
" Ah aku menjadi deg-degan " seru Elin tidak sabar. Berbeda dengan Rea yang kini memilih kembali duduk di kursinya semula. Bahkan ia menyibukkan diri pada handphone yang berada di tangannya.
" Aaahh. Suamiku datang. Apa itu calon suamimu Rea ? " tanya Elin. menunjuk pagi laki-laki yang menggunakan jas berwarna coklat tepat di belakang laki-laki yang kini hanya menggunakan kemeja biasa.
" Nona.. " panggil Maria tersenyum.
Rea mendongakkan kepalanya. Walau dengan perasaan yang ragu karena tidak mungkin Gema akan datang bersamaan dengan suami Elin. Dan ntah kenapa ia merasa akan kecewa membayangkan hal itu.
Mata Rea membulat sempurna dan menatap terpaku saat matanya menemukan dua laki-laki yang kini berjalan bersamaan ke arah mereka, " Rea apa itu calon suamimu ? " tanya Elin kembali.
" Iya Miss. Itu calon suami Nona Rea " jelas Maria mengambil alih. Karena sang pemilik nama sudah terdiam dengan lidah yang tercekat.
" Ternyata rasa cinta lelaki kita sama Rea " ucap Elin tertawa, " emmm.. tapi maaf kau harus kecewa. Ternyata rasa suamiku sedikit lebih besar dari calon suamimu. Suamiku lebih unggul satu langkah dari calon suamimu " sambungnya terkekeh. Sementara Rea masih terdiam. Jangankan memikirkan rasa cinta. Untuk percaya laki-laki itu datang dengan sangat cepat pun ia masih sulit.
" Ini hanya kebetulan " ucapnya dengan tertawa hambar.
" Hei. Tidak ada yang kebetulan Rea " seru Elin.
" Hai sayang " sapa laki-laki dengan kemeja putih pada Elin.
Dan kemudian menyusul laki-laki yang menggunakan jas berwarna coklat, yang langsung mendekat ke arah Rea.
Cup " Ia mendaratkan ciuman tanpa permisi di wajah Rea.
" Maaf. Kau pasti sudah lama menunggu " ucap lelaki itu dengan seutas senyum manis di bibirnya. Rea semakin tersentak dengan mata yang berkerip untuk mempercayai bahwa kejadian yang baru saja terjadi itu nyata.
" Sayang perkenalkan ini Andrea. Calon pengantin yang menggunakan jasa kita. Dan ini calon suaminya " kata Elin memperkenalkan sepasang manusia kepada suaminya.
" Daniel " ucap suami Elin menyebutkan namanya.
" Gema " balas Gema dengan membalas uluran tangan Daniel.
Uluran tangan Daniel kini berpindah ke hadapan Rea. Namun, tidak di gubris oleh perempuan itu. Karena ia masih termenung dengan isi dalam pikirannya sendiri. " sayang " panggil Gema. Dan belum juga ia tersadar.
__ADS_1
" Sayaang.. " ulangnya lagi, dengan suara yang sedikit lebih keras.
Elin sudah tertawa dari tempatnya, " kenapa Rea menjadi linglung " serunya terkekeh. Di ikuti Maria yang kini sudah tertawa di balik tangan yang menutup mulutnya.
" Emmm ya " seru Rea tersadar.
" Daniel " ulang Daniel menyebutkan namanya.
" Hemm.. ya. Rea " sahutnya gelagapan.
" Apa kamu sakit ? " tanya Gema padanya, Rea mendongakkan kepalanya. Lalu menatap pada laki-laki itu sesaat. Dan dengan cepat lagi mengalihkan pandangannya.
" Apa kau sakit sayang ? " ulang Gema. Lalu perlahan Rea menggelengkan kepalanya tanpa bersuara.
" Sayang duduklah. Anda juga calon suami Rea " pinta Elin tersenyum.
" Maaf karena telah membuat kalian menunggu " ucap Gema begitu sopan. Elin dengan cepat menggelengkan kepalanya, " Ini pertama kalinya aku senang karena menunggu. Obrolan bersama calon istrimu sungguh sangat menarik " ucapnya dengan tersenyum dan melirik ke arah Rea.
" Hei Rea. Kenapa kau terus termenung. Calon suamimu sudah disini " serunya dengan tertawa.
" Sepertinya dia tidak percaya kalau kau mencintainya" lanjut Elin menatap pada Gema.
Gema yang memang tidak mengerti, sedikit mengerutkan dahinya dengan menatap penuh tanya pada Elin, " Dia begitu terkejut saat kau berhasil datang bersamaan dengan suamiku " lanjut Elin menjelaskan. Namun, itu tak cukup membuat Gema mengerti.
" Sebelum kalian datang. Kami membuat sebuah taruhan. Jika di antara kalian siapa yang lebih cepat datang ke... "
" Hentikan Elin. Di jelaskan pun dia tidak akan mengerti " potong Rea tiba tiba. Elin menghentikan bicaranya dengan tersenyum, " baiklah " balasnya mengerti. Dengan mata yang memandang penuh arti pada Rea.
" Kita kembali ke topik sesungguhnya " ucapnya lagi. Meninggalkan Gema yang kini terdiam dengan semakin tak mengerti.
" Apa yang anda ingin tambahkan dari cincin pernikahan anda ? " tanya Elin pada Gema. Dan lagi lagi ia seperti orang lain setiap kali mulai bekerja. Ia benar benar berubah menjadi begitu serius, berbanding terbalik dengan tingkah dia sebelumnya.
" Hanya menambah sedikit saja "
__ADS_1
" Seperti apa misalnya ? "
" Aku ingin di balik cincin itu tertulis nama Aku dan Rea " pinta Gema. Yang berhasil membuat Rea lagi lagi tersentak.
" Hanya itu saja ? " tanya Elin lagi. Lalu Gema menggelengkan kepalanya. Tulisan nama itu harus terukir seperti tulisan tanganku sendiri begitu pun Rea.
" Jadi maksudmu. Rea menulis namamu dengan tulisan tangannya. lalu kami mengukir namamu seperti tulisan dia ? " ujar Elin memperjelas. Gema mengangguk, " kurang lebih seperti itu. Tapi lebih tepatnya aku menulis namaku sendiri. Begitu pun Rea menulis namanya sendiri. Lalu namaku di ukir di balik cincinnya begitu pun sebaliknya " jelasnya.
Rea menatap lekat pada lelaki di sampingnya. Dengan banyak pertanyaan yang kini bersarang di dalam otaknya. Namun, dari semua yang baru saja terjadi ia menyimpulkan bahwa semua itu hanya sebuah acting yang di buat sempurna oleh Gema. Dan ia meyakinkan hal itu. Jika semuanya hanya sebuah acting.
" Sekarang aku mengerti maksudmu " ucap Elin tersenyum. Sementara laki-laki yang berada di sampingnya hanya diam dan memperhatikan bagaimana dirinya bekerja. Lelaki itu akan selalu menemani istrinya bekerja ketika mempunyai waktu untuk itu. Maklum saja mereka adalah sepasang manusia yang sukses dan sama sama sibuk dengan pekerjaannya masing masing. Ntah Daniel atau Elin. Ketika mereka senggan dari perkerjaannya, mereka akan memanfaatkan itu untuk menemani pasangannya. Karena hanya hal seperti itu lah yang bisa di anggap romantis dari sepasang manusia yang sama-sama sibuk bekerja.
" Kau menakjubkan Tuan. Bagaimana bisa kau berpikir untuk membuat suatu hal yang mengesankan seperti ini " ulang Elin. Seraya melirik ke arah Rea dengan tersenyum, " Dan kau tahu ini pertama kalinya aku menerima pesanan seperti ini " sambungnya lagi.
" Kalau begitu tulislah nama kalian masing-masing " pinta Elin sambil memberikan lembaran kertas yang tadi di berikan oleh Lenny padanya dan itu di mulai dari Rea.
Sesaat perempuan itu terdiam karena masih tak mengerti, " tulis namamu sendiri sayang " ucap Gema lembut.
" Aku benar benar akan gila. Jika terus seperti ini " Gerutu Rea di dalam hati. Dan mencoba menarik nafasnya sebelum tangannya mencoret lembaran kertas di hadapannya saat ini, " Jadi aku menulis namaku sendiri bukan namamu ? " tanyanya bersuara dan Gema mengangguk dengan tersenyum hangat.
" Kalau begitu biar aku saja yang dulu menulis namaku " ucap Gema yang langsung mengambil alih pena di tangan Rea.
Lelaki itu menulis dengan sangat hati-hati untuk sebuah nama yang begitu singkat. " Gema " tulisnya dengan unjung kata yang ia tambahkan dengan lambang hati.
" Apa harus ada Love disana ? " tanya Rea begitu polos. Sementara Maria yang mendengar langsung saja menutup mulutnya untuk tidak tertawa.
" Tentu sayang " balas Gema dengan begitu lembut. Dan itu membuat Rea lagi-lagi harus menarik nafasnya.
" Sekarang kau lagi yang menulis namamu " pinta Gema padanya, " apa aku juga harus membuat Love di ujung namaku sendiri ? " tanyanya lagi dan itu benar benar terlihat lucu di mata semua orang.
" Terserah padamu " sahut Gema. Namun, Rea membuatnya adil dengan tetap membuat lambang hati itu pada ujung namanya. Meski ia tidak mengerti apa tujuannya.
" Kalian benar-benar pasangan yang menggemaskan " puji Elin tersenyum.
__ADS_1
" Emm.., boleh aku tahu apa tujuanmu membuat nama kalian dengan tulisan tangan kalian masing-masing ? " tanya Elin penasaran.
" Ntahlah. Tiba tiba saja aku ingin membuatnya seperti itu. Mungkin jika setiap kali aku ingin melepas cincin pernikahanku, di saat itu juga aku akan melihat nama istriku yang ia tulis sendiri disana. Dan itu mungkin bisa membuatku mengurungkan niatku di suatu hari nanti " jelas Gema tersenyum. Berbeda dengan Rea yang kini kembali terdiam dan berdelik pada laki-laki di sampingnya, " harusnya di jadi actor bukan jadi pengusaha " gerutunya di dalam hati. Namun, tanpa ia juga sadari bahwa kini hatinya telah menghangat oleh perbuatan yang ia percaya bahwa itu hanya sebuah acting.