
Rea pergi meninggalkan ruang keluarga begitu saja. Tak peduli pada Gema yang terus memperhatikan sikapnya. Begitu pun Rose yang menatapnya penuh prihatin.
" Padahal baru tadi aku melihatnya terus tersenyum ", kata Rose menggumam. Gema terkesiap mendengar itu. Pandangannya kini teralih kepadanya, meski ia tidak tahu dan ikut beranjak pergi dari ruang keluarga.
Gema masih duduk disana. Di lihatnya lekat-lekat wajah Nyonya Brookstein, " kenapa begitu mirip " gumamnya, lalu memastikannya lagi pada gambar perempuan di samping wanita itu, " sangar mirip ", katanya lagi, dan kali ini dia sedikit terkejut dan mulai menerka-nerka. Tak sadar ia mulai membaringkan dirinya di sofa, matanya menerawang ke langit-langit. Segala macam yang terjadi, memenuhi otaknya saat itu, dan perlahan matanya terpejam.
Suasana hati Rea berubah seketika. Selama perjalan pulangnya ke London, sampai beberapa menit yang lalu dia masih begitu senang, senyumnya tak berhenti mengembang di bibirnya.
Tapi saat ini, suasana hatinya tak begitu lagi. Bukan sedih, atau marah. Perasaan itu mungkin dulu, tapi kini melebur menjadi sebuah rasa yang sulit di jelaskan. Ia akan selalu tidak baik-baik saja setiap bertemu wajah itu, wajah yang berhasil membuat relung hatinya terasa perih. Wajah yang berhasil membuatnya mengingat kembali masa-masa sulit, bahkan sangat sulit. Sangat perih ketika mengingat semua itu kembali, dan saat itu mata coklat milik Rea,akan begitu saja berair.
Kamar tidurnya masih gelap, ketika ia masuk ke dalam ruang itu. dan ia membiarkannya.
Sinar bulan malam ini begitu cerah, secerah suasana hatinya beberapa menit yang lalu, dan cahaya itu menembus ruang tidurnya.
Ia duduk di sisi ranjang, menghadap ke jendela dengan memperlihatkan sempurna bentuk rembulan malam ini, sinar yang teduh di tengah hatinya yang gundah.
Ia menghela, " Tuhan, kenapa begitu sulit memaafkannya " katanya lirih. Air matanya terjatuh seiring ucapan itu, dan selalu, tangannya tanpa sadar langsung bergerak mengusap bulir kristal yang jatuh di pipinya. Berpuluh-puluh tahun ia melewatinya dan ternyata rasa kecewa itu masih tetap sama, tidak ada yang berkurang, termasuk saat malam ini.
Rea membaringkan dirinya di tepian tempat tidur, mengganjal kepalanya di lengan tangan yang terlipat, sambil terus memandang pada bulan yang bersinar.
Ntah kenapa, moment seperti itu selalu terjadi. Setiap kali ia merasa tidak baik-baik saja dan saat ia melihat ke langit, pada saat itu bulan akan selalu bersinar terang, dengan satu bintang yang berada disisinya.
Mungkin Tuhan mengirim sinar rembulan untuk menemaninya, Menemaninya setiap kali merasa sedih, setiap kali merasa begitu marah dan setiap kali merasa begitu kecewa. Begitu pikirnya, setiap kali ia menatap sinar rembulan, ketika dirinya merasa begitu tidak beruntung.
Tuhan tidak sejahat itu, untuk membiarkannya terus sendiri. Setidaknya, cahaya semesta slalu menyinarinya pada saat-saat seperti itu,
" bahkan Bintang tak pernah meninggalkan Bulan sendiri " katanya lirih dan setelah itu matanya tertidur.
Tepat pukul dua pagi, mata Rea terbuka. Ia menawarang di tengah kegelapan, dan sedikit menarik nafas, ketika menyadari dirinya sudah tertidur disini, di ranjangnya sendiri, di dalam ruang gelap.
Matanya tak lagi melihat bulan, ketika memandang ke langit dari balik tirai jendela, " Dia sudah pergi "katanya sedikit tersenyum, dan saat itu, suasana hatinya jauh lebih baik.
" Dia dimana ? " katanya terkejut, ketika sekali lagi ia melihat ke jam weker di atas nakas, dan tidak menemukan seseorang di ranjang tidurnya.
Rea tak sempat untuk menerangi kamarnya lagi. Ia beranjak cepat dari ruang itu, nyaris berlari, untuk kembali sampai ke ruangan keluarga di rumahnya.
__ADS_1
Dan menarik nafas legah, setelah matanya menemukan apa yang di cari.
" Nona " panggil Rose terkejut. Ia baru saja ingin menyelimuti tubuh Gema, ketika perempuan itu datang.
" Dia tertidur ? " tanya Rea berjalan mendekat. Rose mengangguk, " aku tidak tega membangunkannya Nona " katanya lemah. Rea hanya diam sesaat, matanya mengamati tubuh tegap yang kini meringkuk di atas sofa.
" Pasangkan selimutnya. Dia kedinginan " pintanya, untuk Rose tetap melanjutkan membentang selimut yang berada di tangannya, " anda tidak ingin membangunkannya Nona ? " tanya Rose, ia memandang bingung pada Rea. Dan dia menggelengkan kepala.
Sejenak suasana di larut malam itu menghening. Rose tetap mengikuti keinginan majikannya, untuk tetap menutupi tubuh Gema dengan selimut. Dan perempuan itu membantunya, memperbaiki ketika kain itu tidak menutupi dengan rapi.
" Rose "
" Ya Nona " sahut Rose terkesiap.
" Ambilkan dua bantal dan satu selimut lagi " pintanya. Matanya tak melihat ke arah Rose, dia hanya berucap dengan terus memandangi lelaki yang tengah tertidur tanpa bantal di hadapannya.
Rose mengangguk, dan tanpa bertanya ia langsung pergi dari ruang itu. dan kembali setelah beberapa menit berlalu. dan Rea masih tetap di tempatnya tadi.
" Ini Nona " katanya menyodorkan satu bantal.
" Tidurlah kembali ", katanya pada Rose, sembari mengambil sisa bantal dan satu selimut yang masih berada di tangan wanita paruh baya itu.
" Anda juga akan tidur disini ? " tanya Rose sedikit terkejut. Rea mengangguk, " sangat tidak sopan bukan, jika aku meninggalkan suamiku tidur sendiri disini " balasnya tersenyum. Rose ikut tersenyum, bahkan senyumnya lebih mengembang dari Rea, " selamat malam Nona " ucapnya sebelum meninggalkan perempuan itu.
" Selamat malam bibi " sahut Rea tersenyum dan Rose langsung saja menoleh, " aku berniat merubah panggilanku padamu " katanya. Rose hanya diam tak menjawab. Sinar lampu memperlihatkan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia menelan ludah untuk menahan tidak menangis saat itu, " aku akan mematikan lampunya " ucapnya serak, dengan tubuh yang sudah berbalik dari hadapan Rea.
" Terimakasih Bibi ", ucap Rea tersenyum, ia memandangi punggung Rose yang pergi di tengah cahaya remang, " untungnya masih ada dia ", gumamnya lemah, nafasnya dari begitu pelan sembari menepuk kecil bantal yang akan menjadi alas kepalanya.
Rea memilih berbaring di ujung sofanya yang berbentuk setengah bundaran, sementara sisi ujung satunya sudah di tempati oleh Gema.
Ia sungguh tidak terpikir, saat menentukan tempat tidurnya, tapi dari sisinya, dia bisa melihat kelas wajah yang sudah tertidur, dan akan sama jika lelaki itu terbangun lebih dulu darinya nanti.
" Selamat malam Gema " ucapnya memandang sekali lagi wajah tertidur lelaki itu. Lalu menutup tubuhnya rapat-rapat dengan selimut yang terbuat dari bulu domba, yang di berikan Rose padanya.
~
__ADS_1
" Padahal dia sudah pulang. Kenapa dia belum menghubungiku " gumam perempuan yang sedang duduk di meja makan, dengan semangkuk sereal di hadapannya.
Belakangan ini, selalu hampir setiap malam dia terbangun karena kelaparan, dan tenggorokan yang juga selalu ingin di siram oleh cokelat panas, tepat di jam seperti itu.
Ia menghela nafas, membuka kembali isi halaman pesan, yang selalu ia lihat setiap beberapa waktu sekali. Dan sepanjang itu dia selalu kecewa.
Ia terdiam sejenak, memandangi layar benda di hadapannya, dan sekali lagi menarik nafas, saat jarinya mulai bergerak menekan menu panggilan. Tidak ada salahnya menghubungi pemilik kontak itu. Bukankah, dia masih kekasihnya.
Ketiga kalinya Bella menarik nafas, dan saat ini, karena panggilannya tidak bisa tersambung. Nomor yang ia hubungi tidak aktif, " kau tidak sedang melupakan aku, kan Gema ", tulisnya marah, pada pesan yang langsung dia kirim, meski dia tahu pesan itu tidak akan sampai pada saat itu.
Ia menghentakan sendok yang berada di tangannya ke mangkuk, " kenapa aku selalu kelaparan", gumamnya. Ia menjadi marah pada semuanya, termasuk pada semangkuk sereal yang sudah menemani pada malam-malam sepinya. Meski setelah itu, ia kembali mengunyahnya lagi.
~
Gema merenggangkan otot tubuhnya, tepat, saat embun pagi mulai membasahi dedaunan dan akan pergi ketika sinar matahari datang, tapi untuk satu jam ke depan air semesta itu masih akan tetap bertahan di tempatnya. Dan Gema terbangun terlalu pagi.
Pandangannya mengintari langit-langit rumah di tengah cahaya remang, Mencoba mengenali dimana saat ini dia terbangun. Dan tersenyum saat menyadari dirinya bukan lagi berada di kamar hotel, " aku lupa kalau sudah pulang ", ucapnya serak. Lalu kemudian menyadari selembar selimut yang menutupi tubuhnya, " siapa yang melakukan ini " katanya bingung. ia teringat, terakhir kali ia berbaring disana dan tidak tahu akan tertidur. Sedikit kecewa ketika menyadari, tidak ada seseorang yang membangunkannya dan saat itu dia menghela nafas, lalu bangun dari pembaringannya.
Deg
Kini matanya memandang tepat pada wajah perempuan yang sedang tertidur tidak jauh darinya. Ia membuka lebih lebar lagi bola matanya, dan tidak ada yang salah. Matanya masih menemukan wajah Rea disana, " dia juga tidur disini ! " gumamnya tak percaya. Terakhir kali, ia teringat jelas perempuan itu sudah pergi menuju kamar tidurnya.
Gema menyibak selimut di tubuhnya dan berjalan tidak sabar meski hanya berjarak beberapa langkah ke tempat tujuannya.
Ia pandangi begitu dekat wajah pulas Rea. saat itu ia benar-benar menyesali prasangkanya beberapa detik yang lalu. Di tatapnya setiap inci wajah tidur perempuan itu. bulu matanya yang lentik, hidung mancungnya dan bibir mungilnya yang sedikit terbuka, semua tidak ada yang terlewatkan dari penglihatan Gema.
Sedikit terkejut, ketika bola cokelat perempuan itu terbuka. Namun, kemudian dia tersenyum, " kau sudah bangun ? " tanya serak perempuan itu dan Gema mengangguk.
Mata perempuan itu mengintari sekelilingnya, " ini masih begitu pagi.. " katanya, setelah ia memastikan langit masih begitu gelap dan belum ada satu pun pelayan di rumahnya yang terbangun, " kemari.. " ajaknya pada Gema, ia menarik tubuhnya menghimpit pada sadaran sofa, menyisahkan setengah bagiannya untuk lelaki itu.
Dan ntah kenapa, Gema tak berniat untuk menolak. Padahal ia tahu, tempat itu tidak akan membuat tubuhnya nyaman untuk tertidur kembali.
Tubuh mereka saling berhadapan dan berhimpitan, " apa kau tidak akan sesak ? " tanya Gema, dan Rea menggelengkan kepalanya. Padahal semua orang yang melihat posisinya ,akan langsung merasa sulit bernafas.
" Tidurlah " kata Gema kembali, Rea tak mengangguk tapi matanya langsung memejam , dan bergeliat kecil di dalam rengkuhan tubuh lelaki itu. Dan rasanya lebih hangat, jauh lebih hangat dari selimut yang baru di pasangkan kembali, oleh Gema ke tubuh mereka berdua.
__ADS_1
Jauh dari yang mereka ketahui. Semua pelayan di rumah mewah itu sudah terbangun, tapi Rose tidak memperbolehkan satu pun dari mereka yang boleh datang ke ruang keluarga, Keruang dimana menjadi tempat tidur pertama di rumah itu, setelah mereka menikah.