KITA Hanya MENIKAH

KITA Hanya MENIKAH
Sampai Bertemu Elin


__ADS_3

Pertemuan bersama Wanita dermawan kota New York baru saja di akhiri.


Rea memeluk erat tubuh wanita yang baru saja ia kenal beberapa jam yang lalu. Namun, pertemuan singkat itu membuatnya begitu terkesan, " Aku harap kita punya waktu untuk kembali bertemu Rea " ucap Elin seraya membalas pelukannya dengan tak kalah hangat.


" Aku juga Elin. Aku sangat berharap kita akan kembali bertemu " balas Rea.


Memeluk wanita dermawan itu membuat perasaannya menghangat, " semoga rumah tanggamu di limpahkan ke bahagiaan " ucap Elin sembari melepas pelukannya.


Mendengar itu Rea hanya tersenyum kaku, " sekali lagi terimakasih Elin ".


" Your welcome Rea. Aku akan segera mengirimkan hasil rancanganku dan ingat kau harus membayar mahal untuk itu " ucap Elin tertawa.


" Tentu. Aku akan bayar berapa pun untuk sebuah ke beruntungan ini " balasnya ikut tertawa.


" Jangan mulai memuji Rea " ucap Elin serius, lalu kemudian kembali tertawa, " dan jangan bayar rancanganku dengan uangmu " sambungnya lagi dan itu cukup membuat dahi Rea sedikit berkerut, " lalu dengan apa aku akan membayarnya Elin ? ".


" Bayar dengan waktumu. Mungkin ketika nanti aku senggan aku akan datang lagi kemari dan aku harap saat itu kau akan meluangkan waktu untukku ".


" Astaga Elin. Mana mungkin aku membayar jerih payahmu dengan sesuatu yang sangat mudah seperti itu " sahut Rea tertawa dan tak habis pikir dengan permintaan konyol dari wanita dermawan kota New York itu.


Elin menggelengkan kepalanya, " kau salah Rea. Justru saat ini aku telah menyadari, bahwa yang paling mahal di dunia itu adalah waktu " balasnya tersenyum hambar, " uang tidak bisa mengembalikan waktu yang sudah berlalu. Tidak bisa membeli waktu di kemudian hari dan uang tidak bisa membuat kau bisa memastikan bagaimana kau melewati waktumu hari esok ".


" Bahkan uang tidak bisa membuat kau berjanji saat ini. bahwa pada waktu aku ingin bertemu denganmu kau akan meluangkan waktu untukku " sambungnya dengan senyum penuh arti.


Rea terdiam sejenak. Begitu pun semua orang yang berada di sana, " berjanjilah untuk selalu sehat Rea. Pertemuan kita memang singkat tapi sangat berkesan untukku.. ".


" Begitu pun aku Elin dan kau juga " sambung Rea. Membuat wanita itu tersenyum, " ah aku paling benci perpisahan " ucapnya seraya menghela nafas. Lelaki bertubuh gagah yang berdiri di sisinya, segera merangkul tubuhnya dan memberinya pelukan hangat, " kalian pasti akan bertemu kembali " ucapnya, mencoba untuk menenangkan istrinya.


Lalu Elin kembali tertawa kecil. Namun, tawa itu tidak menunjukkan kalau kini ia sedang baik baik saja, " sekali lagi sampai bertemu lagi Rea. Sungguh menyenangkan bertemu denganmu " ucapnya kembali pada Rea.


Lalu kemudian mengulurkan tangannya pada Gema, " terimakasih Tuan " ucapnya.


" Saya juga Nyonya "


" Aku akan memberikan yang terbaik dalam rancangan cincin pernikahan kalian ".


" Terimakasih. Menyenangkan bekerja sama dengan anda " balas Gema tersenyum.

__ADS_1


" Jaga istri anda dengan baik. Dia sangat cantik " ucap Elin tersenyum, sambil melirik ke arah Rea.


" Tentu Nyonya " sahut Gema lantang.


" Ah kalau saja aku tidak mempunyai jadwal pada hari itu. Aku pasti akan datang di hari pernikahan kalian " serunya dengan amat sangat menyesal.


" Tapi jangan khawatir " sambungnya lagi, " pada hari itu aku akan berdoa secara khusus untuk mendoakan pernikahan kalian " lanjutnya dengan tertawa.


" Kau memang luar biasa Elin " ucap Rea ikut tertawa.


" Baiklah. Sampai bertemu lagi Elin " lanjut Rea dengan kembali memeluk tubuh wanita di hadapannya, " Ya Rea " balasnya serak.


" Cepatlah pergi. Aku tidak ingin menangis di hadapanmu " lanjutnya dengan tertawa. Namun tangannya mengusap pada mata yang mulai berkaca-kaca.


" Kau benar benar wanita yang lembut Elin "


" Cepatlah pergi Rea. Atau aku akan benar benar menangis " serunya. Lalu Rea segera melepas pelukannya.


" Kita teman ya Elin " ucapnya sebelum pergi dan Elin dengan cepat mengangguk, " tentu Rea " balasnya semakin serak, " ah cepatlah pergi. atau aku akan menangis sekencang-kecangnya " ancamnya pada Rea. Membuat Rea tidak berhenti tertawa. Namun, perlahan tangannya ikut mengusap pada matanya yang mulai berair. Perasaannya begitu berat saat harus mengakhiri pertemuannya bersama Elin. Dan ntah kenapa dia bisa merasakan hal demikian dengan orang yang baru saja ia temui beberapa jam yang lalu.


Rea terdiam sejenak, menatap pada tangan yang terulur di hadapannya, " ayo " ulang Gema, dan perlahan tangan Rea bergerak menyambut uluran tangannya. dan Gema tidak menyia-nyiakan hal itu, setelah ulutan tangannya tersambut dengan cepat ia menggenggam erat jari jemari lembut yang kini berada di dalam genggamannya.


" Bye Elin " ucap Rea sebelum benar benar pergi.


" Bye Rea " balas Elin lemah, sambil melambaikan tangannya.


Rea dan Gema sudah pergi, meninggalkan Elin yang kini terdiam dengan terisak, " kenapa kau menjadi begitu cengeng sayang " seru suaminya cemas tapi juga bercampur lucu dengan tingkah istrinya.


" Ntahlah. Bertemu dengan Rea membuat jiwaku menjadi begitu emosi Daniel. Aku melihat ada ke kosongan dari tatapan matanya dan aku... aku seperti melihat diriku yang dulu padanya " jelas Elin tertekan. Bahkan ia harus menghela nafasnya oleh dada yang menjadi sesak saat harus menjelaskan bagaimana perasaan tentang Rea, " dan aku sungguh ingin melihat dia bahagia " tambahnya dengan sepenuh hati.


" Dia pasti akan bahagia sayang. Sepertimu saat ini " ucap Daniel dengan kembali merengkuh tubuhnya, " ceh, kau seperti sedang membanggakan dirimu sendiri Daniel ".


" Memangnya kau tidak bahagia saat ini ? "


" Jangan menanyakan hal mustahil. Mana mungkin aku tidak bahagia bersamamu " balasnya dan perlahan wajah yang tadi sendu kini kembali ceria.


****

__ADS_1


Sepasang manusia baru saja berjalan keluar dari gedung Four Seasons dengan tangan yang masih saling bergandengan.


Sementara perempuan yang sejak tadi mengikut langkah mereka. harus terus melipat bibirnya untuk tidak tertawa.


" Sampai bertemu Nona " pamit Maria tiba tiba.


Dahi Rea mengerenyit, " apa kau ingin meninggalkan aku disini ? " katanya sedikit marah.


" Bukankah Nona akan pulang bersama tuan " balas Maria dan itu membuat Rea terdiam, " ya Maria. Nonamu akan pulang bersamaku " timpal Gema.


" Tidak. Aku akan pulang bersama Maria ".


" Maaf nona tapi aku harus segera pergi karena sebuah pertemuan sudah menungguku. Dan akan terlambat jika aku harus mengantar anda lebih dulu ".


Mendengar itu mata Rea berdelik padanya. Namun dengan santai Maria membalasnya dengan mencengirkan deretan giginya, " sampai bertemu lagi nona " pamitnya sambil berlalu menuju letak mobil. Namun tiba tiba langkahnya berhenti dan berputar kembali menghadap Rea yang memang masih belum beranjak, " Tuan titip nonaku " serunya pada Gema dan tentunya laki laki itu mengangguk, " percayakan dia padaku " balas lelaki itu dengan tertawa.


" Ya tuan. Dan tetaplah berpegangan seperti itu " sambungnya dengan tersenyum, lalu dengan cepat berjalan menuju letak mobil yang akan membawanya. Sebelum kedua manusia itu mengerti dengan ucapannya.


Rea masih terdiam. Sebelum akhirnya di paham dengan apa yang baru saja di katakan oleh asistennya itu.


Dengan cepat ia melepas tangannya dari genggaman tangan Gema, " akting kita sudah selesai " ucapnya, lalu berjalan lebih dulu.


Namun tiba tiba tangannya kembali di genggam. Membuatnya tersentak lalu melihat pada wajah orang yang kini berada di sampingnya, " jika tadi itu akting. Berarti kita harus menyelesaikan peran kita sampai akhir " ucap Gema menatap serius, lalu tanpa pamit menarik tangan Rea menuju tempat mobilnya.


" Silahkan masuk calon istriku " ucap Gema sambil membukakan pintu mobil.


" Apa kau tidak akan melepas genggaman ini ? " seru Rea yang menjadi susah untuk bergerak karena tangan yang masih terhubung padanya, " apa tidak bisa tangan kita terus seperti ini ? " pungkasnya.


" Bisa. Tapi kita tetap seperti ini sampai kita mengering disini " balas Rea ketus dan itu membuat Gema tertawa lepas.


" Ternyata kau juga bisa bercanda " ujarnya, Lalu kemudian melepas tangan Rea dari genggamannya, " duduklah dengan nyaman calon istriku " ucapnya lagi sambil menutup kembali pintu mobil dan segera berjalan menuju sisi pintu mobil lainnya.


" Siapa yang sedang bercanda " gumam Rea di dalam mobil, " dan kenapa dia terus memanggilku seperti itu. Menyebalkan " cercahnya sambil memejamkan mata dan menyandarkan punggungnya di kursi mobil.


Rea tiba tiba di kejutkan oleh gerakan yang sedikit menyentuh tubuhnya. Dan ia tersentak saat melihat tubuh Gema begitu dekat dengannya," apa yang kau lakukan Gema ? " tanyanya panik. Namun, laki laki itu tidak menjawab ia terus bergerak dengan memasangkan seat belt pada tubuhnya, " selesai " ucap Gema tersenyum.


" Sekarang kau bisa tidur lagi " sambungnya begitu lembut, lalu kembali melajukan laju mobil. Sementara Rea masih terdiam dengan jantung yang berdetak tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2