
Rose langsung saja berjalan menuju pintu utama saat melihat ada mobil yang datang ke halaman rumah megah tempatnya bekerja , " Nona Rea " ucapnya sedikit terkejut dan dengan cepat membukan pintu untuknya.
" Ada apa nona ? , apa anda sakit ? " tanyanya khawatir , karena saat ini belum waktunya perempuan itu pulang.
" Aku baik-baik saja Rose " jawab Rea tersenyum hambar sambil bergerak masuk ke dalam rumahnya.
" Tuan Gema " sapa Rose yang sedikit terkejut pada laki-laki yang baru saja turun dari dalam mobil , " selamat siang Rose " balas Gema tersenyum.
" Ya Tuan "
" Rose " panggil Rea , dan wanita paruh baya itu dengan cepat mendekat.
" Buatkan makan siang untuk kami , sebagai ganti dari menu makan malam tadi malam "pintanya dengan sedikit melirik dingin pada Gema.
" Aku sudah meminta maaf Rea " ucap Gema tersenyum saat menyadari jika ada sedikit sindiran dari ucapan perempuan di hadapannya , namun Rea tak menjawab dan memilih melanjutkan langkahnya menuju kamar tidur tapi kemudian langkahnya terhenti dan kembali melihat ke arah Gema, " tunggu aku di teras belakang , kita akan membicarakan itu disana " ucapnya dan Gema mengangguk.
" Maaf karena sudah lama menunggu " ucap Rea sambil mengambil tempat untuk duduk di kursi di hadapan Gema.
Sementara Gema, matanya masih terkesiap menatap pada wajah cantik Rea dengan beberapa rambut yang terselip di belakang telinganya ,
dress mini dengan motif bunga yang ia gunakan benar-benar membuat dirinya terlihat begitu Fresh dan santai bersamaan di tambah lagi dengan aroma mawar bercampur Vanilla yang semerbak dari tubuh Rea membuat pikiran Gema terkunci sesaat.
" Hei ada apa ? " tanya Rea tiba-tiba.
" Apa ada yang aneh dariku " tambahnya lagi dan gema menggelengkan kepala " tidak justru kau begitu cantik " ucapnya begitu saja dan matanya sedikit membesar tak kala menyadari ucapannya sendiri.
" Hemm aku memang selalu cantik " ucap Rea percaya diri , tanpa peduli kalau laki-laki itu kini benar-benar sedang memujinya , " ya ku akui kau memang selalu cantik " kata Gema begitu pelan.
" Apa , kau mengatakan apa Gema ? "
" Tidak aku tidak mengatakan apapun , sekarang dimana surat perjanjiannya ? " katanya mengalihkan dan Rea langsung mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam map yang ia bawa.
" Kau bisa menambahkan hal-hal yang kau inginkan selama dalam kontrak pernikahan " ucapnya dengan Gema yang kini tengah membaca dengan cermat isi dalam surat perjanjian di hadapannya , " dua tahun ? " ucap Gema tiba-tiba dengan mata yang langsung menatap pada wanita di hadapannya , " ya aku rasa itu cukup dan tidak mungkin kekasihmu akan menunggu lebih lama dari itu " jelas Rea , sementara Gema telah terdiam dengan dahi yang sedikit berkerut lalu kembali menatap pada lembaran kertas di hadapannya.
" Tolong baca dengan cermat pada bagian atas halaman kedua " kata Rea memberitahu lalu Gema segera mencari kalimat mana yang di maksud wanita itu , " aku harap kau mengerti , ini demi nama orang tuamu dan juga aku " lanjut Rea menjelaskan oleh tulisan yang menyebut jika selama berada di dalam kontrak itu Gema dan Bella tidak boleh berada di tempat umum atau terlihat oleh orang-orang asing.
" Tentu kau tidak keberatan bukan ? "
__ADS_1
" Dan sebagai timbal baliknya selama menikah aku juga tidak akan mempunyai kekasih atau terikat hubungan apapun pada laki-laki lain "
Gema masih terdiam tanpa menyela kalimat apapun , " hanya dua tahun saja " lanjut Rea.
" Ya aku juga tidak keberatan dengan itu " jelas Gema dari diamnya.
" Kau tenang saja Gema bahkan aku berniat mempercepat perpisahan kita jika satu tahun pernikahan aku juga belum kunjung hamil , itu juga tertulis disana " tunjuk Rea pada bagian tulisan di atas kertas.
" Kenapa harus seperti itu , jika memang dari awal kontraknya dua tahun maka selesaikan selama itu , hamil atau kau tidak hamil " ucap Gema dengan nada yang sedikit meninggi " kau terlihat seperti tidak konsisten Rea " tambahnya dengan dahi yang bahkan terus berkerut.
" Ceh , padahal aku sedang memberi solusi terbaik untuk semua ini karena aku juga memikirkan kekasihmu "
" Aku hanya menginginkan anak darimu dan satu tahun cukup untuk mengusahakannya , jika aku tak kunjung hamil selama itu berarti memang dia tidak akan hadir dalam hubungan kontrak ini , itu berarti aku tidak lagi di untungkan Gema ... "
" Kita masih bisa berusaha selama dua tahun itu Rea " potong Gema , " harusnya selama kontrak itu di buat semua masih bisa di usahakan " lanjutnya bahkan kini raut wajahnya berubah begitu serius.
" Tolong pikirkan dengan baik Gema , aku melakukan itu karena setelah memikirkan kemungkinkan apa yang akan terjadi "
" Jika kita tetap mengusahakan aku tetap hamil sampai akhir dari kontrak kita , itu berarti ada kemungkinan aku akan hamil setelah kontrak itu berakhir , lalu masalah akan datang lagi saat itu , apa sekarang kau paham maksudku ? " tandasnya dengan wajah yang ikut menjadi serius.
" Aku membuat surat ini dengan pikiran yang matang dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi juga sudah aku pikirkan , jadi aku pikir yang tertulis dalam surat ini adalah hal yang paling terbaik untuk kita nanti "
" Aku tidak bisa berpikir sekarang " ucap Gema.
" Tidak apa-apa , kau bahkan bisa membuat itu setelah kita menikah nanti "
" Itu berarti sekarang kau sudah menyetujui apa yang sudah aku buat disini " ucap Rea tersenyum dengan tangan yang menunjuk pada lembaran kertas di hadapan mereka , " hemm .. ada beberapa yang sebenarnya aku sedikit keberatan , tapi tidak apa-apa aku mempunyai tiga kesempatan " ucap Gema sedikit tersenyum.
" Gema... " panggil Rea pelan dan laki-laki itu segera melihat ke arahnya , " ya ".
" Aku tidak mengijinkan kau merubah isi kontrak ini meski kau memiliki tiga alasan.. " ucap Rea serius.
" Apa kau berpikir aku akan merubah janji untuk melarangku bertemu Bella di tempat umum " balas Gema sedikit tertawa , " kau salah besar jika berpikir demikian , aku bukan seseorang yang begitu egois untuk memikirkan diriku sendiri "
" Baguslah jika kau begitu paham "
" Kau sungguh kalau aku bisa menambahkan keinginanku dalam kontrak ini kapan saja ? " kata Gema kembali menyela dan Rea mengangguk dengan pasti , " Tentu , selama kontrak itu belum berakhir " ucapnya.
__ADS_1
" dan itu juga tidak memberatkanku " tambahnya lagi.
" Seperti hanya hal-hal yang kau inginkan selama masih terikat kontrak dalam pernikahan itu "
" emm.. baiklah "
" Tapi tunggu , aku tidak membaca apa saja yang di larang dalam kontrak ini " kata Gema menambahkan , " larangannya hanya kau tidak boleh bersama Bella di hadapan umum dan aku tidak boleh menjalin hubungan apapun pada laki-laki lain , selebihnya kau tidak terikat apapun untuk melakukan hal apa saja yang kau inginkan "
" dan satu lagi ini mungkin tidak tertulis di dalam kontrak pernikahan kita , tapi aku yakin kau orang yang bertanggung jawab.. " kata Rea yang kembali menatap serius pada Gema , " selama pernikahan ini ,tolong jaga nama baik ku sebagai istrimu karena aku juga akan melakukan demikian padamu ".
" Aku ingin saat pernikahan ini telah berakhir, kita sungguh mengakhirinya dengan keadaan baik-baik saja " pintanya bersungguh-sungguh , " tentu , aku juga menginginkan hal itu ".
" Jika kau sudah setuju untuk semuanya sekarang bubuhi tanda tanganmu disana " ucap Rea sambil menunjuk pada sudut lembaran kertas putih di hadapan mereka.
Sesaat Gema masih terdiam dengan pena yang sudah berada di sela jemarinya , " apa ada sesuatu yang membuat kau keberatan ? ".
" Tidak , hanya saja aku ingin tahu bagaimana jika nanti kita di karunia seorang anak , apa setelah pernikahan itu aku tidak bisa lagi melihatnya ? , ini tidak tertulis disini " kata Gema , dan itu membuat bibir Rea sedikit melengkung , " aku tidak menulisnya karena anak bukan sesuatu yang bisa di masukkan dalam surat perjanjian " jelas Rea.
" dan itu alasan kenapa kau ingin perpisahan kita berakhir dengan baik-baik , karena aku ingin anak kita tidak menanggung akibatnya oleh perbuatan kita , aku ingin walau kita berpisah nanti dia tidak merasakan kurangnya kasih sayang oleh kau dan juga aku "
" Aku tidak akan melarang kapan saja kau ingin bertemu dengan anakmu nanti , tapi aku mengatakan dari saat ini yang tidak boleh di ganggu gugah adalah hak asuhnya Gema , hak asuh anak harus berada di tanganku , karena itu sebab pernikahan ini terjadi "
" Ya ya tanpa kau mengatakan itu pun aku sudah tahu Rea , aku hanya takut orang tua ku tidak bisa melihat cucunya "
" Tidak itu tidak mungkin , aku tidak akan melakukan hal begitu keji untuk menjauhi anakku dari keluarganya " ucap Rea pelan dengan sedikit menghela nafas , " aku tidak akan membuatnya seperti apa yang sudah aku rasakan " lanjutnya begitu lemah dan penuh emosi.
" sekarang semua sudah jelas , jadi letakkan tanda tanganmu disana " pintanya pada Gema dan menepis tatapan sendu dari matanya dengan membuatnya kembali normal , ia paling tidak ingin memperlihatkan kesedihan dalam dirinya pada orang lain.
" Baiklah " kata Gema dengan segera membubuhi sudut kertas dengan pena di tangannya.
Rea mengulurkan tangannya ke hadapan Gema , " apa ini ? " tanya Gema bingung dengan sedikit tertawa.
" Kita harus berjabat tangan untuk memulai kontrak dua tahun ini " kata Rea yang ikut tertawa.
" Kau membuatnya seperti sebuah proyek "
" Ini terdengar mengenaskan tapi pernikahan ini memang bisa dikatakan sebuah proyek , karena di dalamnya ada sebuah keuntungan untukmu dan juga aku " jelas Rea tertawa , " aku harap selama itu kita benar-benar bertanggung jawab menjalankannya sampai akhir " tambah Rea.
__ADS_1
" Baiklah Calon Istri " balas Gema ikut tertawa sambil mengeratkan kedua tangan yang kini tengah berjabat , sementara Rea kini telah terdiam dengan pipi yang sedikit merona oleh kalimat calon istri yang baru saja di ucapkan oleh laki-laki di hadapannya.