KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Belum Sepenuhnya Melupakan


__ADS_3

Mobil Gema baru saja tiba di halaman rumah sahabat mereka , namun Rea seperti tidak sabar untuk segera masuk ke dalam rumah itu , bahkan belum sempat mobil berhenti ia sudah langsung membuka pintu mobil , " hei hati-hati " teriak Gema khawatir dan perempuan itu hanya tersenyum lalu melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah Devita.


" Hei Rea " sapa Devita saat melihat perempuan itu sudah berada di dalam rumahnya.


" Dimana bayiku Dev ? "


" Dia ada di box di dalam kamarnya " sahut Devita sambil memegang botol susu anaknya , dengan cepat Rea menaiki anak tangga untuk sampai di kamar bayi kecil yang begitu ia rindukan.


" Rea hati-hati , langkahmu seperti ingin meruntuhkan rumahku " teriak Devita sambil tertawa dari tempatnya ,


" astaga " ucapnya terkejut saat melihat boneka besar tiba-tiba berada di hadapannya , " dimana aku harus meletakkan ini ? " tanya suara dari balik boneka besar itu.


Devita mendekat untuk melihat wajah siapa yang tertutup di balik boneka , " kau Gema ? "


" Ya Dev , apa kau tidak mengenali suaraku " sahut laki-laki itu sedikit kesal , " maaf , suara kau tertutup dan emmm..letakkan saja boneka ini di sana " tunjuk Devita pada soffa besar di dalam ruang keluarga rumahnya.


" Apa itu untuk putriku ? "


" Tentu , tidak mungkin aku membelikan ini untuk Reall " sahut Gema , membuat Devita tertawa.


" Dimana Rea ? "


" Apa kalian datang bersama ? " tanya Devita cepat dan laki-laki itu mengangguk.


" Benarkah ? " sambungnya karena sedikit terkejut.


" Jangan berpikir terlalu jauh , tadi aku dan Rea bertemu di tokoh mainan dan aku mengajaknya untuk pergi bersama kemari "


" Aku hanya bertanya benarkah , dan kau sudah menjelaskannya dengan begitu detail "


" Kau pikir aku tidak mengerti arti dari pertanyaan singkatmu itu " hardik Gema , " kau memang terlalu pintar " ujar Devita dengan kembali tertawa.


" Rania lihat om Gema membawa sesuatu untukmu " ujar Rea sambil menuruni anak tangga bersama bayi Devita di dalam gendongannya , melihat itu Gema langsung menghampiri bahkan ia tidak bisa menunggu bayi itu sampai di tempatnya berdiri , " berikan padaku " pintanya pada Rea.


" Bayimu benar-benar sangat cantik Dev " ucap Gema menatap gemas bayi perempuan yang memiliki mata biru, rambut coklat yang ikal , serta pipi tembem dan bulu mata yang lentik , " dia bayiku " sambung Rea.


" Ya , dia hanya di titip di dalam rahimku karena Rea tidak mungkin hamil sendiri " sambung Devita tertawa , lalu Gema yang ikut tertawa setelah mengerti ucapan perempuan itu , " ceh , apa kalian bahagia mentertawakan aku huh " geramnya , namun ke dua temannya terus saja tertawa , bahkan Rea terlihat semakin lucu dengan wajah kesalnya.


" Baguslah kalian juga ada disini " ucap Reall , yang baru saja tiba.


" Aku baru saja ingin menghubungimu " sambungnya pada Gema.


" Tanpa kau hubungi aku juga sudah datang bukan " sahut Gema tertawa.


" Dimana Bella ? " tanya Reall lagi , karena tidak melihat perempuan itu berada disana ,

__ADS_1


" dia sedang ada pekerjaan di luar kota "


" Kau dan pacarmu sama-sama begitu sibuk " ujar Reall , lalu kembali berjalan menuju Devita.


" Kau lihat tebakanku benar bukan , tanpa di undang pun mereka akan datang " ucap Devita saat Reall mengecup singkat ujung kepalanya seperti yang biasa di lakukan oleh laki-laki itu saat kembali dari pekerjaannya , dan tidak peduli dengan keberadaan Gema dan Rea di sana , " sepertinya menikah terlihat menyenangkan " ujar Gema setelah melihat tingkah romantis Reall pada istrinya.


" Makanya kau juga harus cepat menikah " timpal Reall tertawa.


" Kau juga Rea " sambungnya pada perempuan itu dan Rea terlihat tidak peduli sambil kembali mengambil alih tubuh mungil Rania di dalam gendongan Gema.


" Apa tidak ada pesta untuk ulang tahun pertama bayi cantik ini ? " tanya Rea mengalihkan dari pembicaraan yang terdengar membosankan untuknya.


" Tentu ada , bahkan aku berencana merayakan pesta kecil di taman belakang dan beruntung kalian datang tepat waktu " sahut Devita begitu senang.


" Aku dan Gema akan menyiapkan pemanggangan untuk kita BBQ dan kalian siapkan bahan-bahannya " ujar Reall dan semua orang setuju.


" Aku harus menjaga Rania , jadi aku tidak bisa membantumu menyiapkan bahan makanan " ucap Rea tertawa.


" Aku memang tidak akan membiarkan kau menggunakan alat dapurku "


" Memangnya kenapa , aku juga bisa masak sepertimu "


" Hemm.. masak rumahku , karena aku yakin semua akan terbakar saat kau yang menggunakannya "


" Kau benar-benar tega Dev " sahutnya tidak terima dan Rea memang tidak bisa menggunakan alat dapur karena memang sudah sejak lama tidak pernah memegang benda-benda itu.


Kue ulang tahun pertama Rania baru saja di potong dan lilin yang di tiup oleh empat orang dewasa yang sangat gemas merayakan hari kelahiran bayi cantik itu ,


" selamat ulang tahun putriku " ucap Rea saat tubuh bayi kecil itu terus tersenyum ke arahnya , sesaat pikirannya melayang pada anak kecil yang tadi siang ia temui di tokoh mainan.


" Umur anaknya pasti tidak jauh dari Rania " gumamnya , namun segera menepis pikiran itu setelah menyadari hal yang tidak pantas masuk ke dalam otaknya.


" Rea , thank you hadiah ulang tahunnya " ucap Devita mendekat sambil melihat kearah mini taman bermain yang berada tidak jauh dari tempatnya , yang baru saja di letakan oleh orang-orang tokoh tempat Rania membeli benda-benda itu.


" Kau berlebihan Dev , apa yang aku berikan tentu tidak seberapa "


" kau gila , itu sangat mahal " ujar perempuan itu.


" Uangku sangat banyak jadi harga mainan itu tidak seberapa untukku " ucapnya dengan begitu sombong , membuat Devita hanya berdecih karena ucapan perempuan itu memang benar , bahkan ia memiliki segalanya.


" Ada apa ? " tanya Devita setelah berulang kali melihat ada yang tidak beres dari wajah sahabatnya itu , namun Rea segera menggelengkan kepalanya.


" Jangan bohong Rea "


" Ada apa denganmu , aku baik-baik saja "

__ADS_1


" Mungkin kau bisa membohongi semua orang tapi tidak denganku " ujar Devita, membuat Rea tersenyum kecut ke arahnya ,


" kau menakutkan " ujar Rea.


" Cepat katakan , apa ada masalah di kantor ? " tanya Devita menebak , namun perempuan itu kembali menggelengkan kepalanya , " aku hanya terus kepikiran dengan kejadian tadi siang "


" Memang apa yang sudah terjadi ? "


" Ceh, kau memang selalu ingin tahu dengan semua urusanku " ucap Rea tertawa , namun berbeda dengan Devita yang terlihat begitu serius.


" Ya , karena aku memang harus tahu " ucapnya.


Rea menarik nafas sebelum kembali melanjutkan bicara , " aku hanya bertemu dengan Sean tadi siang " ucapnya begitu lemah dengan senyum yang ia paksakan , " lalu ? "


" Dia menyapaku sambil menggendong anaknya "


" Ceh " desis Devita yang terlihat begitu kesal.


" Dia memang laki-laki yang tidak tahu malu " umpat Devita yang memang begitu membenci Sean ,setelah laki-laki itu menyakiti sahabatnya dengan begitu tega.


" Sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia menyapa setelah perpisahan kami "


" Maksudmu dia terus datang padamu , kenapa kau tidak menceritakannya padaku Rea "


" Tidak dia tidak pernah datang kehadapanku Dev, dia hanya terus mencoba menghubungiku "


" Itu sebabnya kau sering mengganti nomor teleponmu ? " tanya Devita dan Rea hanya membenarkan lewat senyum yang ia paksakan.


" Katakan jika dia kembali menghubungimu , kali ini jangan mencegahku untuk memakinya "


" Kau lihat Rania , mamamu sangat menakutkan " ujar Rea seolah berbicara pada bayi kecil yang sejak tadi terus sibuk dengan mainannya.


" Bagaimana perasaanmu ? " tanya tiba-tiba Devita , yang membuat Rea terdiam dengan tatapan yang kosong , bahkan perempuan itu terlihat menggenggam erat tangannya sendiri , " apa kau masih mencintainya Rea ? " tanyanya lagi.


" Aku hanya tidak bisa menerima kekalahanku Dev , saat melihat dia kembali , aku benar-benar menyadari kalau aku belum melupakan dia sepenuhnya " jelas Rea dengan bibir yang bergetar.


" Kemarilah " pinta Devita sambil menarik lengan perempuan itu untuk masuk ke dalam pelukkannya , " melupakan hal yang menyakitkan memang tidak mudah , dan kau harus berusaha untuk itu " ucap Devita dan Rea mulai terdengar menangis di dalam pelukannya.


" Pelukanmu memang selalu membuatku lebih tenang "


" Itu sebabnya kenapa Reall begitu mencintaiku , karena aku selalu memberikan kenyamanan " ujar Devita tertawa.


" Mommy sangat berharap , besarmu nanti tidak seperti mamamu yang begitu percaya drii " ucap Rea berbicara pada Rania.


jangan lupa vote , like dan coment🤗

__ADS_1


dan sekali lagi terimakasih atas segala dukungannya🙏😇💚


__ADS_2