa membawa bunga yang kemarin kau berikan " jawabnya menatap sedih,sementara mobil yang membawa mereka sudah bergerak.
Gema menarik tubuh perempuan itu untuk bersandar di dada bidangnya, " jangan sedih, aku akan membelikannya lagi nanti ".
" Janji " pekik Rea, mendongak pada wajahnya. Gema menganguk, " hanya bunga mawar, itu hal yang sangat mudah " katanya, sambil mengecup puncak kepala perempuan itu tanpa sadar.
Sementara Rea tak berhenti mencium aroma bunga di hadapannya dan sesekali tersenyum.
" Aku akan meminta Rose menyimpannya di kamarku " katanya pelan, tapi masih terdengar di telinga Gema, dan berhasil membuatnya tersenyum senang. Dan sekali lagi ia mengecup kepala Rea.
__ADS_1