KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Kembali Asing


__ADS_3

" Kau sudah datang ? " kata Bella sambil beranjak dari pembaringannya di atas sofa yang menghadap pada televisi besar di dalam apartemennya. Gema mengangguk, " kau sudah lebih baik ? " tanyanya pada Bella.


" Ntahlah", sahut perempuan itu, sambil berjalan ke arahnya, lalu memeluknya begitu erat, " aku merindukanmu Gema ", ucapnya lemah.


Jantung Gema seperti berhenti saat itu. Ia terdiam kaku tanpa bisa membalas pelukan itu.


" Kau tidak merindukan aku ? ", tanya Bella menarik diri dari tubuhnya, lalu menatap tanpa berkedip, " kau tidak merindukan aku ", katanya mengulang.


" Jika aku tidak rindu, aku tidak akan datang kemari Bella ", ucapnya datar, tapi memang sebenarnya dia merindukan perempuan itu, perempuan yang masih menjadi kekasihnya.


Bella tersenyum, lalu ia beralih pada beberapa kantong yang di bawa oleh Gema tadi, " sup Jamur ", katanya senang, lalu berlari menuju dapur kecil di sudut apartemennya, dan beberapa detik kemudian ia kembali membawa mangkuk bundar favoritnya.


" Kau mengganti wangi parfume mu ? " tanyanya pada Gema, sambil memasukan sup jamur ke dalam mangkuk yang sudah di sediakan, belum sempat Gema menjawab pertanyaannya, Bella sudah berlari menuju westafel. Meninggalkan sup yang hampir setengah isinya tercecer di atas meja.


" Kau tidak apa-apa ? " tanya Gema panik. Bella tidak sempat menjawab pertanyaannya, ia sibuk mengeluarkan isi dalam perutnya ke dalam westafel, " kita ke rumah sakit sekarang Bella ", pintanya, tapi Bella menggeleng, " aku hanya tidak suka dengan aroma sup itu ", katanya setelah puas memuntahkan semua isi di perutnya.


Gema berdelik mendengar itu, " itu sup Jamur kesukaanmu ", ucapnya, sambil menarik tissue, lalu bergerak membersihkan sisa liur di ujung bibir Bella,, " aku juga tidak suka wangi parfume mu Gema ", kata perempuan itu lagi.


" Aku tidak merubah aroma parfumeku, Ini masih aroma yang dulu ", sahut Gema, dahinya berkerut saat itu.


" Benarkah ", kata Bella datar, lalu berlalu untuk kembali menuju meja makan dengan empat kursi disisinya, " aku tidak menyukai semua yang kau bawa ", katanya lagi, setelah memeriksa semua isi kantong yang di bawa oleh Gema, tapi beberapa saat dia tersenyum, " kau terbaik dari semuanya ", katanya sambil mengambil minuman susu dengan rasa strowberry.


Mata Gema membesar melihat itu, " bukankah kau anti dengan minuman itu ? " katanya tak percaya.


" Hemm ", balas Bella mengangguk, " tapi akhir ini aku sangat suka dengan minuman yang ada susunya ", sambungnya.


" Kau tidak takut berat badanmu akan naik " ujar Gema, sedikit tertawa.


" Kau tidak lihat tadi, walau aku makan apa pun, setelah itu semuanya akan aku muntahkan ", sahut Bella, " mungkin itu sebab kenapa aku sering muntah akhir-akhir ini, mungkin perutku memang tidak lagi menerima minuman penuh kalori ", katanya lagi.


" Sering muntah ", ulang Gema, dan Bella mengangguk, " mungkin karena aku juga sedang tidak enak badan ", katanya menambah alasan.


Bella kemudian mendekat lagi padanya, tapi beberapa detik kemudian, dia sudah kembali berlari menuju wastafel, " aku sungguh tidak suka dengan aroma parfume-mu Gema ", pekiknya kesal, " cepat mandi dan ganti pakaianmu ", pintanya.

__ADS_1


" Kau sungguh tidak mau kita ke rumah sakit ? " tanya Gema dari tempatnya." Kau harus memeriksa apa yang sebenarnya terjadi padamu Bella " katanya lagi.


" Yang terpenting sekarang kau mandi Gema, aku sudah lelah, jika kembali harus muntah lagi ", titah Bella,dan tanpa bicara. Namun, dengan sedikit heran Gema sudah bergerak menuju kamar mandi.


~


Langit sudah gelap ketika Rea selesai dengan semua pertemuannya hari ini, " anda lapar Nona ? ", tegur Maria.


Perempuan itu tengah memijit kaki jenjangnya ketika Maria datang mendekat. Rea mengangguk.


" Kalau begitu, ayo kita ke restoran favorit anda ", ajak Maria. Rea tersenyum, " Lancashire Hotpot ", katanya menyebut nama makanan kesukaannya, yang menjadi menu terbaik di sebuah restoran kecil di pinggir kota London.


Tanpa menunggu, Rea kembali menggunakan sepatu hak tinggi berwarna hitam di kakinya, ia melangkah tidak sabar untuk segera berangkat menuju restoran yang ke empatnya kalinya dengan ini, ia berkunjung.


Sepanjang perjalanan dirinya tak berhenti menatap pada layar handphonenya, dan Maria tak berhenti melihat kedua alis yang saling bertaut selama perjalanan itu, " anda sudah memberitahu Tuan ? " tanyanya. Rea tersentak dan melihat padanya, " untuk ? ", katanya tak mengerti.


" Saya rasa, Tuan harus tahu istrinya pergi kemana ", kata Maria menjelaskan. Dahi Rea sedikit berkerut setelah mendengar itu.


Rea tersenyum hambar, " kau pasti tidak lupa dengan alasan kami menikah kan Maria ? ", ucapnya, dan Maria langsung menatapnya lekat, " kami tidak seintens itu ", katanya lagi dan begitu pelan, lalu menatap keluar jendela mobil. Dan Maria tidak lagi berani mengatakan apa pun. Hanya sesekali melirik ke arahnya.


Mobil yang membawa Rea dan Maria, kini tiba di tempat tujuannya.


Ketika sudah berada di dalam restoran, Rea langsung berjalan menuju kursi di sudut ruangan, dan Maria mengikutinya.


" Dua Lancashire Hotpot, dan Roast Meat ", kata Maria menyebut nama makanan yang akan mereka pesan, dan bersamaan hujan turun saat itu.


" Nona minumannya ? ", tanya Maria. Rea yang sedang memandang keluar jendela, kemudian tersentak, " es lemon tea ", ucapnya, lalu kembali melihat keluar jendela. Dan Maria memperhatikannya setelah selesai memesan semua menu makanan mereka, " Ada apa Nona ? ", tanyanya.


Rea hanya menggeleng, Namun pandangannya tidak beralih. Menatap hujan, membuatnya teringat pada ucapan lelaki paruh baya ketika berada di Pura, tapi saat itu, ia langsung menghela panjang nafasnya. Membiarkan isi dalam pikirannya menguap. Mengingat ucapan itu, hanya akan membuatnya, berharap begitu besar.


Rea mengalihkan pandangannya, lalu memandangi setiap ornamen yang berada di dalam restoran, " restoran ini pasti sudah sangat lama ", gumamnya. Dan Maria mengikuti arah pandangannya ketika mendengar itu.


" Ya, bisa di lihat dari ornamen itu ", tunjuk Maria pada dinding besar dengan warna cream yang hampir pudar, " dari umur tiga tahun aku sudah melihat ornamen itu ", katanya lagi, dan kemudian tertawa, begitu pun Rea.

__ADS_1


Tapi, beberapa detik kemudian, tawa Maria langsung terhenti, " aku selalu melihat wanita itu menatap anda ", ucapnya pada Rea.


Rea menoleh mengikuti arah pandangan mata perempuan itu. Dan dia menemukan seorang wanita paruh baya kedapatan tengah memandang ke arahnya, yang kemudian segera mengalihkan tatapannya, ketika Rea menyadari.


" Itu hanya perasaanmu saja " katanya sedikit tertawa. Tapi, Maria menggeleng, " dia terlihat mengamati wajah anda ", katanya serius.


" Mungkin dia memastikan kalau aku benar Andrea, Bilionare termuda di negara ini ", kata Rea menebak asal, " wajahku sudah dimana-mana Maria, dia pasti berpikir jika pernah melihatku, tapi bingung dimana " katanya lagi. Dan Maria hanya diam.


Beberapa menit kemudian, bel di ujung ruangan terdengar, dan wanita paruh baya yang tadi mereka maksud, kini tengah berjalan ke arah mereka, dengan membawa nampan berisikan hidangan makanan.


" Pesanan anda datang ", ucap lemah wanita itu, sesekali matanya melirik pada Rea, dan Maria mengetahui itu.


" Apa ini pesanan anda ? ", tanyanya tiba-tiba, tepatnya pada Rea.


Maria dan Rea, saling berpandangan sekejap, " ya ini menu favorit kesukaan saya, Bibi ", sahut Rea tersenyum. Lalu wanita itu dengan terang-terangnya memandangi wajah Rea. Dan mereka kembali saling bertatapan.


" Apa anda seperti mengenali sesuatu di wajahku ", ujar Rea, wanita itu masih terdiam. Namun, Rea menyadari bulir kristal yang hadir di matanya, " maaf ", ucapnya serak, " kau begitu mirip dengan temanku ", katanya lagi, ia mengalihkan wajahnya dari pandangan dua perempuan di hadapannya, lalu mengusap mata yang sudah berair.


Rea terdiam, begitu pun Maria.


" Sinar bola matamu sangat mirip dengannya, bahkan menu kesukaan kalian juga sama", katanya lagi. Belum sempat Rea bicara, wanita paruh baya itu sudah berpamitan dari hadapan meja mereka, " selamat menikmati makanan kalian ", ucapnya sebelum berbalik.


Rea masih melihat tangan wanita paruh baya itu kembali mengusap ke arah matanya.


" Sepertinya dia sangat merindukan temannya ", ujar Maria, sementara Rea masih memandangi punggung wanita itu.


" Selamat makan Nona ", ucap Maria, menyadarkan Rea untuk menikmati hidangan di hadapannya, " ya selamat makan ", balasnya lemah, setelah bertemu lebih dekat dengan wanita paruh baya itu, membuatnya kehilangan lebih dari setengah selera makannya. Berbeda dengan Maria, yang tidak menjeda menyantap makanan lezat di hadapannya. Menu terbaik di restoran itu, bahkan mungkin terbaik di sepanjang kota London.


Beberapa menit kemudian, Maria memanggil salah satu pelayan restoran yang melewati meja mereka, " ada apa ? ", tanya Rea heran.


" Aku ingin membawa pulang makanan ini ", kata Maria memberitahu, sambil menunjuk pada menu favorit mereka. Rea lalu kembali bersandar di kursinya.


" Apa anda juga ingin membawakan untuk Tuan ? " tanya Maria. Rea terdiam sejenak, " ya, bolehlah ", sahutnya, dan setelah itu, dia kembali melihat pada handphonenya yang di letakan di atas meja, dan kemudian dia menghela nafas, " kembali asing ", ucapnya lemah.

__ADS_1


__ADS_2